Rahasia Itu
Andhita memandang dirinya di cermin. Rambutnya yang lurus, hitam, dan panjang baru saja dikeramas dan titik-titik air membasahi kausnya. Dia baru saja mandi sore. Sebagai cewek berusia tujuh belas tahun, dia merasa hidupnya amat sangat indah kecuali sedikit masalah yang mengganggunya akhir-akhir ini, yaitu masalah perjodohan yang membuatnya pusing kepala dan menimbulkan mimpi buruk di waktu dia tidur.
Kemarin saja dia mimpi menikah dengan pria bertopeng. Tapi begitu topengnya dibuka, ternyata pria itu tidak punya wajah. Kemarinnya lagi dia mimpi menikah dengan cowok ganteng mirip Tora Sudiro, tapi begitu kapal pesiar tempat mereka menikah berada di tengah laut, kapal itu tenggelam dan penumpangnya mati semua. Coba! Ini pasti gara-gara otaknya terlalu penuh dengan masalah perjodohan, jadi mimpinya aneh-aneh begitu.
Andhita sebenarnya cukup bahagia. Dia punya orangtua yang menyayanginya. Papa yang selalu sibuk di kantor, tapi sebelum makan malam pasti sudah pulang sampai di rumah. Mama ibu rumah tangga yang baik dan telaten mengurus keluarga hingga keluarga mereka tidak perlu memakai pembantu. Satu-satunya yang disayangkan adalah Andhita anak tunggal. Tapi melihat kasih sayang orangtua yang dilimpahkan hanya padanya membuatnya berpikir bahwa kesepian akan saudara bisa digantikan oleh teman-temannya yang baik.
Ketiga sahabatnya -Putri, Keyra, dan Tasha- adalah teman baiknya sejak SD. Mereka berempat tinggal di kawasan Kelapa Gading dan sejak SD bersekolah di sekolah yang sama di daerah itu juga.
Mereka berempat sama-sama kelas 2 SMU. Semuanya masuk IPA tapi kelasnya beda-beda. Hanya Putri dan Keyra yang sekelas di kelas 2 IPA 2. Andhita 2 IPA 1 dan Tasha kelas 2 IPA 3. mereka sering belajar bersama dan kebetulan sama-sama suka menyanyi. Sejak kelas satu SMU mereka membentuk vocal group yang sering mengisi acara sekolah. Guru-guru juga sudah tahu semua.
Andhita memandang wajahnya yang mungil. Banyak orang bilang dia cantik, tapi dia tidak terlalu PD dengan penampilannya. Terkadang dia malah menguatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikuatirkan. Dia menyesalkan poninya yang dipotong rata di atas alisnya membuatnya terlihat seperti anak SMP. Terus, ada satu jerawat besar di pipinya yang terasa amat mengganggu. Mana bisa cowok seperti Rendy meliriknya?
Tapi kemudian dia tersadar, kok tiba-tiba dia teringat cowok itu ya? Andhita buru-buru menyisir rambut sekadarnya dan membubuhkan bedak bayi warna putih di wajahnya. Jangan-jangan gue udah terkena pesona Rendt yang katanya udah dialami banyak cewek. Terpesona sama cowok model Rendy? Cowok gak tahu malu dan sombong itu? Duh, jangan deh! Amit-amit!
Andhita buru-buru turun ke bawah menuju ruang makan untuk makan malam. Otaknya penuh dengan berbagai hal. Seandainya saja… bruk! Di dua anak tangga terakhir dia jatuh sebelum kakinya menjejak tanah.
“Auwww!!!” teriaknya.
Mama yang sedang menata meja makan buru-buru menghampirinya. ”Kok kamu nggak hati-hati sih?” omelnya.
Duh, Mama... bukannya kasihan, malah ngomel. Andhita mengusap-usap pergelangan kakinya yang membiru karena membentur lantai. Dia berusaha bangkit tapi tidak bisa. Pergelangan kakinya terasa sakit sekali.
”Duh, sakit banget Ma!”
”Waduh... terkilir kali. Makanya hati-hati dong! Mana Papa belum pulang lagi.” Kata Mamanya. Dia memapah putrinya duduk di sofa ruang tamu.
”Bagaimana nih? Kamu benar-benar nggak bisa jalan? Kita tunggu Papa ya?” ujar Mama.
Andhita mengangguk. Pergelangan kakinya masih sakit. Tapi... nanti malam kan dia harus latihan?
”Duh, Ma... ntar malam kan Andhita harus latihan di rumah Putri. Gimana dong?”
”Ya nggak bisa dong. Kaki kamu kan sakit. Jalan aja nggak bisa, apalagi naik sepeda? Udah deh. Latihannya ditunda aja.” kata Mama.
Bertepetan dengan itu, Papa akhirnya pulang. Mereka langsung mengantar Andhita ke dokter untuk mengobati kakinya.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Andhita melamun. Dia menatap jam tangannya, sudah setengah delapan. Lewat tiga puluh menit dari jadwa latihan. Apa masih keburu?
”Ma, anterin aku ke rumah Putri untuk latihan ya. Nanti Mama jemput Andhita lagi.” pintanya.
”Nggak bisa! Kamu harus istirahat. Kalau nanti kaki kamu bengkak dan harus diamputasi, gimana? Kamu gak punya kaki lagi, mau?” ujar Mama.
Andhita cemberut. Mama ini, masih nyangka Andhita anak kecil, kali... yang bisa ditakut-takuti begitu. Tapi Andhita kemudian berpikir, memang sudah terlambat sih untuk latihan.
”Pa, pinjam handphone dong, mau telpon Putri.” Katanya.
Papa mengeluarkan handphone dari balik saku kemejanya dan memberikannya pada Andhita. Andhita langsung menelepon rumah Putri.
”Halo? Putri ya? Andhita nih.”
”Andhita, elo kemana aja sih? Kita semua nungguin lo tau?” semprot Putri.
”Sori. Gue tadi jatoh dari tangga. Kaki gue terkilir. Kata dokter dalam dua hari mungkin udah pulih. Hari ini gue nggak bisa ikut latihan. Gimana ya, Put? Padahal besok Rendy latihan sama kita kan? Kalo gue nggak bisa terus dia marah-marah, gimana dong?”
”Oh ya, Rendy ada di rumah gue sekarang. Sekarang gue, Keyra, Tasha, sama dia lagi latihan.”
”Apa?!! Rendy datang? Katanya dia cuma bisa datang dua kali seminggu?!” teriak Andhita.
”Iya, dia datang. Gue juga gak nyangka dia tahu rumah gue. Mau ngomong sama dia?”
“Are you crazy?” seru Andhita. “Nggak usah ah. Gue cuma bingung aja kok dia bisa dating latihan. Bukannya dia bilang jadwalnya penuh?”
Putri tertawa. “Dia bilang dia pengen tahu bagaimana kita latihan tanpa dia. Dia takut kita gak bisa tampil bagus di acara malam kesenian nanti, jadi dia datang mengontrol. Oh ya, dia mau bicara sama lo sekarang...”
”Apa?! Gue gak mau...gue nggak...”
Putri tidak peduli. Rupanya dia sudah mengoper gagang telepon ke Rendy. Suara cowok itu sudah terlanjur terdengar di telepon, dan Andhita tidak bisa pura-pura telepon terputus dengan alas an sinyal jelek karena Rendy sudah mendengar kata-katanya.
“Apanya yang nggak mau? Lo nggak mau ngomong sama gue?” kata cowok itu.
Andhita terdiam. Dia menyusun kata-kata di otaknya. Apa yang sebaiknya dikatakannya agar suasana di antara mereka tidak canggung lagi? Dan dia nggak mau berantem lagi, sungguh! Kalau menyadari bahwa dia bakalan sering banget ketemu sama cowok ini, pasti sudah berusaha menyusun kata-katanya kemarin.
”Oh ya? Kata Putri lo jatuh ya? Apa pura-pura karena nggak mau datang latihan?”
Andhita menahan napas karena kesal. Tuh kan! Rupanya bukan dia yang harus menahan diri dan mengontrol mulut.
”Kata siapa gue pura-pura? Apa elo mau ngeliat sendiri keadaan gue?” katanya sebelum sadar bahwa mereka lagi-lagi bertengkar.
”Boleh. Rumah lo nomor berapa? Jauh gak dari rumah Putri?”
Andhita melotot. Benar-benar cowok aneh! Apa dia gak bisa membedakan mana pernyataan sungguhan dan main-main? Tapi kalau Rendy benar-benar datang terus mama dan papa melihatnya, jangan-jangan orangtuanya akan berpikir yang bukan-bukan tentang hubungan mereka. Andhita melembutkan suaranya dan berkata dengan manis, “Nggak usah, Rendy…Many many thanks atas simpati lo. Tapi besok gue udah bisa ikut latihan di sekolah. Selamat malam!” cepat-cepat ditekannya tombol untuk mengakhiri pembicaraan.
”Rendy?” tanya Papa Tere penuh rasa ingin tahu.
Andhita diam saja. Tuh kan... baru nama saja sudah bisa memercikkan gosip. Apalagi kalau ada orangnya. Bisa heboh. Belum lagi ketampanannya... duh, lagi-lagi gue mikirin soal itu. Kenapa sih? Tanya Andhita dalam hati.
”Siapa Rendy?” tanya Mama.
”Teman sekolah. Cowok nyebelin yang ngiringin kita latihan,” jawab Andhita sambil mengembalikan handphone Papanya.
”Oh, yang kamu ceritakan pada Papa waktu itu?”
Andhita benar-benar sudah lupa bahwa dia pernah cerita tentang Rendy pada Papanya, tapi dia hanya mengangguk saja.
”Oh... Mama pikir kamu sudah punya pacar. Ingat calon tunangan kamu ya Dhit! Kamu kan sudah setuju untuk mencoba ketemu dengannya dulu, coba, nanti apa pendapatnya kalau tahu kamu sudah punya pacar?” ujar Mama bawel.
Andhita menghela napas dengan kesal. Mama dan Papa ini kenapa sih? Soal perjodohan ini kok disebut-sebut terus? Andhita jadi makin sebal saja entah mengapa.
”Oh ya, besok Mama akan mengajak kamu mencari gaun untuk makan malam bersama keluarga Om Seno hari sabtu ini. Pulang sekolah Mama jemput ya?” tanya Mama.
”Nggak bisa Ma! Andhita kan ada latihan.”
”Lho? Nanti bajunya bagaimana?”
Andhita berpikir sejenak. ”Andhita kan bisa pakai gaun hitam bekas tahun baru kemarin Ma. Bagus juga kan...?” ...sebagai baju berkabung? Lanjut Andhita dalam hati.
”Nggak kesempitan Dhit? Berat badanmu kan sudah bertambah beberapa kilo sejak tahun baru kemarin.”
Duh, Mama... please dong! Apa Mama gak tahu kalau remaja cewek paling anti membicarakan berat badan?
“Andhita kan cuma nambah beberapa kilo doang Ma. Bukannya melembung kayak balon.” Ujar Andhita kesal.
Mamanya tertawa. “Ya udah, kita beli bajunya lain kali aja, untuk pertemuan berikutnya dengan keluarga Om Seno.” kata Mama.
Pertemuan berikutnya? Mau berapa kali ketemu sih?
”Pertemuan berikutnya? Jangan ngomong sekarang deh ma...Andhita jadi pusing nih.”
Mama Andhita memandang putrinya sambil tersenyum. Andhita merasa kedua orangtuanya iseng juga, suka menggodanya. Ah, seandainya tidak harus ada perjodohan...
***
Setibanya di rumah, kejutan sudah menunggu Andhita. Rendy berdiri di depan pintu pagar yang terkunci sambil duduk di atas pilar beton yang bisa diduduki Andhita bila sedang menunggu dibukakan pintu oleh mama. Cowok itu bangkit berdiri begitu melihat mobil Andhita berhenti di depan rumah. Rendy mengenakan kaus biru garis-garis warna merah dan celana jeans. Rambutnya yang biasanya lurus jatuh saat ini diberi gel hingga berdiri mengikuti gaya penyanyi R&B. ketampanannya membuat jantung Andhita berdegup kencang. Gawat! Cowok itu mulai tebar pesona lagi!
“Rendy?!” ujar Andhita dengan cuara tercekat. Cowok aneh itu benar-benar dating ke rumahnya. Sungguh menyebalkan dan menyusahkan pula. Apa yang bakalan dipikir sama kedua orangtuanya bila melihat cowok itu ada di sini? Jangan-jangan benar-benar disangka pacarnya, lagi.
“Itu yang namanya Rendy?” Tanya Mama lalu turun untuk membuka pintu pagar. Dari dalam mobil Andhita melihat Mamanya mempersilahkan cowok itu masuk.
”Mau apa dia kemari Dhit? Dia benar temanmu?” tanya Papa dengan tatapan menyelidik.
”Benar Pa, Andhita juga baru kenal sama dia beberapa hari yang lalu. Tadi sih di telepon dia memang bilang mau datang menengok apa Andhita benar-benar sakit. Tapi Andhita nggak nyangka, dia benar-benar datang kemari.”
Papa menggeleng-gelengkan kepala sambil menyetir mobilnya masuk ke dalam rumah. “Gawat, kali ini gawat. Anak muda itu benar-benar ganteng. Bisa-bisa kamu jatuh cinta sama dia.”
Andhita mendengus. ”Huh, Papa pikir Andhita apaan? Gampang jatuh cinta, begitu?”
”Maksud Papa, kalau nanti calon tunanganmu kurang ganteng, kamu pasti akan membanding-bandingkannya dengan Ren..Ren..??”
”Rendy Pa! Tapi terus terang aja, ide perjodohan ini benar-benar buruk, Pa! It’s very bad.” Tandas Andhita.
Papanya tak menjawab dan membuka pintu mobil. Dia lalu membantu Andhita keluar dari mobil dan memapahnya masuk ke dalam rumah.
“Sekarang lo puas kan, udah melihat gue begini? Elo gak lagi nyangka gue bohong, kan?” ujar Andhita pada Rendy ketika mereka sedang duduk berdua di ruang tamu. Papa dan Mama pura-pura sedang membaca buku dan nonton TV di ruang tengah, tapi mereka dalam posisi yang bisa melihat segala sesuatu yang dilakukan Andhita, bahkan jika Andhita bergerak sedikit saja pasti ketahuan. Hmm, sok detektif! Pikir Andhita kesal.
Rendy tertawa. “Ya, gue udah puas. Berarti kedatangan gue malam ini ke sini nggak sia-sia.”
”Latihannya udah selesai?” tanya Andhita.
”Udah. Vokalisnya cuma bertiga, jadi gak seru. Nggak lengkap.”
“Memangnya rumah lo dimana sih?”
“Sunter”
“Hah? Jauh banget! Terus, lo naik apa ke sini?”
“Dianterin sopir. Nanti dia jemput gue lagi di sini kira-kira...ng...” Rendy melirik jam tangannya, ”Kira-kira seperempat jam lagi.”
”Terus kenapa lo ke rumah Putri? Hari ini kan bukan jadwal lo datang?” tanya Andhita lagi.
”Yah, seperti yang dibilang Putri tadi, gue cuma mau ngeliat seperti apa latihan kalian. Tapi terus terang aja, karena kalian memecah empat suara, jadi ketika elo gak ada tadi rasanya ada yang janggal sama lagu itu.”
Hidung Andhita kembang kempis karena bangga.
”Ya terang aja. Elo pikir cuma suara satu yang paling penting?”
Mama Andhita bangkit berdiri dari sofa ruang tengah dan berkata keras, ”Ehmm.. udah malam, Dhita! Mama udah ngantuk nih. Kamu jadi gak ikut Mama belanja besok? Beli baju buat pertemuan kamu dengan calon tunanganmu?”
Andhita merasa mukanya merah padam sampai terasa panas.
”Tunangan?” bisik Rendy.
”Jangan dengerin nyokab gue!” bisik Andhita. Kalau berita ini sampai bocor ke telinga teman-temannya, entah mau ditaruh mana mukanya.
”Andhita, sebaiknya sebelum makan malam dengan calon tunanganmu nanti, kamu facial atau luluran dulu atau apa dulu kek, biar tambah segar...” timpal Papa dengan suara yang sama kerasnya.
Andhita memutar kedua bola matanya. Duh, please dong! Penting nggak sih ngomongin gituan? Mama sama Papa kok kayak anak kecil aja. Malu-maluin.
”Facial? Luluran?” tanya Rendy dengan ekspresi ingin ketawa.
“Jangan Tanya!” desis Andhita. Duh, masih sepuluh menit lagi sopir Rendy baru datang. Masih berapa kalimat lagi yang bisa diucapkan Papa sama Mama? Masih berapa kata memalukan lagi?
”Kenapa sopir lo nggak datang-datang sih?” tanya Andhita, sama sekali tidak menyadari pertanyaan itu bisa menyakiti hati Rendy.
”Kenapa? Elo gak senang gue datang ke sini?” kata cowok itu kaku.
”Sori, maksud gue bukan begitu. Tapi kan kasihan elo...sekarang udah malam.” ujar Andhita.
Rendy tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke telinga Andhita sehingga Mama Papa yang sedang mengawasi dari sudut mata mereka bersiaga.
”Hmm...” geram Papa.
”Ehm..” Mama ikut berdeham.
”Eh, elo jangan GR ya. Elo pikir gue ke sini mau ngapelin lo? Jangan salah! Gue cuma mau ngebuktiin kalau elo benar-benar nggak bolos latihan.” bisik Rendy.
Andhita merasa kupingnya panas mendengar bisikan itu. Dia balas mendekatkan bibirnya ke telinga Rendy.
“Hmm…” geram Papa lagi.
“Ehm…” Mama pun berdeham sekali lagi.
“Eh, elo juga jangan GR ya.” Balas Andhita. “Gue bukannya GR sama lo. Enak aja! Kalau emang lo naksir sama gue, bilang aja! Nggak usah ditutup-tutupin. Tapi lo kayaknya percuma deh. Soalnya gue udah punya tunangan.” kata Andhita.
”Tunangan? Masih kecil udah tunangan? Apa gak takut MMBA?”
”Apaan tuh? Married by accident?” bisik Andhita.
“Bukan. Menikah Muda Benar-benar Asik.”
Andhita melotot. Ini benar-benar konyol!
”Heh, gue bukannya mau tunangan sendiri. Gue dijodohin!”
Rendy mencibir, ”Apalagi dijodohin! Apa elo nggak bisa nyari pacar sendiri? Atau... belum pernah ada yang nembak lo?”
Andhita gusar ”Heh...!!”
“Tapi elo ini tipe cewek macam apaan? Udah punya tunangan kok masih ngelirik cowok lain.”
“Cowok lain?”
“Iya. Cowok yang kemarin datang ke kelas lo, siapa tuh namanya? Didit?”
”Adit!” desis Andhita. Enak aja ganti nama orang seenaknya.
Rendy tertawa. “He he he… iya! Benar kan? Elo suka sma dia, atau cuma cari labaan?”
”Ngaco! Dia itu kan ketua OSIS yang lagi ngurusin acara malam kesenian...”
”Kok nyariinnya elo? Bukan Putri?”
Iya juga ya? Batin Andhita. Tapi dia senang dan GR juga sih. Kenapa yah si Adit nyari gue, bukannya Putri?
”Senyum-senyum! GR ya?” ledek Rendy.
Andhita melotot. Nih cowok nggak punya aturan banget sih!
Tin! Tin! Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Itu pasti mobilnya Rendy. Sopirnya aja nggak punya sopan santun, ngelakson kok sekeras itu. Apa disangkanya orang di kompleks ini budek semua? Andhita ngedumel dalam hati.
”Tuh, mobil lo udah datang! Udah puas kan? Gue benar-benar jatoh.” Tegas Andhita.
“Ya, gue udah puas. Besok jangan lupa latihan. Jangan jadiin sakit lo ini sebagai alasan.” kata Rendy menyebalkan. Dia lalu pamit pada kedua orangtua Andhita.
***
”Mama sama Papa apa-apaan sih? Ngapain bilang-bilang ke Rendy kalau Andhita udah punya calon tunangan? Ketemu aja belom!” ujar Andhita marah ketika mereka sedang sarapan keesokan harinya. Kemarin Mama sama Papa mungkin merasa bersalah, makanya mereka berdua langsung masuk ke kamar jadi Andhita nggak sempat protes.
”Ngomong-ngomong, cowok yang kemarin datang itu cakep juga ya?” ujar Papa.
“Jangan ngalihin pembicaraan deh!” kata andhita ketus. Mama menyodorkan segelas susu ke depan Andhita.
”Jangan begitu sama orangtua! Kamu kan udah janji kalau kamu mau ngeliat dulu seperti apa calon tunanganmu itu. Bagaimana kalau kamu keburu kepincut sama cowok ganteng kemarin?” tanya Mama.
”Masalahnya bukan itu Ma! Rendy juga nyebelin. Andhita nggak bakalan kepincut deh sama dia. Tapi masalahnya sekarang, dia jadi tahu kalau Andhita dijodohin, sementara Andhita nggak mau kalau teman-teman Andhita pada tau!” ujar Andhita, lalu menggigit besar-besar roti isi selai kacang.
”Mana mungkin dia cerita-cerita sama orang? Memangnya cowok suka ngegosip?” Tanya Papa.
“Huh, Papa nggak tau sih! Rendy itu cowok nyebelin. Andhita yakin dia masih punya sederetan sikap menyebalkan lainnya. Siapa yang bisa menjamin dia nggak suka gosip?” Andhita meminum susunya banyak-banyak.
”Kalau begitu, cowok macam Rendy jangan kamu dekati! Kamu sendiri yang bilan sifat dia jelek!” kata Papa.
Glek! Andhita tersedak susu yang diminumnya dan sebagian tersembur ke meja di hadapannya. Dia memutar kedua bola matanya karena kesal. ”Justru itu bukan masalahnya, Pa! Papa sama Mama ngerti nggak sih? Masalahnya sekarang Rendy tahu kalau Andhita udah dijodohin! Nanti kalau dia cerita sama teman-teman Andhita gimana?”
Papa tersenyum. ”Kalau begitu ya nggak apa-apa. Memangnya kenapa kalau mereka tahu kalau kamu sudah dijodohkan? Sudah seharusnya kan mereka bersikap dewasa.”
Andhita mengatupkan bibirnya karena jengkel. Masalahnya bukan sikap dewasa atau tidak dewasa. Lagipula, dia jadi bahan ejekan atau nggak di sekolah, Papa sama Mama nggak ngerasain kan? Yang ngerasain Andhita sendiri!
”Andhita,” panggil Mama. Andhita melihat mamanya menatapnya serius. ”Kamu nggak punya hubungan apa-apa kan dengan cowok bernama Rendy itu?”
Andhita menggeleng kuat-kuat.
”Bagus. Kalau kamu sampai ketahuan punya hubungan dengan Rendy dan memengaruhi perjodohan yang kami lakukan, Mama akan melarang kamu latihan nyanyi di rumah Putri lagi. Mengerti?!”
Mata Andhita membelalak. ”Mama apa-apaan sih? Ceritanya maksa nih?”
”Andhita, Mama kan sudah bilang, perjodohan ini sangat penting bagi Papa. Lagipula, kamu tahu nggak... teman papa itu sangat kaya, dan perusahaannya sangat besar, punya banyak koneksi dengan rekan bisnis luar negeri. Ini benar-benar jodoh yang sangat baik buat kamu!”
”Mama kok jadi matre begitu sih?” kata Andhita bingung campur marah. Rot selai kacang dan susu yang bercampur aduk di perutnya mulai membuatnya sakit perut. Tapi dia mesti menuntaskan masalah ini dulu.
”Bukan begitu Andhita... biar Papa sama Mama terus terang saja.” kata Papa. ”Teman Papa itu berjanji untuk menginvestasikan dana yang lumayan banyak untuk perusahaan kita. Sahamnya akan sangat membangun. Kalau perjodohan ini gagal sebelum menginvestasian itu masuk ke perusahaan Papa, ya rugi dong!” timpal Papa.
”Lho! Beban Andhita kok jadi semakin berat ya Pa? Berarti Papa sama aja menjual Andhita demi saham teman Papa itu! Jadi Andhita seharga dengan uang invest yang akan masuk ke perusahaan Papa?” Andhita nggak bisa terima kalau orangtuanya ternyata matre.
”Bukan bagitu. Papa hanya ingin proyek ini berhasil. Kalau memang kamu nggak suka sama calon tunanganmu itu, ya nggak apa-apa. Tapi sekarang-sekarang ini jangan menolak dulu ya.”
Andhita mendengus. Baru kali ini dia tahu bahwa lika-liku menjadi orang dewasa itu sangatlah rumit dan menyebalkan.
”Udah ah, Andhita sakit perut! Mau ke WC dulu!” teriaknya.
***
Selasa, 08 Juni 2010
Minggu, 06 Juni 2010
Lovable (part 4)
Sorenya, ketika mereka berempat latihan di rumah Putri, Andhita menceritakan tentang pertemuannya dengan Rendy tadi, sekaligus menyerahkan kasetnya pada Putri.
”Gile, nyebelin banget dia ngomong begitu!” komentar Keyra. Kebetulan Tasha belum dating, jadi Andhita lebih leluasa menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi pada kedua temannya.
”Dia benar-benar bilang kayak gitu Dhit?” Tanya Putri.
“Iya. Emangnya elo gak percaya sama gue?” ujar Andhita cemberut.
“Gue sih udah menduga dari semula kalo dia itu sombong, sok cakep, dan suka nampang di depan orang.” Kata Keyra menggebu-gebu.
“Meskipun emang cakep.” Sesal Andhita.
“Iya sih,” Putri membenarkan.
“Apanya yang cakep? Gua malah gak abis piker, apa sih yang bagus dari cowok itu? Trus, sok banget lagi! Pake bilang banyak yang naksir!” sela Keyra.
“Udah..udah.. nggak usah diomongin lagi deh. Nggak enak sama Tasha.” Putus Putri.
Keyra memandang temannya. ”Jangan bilang kalau lo juga suka sama Rendy, Put?”
Wajah Putri tersipu malu, membuat Andhita curiga kalau Putri juga suka sma Rendy. Andhita melotot gak percaya. Astaga! Dasar tuh cowok emang suka banget tebar pesona sama semua orang. Kurang ajar! Jangan-jangan si kunyuk itu bisa ngerusak hubungan mereka berempat lagi!
”Elo jangan ngomong sembarangan.” kata Putri. ”Gue bukannya suka sama dia. Gue cuma kagum. Seumur kita dia udah bisa jadi pemain piano profesional. Terus terang, meskipun suka nyanyi dan menganggap suara gue nggak jelek-jelek amat, gue sempet minder kemarin.”
Andhita mengangguk. ”Kalo soal main pianonya jago, itu benar. Tapi gimana kalau kita agak sedikit jaga jarak sama dia? Jangan sampai deh, kita gontok-gontokan cuma gara-gara satu cowok brengsek kayak dia.”
Putri mengerutkan kening, ”Maksud lo Dhit?”
Andhita menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Elo semua ngerti gak sih maksud gue? Rendy emang cakep dan semua yang ada pada dirinya membuat kita terpesona, bener gak? Kalo gue bilang, dia itu tipe cowok yang suka tebar pesona sama cewek-cewek. Jadi… daripada di antara kita ada yang sakit hati, atau malah memperebutkan dia, lebih baik kita jaga hati kita masing-masing.”
Ely berkata, ”Jadi elo sendiri juga nggak percaya diri Dhit? Elo takut masuk perangkap dia juga?”
Andhita menyahut, ”Manusia kan mudah berubah. Sekarang gue bilang gue nggak suka, siapa tahu besok gue dipelet terus bisa jadi suka sama dia. Bukannya itu bisa terjadi?” katanya ngasal.
Pluk! Keyra menimpuk Andhita dengan bantal.
”Rendy melet elo? Nggak salah?! Nggak perlu kali.”
Andhita tertawa cengengesan. Kemudian Tasha datang dan mereka pun mulai latihan.
***
Rumah Putri kerap menjadi ajang pertemuan mereka berempat karena letaknya paling dekat ke sekolah. Kamis sore ini mereka sepakat latihan di sana. Latihan pertama dengan Rendy yang menyebalkan itu, pikir Andhita. Tapi karena akan bertemu cowok itu, entah kenapa Andhita jadi bingung memilih baju apa yang akan dia pakai.
Pakai gaun terlalu berlebihan. Pakai celana pendek terlalu seksi. Akhirnya Andhita memilih memakai celana panjang jeans dan kaus gombrong Joger. Heran, soal rambut saja dia harus membuka kunciran beberapa kali. Dikuncir satu kayak mbak-mbak, dikuncir dua sok imut, dikuncir tiga kayak orang gila. Akhirnya Andhita memutuskan untuk menggerai rambutnya saja. Tapi ketika memakai minyak wangi pemberian papa yang baru dibukanya, tak sadar dia menyemprotkannya terlalu banyak, jadi udah terlambat. Sudah wangi, mau gimana lagi? Jadi dia pun mengundang pertnyaan mama.
”Andhita, kamu mau kemana?”
”Ke rumah Putri ma.”
”Ke rumah Putri kok wangi amat? Kamu mau ketemu cowok yah? Awas ya, kalau kamu macam-macam.”
Andhita hanya tersenyum masam. Dia memang akan ketemu cowok, tapi bukan sembarang cowok. Dia itu cowok menyebalkan yang sudah langka di dunia.
Tiba di rumah Putri, Andhita juga mengundang pertanyaan teman-temannya.
“Kok wangi banget ya? Siapa sih yang numpahin minyak wangi?” gerutu Putri.
Tasha mengendus-endus. ”Kayaknya wanginya dari Andhita nih... Dhit, elo pakai biang minyak wangi berapa botol?”
Keyra tak kurang menyindirnya. ”Gile..!! mau ketemu Rendy aja pake sok wangi segala…” katanya terus terang. Jebb! Pas banget kena di ulu hatinya Andhita.
Andhita jadi marah. ”Apa-apaan sih? Orang gue gak sengaja pake minyak wangi kebanyakan. Udah deh, gak usah dibahas!”
Yang lain malah tertawa.
Tak lama kemudian Rendy datang. Begitu muncul di ruang tamu Putri, cowok itu langsung mengendus-endus ruangan. “Siapa nih yang belum mandi terus cuma pakai minyak wangi doang?”
Yang lain cekikikan. Andhita cemberut. Rendy hanya mengulum senyum sambil melirik Andhita. Rupanya cowok itu bisa menduga kalau sumber wangi itu berasal dari Andhita. Andhita bersumpah, begitu pulang dia akan ke kamarnya, mencari minyak wangi yang diberi papanya itu dan membuangnya jauh-jauh. Dasar, minyak wangi mahal! Wanginya super ampuh banget.
“Hei Put, kita langsung aja. Piano lo mana?” Tanya Rendy sambil mendekati Putri. Saat itulah cowok itu berdiri di belakang Andhita dan menatap tulisan di punggung kaus Andhita.
“Jangan cium gue karena gue cantik. Jangan cium gue karena gue manis. Jangan cium gue karena elo kebelet sama gue. Tapi cium gue karena gue mau nyium elo. Kalo gue mao nyium elo, itu tandanya gue suka sama lo. Kalo gue suka sama lo, itu tandanya lo cowok yang ganteng banget. Dan artinya, gue cuma mau dicium sama cowok ganteng!” seru Rendy membaca tulisan keras-keras.
Wajah Andhita memerah. Dia baru sadar kaus Joger yang dipakainya salah ambil. Sama-sama putih, tapi yang ini memang belum pernah dipakai karena kata-katanya yang nyeleneh. Andhita kira dia sedang pakai kaus satunya lagi yang tulisannya ”Sembahyanglah sebelum elo disembahyangi. Bekerjalah sebelum elo dikerjain. Belajarlah sebelum elo dikurangajari. Katakanlah sebelum elo dikata-katain!”
”Elo suka dicium sama cowok ganteng ya, Dhit?” kata Rendy sambil mengulum senyum. Andhita cuma bisa diam dengan muka merah padam.
“Hahaha…elo bilang gak akan pernah pakai kaus itu. Akhirnya elo pakai juga Dhit!” seru Keyra. Memang dia yang memberikan kaus itu untuk Andhita sebagai oleh-oleh waktu pergi ke Bali tahun lalu.
”Udah, diam ah! Kalo gak gue pulang nih!” kata Andhita kesal.
Akhirnya mereka mulai latihan. Rendy rupanya pengiring yang cukup strict. Dia sangat peduli terhadap pitch control alias menjaga suara agar tidak fals. Dan kebetulan sore itu yang lagi sial adalah Andhita. Mungkin karena kurang konsentrasi, dia fals terus,
“Hei, hei hei! Suara dua tolong odng, bisa nyanyi gak sih?!” bentak cowok itu.
Andhita tersinggung. “Heh, elo sih enak, main piano kan gak ada falsnya. Coba elo yang nyanyi!”
Rendy ternyata menganggap serius ucapan Andhita. Dia langsung menyanyikan lagu A Whole New World dari awal hingga akhir, menawan, plus vibrasi dan teknik menyanyi yang baik, dengan intonasi dan pengucapan sempurna hingga mereka berempat yang menyaksikan bengong, melongo.
Plok! Plok! Plok! “Hebat! Hebat! Persis banget kayak Delon!” seru Putri.
“Iya dong! Kalo gue berani mengkritik orang, berarti gue juga hrus paham teknik menyanyi,” jawab Rendy serius.
Dalam hati Andhita berpikir, gile juga nih orang. Sombongnya gak ketulungan. Bisa sih bisa, tapi gak usah begini-begini amat dong.
“Elo ikut nyanyi aja, Ren,” ujar Keyra.
Andhita langsung mencegah. ”Eh, jangan! Ini kan khusus buat kelompok kita doang!”
”Nggak apa-apa. Nanti biar MC yang mengumumkan bahwa lagu A Whole New World dinyanyikan oleh kita berempat feat Rendy, gitu,” kata Tasha. Duh Tasha… ngomongnya kok kayak mereka berempat itu group popular aja, pikir Andhita.
Rendy mengangkat tangannya. “Nggak, nggak, gue sama sekali nggak kepengen nyanyi di depan umum. Gue cuma pengen ngasih tau kalau kritikan gue harap diterima, karena gue bukan orang yang cuma pintar ngomong, ” katanya sambil melirik Andhita.
Andhita mencibir. Alah…apaan tuh? Maksudnya bukan cuma pintar ngomong, tapi juga pintar segala-galanya.. cuih, sombong banget.
Maka latihan hari itu pun ditutup dengan adegan sikap permusuhan antara Andhita dan Rendy, cowok tersombong di dunia.
***
”Gile, nyebelin banget dia ngomong begitu!” komentar Keyra. Kebetulan Tasha belum dating, jadi Andhita lebih leluasa menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi pada kedua temannya.
”Dia benar-benar bilang kayak gitu Dhit?” Tanya Putri.
“Iya. Emangnya elo gak percaya sama gue?” ujar Andhita cemberut.
“Gue sih udah menduga dari semula kalo dia itu sombong, sok cakep, dan suka nampang di depan orang.” Kata Keyra menggebu-gebu.
“Meskipun emang cakep.” Sesal Andhita.
“Iya sih,” Putri membenarkan.
“Apanya yang cakep? Gua malah gak abis piker, apa sih yang bagus dari cowok itu? Trus, sok banget lagi! Pake bilang banyak yang naksir!” sela Keyra.
“Udah..udah.. nggak usah diomongin lagi deh. Nggak enak sama Tasha.” Putus Putri.
Keyra memandang temannya. ”Jangan bilang kalau lo juga suka sama Rendy, Put?”
Wajah Putri tersipu malu, membuat Andhita curiga kalau Putri juga suka sma Rendy. Andhita melotot gak percaya. Astaga! Dasar tuh cowok emang suka banget tebar pesona sama semua orang. Kurang ajar! Jangan-jangan si kunyuk itu bisa ngerusak hubungan mereka berempat lagi!
”Elo jangan ngomong sembarangan.” kata Putri. ”Gue bukannya suka sama dia. Gue cuma kagum. Seumur kita dia udah bisa jadi pemain piano profesional. Terus terang, meskipun suka nyanyi dan menganggap suara gue nggak jelek-jelek amat, gue sempet minder kemarin.”
Andhita mengangguk. ”Kalo soal main pianonya jago, itu benar. Tapi gimana kalau kita agak sedikit jaga jarak sama dia? Jangan sampai deh, kita gontok-gontokan cuma gara-gara satu cowok brengsek kayak dia.”
Putri mengerutkan kening, ”Maksud lo Dhit?”
Andhita menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Elo semua ngerti gak sih maksud gue? Rendy emang cakep dan semua yang ada pada dirinya membuat kita terpesona, bener gak? Kalo gue bilang, dia itu tipe cowok yang suka tebar pesona sama cewek-cewek. Jadi… daripada di antara kita ada yang sakit hati, atau malah memperebutkan dia, lebih baik kita jaga hati kita masing-masing.”
Ely berkata, ”Jadi elo sendiri juga nggak percaya diri Dhit? Elo takut masuk perangkap dia juga?”
Andhita menyahut, ”Manusia kan mudah berubah. Sekarang gue bilang gue nggak suka, siapa tahu besok gue dipelet terus bisa jadi suka sama dia. Bukannya itu bisa terjadi?” katanya ngasal.
Pluk! Keyra menimpuk Andhita dengan bantal.
”Rendy melet elo? Nggak salah?! Nggak perlu kali.”
Andhita tertawa cengengesan. Kemudian Tasha datang dan mereka pun mulai latihan.
***
Rumah Putri kerap menjadi ajang pertemuan mereka berempat karena letaknya paling dekat ke sekolah. Kamis sore ini mereka sepakat latihan di sana. Latihan pertama dengan Rendy yang menyebalkan itu, pikir Andhita. Tapi karena akan bertemu cowok itu, entah kenapa Andhita jadi bingung memilih baju apa yang akan dia pakai.
Pakai gaun terlalu berlebihan. Pakai celana pendek terlalu seksi. Akhirnya Andhita memilih memakai celana panjang jeans dan kaus gombrong Joger. Heran, soal rambut saja dia harus membuka kunciran beberapa kali. Dikuncir satu kayak mbak-mbak, dikuncir dua sok imut, dikuncir tiga kayak orang gila. Akhirnya Andhita memutuskan untuk menggerai rambutnya saja. Tapi ketika memakai minyak wangi pemberian papa yang baru dibukanya, tak sadar dia menyemprotkannya terlalu banyak, jadi udah terlambat. Sudah wangi, mau gimana lagi? Jadi dia pun mengundang pertnyaan mama.
”Andhita, kamu mau kemana?”
”Ke rumah Putri ma.”
”Ke rumah Putri kok wangi amat? Kamu mau ketemu cowok yah? Awas ya, kalau kamu macam-macam.”
Andhita hanya tersenyum masam. Dia memang akan ketemu cowok, tapi bukan sembarang cowok. Dia itu cowok menyebalkan yang sudah langka di dunia.
Tiba di rumah Putri, Andhita juga mengundang pertanyaan teman-temannya.
“Kok wangi banget ya? Siapa sih yang numpahin minyak wangi?” gerutu Putri.
Tasha mengendus-endus. ”Kayaknya wanginya dari Andhita nih... Dhit, elo pakai biang minyak wangi berapa botol?”
Keyra tak kurang menyindirnya. ”Gile..!! mau ketemu Rendy aja pake sok wangi segala…” katanya terus terang. Jebb! Pas banget kena di ulu hatinya Andhita.
Andhita jadi marah. ”Apa-apaan sih? Orang gue gak sengaja pake minyak wangi kebanyakan. Udah deh, gak usah dibahas!”
Yang lain malah tertawa.
Tak lama kemudian Rendy datang. Begitu muncul di ruang tamu Putri, cowok itu langsung mengendus-endus ruangan. “Siapa nih yang belum mandi terus cuma pakai minyak wangi doang?”
Yang lain cekikikan. Andhita cemberut. Rendy hanya mengulum senyum sambil melirik Andhita. Rupanya cowok itu bisa menduga kalau sumber wangi itu berasal dari Andhita. Andhita bersumpah, begitu pulang dia akan ke kamarnya, mencari minyak wangi yang diberi papanya itu dan membuangnya jauh-jauh. Dasar, minyak wangi mahal! Wanginya super ampuh banget.
“Hei Put, kita langsung aja. Piano lo mana?” Tanya Rendy sambil mendekati Putri. Saat itulah cowok itu berdiri di belakang Andhita dan menatap tulisan di punggung kaus Andhita.
“Jangan cium gue karena gue cantik. Jangan cium gue karena gue manis. Jangan cium gue karena elo kebelet sama gue. Tapi cium gue karena gue mau nyium elo. Kalo gue mao nyium elo, itu tandanya gue suka sama lo. Kalo gue suka sama lo, itu tandanya lo cowok yang ganteng banget. Dan artinya, gue cuma mau dicium sama cowok ganteng!” seru Rendy membaca tulisan keras-keras.
Wajah Andhita memerah. Dia baru sadar kaus Joger yang dipakainya salah ambil. Sama-sama putih, tapi yang ini memang belum pernah dipakai karena kata-katanya yang nyeleneh. Andhita kira dia sedang pakai kaus satunya lagi yang tulisannya ”Sembahyanglah sebelum elo disembahyangi. Bekerjalah sebelum elo dikerjain. Belajarlah sebelum elo dikurangajari. Katakanlah sebelum elo dikata-katain!”
”Elo suka dicium sama cowok ganteng ya, Dhit?” kata Rendy sambil mengulum senyum. Andhita cuma bisa diam dengan muka merah padam.
“Hahaha…elo bilang gak akan pernah pakai kaus itu. Akhirnya elo pakai juga Dhit!” seru Keyra. Memang dia yang memberikan kaus itu untuk Andhita sebagai oleh-oleh waktu pergi ke Bali tahun lalu.
”Udah, diam ah! Kalo gak gue pulang nih!” kata Andhita kesal.
Akhirnya mereka mulai latihan. Rendy rupanya pengiring yang cukup strict. Dia sangat peduli terhadap pitch control alias menjaga suara agar tidak fals. Dan kebetulan sore itu yang lagi sial adalah Andhita. Mungkin karena kurang konsentrasi, dia fals terus,
“Hei, hei hei! Suara dua tolong odng, bisa nyanyi gak sih?!” bentak cowok itu.
Andhita tersinggung. “Heh, elo sih enak, main piano kan gak ada falsnya. Coba elo yang nyanyi!”
Rendy ternyata menganggap serius ucapan Andhita. Dia langsung menyanyikan lagu A Whole New World dari awal hingga akhir, menawan, plus vibrasi dan teknik menyanyi yang baik, dengan intonasi dan pengucapan sempurna hingga mereka berempat yang menyaksikan bengong, melongo.
Plok! Plok! Plok! “Hebat! Hebat! Persis banget kayak Delon!” seru Putri.
“Iya dong! Kalo gue berani mengkritik orang, berarti gue juga hrus paham teknik menyanyi,” jawab Rendy serius.
Dalam hati Andhita berpikir, gile juga nih orang. Sombongnya gak ketulungan. Bisa sih bisa, tapi gak usah begini-begini amat dong.
“Elo ikut nyanyi aja, Ren,” ujar Keyra.
Andhita langsung mencegah. ”Eh, jangan! Ini kan khusus buat kelompok kita doang!”
”Nggak apa-apa. Nanti biar MC yang mengumumkan bahwa lagu A Whole New World dinyanyikan oleh kita berempat feat Rendy, gitu,” kata Tasha. Duh Tasha… ngomongnya kok kayak mereka berempat itu group popular aja, pikir Andhita.
Rendy mengangkat tangannya. “Nggak, nggak, gue sama sekali nggak kepengen nyanyi di depan umum. Gue cuma pengen ngasih tau kalau kritikan gue harap diterima, karena gue bukan orang yang cuma pintar ngomong, ” katanya sambil melirik Andhita.
Andhita mencibir. Alah…apaan tuh? Maksudnya bukan cuma pintar ngomong, tapi juga pintar segala-galanya.. cuih, sombong banget.
Maka latihan hari itu pun ditutup dengan adegan sikap permusuhan antara Andhita dan Rendy, cowok tersombong di dunia.
***
Lovable (part 3)
Casting ala Rendy
SMU Pramita adalah sekolah yang cukup punya nama di kawasan Kelapa Gading. Tempat parkirnya luas, karena kebanyakan muridnya diizinkan membawa mobil oleh orang tua mereka, padahal tinggalnya di kompleks itu-itu juga. Susah sih, soalnya udah jadi budaya. Mami-mami mereka aja pergi ke salon naik mobil, padahal salonnya cuma beda satu blok. Malah ada siswa yang rumahnya tepat di seberang sekolah, pergi sekolah naik mobil. Jadi sebenarnya dia bisa tinggal nyebrang, paling hanya butuh satu menit. Coba kalau naik mobil. Dari masuk ke mobil, buka pagar rumah, jalan setengah menit, parkir mobil di halaman parkir sekolah, sama turun dari mobil, semua butuh sepuluh menit. Katanya demi gaya.
Lapangan olahraganya juga besar. Ada yang indoor, ada yang outdoor. Mungkin itu juga yang membuat anak-anak kompleks dan sekitarnya tertarik bersekolah di situ. Kelas satu ada enam kelas, kelas dua dan tiga ada lima kelas. Total siswanya sekitar lima ratus dua puluh orang.
SMU Pramita punya banyak fasilitas. Ada ruang perpustakaan, internet gratis, ada kamar mandi dengan shower buat mengantisipasi kalau ada yang ingin mandi setelah olahraga, meskipun jarang dipakai karena habis olahraga waktu sampai jam pelajaran berikutnya cuma lima belas menit. Juga ada loker. Tapi karena setiap hari memang ada PR dan ulangan, maka semua buku mau gak mau dibawa pulang. Jadi lokernya Cuma jadi sarang barang-barang gak berguna kayak novel, komik, yang bisa ditukarkan. Serta baju tambahan, in case kalau mau pergi ke mal pulang sekolah.
Khusus untuk pertemuan-pertemuan, dipakai aula besar. Aula itu terletak di lantai lima. Andhita dan empat sahabatnya sudah berjanji bertemu dengan Rendy di sana. Di dalam aula ada berbagai alat musik yang bisa digunakan kalau ada acara di sekolah, termasuk piano yang akan mereka butuhkan untuk ”casting ala Rendy” ini.
”Gimana nih? Janjinya jam dua belas, udah lewat lima menit kok belum datang.” Gerutu Keyra, yang terkenal tepat waktu.
“Baru lewat lima menit aja udah ngeluh. Rata-rata statistik jam karet Indonesia itu lima belas menit, tau gak?” Bela Tasha.
Keyra melirik jam tangannya. ”Wah, kalau begitu sepuluh menit lagi dong?” keluhnya.
Andhita mengunyah permen karet dengan seru, soalnya dia lagi lapar, belum makan. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, dia langsung kesini. Boro-boro sempat makan, minum aja gak keburu. Sekarang sang pengiring yang mereka tunggu belum tampak batang hidungnya. Tapi belum sampai sepuluh menit, seorang cowok dengan tinggi kurang lebih 190 centimeter, dan kalau Andhita gak salah duga, mendatangi mereka. Wajahnya ganteng mirip Christian Sugiono, tapi rambutnya lurus. Walau cuma mengenakan seragam sekolah, postur tubuhnya yang atletis jelas terlihat.
Andhita melongo, permen karetnya hampir aja jatoh dari mulutnya yang terbuka. Itu kan... cowok yang hari minggu kemarin berebutan kaos di mal dengannya, dan cowok yang bertabrakan dengannya di kantin sampai makanannya tumpah semua ke lantai. Astaga, tapi... bukannya dia anak kelas satu? Lalu Andhita teringat cerita Tasha kalau Rendy memang anak baru. Pantas dia belum pernah melihatnya.
Andhita membuang permen karetnya yang udah pahit ke dalam bungkusnya sambil pura-pura menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
Putri menyenggol Tasha yang sedang menunduk tersipu malu. “Eh, elo kok gak bilang sih kalau orangnya cakep?”
“Gue udah bilang kemarin, kan? Elo aja yang gak percaya.” kata Tasha sambil menundukkan wajahnya yang merona merah.
Putri menatapnya heran. Rupanya Tasha lagi kasmaran. Nggak heran sih, Rendy emang cakep.
Cowok itu menatap mereka berempat dengan serius, tanpa senyum secuil pun! Walau sama-sama kelas 2 SMU, mereka berempat tampak seperti anak SMP yang berhadapan dengan mahasiswa. Semuanya diam sampai Putri memecah keheningan.
”Elo yang namanya Rendy, kan?” tanyanya.
Cowok itu mengangguk. “Elo yang namanya Andhita?”
Putri menggeleng. ”Bukan gue..”
”Siapa yang namanya Andhita?” tanya Rendy agak galak, tapi wajahnya penasaran.
Cowok ini kok lagaknya kayak guru yang mau menghukum muridnya sih? Batin Andhita. Belum apa-apa dia sudah ketakutan. Emangnya kemarin gue ngomong apa ya? Jangan-jangan ada yang ngebuat Rendy kesal lagi. Kalo dipikir-pikir, emang banyak sih yang bisa ngebuat rendy kesal sama dia. Jangan-jangan sekarang cowok ini mau balas dendam.
Andhita pelan-pelan mengacungkan tangannya. Rendy langsung memandangnya dan terkejut.
“Lho! Ternyta elo lagi?!” gumamnya.
Putri menyenggol Andhita. “Emangnya elo udah kenal dia Dhit?”
“Rupanya elo!” Kata rendy lagi. ”Siapa nama lo?” perintahnya seperti bos saja.
”Andhita.”
”Maksud gue nama lengkap lo!” serunya.
Buset! Galak amat, pikir Andhita. Dia jadi agak antipati sama cowok ini. Bukan gelagat baik nih. Andhita melirik Keyra di sebelahnya yang sedang bengong menyaksikan tingkah Rendy.
“Andhita Aradella Cahyadi.”
Cowok itu mengangguk-angguk. Lalu, seolah interupsi tadi gak ada, dia langsung melangkahkan kakinya ke piano dan membuka tutupnya.
”Kalian mau nyanyi lagu apa?” tanyanya.
Mereka berempat saling pandang. Apa-apaan nih? Mereka sedang mencari pengiring, bukan pemimpin, lebih-lebih provokator.
”Ng... kita kan belum saling kenal. Gimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu? Gue Putri, pemimpin vocal grup ini.” kata Putri sambil mengulurkan tangan.
Tanpa menyambut uluran tangan Putri, Rendy menyela, ”Gue udah tau semuanya. Elo Putri, dia Andhita, dia Tasha temen sekelas gue, satu lagi pasti Keyra. Kalian mau manggung di malam kesenian, nyanyiin satu lagu. Trus kalian butuh pengiring kan? Satu-satunya yang belum gue tau cuma lagu apa yang bakalan kalian nyanyiin di malam kesenian nanti.” tutur Rendy panjang lebar.
Keempat gadis itu saling pandang dengan bingung. Tiba-tiba Andhita maju, “Eh, denger ya. Kita berempat lagi nyari pengiring, bukannya memohon elo buat jadi pengiring kita. Yang bisa ngiringin masih banyak kok, bukan elo aja. Jadi orang kok sombong banget. Kalau begini terus, mendingan kita nggak jadi make elo!!” kata Andhita emosi dan tanpa basa-basi. Dia memang nggak suka konfrontasi. Tapi kalau sudah kelewatan, emosinya suka meledak-ledak seperti karbondioksida. Coca Cola yang kalengnya dikocok-kocok lalu dibuka.
”Uh, galak amat.” kata Rendy santai. ”Ya udah, kalian mau ngomong apa sih? Masalahnya, waktu gue juga gak banyak. Gue cuma punya waktu setengah jam buat latihan.” dia lalu duduk di bangku dan menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Dia memandang cewek itu dengan santai.
”Hei...” Andhita mau ngomel lagi, tapi Putri menahannya. Cewek berambut lurus sebahu itu maju ke depan.
“Rendy... itu nama lo kan? Begini aja, kita berempat mau nyanyi lagu A Whole New World yang jadi soundtrack filmnya Aladin. Ini partiturnya.” Putri menyerahkan selembar kertas pada cowok itu. “Kita gak mau muluk-muluk, tapi yang pasti kita nyari pengiring yang cocok dengan suara kita. Bukan yang main pianonya terlalu jago sehingga akhirnya meredam penampilan kita berempat, juga bukan yang permainan pianonya payah sehingga tidak sesuai dengan suara kita, tapi yang benar-benar bisa mengiringi! Jelas Putri. Yang lain mengangguk-angguk setuju.
”Karena itu, kata-kata elo yang kemarin udah disampein Andhita akan gue balik. Bukan elo yang akan mendengakan suara kita, tapi kita yang akan mendengarkan dan menilai permainan piano lo! Kata Putri dengan bahu agak bergetar.
Andhita ngerti banget perasaan Putri yang pasti takut-takut cemas. Soalnya kharisma cowok tampan di depan mereka besar juga. Tingkahnya juga nyantai dan nggak ada rasa takut sama sekali menghadapi empat oang cewek. Sebenarnya kalau mereka keroyok, Rendy pasti kalah, pikir Andhita nakal.
Rendy memandang ke atas seolah sedang mempertimbangkan kata-kata Putri. Tiba-tiba dia memandang mereka dan berkata, “Okay, it’s a deal!”
Dia menghampiri piano dan menekan tutsnya dengan cepat seperti pemain piano professional.
”Nadanya di mana?”
”Di D aja.” jawab Putri.
”Oke. Kalian mulai setelah gue kasih intro dikit yah?”
Rendy lalu memulai intro lagu A Whole New World dengan manis sekali. Mereka semua merasa takjub. Permainan piano seperti inilah yang mereka cari. Tidak terlalu menonjol, tapi sangat bagus.
”Mulai.” katanya.
I can show you the world, shinning, shimmering, splendid
Tell me princess now when did you last let your heart decide
I can open your eyes, take you wonder by wonder
Over side ways and under on a magic carpet ride
Tanpa meminta pertimbangan, Rendy langsung memainkan interlude saat lagu selesai dan memberi tanda bahwa mereka bisa menyanyikan bagian reffreinnya. Ketika selesai, tidak ada yang berani manyatakan pendapat. Rendy memang pantas menjadi pengiring mereka. Kata-katanya kemarin bahwa dia ingin melihat kualitas suara mereka itu benar. Tidak mungkin pemain piano setaraf dia mau mengiringi penyanyi asal-asalan. Dan mereka berempat jadi agak sedikit minder.
”Bagaimana?” tanya Rendy sambil menutup piano.
”Oke. Bagus banget. Permainan piano lo emang hebat.” Puji Putri.
”Thank you.” Jawab rendy tanpa bermaksud nyombong. Padahal sih.. iya.
Putri memandang yang lain dan berbisik-bisik dengan Keyra. Dia lalu memandang Rendy lagi.
“Begini deh. Kita memutuskan untuk menerima elo sebagai pengiring kita berempat. Tapi dengan satu syarat, elo harus hadir di setiap latihan.”
Cowok itu berpikir sesaat. “Oke. Gue cuma bisa menjanjikan seengah jam sepulang sekolah setiap hari selasa dan kamis. Ditambah latiha intensif dua hari berturut-turut menjelang malam kesenian.” kata cowok itu.
Putri berpikir sejenak. ”Oke. Kita terima.”
Rendy melirik jam tangannya. ”Sekarang gue pulang dulu. Udah waktunya gue les. Hari kamis gue dating ke sini on time. Sori tadi gue terlambat karena ada pembicaraan penting dnegan guru. Oh ya, gue saranin kalian juga latihan tanpa gue. Nanti gue rekamin permainan piano gue yang bisa kalian pakai buat latihan sendiri. Bagaimana?”
Putri terpaksa mengangguk lagi. Sebenarnya dia merasa sedikit terintimidasi, tapi mau gimana lagi?
”Oke. Kalau gak ada yang ditanyain lagi, gue permisi dulu. See ya!” katanya. Sebelum berlalu, cowok itu memandang Andhita dan memerhatikannya dengan cermat, dari atas kepala hingga ujung kaki. Andhita jadi malu sekaligus marah. Apa sih hak cowok itu menelitinya seperti menaksir nilai sebuah barang? Apa dia pikir dia itu cakep, jadi bisa seenaknya?
Sepeninggalan Rendy, semuanya jadi heboh.
”Gile banget, cowok kok nyebelin kayak begitu ya? Bisa tahan nggak ya, gue ngadepin dia?” seru Keyra yang tomboy dan nggak mempan sama cowok cakep biar cakepnya selangit, kebalikan dari ketiga temannya.
“Udah gue bilang, dia itu cakep dan pinter banget. Kelas gue aja semuanya ngeper sama dia.” timpal Tasha.
”Tapi...apa tindakan kita menerima dia udah benar? Masalahnya, dia itu terlalu otoriter dan ngatur kita terus. Bisa-bisa kalau nanti terjadi bentrokan, hubungan kita bisa buruk.” keluh Putri.
Andhita diam saja, sehingga ketiga temannya memandangnya, ”Kenapa lo diem aja Dhit?”
Andhita memandang mereka dengan muram. Dia lalu menceritakan pertemuannya dengan Rendy waktu rebutan kaos di mal dan waktu tabrakan di kantin sekolah. Lalu waktu menghubungi cowok itu di telepon, dia sama sekali nggak tahu bahwa Rendy itu ternyata cowok menyebalkan yang sama yang pernah ditemuinya sebelumnya. Parahnya dia mengira Rendy anak kelas satu.
”Gue gimana dong? Tadi gue udah maki-maki dia. Gue jadi nggak enak nih setiap kali ketemu dia…”
Keyra ketawa. “Elo juga sih, main marha-marah aja. Bukannya dengerin dulu keputusan Putri mau terima apa nggak.”
Andhita memandang Putri. ”Apa kita cari pengiring lain aja ya Put? Gue yang cari deh.. Please...”
Putri memandang Andhita tegas. ”Nggak bisa, Dhit. Kata-kata yang udah gue keluarin ibaratnya ludah, nggak mungkin bisa gue telan lagi. Sori, tapi memang dia pengiring yang tepat buat vocal grup kita.” Katanya sambil menepuk-nepuk bahu Andhita bak pemimpin partai yang sedang memberikan interuksi pada anak buahnya. Andhita mengangguk muram.
“Lagian juga...” tambah Putri, “…dia ganteng banget.” Katanya sambil mengedipkan mata, membuat yang lain jadi tertawa dan Andhita melotot sewot.
***
Hari rabu, saat istirahat pertama, Andhita sedang sibuk menyalin PR bahasa Inggris yang lupa dibuatnya. Padahal dia belum sarapan, jadi terpaksa dia menahan lapar sampai istiahat kedua. Sebenarnya Andhita paling nggak bisa nahan lapar, tapi... mau bagaimana lagi? Ketika dilihatnya Donny-cowok yang duduk dibelakangnya-sedang makan gorengan, dia langsung merebutnya dan memasukkannya ke dalam mulut.
”Eh..tega banget lo Dhit! Gue masih laper nih.” Rintih cowok gendut itu. Andhita hanya tertawa sambil mengunyah gorengan yang memenuhi mulutnya hingga susah dikunyah.
“Andhita Aradella Cahyadi!” tiba-tiba terdengar sebuah suara di belakang Andhita yang membuatnya kaget. Ketika dia berbalik, dilihatnya Rendy sudah berdiri di hadapannya. Andhita langsung tersedak karena gorengan yang memenuhi mulutnya, jadi terpaksa sebagian dia muntahkan ke meja. Buru-buru dia mengambil tisu dan membersihkan meja.
Cepat-cepat diambilnya botol Aqua milik Emil di sebelahnya, dan langsung meminumnya hingga separuh habis. Gorengan yang tajam melukai tenggorokannya hingga terasa sakit. Dia memelototi Rendy yang sedang tersenyum memandangnya.
“Apa-apaan sih lo? Ngagetin orang aja!” seru Andhita.
Rendy hanya tertawa. Dia mengeluarkan sebuah kaset dan menaruhnya di meja, di dekat bekas muntahan gorengan tadi. Secara refleks Andhita membenahi rambutnya dengan kedua tangan, dan menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. Tanpa sadar dia jadi mengkhawatirkan penampilannya. Mukanya keliatan berminyak gak ya? Rambutnya berantakan gak ya?
”Ini kaset rekaman permainan piano gue. Bisa lo pakai buat latihan.” jelas Rendy.
”Ng..kenapa lo kasih ke gue?”
”Gue kan udah kenal sama lo. Dan elo yang menghubungin gue pertama kali. Inget?”
Andhita jadi salah tingkah. Dia mengambil kaset itu dan memperhatikannya. Kaset yang diberi label A Whole New World. Niat amat.
Rendy tampaknya tidak ingin buru-buru berlalu. “Ngomong-ngomong, itu apa?” ujarnya sambil melihat PR yang sedang dikerjakan Andhita. “PR?” tanyanya.
Andhita langsung menutup bukunya. “Iya, tapi buat besok.” Katanya.
Rendy tertawa lagi, seolah tahu apa yang sedang dikerjakan Andhita. “Jangan terlalu ngoyo. PR kan bisa dikerjain di rumah.” Komentar cowok itu.
Andhita cemberut kesal. Cowok gak tahu diri. Benci sekali dia, entah kenapa. Pokoknya, sejak berbicara dengan Rendy di telepon, Andhita udah gak simpati sama cowok itu. Tiba-tiba Andhita merasa emosinya meledak lagi.
”Hei! Elo ini kenapa sih? Udah belom ngomongnya?” bentaknya. ”Lagian juga kenapa kaset ini gak lo kasih ke Tasha aja> kenapa malah ngasih ke gue?”
Rendy tersenyum menyebalkan. ”Tasha itu suka sama gue. Dia suka salah tingkah dan ngumpet-ngumpet gitu kalau ngeliat gue. Kalau gue kasih kaset ini ke dia, gue takut nanti dia bakalan salah paham. Makanya gue kasih ke elo aja. Elo gak mungkin punya pikiran seperti Tasha kan? Atau...” Rendy mendekatkan wajahnya ke wajah Andhita dan menatapnya lekat, ”Elo juga suka sama gue? Nggak usah malu, banyak kok cewek yang begitu. Gue...”
Wow wow wow! Apa-apaan nih? Andhita nggak pernah mendengar ada cowok yang bicara kayak gitu sebelumnya. Sombong banget! Andhita nggak tahan lagi. Dia pun berdiri. “Udah deh, pergi sana! Jangan kira karena Putri setuju elo jadi pengiring kita, gue juga setuju ya?”
Rendy tertawa. ”Elo setuju atau nggak, gue gak masalah. Toh gue dipilih secara objektif, bukan subjektif. Gue dipilih karena gue bisa.” Katanya tanpa berkesan sombong. Tapi Andhita tetap menganggap Rendy itu sombong banget!
Andhita sudah mau menyemprot Rendy lagi ketika seseorang memasuki kelasnya. Seorang cowok ganteng menghampiri mereka. Adit, sang ketua OSIS, anak kelas 3 IPS 2. cowok idola Andhita yang selalu membuatnya salah tingkah.
”Andhita! Gue mau minta konfirmasi nih. Elo jadi tampil di acara malam kesenian kan?” tanya Adit.
”Andhita merasakan wajahnya memerah. ”Oh, jadi Kak Adit...”
Tiba-tiba Rendy maju ke depan Adit dan mengulurkan tangannya. “Kenalin, gue Rendy dari 2 IPA 3. Gue yang akan jadi pengiring Andhita dan teman-temannya nanti.”
”Oh ya?” Adit tersenyum dan menyambut tangan Rendy. Kemudian dia kembali menatap Andhita. ”Dhit, kira-kira lagu yang bakalan lo nyanyiin itu berapa menit durasinya?”
Sebelum Andhita sempat menjawab, bahkan sebelum menghitung-hitung, Rendy langsung menanggapinya, ”Kira-kira lima menit. Ditambah masuk dan keluarnya penyanyi, tulis aja sepuluh menit.”
Andhita melotot. Sok tahu banget sih nih orang! Apa dia nggak bisa ngebaca suasana? Adit kan cuma nanya ke gue, pikir Andhita. Barangkali aja dia sedang cari-cari alasan buat PDKT sama gue!
Adit mencatat jawaban yang diberikan Rendy tadi di bukunya. Andhita mengerutkan bibirnya dengan jengkel.
”Oke deh. Kalau ada perubahan apa-apa, kasih tahu gue yah?” kata Adit lalu meninggalkan mereka pergi.
”Kok ngeliatin dia terus? Naksir yah?” pertanyaan Rendy mengagetkan Andhita.
Andhita tersentak. Tanpa sadar sejak tadi dia memang memerhatikan langkah Adit keluar dari kelasnya. Dengan pandangan memuja lagi!
”Apa-apaan sih lo? Emang apa salahnya gue suka sama dia?” gerutu Andhita.
”Suka juga gak apa-apa. Tapi gue nggak nyangka aja, ternyata selera lo rendah.” gumam Rendy.
”Apa? Selera rendah? Salah kali… yang seleranya rendah itu adalah cewek-cewek yang naksir sama elo!” seru Andhita.
Kriiiing…! Bel masuk berbunyi. Tuh kan, gue jadi gak sempet menyelesaikan PR gara-gara si kunyuk ini, batin Andhita marah.
Rendy hanya tertawa menyebalkan. “Gue balik dulu ke kelas.” Katanya.
Sebodo amat! Gerutu Andhita.
Sepeninggal Rendy, Andhita memikirkan kata-kata cowok tadi. ”Tasha itu suka sama gue. Dia suka salah tingkah dan ngumpet kalau ngeliat gue... elo juga suka sama gue...? tapi gue gak nyangka aja, kalau ternyata selera lo rendah...”
Keterlaluan! Huh! Andhita pengen banget muntah sekali lagi ke wajah cowok itu. Dia menyesal kenapa muntahan gorengan itu tadi nggak dia jejelin aja ke mulut Rendy. Cuih! Sombong! Besar kepala! Kurang ajar! Kalau nggak perlu-perlu amat, gue nggak akan memedulikan dia, janji Andhita pada dirinya sendiri.
***
SMU Pramita adalah sekolah yang cukup punya nama di kawasan Kelapa Gading. Tempat parkirnya luas, karena kebanyakan muridnya diizinkan membawa mobil oleh orang tua mereka, padahal tinggalnya di kompleks itu-itu juga. Susah sih, soalnya udah jadi budaya. Mami-mami mereka aja pergi ke salon naik mobil, padahal salonnya cuma beda satu blok. Malah ada siswa yang rumahnya tepat di seberang sekolah, pergi sekolah naik mobil. Jadi sebenarnya dia bisa tinggal nyebrang, paling hanya butuh satu menit. Coba kalau naik mobil. Dari masuk ke mobil, buka pagar rumah, jalan setengah menit, parkir mobil di halaman parkir sekolah, sama turun dari mobil, semua butuh sepuluh menit. Katanya demi gaya.
Lapangan olahraganya juga besar. Ada yang indoor, ada yang outdoor. Mungkin itu juga yang membuat anak-anak kompleks dan sekitarnya tertarik bersekolah di situ. Kelas satu ada enam kelas, kelas dua dan tiga ada lima kelas. Total siswanya sekitar lima ratus dua puluh orang.
SMU Pramita punya banyak fasilitas. Ada ruang perpustakaan, internet gratis, ada kamar mandi dengan shower buat mengantisipasi kalau ada yang ingin mandi setelah olahraga, meskipun jarang dipakai karena habis olahraga waktu sampai jam pelajaran berikutnya cuma lima belas menit. Juga ada loker. Tapi karena setiap hari memang ada PR dan ulangan, maka semua buku mau gak mau dibawa pulang. Jadi lokernya Cuma jadi sarang barang-barang gak berguna kayak novel, komik, yang bisa ditukarkan. Serta baju tambahan, in case kalau mau pergi ke mal pulang sekolah.
Khusus untuk pertemuan-pertemuan, dipakai aula besar. Aula itu terletak di lantai lima. Andhita dan empat sahabatnya sudah berjanji bertemu dengan Rendy di sana. Di dalam aula ada berbagai alat musik yang bisa digunakan kalau ada acara di sekolah, termasuk piano yang akan mereka butuhkan untuk ”casting ala Rendy” ini.
”Gimana nih? Janjinya jam dua belas, udah lewat lima menit kok belum datang.” Gerutu Keyra, yang terkenal tepat waktu.
“Baru lewat lima menit aja udah ngeluh. Rata-rata statistik jam karet Indonesia itu lima belas menit, tau gak?” Bela Tasha.
Keyra melirik jam tangannya. ”Wah, kalau begitu sepuluh menit lagi dong?” keluhnya.
Andhita mengunyah permen karet dengan seru, soalnya dia lagi lapar, belum makan. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, dia langsung kesini. Boro-boro sempat makan, minum aja gak keburu. Sekarang sang pengiring yang mereka tunggu belum tampak batang hidungnya. Tapi belum sampai sepuluh menit, seorang cowok dengan tinggi kurang lebih 190 centimeter, dan kalau Andhita gak salah duga, mendatangi mereka. Wajahnya ganteng mirip Christian Sugiono, tapi rambutnya lurus. Walau cuma mengenakan seragam sekolah, postur tubuhnya yang atletis jelas terlihat.
Andhita melongo, permen karetnya hampir aja jatoh dari mulutnya yang terbuka. Itu kan... cowok yang hari minggu kemarin berebutan kaos di mal dengannya, dan cowok yang bertabrakan dengannya di kantin sampai makanannya tumpah semua ke lantai. Astaga, tapi... bukannya dia anak kelas satu? Lalu Andhita teringat cerita Tasha kalau Rendy memang anak baru. Pantas dia belum pernah melihatnya.
Andhita membuang permen karetnya yang udah pahit ke dalam bungkusnya sambil pura-pura menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
Putri menyenggol Tasha yang sedang menunduk tersipu malu. “Eh, elo kok gak bilang sih kalau orangnya cakep?”
“Gue udah bilang kemarin, kan? Elo aja yang gak percaya.” kata Tasha sambil menundukkan wajahnya yang merona merah.
Putri menatapnya heran. Rupanya Tasha lagi kasmaran. Nggak heran sih, Rendy emang cakep.
Cowok itu menatap mereka berempat dengan serius, tanpa senyum secuil pun! Walau sama-sama kelas 2 SMU, mereka berempat tampak seperti anak SMP yang berhadapan dengan mahasiswa. Semuanya diam sampai Putri memecah keheningan.
”Elo yang namanya Rendy, kan?” tanyanya.
Cowok itu mengangguk. “Elo yang namanya Andhita?”
Putri menggeleng. ”Bukan gue..”
”Siapa yang namanya Andhita?” tanya Rendy agak galak, tapi wajahnya penasaran.
Cowok ini kok lagaknya kayak guru yang mau menghukum muridnya sih? Batin Andhita. Belum apa-apa dia sudah ketakutan. Emangnya kemarin gue ngomong apa ya? Jangan-jangan ada yang ngebuat Rendy kesal lagi. Kalo dipikir-pikir, emang banyak sih yang bisa ngebuat rendy kesal sama dia. Jangan-jangan sekarang cowok ini mau balas dendam.
Andhita pelan-pelan mengacungkan tangannya. Rendy langsung memandangnya dan terkejut.
“Lho! Ternyta elo lagi?!” gumamnya.
Putri menyenggol Andhita. “Emangnya elo udah kenal dia Dhit?”
“Rupanya elo!” Kata rendy lagi. ”Siapa nama lo?” perintahnya seperti bos saja.
”Andhita.”
”Maksud gue nama lengkap lo!” serunya.
Buset! Galak amat, pikir Andhita. Dia jadi agak antipati sama cowok ini. Bukan gelagat baik nih. Andhita melirik Keyra di sebelahnya yang sedang bengong menyaksikan tingkah Rendy.
“Andhita Aradella Cahyadi.”
Cowok itu mengangguk-angguk. Lalu, seolah interupsi tadi gak ada, dia langsung melangkahkan kakinya ke piano dan membuka tutupnya.
”Kalian mau nyanyi lagu apa?” tanyanya.
Mereka berempat saling pandang. Apa-apaan nih? Mereka sedang mencari pengiring, bukan pemimpin, lebih-lebih provokator.
”Ng... kita kan belum saling kenal. Gimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu? Gue Putri, pemimpin vocal grup ini.” kata Putri sambil mengulurkan tangan.
Tanpa menyambut uluran tangan Putri, Rendy menyela, ”Gue udah tau semuanya. Elo Putri, dia Andhita, dia Tasha temen sekelas gue, satu lagi pasti Keyra. Kalian mau manggung di malam kesenian, nyanyiin satu lagu. Trus kalian butuh pengiring kan? Satu-satunya yang belum gue tau cuma lagu apa yang bakalan kalian nyanyiin di malam kesenian nanti.” tutur Rendy panjang lebar.
Keempat gadis itu saling pandang dengan bingung. Tiba-tiba Andhita maju, “Eh, denger ya. Kita berempat lagi nyari pengiring, bukannya memohon elo buat jadi pengiring kita. Yang bisa ngiringin masih banyak kok, bukan elo aja. Jadi orang kok sombong banget. Kalau begini terus, mendingan kita nggak jadi make elo!!” kata Andhita emosi dan tanpa basa-basi. Dia memang nggak suka konfrontasi. Tapi kalau sudah kelewatan, emosinya suka meledak-ledak seperti karbondioksida. Coca Cola yang kalengnya dikocok-kocok lalu dibuka.
”Uh, galak amat.” kata Rendy santai. ”Ya udah, kalian mau ngomong apa sih? Masalahnya, waktu gue juga gak banyak. Gue cuma punya waktu setengah jam buat latihan.” dia lalu duduk di bangku dan menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Dia memandang cewek itu dengan santai.
”Hei...” Andhita mau ngomel lagi, tapi Putri menahannya. Cewek berambut lurus sebahu itu maju ke depan.
“Rendy... itu nama lo kan? Begini aja, kita berempat mau nyanyi lagu A Whole New World yang jadi soundtrack filmnya Aladin. Ini partiturnya.” Putri menyerahkan selembar kertas pada cowok itu. “Kita gak mau muluk-muluk, tapi yang pasti kita nyari pengiring yang cocok dengan suara kita. Bukan yang main pianonya terlalu jago sehingga akhirnya meredam penampilan kita berempat, juga bukan yang permainan pianonya payah sehingga tidak sesuai dengan suara kita, tapi yang benar-benar bisa mengiringi! Jelas Putri. Yang lain mengangguk-angguk setuju.
”Karena itu, kata-kata elo yang kemarin udah disampein Andhita akan gue balik. Bukan elo yang akan mendengakan suara kita, tapi kita yang akan mendengarkan dan menilai permainan piano lo! Kata Putri dengan bahu agak bergetar.
Andhita ngerti banget perasaan Putri yang pasti takut-takut cemas. Soalnya kharisma cowok tampan di depan mereka besar juga. Tingkahnya juga nyantai dan nggak ada rasa takut sama sekali menghadapi empat oang cewek. Sebenarnya kalau mereka keroyok, Rendy pasti kalah, pikir Andhita nakal.
Rendy memandang ke atas seolah sedang mempertimbangkan kata-kata Putri. Tiba-tiba dia memandang mereka dan berkata, “Okay, it’s a deal!”
Dia menghampiri piano dan menekan tutsnya dengan cepat seperti pemain piano professional.
”Nadanya di mana?”
”Di D aja.” jawab Putri.
”Oke. Kalian mulai setelah gue kasih intro dikit yah?”
Rendy lalu memulai intro lagu A Whole New World dengan manis sekali. Mereka semua merasa takjub. Permainan piano seperti inilah yang mereka cari. Tidak terlalu menonjol, tapi sangat bagus.
”Mulai.” katanya.
I can show you the world, shinning, shimmering, splendid
Tell me princess now when did you last let your heart decide
I can open your eyes, take you wonder by wonder
Over side ways and under on a magic carpet ride
Tanpa meminta pertimbangan, Rendy langsung memainkan interlude saat lagu selesai dan memberi tanda bahwa mereka bisa menyanyikan bagian reffreinnya. Ketika selesai, tidak ada yang berani manyatakan pendapat. Rendy memang pantas menjadi pengiring mereka. Kata-katanya kemarin bahwa dia ingin melihat kualitas suara mereka itu benar. Tidak mungkin pemain piano setaraf dia mau mengiringi penyanyi asal-asalan. Dan mereka berempat jadi agak sedikit minder.
”Bagaimana?” tanya Rendy sambil menutup piano.
”Oke. Bagus banget. Permainan piano lo emang hebat.” Puji Putri.
”Thank you.” Jawab rendy tanpa bermaksud nyombong. Padahal sih.. iya.
Putri memandang yang lain dan berbisik-bisik dengan Keyra. Dia lalu memandang Rendy lagi.
“Begini deh. Kita memutuskan untuk menerima elo sebagai pengiring kita berempat. Tapi dengan satu syarat, elo harus hadir di setiap latihan.”
Cowok itu berpikir sesaat. “Oke. Gue cuma bisa menjanjikan seengah jam sepulang sekolah setiap hari selasa dan kamis. Ditambah latiha intensif dua hari berturut-turut menjelang malam kesenian.” kata cowok itu.
Putri berpikir sejenak. ”Oke. Kita terima.”
Rendy melirik jam tangannya. ”Sekarang gue pulang dulu. Udah waktunya gue les. Hari kamis gue dating ke sini on time. Sori tadi gue terlambat karena ada pembicaraan penting dnegan guru. Oh ya, gue saranin kalian juga latihan tanpa gue. Nanti gue rekamin permainan piano gue yang bisa kalian pakai buat latihan sendiri. Bagaimana?”
Putri terpaksa mengangguk lagi. Sebenarnya dia merasa sedikit terintimidasi, tapi mau gimana lagi?
”Oke. Kalau gak ada yang ditanyain lagi, gue permisi dulu. See ya!” katanya. Sebelum berlalu, cowok itu memandang Andhita dan memerhatikannya dengan cermat, dari atas kepala hingga ujung kaki. Andhita jadi malu sekaligus marah. Apa sih hak cowok itu menelitinya seperti menaksir nilai sebuah barang? Apa dia pikir dia itu cakep, jadi bisa seenaknya?
Sepeninggalan Rendy, semuanya jadi heboh.
”Gile banget, cowok kok nyebelin kayak begitu ya? Bisa tahan nggak ya, gue ngadepin dia?” seru Keyra yang tomboy dan nggak mempan sama cowok cakep biar cakepnya selangit, kebalikan dari ketiga temannya.
“Udah gue bilang, dia itu cakep dan pinter banget. Kelas gue aja semuanya ngeper sama dia.” timpal Tasha.
”Tapi...apa tindakan kita menerima dia udah benar? Masalahnya, dia itu terlalu otoriter dan ngatur kita terus. Bisa-bisa kalau nanti terjadi bentrokan, hubungan kita bisa buruk.” keluh Putri.
Andhita diam saja, sehingga ketiga temannya memandangnya, ”Kenapa lo diem aja Dhit?”
Andhita memandang mereka dengan muram. Dia lalu menceritakan pertemuannya dengan Rendy waktu rebutan kaos di mal dan waktu tabrakan di kantin sekolah. Lalu waktu menghubungi cowok itu di telepon, dia sama sekali nggak tahu bahwa Rendy itu ternyata cowok menyebalkan yang sama yang pernah ditemuinya sebelumnya. Parahnya dia mengira Rendy anak kelas satu.
”Gue gimana dong? Tadi gue udah maki-maki dia. Gue jadi nggak enak nih setiap kali ketemu dia…”
Keyra ketawa. “Elo juga sih, main marha-marah aja. Bukannya dengerin dulu keputusan Putri mau terima apa nggak.”
Andhita memandang Putri. ”Apa kita cari pengiring lain aja ya Put? Gue yang cari deh.. Please...”
Putri memandang Andhita tegas. ”Nggak bisa, Dhit. Kata-kata yang udah gue keluarin ibaratnya ludah, nggak mungkin bisa gue telan lagi. Sori, tapi memang dia pengiring yang tepat buat vocal grup kita.” Katanya sambil menepuk-nepuk bahu Andhita bak pemimpin partai yang sedang memberikan interuksi pada anak buahnya. Andhita mengangguk muram.
“Lagian juga...” tambah Putri, “…dia ganteng banget.” Katanya sambil mengedipkan mata, membuat yang lain jadi tertawa dan Andhita melotot sewot.
***
Hari rabu, saat istirahat pertama, Andhita sedang sibuk menyalin PR bahasa Inggris yang lupa dibuatnya. Padahal dia belum sarapan, jadi terpaksa dia menahan lapar sampai istiahat kedua. Sebenarnya Andhita paling nggak bisa nahan lapar, tapi... mau bagaimana lagi? Ketika dilihatnya Donny-cowok yang duduk dibelakangnya-sedang makan gorengan, dia langsung merebutnya dan memasukkannya ke dalam mulut.
”Eh..tega banget lo Dhit! Gue masih laper nih.” Rintih cowok gendut itu. Andhita hanya tertawa sambil mengunyah gorengan yang memenuhi mulutnya hingga susah dikunyah.
“Andhita Aradella Cahyadi!” tiba-tiba terdengar sebuah suara di belakang Andhita yang membuatnya kaget. Ketika dia berbalik, dilihatnya Rendy sudah berdiri di hadapannya. Andhita langsung tersedak karena gorengan yang memenuhi mulutnya, jadi terpaksa sebagian dia muntahkan ke meja. Buru-buru dia mengambil tisu dan membersihkan meja.
Cepat-cepat diambilnya botol Aqua milik Emil di sebelahnya, dan langsung meminumnya hingga separuh habis. Gorengan yang tajam melukai tenggorokannya hingga terasa sakit. Dia memelototi Rendy yang sedang tersenyum memandangnya.
“Apa-apaan sih lo? Ngagetin orang aja!” seru Andhita.
Rendy hanya tertawa. Dia mengeluarkan sebuah kaset dan menaruhnya di meja, di dekat bekas muntahan gorengan tadi. Secara refleks Andhita membenahi rambutnya dengan kedua tangan, dan menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. Tanpa sadar dia jadi mengkhawatirkan penampilannya. Mukanya keliatan berminyak gak ya? Rambutnya berantakan gak ya?
”Ini kaset rekaman permainan piano gue. Bisa lo pakai buat latihan.” jelas Rendy.
”Ng..kenapa lo kasih ke gue?”
”Gue kan udah kenal sama lo. Dan elo yang menghubungin gue pertama kali. Inget?”
Andhita jadi salah tingkah. Dia mengambil kaset itu dan memperhatikannya. Kaset yang diberi label A Whole New World. Niat amat.
Rendy tampaknya tidak ingin buru-buru berlalu. “Ngomong-ngomong, itu apa?” ujarnya sambil melihat PR yang sedang dikerjakan Andhita. “PR?” tanyanya.
Andhita langsung menutup bukunya. “Iya, tapi buat besok.” Katanya.
Rendy tertawa lagi, seolah tahu apa yang sedang dikerjakan Andhita. “Jangan terlalu ngoyo. PR kan bisa dikerjain di rumah.” Komentar cowok itu.
Andhita cemberut kesal. Cowok gak tahu diri. Benci sekali dia, entah kenapa. Pokoknya, sejak berbicara dengan Rendy di telepon, Andhita udah gak simpati sama cowok itu. Tiba-tiba Andhita merasa emosinya meledak lagi.
”Hei! Elo ini kenapa sih? Udah belom ngomongnya?” bentaknya. ”Lagian juga kenapa kaset ini gak lo kasih ke Tasha aja> kenapa malah ngasih ke gue?”
Rendy tersenyum menyebalkan. ”Tasha itu suka sama gue. Dia suka salah tingkah dan ngumpet-ngumpet gitu kalau ngeliat gue. Kalau gue kasih kaset ini ke dia, gue takut nanti dia bakalan salah paham. Makanya gue kasih ke elo aja. Elo gak mungkin punya pikiran seperti Tasha kan? Atau...” Rendy mendekatkan wajahnya ke wajah Andhita dan menatapnya lekat, ”Elo juga suka sama gue? Nggak usah malu, banyak kok cewek yang begitu. Gue...”
Wow wow wow! Apa-apaan nih? Andhita nggak pernah mendengar ada cowok yang bicara kayak gitu sebelumnya. Sombong banget! Andhita nggak tahan lagi. Dia pun berdiri. “Udah deh, pergi sana! Jangan kira karena Putri setuju elo jadi pengiring kita, gue juga setuju ya?”
Rendy tertawa. ”Elo setuju atau nggak, gue gak masalah. Toh gue dipilih secara objektif, bukan subjektif. Gue dipilih karena gue bisa.” Katanya tanpa berkesan sombong. Tapi Andhita tetap menganggap Rendy itu sombong banget!
Andhita sudah mau menyemprot Rendy lagi ketika seseorang memasuki kelasnya. Seorang cowok ganteng menghampiri mereka. Adit, sang ketua OSIS, anak kelas 3 IPS 2. cowok idola Andhita yang selalu membuatnya salah tingkah.
”Andhita! Gue mau minta konfirmasi nih. Elo jadi tampil di acara malam kesenian kan?” tanya Adit.
”Andhita merasakan wajahnya memerah. ”Oh, jadi Kak Adit...”
Tiba-tiba Rendy maju ke depan Adit dan mengulurkan tangannya. “Kenalin, gue Rendy dari 2 IPA 3. Gue yang akan jadi pengiring Andhita dan teman-temannya nanti.”
”Oh ya?” Adit tersenyum dan menyambut tangan Rendy. Kemudian dia kembali menatap Andhita. ”Dhit, kira-kira lagu yang bakalan lo nyanyiin itu berapa menit durasinya?”
Sebelum Andhita sempat menjawab, bahkan sebelum menghitung-hitung, Rendy langsung menanggapinya, ”Kira-kira lima menit. Ditambah masuk dan keluarnya penyanyi, tulis aja sepuluh menit.”
Andhita melotot. Sok tahu banget sih nih orang! Apa dia nggak bisa ngebaca suasana? Adit kan cuma nanya ke gue, pikir Andhita. Barangkali aja dia sedang cari-cari alasan buat PDKT sama gue!
Adit mencatat jawaban yang diberikan Rendy tadi di bukunya. Andhita mengerutkan bibirnya dengan jengkel.
”Oke deh. Kalau ada perubahan apa-apa, kasih tahu gue yah?” kata Adit lalu meninggalkan mereka pergi.
”Kok ngeliatin dia terus? Naksir yah?” pertanyaan Rendy mengagetkan Andhita.
Andhita tersentak. Tanpa sadar sejak tadi dia memang memerhatikan langkah Adit keluar dari kelasnya. Dengan pandangan memuja lagi!
”Apa-apaan sih lo? Emang apa salahnya gue suka sama dia?” gerutu Andhita.
”Suka juga gak apa-apa. Tapi gue nggak nyangka aja, ternyata selera lo rendah.” gumam Rendy.
”Apa? Selera rendah? Salah kali… yang seleranya rendah itu adalah cewek-cewek yang naksir sama elo!” seru Andhita.
Kriiiing…! Bel masuk berbunyi. Tuh kan, gue jadi gak sempet menyelesaikan PR gara-gara si kunyuk ini, batin Andhita marah.
Rendy hanya tertawa menyebalkan. “Gue balik dulu ke kelas.” Katanya.
Sebodo amat! Gerutu Andhita.
Sepeninggal Rendy, Andhita memikirkan kata-kata cowok tadi. ”Tasha itu suka sama gue. Dia suka salah tingkah dan ngumpet kalau ngeliat gue... elo juga suka sama gue...? tapi gue gak nyangka aja, kalau ternyata selera lo rendah...”
Keterlaluan! Huh! Andhita pengen banget muntah sekali lagi ke wajah cowok itu. Dia menyesal kenapa muntahan gorengan itu tadi nggak dia jejelin aja ke mulut Rendy. Cuih! Sombong! Besar kepala! Kurang ajar! Kalau nggak perlu-perlu amat, gue nggak akan memedulikan dia, janji Andhita pada dirinya sendiri.
***
Sabtu, 05 Juni 2010
Lovable (part 2)
“Cowok brengsek!” teriak Andhita gak karuan. Ia masuk ke dalam kamar Putri sambil mencak-mencak. Wajahnya yang cantik berkeringat dan rambutnya yang panjang jadi sedikit lepek. Napasnya memburu dan mukanya tampak kesal. Dan di kamar itu ketiga temannya menatap Andhita memandangnya dengan tatapan tidak mengerti.
“Lo kenapa sih Dhit?” Tanya Keyra.
Sejak tadi Keyra, Putri, dan Tasha sudah nunggu Andhita di kamar Putri buat ngumpul bareng dalam rangka mempersiapkan acara buat malam kesenian sekaligus malam perpisahan untuk anak kelas 3 yang sudah lulus di sekolah. Andhita terlambat tiga puluh menit. Boro-boro minta maaf, cewek itu malah teriak-teriak kayak orang gila. Jangan-jangan dia Cuma mengalihkan situasi, supaya perhatian teman-temannya yang mau marah sama dia jadi teralihkan. Luar biasa, otak mafia juga, pikir Keyra curiga.
Andhita duduk di pinggir tempat tidur Putri dengan napas masih terengah-engah. Wajahnya tampak jengkel.
”Kenapa sih?” tanya Putri.
”Iah, ada apaan sih Dhit?” timpal Tasha.
”Soal pengiring vocal grup kita...orang-orang yang ada di dalam daftar ...malam kesenian...,” kata Andhita nggak jelas. Napasnya tak beraturan kayak habis lari marathon.
”Tenang, tenang! Jangan cepat-cepat ngomongnya. Kita jadi bingung nih. Pelan-pelan aja. Kenapa sama pengiring kita?” tanya Keyra.
Andhita mengangguk sambil menelan ludah. Tatapannya tertuju pada Putri. ”Put, gue udah ngehubungi beberapa nomor telepon yang lo kasih kemarin. Kelima orang yang lo bilang pinter maen piano itu. Alam gak bisa, jadwalnya padat. Surya juga, jadwalnya bentrok sama jadwal kita. Ivan gak mau, dia bilang dia gak bisa ngiringin orang. Kalau si Rizal, katanya dia udah dikontak sama anak kelas satu buat ngiringin mereka maen drama teater. Dan satu-satunya harapan gue cuma yang terakhir, Rendy. Gue udah berusaha sesopan mungkin, sememelas mungkin, karena gue tahu dia satu-satunya harapan kita. Tapi... kalian tahu gak apa yang dia bilang?” teriak Andhita dengan nada suara yang semakin tinggi.
Rambut Andhita yang lurus bergoyang-goyang mengikuti gerak tubuhnya ketika dia berbicara. Alisnya yang hitam bertaut tada dia sedang marah. Wajahnya memerah seperti tomat segar. Memang nggak sealami itu sih, soalnya Andhita-lah satu-satunya diantara mereka berempat yang paling suka dandan. Karena baginya penampilan memang nomor satu. Mata yang ahli bisa melihat kalau alis Andhita yang hitam dicabuti dan dibentuk seperti sabit, lalu ditambahkan warna cokelat samar dengan pensil alis. Dia memakai bedak dua warna, putih sebagai dasar dan merah untuk bagian pipi. Mau tahu bulu matanya? Setiap hari dijepit biar lentik dan diberi maskara bening. Ketiga temannya tahu itu dan tidak lagi merasa aneh. Lagipula itu memang menambah kecantikan wajah Andhita yang memang sudah cantik, cuma agak curang memang.
“What? Tanya Putri penasaran.
“Dia belum bilang mau apa nggak. Kata dia, dia harus liat dulu seperti apa vocal grup kita. Coba deh... rese kan?” seru Andhita, lalu membasahi bibirnya yang terasa kering. Karena buru-buru, tadi dia lupa memakai lipgloss. Walau sedang emosi, cewek ini masih sempat juga mencari-cari lipgloss di dalam tasnya dan memakainya sambil menunduk. Setelah selesai, ia mengibaskan rambut panjangnya yang terjatuh ke depan.
Tiba-tiba Tasha, gadis paling imut-imut diantara mereka berempat, tertawa terbahak-bahak. Yang lain melihatnya bingung.
“Kenapa malah ketawa Sha?” Tanya Keyra.
Tasha berhenti tertawa dan berkata, ”Rendy itu emang aneh. Lo belum pernah katemu kan sama dia?”
”Belum.” Andhita menggeleng.
”Lo kemana aja Dhit? Si Rendy itu anak baru di kelas gue. Anaknya emang sok cool gitu. Tapi dia emang jagi banget. Baru sebulan di kelas gue, dia udah bisa ngebuktiin kalau dia pinter maen basket, voli, sepakbola, pinter dalam pelajaran, musik, dan yang paling penting…” Tasha membelalakkan matanya yang terlihat sangat besar dan kontras dibandingkan dengan wajahnya yang mungil dan berambut pendek. “…orangnya ganteng banget!!” katanya dengan ekspresi sedang membicarakan bintang film. Padahal aslinya Tasha pemalu. Cuma di depan teman-temannya saja dia bisa terlihat ”normal”.
”Apa?!” teriak Andhita. Dia bangkit berdiri dan bertolak pinggang. “Jadi itu alasan lo ngajuin dia sebagai calon pengiring kita? Jadi lo belum nanya dia mau apa nggak? Lo tau gak sih, lo tuh udah bikin malu gue!” serunya.
Tasha tersenyum malu-malu. ”Sori deh, Dhit. Harusnya gue yang nanya langsung ke dia. Tapi masalahnya… jantung gue deg-degan tiap kali berdeketan sama dia. Makanya gue minta Putri sekalian nyuruh lo yang hubungi dia, siapa tahu aja dia mau jadi pengiring kita.”
Putri yang berwibawa menengahi, ”Udah deh. Kalau kelima orang yang kita ajukan itu semua gak goal, kita bisa nyari orang lain kok. Iya kan?” Putri memang selalu lebih bijak, meski memang kadang-kadang sok ngatur.
Andhita menoleh pada Putri. ”Duh. Lo gak ngerti sih Put. Masalahnya, besok dia mau ketemu sama kita berempat. Gue kan tadi udah bilang kalo dia mau ngeliat penampilan kita dulu...”
”Apa? Sombong banget tuh orang!” sembur Keyra marah. Diantara mereka berempat, Keyra memang paling cepat marah dan suka protes. Dia juga agak-agak tomboy, suka banget sama yang berbau olahraga dan tubuhnya altetis dan tinggi. Rambutnya dipotong pendek, membuat wajahnya terlihat manis.
“Iya, makanya gue juga sebel. Tau gak, tadi gue di telepon cuma ngomong beberapa kata, selebihnya dia yang ngomong terus!” gerutu Andhita.
Putri diam sejenak dan berpikir. “Ya udah deh. Siapa tahu Rendy ini memang calon pengiring kita nanti. Sekarang sebaiknya kita latihan supaya gak malu-maluin di depan dia.” Katanya memutuskan. Yang lain setuju dan mulai berlatih.
***
Andhita memarkir mobilnya di garasi. Ada mobil Papa. Ia memegangnya, panas. Berarti Papa baru pulang. Ia buru-buru masuk ke rumah.
“Ma! Papa udah pulang ya!?” teriaknya.
Mamanya mengerutkan kening. ”Jangan teriak-teriak gitu dong, Dhit! Kuping Mama sakit dengernya!”
Andhita meringis. Dia masuk ke dalam dan melihat Papanya di ruang tengah. Papanya tersenyum melihatnya.
”Halo, anak Papa tersayang... Baru pulang?” ujar Papanya dengan gaya ngomong seperti pada anak balita, cuma nggak cadel aja. Dia memang sangat memanjakan anak semata wayangnya itu.
“Hai Pa! hari ini bawa oleh-oleh apa?” tanya Adhita sambil duduk di samping papanya.
”Cuma bawa lauk ikan woku-woku kesukaan kamu.”
”Asyik!!” seru Andhita. Dia langsung pergi ke meja makan. Dilihatnya ikan tongkol besar yang diberi bumbu cabe hijau superpedas dengan daun kemangi yang wangi terhidang di piring besar. Rasanya... wuih! Enak banget! Asal kuat pedas aja.
”Andhita! Cuci tangan dulu!” tegur Mama.
Andhita cemberut dan bangkit berdiri menuju wastafel. Beberapa saat kemudian mereka bertiga sudah duduk di meja makan untuk makan malam.
”Bagaimana latihan vocal grupnya? Sudah ketemu lagu yang cocok?” Tanya Papa.
“Mmm… mmm…” gumam Andhita dengan mulut penuh. “Judul lagunya A Whole New World. Lagunya bagus banget, dan kebetulan emang bisa megah kalau cuma diiringi sama piano. Tapi kita ada masalah sama pengiringnya. Masih belum ketemu, padahal malam kesenian tinggal dua bulan lagi.”
“Oh ya, kenapa kalian gak pake iringan karaoke aja?” usul Papa.
”Udah kepikir sih, Pa. Tapi kita udah nyari-nyari, gak ada karaoke dengan lagu itu.”
”Kalau begitu pakai lagu karaoke yang ada aja.”
”Gak bisa, Pa. Si Putri nggak mau. Dia udah susah payah bikin partiturnya.”
“Oh ya sudah.” Jawab Papa cuek. Sebenarnya sih beliau Cuma basa-basi nanyain Andhita.
Tiba-tiba Mama menyela, “Pa, jangan lupa soal itu!” katanya sambil mengedipkan sebelah mata pada Papa.
Andhita sempat melihatnya. ”Soal apa Ma?” tanyanya penasaran.
”Nanti saja, Papa yang cerita.” kata Papa.
Andhita mengerutkan kening. Nggak biasanya Mama sama Papa maen rahasia-rahasiaan gini. ”Apaan sih?” tanyanya lagi. Tapi ketika Mama mengeluarkan manisan leci dari kulkas, pertanyaannya segera terlupakan. Leci buah kesukaannya. Papa sama Mama hari ini aneh, menyajikan semua makanan kesukaan Andhita. Mestinya Andhita curiga.
Sehabis makan, Andhita duduk di ruang tamu bersama kedua orangtuanya. Dia kembali teringat soal tadi. Soal apa ya? Kok tampang Mama serius begitu? Jangan-jangan... gue mau disekolahin ke luar negeri. Asyik! Pikir Andhita.
”Dhit, Mama sama Papa mau ngomong sesuatu sama kamu.”
”Ngomong apa Pa?” tanya Andhita pura-pura gak tahu. Dia sedang berpikir. Lebih baik kemana? Amerika, Canada, atau Australia? Kayaknya sih lebih enak Amerika. Tapi Canada juga asik. Australia juga gak bakal nolak. Hehe…
“Begini, Dhit.. ini tentang masa depan kamu.” Kata Mama.
“Oh ya? Masa depan?” Tanya Andhita dengan mimik polos. Gue ngambil jurusan apa ya? Design grafis apa ilmu komunikasi? Atau fotografi! Ya fotografi! Kalau gitu ke New York saja, pikirnya sibuk.
“Ya Dhit… Papa mau kamu jangan marah dulu karena Papa sama Mama mengatur masa depan kamu. Setiap orang kan pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya.” kata Papa.
”Nggak apa-apa kok, pa. Andhita rasa, Andhita bisa berjauhan dengan Mama Papa, hidup mandiri... Andhita pasti bisa.” kata Andhita sok yakin.
Papa Mamanya tampak terkejut mendengar pernyataan anaknya.
”Apa? Kamu ngomong apa Dhit?”
Andhita mengangguk mantap. ”Ya, Andhita udah bisa duga. Papa sama Mama pasti sangat berat hati melepaskan Andhita...”
”Andhita... kalau sudah waktunya nanti, Mama sama Papa rela kok melepas kamu. Tapi kamu udah tau kalau kamu akan dijodohkan?” tanya Mama.
Andhita langsung melompat berdiri dari sofa. ”Apa !? dijodohin?!” teriaknya membuat kedua orangtuanya menutup kuping.
”Papa sama Mama mau ngejodohin Andhita?!” seru Andhita pada orangtuanya.
Kedua orangtuanya memandangnya dengan tatapan serba salah.
”Maafin Papa sama Mama Dhit... papa juga gak nyangka kalau kami harus ngelakuin ini. Tapi dia anaknya baik kok, seumur sama kamu. Begini aja, papa akan ceritakan semuanya sama kamu dari awal.” kata papanya.
”Papa sama Mama kok tega ya? Pokoknya Andhita gak mau dijodohin!! Titik.” gerutu Andhita sambil menghempaskan kembali tubuhnya ke sofa depan TV. Dia membuang muka. Huh, kirain mau disekolahin ke luar negeri. Nggak taunya mau dijodohin. Apa-apaan sih? Emangnya ini zamannya Siti Nurbaya apa? Siapa juga jodohnya? Datuk Maringgih? Pikir andhita kesal.
”Sebenernya Papa juga nggak tega Dhit. Ceritanya begini, Papa punya teman baik dari kecil. Kami tumbuh bersama, sama kayak kamu dan teman-teman kamu yang berteman sejak SD itu.”
”Maksud Papa... Putri, Keyra, sama Tasha? Sori Pa. Tapi kita bertiga gak pernah kepikiran buat ngejodohin anak-anak kita nanti!” seru Andhita jengkel.
”Tenang dulu, Dhit. Masalahnya, sewaktu kami punya anak, kebetulan anak pertama Om Seno dan Papa dilahirkan pada saat yang sama, di rumah sakit yang sama, dan Papa baru bertemu kembali dengannya di rumah sakit itu setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Ketika menyadari bahwa anak Papa perempuan dan anaknya laki-laki, tiba-tiba saja kami berjanji untuk saling menjodohkan anak kami saat dewasa nanti.” jelas Papa.
Andhita melotot dan mau menjawab lagi, tapi mama mencegahnya. ”Dengar dulu cerita Papa.” dan Andhita terpaksa diam dan mendengarkan.
”Lalu kami tidak saling bertemu lagi sejak sepuluh tahun yang lalu, waktu kami berumur tujuh tahun. Dan saat perusahaan Papa sedang dalam krisis, Papa bingung mau meminta bantuan dengan siapa. Akhirnya Papa menghubungi nomor Om Seno. Dia tinggal di surabaya saat itu. Papa mendapat nomornya dari keluarganya disini. Coba tebak apa yang dia lakukan?” Tanya Papa.
“Dia memberi bantuan pada perusahaan Papa kan? Kalo gak ya Andhita gak bakalan dijodohin kayak gini. Ya kan!!” pekik Andhita. Mama sampai menutup kuping lagi mendengar suara keras Andhita.
Papa tersenyum. ”Kamu benar. Om Seno sangat baik. Dia langsung mengirimkan bantuannya sebesar lima puluh juta rupiah ke rekening Papa. Bahkan kakekmu, kalau dia masih hidup, belum tentu mau melakukan hal itu pada Papa. Setahun kemudian Papa membayar kembali hutang itu, karena kondisi perusahaan Papa sudah baik kembali. Bahkan Om Seno nggak mengenakan bunga sepersen pun. Coba lihat betapa baiknya dia.” jelas Papa.
Oh ya? Begitu baiknya sampai dia mau menjodohkan anaknya yang buruk rupa itu sama gue? Dumel Andhita dalam hati. Duh.. Papa! Papa tuh udah tua, tapi kok naif banget sih? Batin Andhita kesal.
”Kemudian, sebulan yang lalu Papa bertemu kembali dengan Om Seno. Ternyata dia sekeluarga sudah kembali lagi ke Jakarta. Dan coba kamu tebak apa yang dikatakan Om Seno!”
”Pasti dia bilang, Kamu ingat gak perjodohan yang kita lakukan tujuh belas tahun yang lalu antara kedua anak kita? Sekarang kau harus menyerahkan anakmu yang cantik itu.” jawab Andhita dramatis.
Papa tertawa, ”Hehehe... ya benar! Cuma dia nggak bilang kalau kamu cantik, soalnya kan dia belum bertemu sama kamu yang sekarang.”
Andhita memutar kedua bola matanya. Duh! Papa pura-pura gak ngerti lagi. Udah jelas Andhita yang jadi korban disini, dijadikan imbalan atas hutang piutang Papanya. Seperti anak perawan yang dikorbankan di kawah gunung berapi. Dibayangkannya tubuhnya, sedang diturunkan dengan tali, perlahan-lahan terpanggang sampai matang oleh api kawah berwarna merah yang panas dan mengepul-ngepul.
”Andhita! Kamu dengerin Papa gak sih?”
Andhita tersentak. Dia melamun rupanya.
”Andhita, Mama sama Papa nggak maksa kamu supaya kamu bisa suka sama anaknya Om Seno. Tapi seenggaknya kamu harus bisa mencoba dulu. Papa kan nggak enak kalau begitu saja membatalkan janji tujuh belas tahun yang lalu.” ujar Mama. ”Kami kan gak memaksa kamu dan anaknya Om Seno menikah sekarang. Kalau memang kalian berdua gak cocok, siapa yang bisa memaksa? Tapi setidaknya kamu harus mau kalau diundang ketemu sama dia.”
Wah.. ternyata Mama lebih diktator! Mati gue! Pikir Andhita. Gimana kalau gue dipaksa nikah sama cowok yang gue gak suka? Sekarang sih ngomongnya emang gak maksa, tapi selanjutnya gimana nanti. Begitu kan? Pikir Andhita kuatir.
”Andhita, kok kamu diem aja? Marah ya sama Papa?” tanya Papa sambil menepuk bahu anaknya.
Andhita gak menjawab. Dia menggeleng pasrah dengan terpaksa.
”Nah, begitu baru anak Papa. Bagini, sabtu ini kalian akan dipertemukan dalam acara ulang tahun adik perempuan calon tunangan kamu. Namanya Bebby.”
”Apa aku mesti pergi?” tanya Andhita lemah.
”Iya dong! Lha kan kamu yang dijodohin!” ultimatum Mama.
Duh, udah deh... kalau udah Mama yang ngomong, pasti ujung-ujungnya maksa. Nggak ada gunanya membantah. Sekarang Andhita tahu dari mana dia dapat sifat keras kepalanya. Mamanya saja seperti ini. Tapi terus terang, Andhita gak suka sama perjodohan ini. Sama sekali gak suka. Dan dia harus cari akal supaya bisa keluar dari masalah ini. Dan dia tau itu gak gampang.
***
”Dijodohin?”
Disaat yang sama, di rumah yang berbeda, terjadi argumentasi yang sama. Rendy menolak mentah-mentah dijodohkan dengan gadis yang belum pernah dilihatnya. Meski kata Mama gadis itu cantik, meski papa bilang gadis itu dari keluarga baik-baik. Apa-apaan sih? Kayak dia gak bisa nyari cewek sendiri aja.
”Rendy gak mau! Papa ngaco nih!” kata Rendy terus terang.
”Ren, denger dulu. Gimana kalau kamu lihat dulu orangnya seperti apa?” bujuk Mamanya.
”Ih Mama, kok gak rasional banget sih cara berpikirnya? Papa sama Mama kan bilang sendiri kalau Rendy belum pernah melihat orangnya seperti apa. Kayak Rendy jelek aja sampe harus dicariin pasangan segala. Gini-gini teman sekelas Rendy banyak yang ngantri tau! Apa harus diadain seyembara buat memilihkan jodoh Rendy?” katanya sok nyombong.
Papa tertawa. ”Hei, ini bukan masalah kamu mesti dijodohin, jelek, gak laku, atau bagaimana, tapi ini soal janji. Papa udah telanjur janji sama teman Papa itu. Toh Papa juga gak bisa memaksa kamu. Lebih baik kamu lihat dulu orangnya seperti apa, baru bisa kasih keputusan.”
”Oke, tapi Rendy nggak mau baru ngeliat dia di saat pertemuan Rendy dengan cewek itu. Rendy harus lihat dulu, kayak apa sih cewek yang dijodohkan dengannya tanpa dia tahu identitas Rendy sebenernya. Kalau begitu lebih enak kan? Jadi kesannya gak nolak setelah pertemuan pertama, tapi nolak sebelum bertemu, itu lebih baik kan?”
Papa mengangguk-angguk, lalu berkata, “kalau begitu Papa setuju. Kamu saja yang cari tahu sendiri Andhita seperti apa ya? Dia satu sekolah sama kamu, dia kelas 2 IPA 1. Nama lengkapnya Andhita Aradella Cahyadi. Panggilannya Andhita.”
”Andhita Aradella Cahyadi?!” tanya Rendy kaget.
Dia teringat, baru-baru ini ada cewek yang meneleponnya bernama Andhita.
“Kenapa? Kamu sudah kenal?”
“Nggak, cuma… ya udah deh Pa. pokoknya kesimpulannya gitu ya? Rendy belum memutuskan mau apa nggak lho!” kata Rendy dan langsung keluar dari ruangan itu sebelum orangtuanya sempat mengeluarkan pernyataan baru. Dasar orangtua, aneh-aneh aja! Gerutunya.
“Tunggu Ren!” panggil Papanya, lalu menyerahkan selembar foto padanya.
***
“Lo kenapa sih Dhit?” Tanya Keyra.
Sejak tadi Keyra, Putri, dan Tasha sudah nunggu Andhita di kamar Putri buat ngumpul bareng dalam rangka mempersiapkan acara buat malam kesenian sekaligus malam perpisahan untuk anak kelas 3 yang sudah lulus di sekolah. Andhita terlambat tiga puluh menit. Boro-boro minta maaf, cewek itu malah teriak-teriak kayak orang gila. Jangan-jangan dia Cuma mengalihkan situasi, supaya perhatian teman-temannya yang mau marah sama dia jadi teralihkan. Luar biasa, otak mafia juga, pikir Keyra curiga.
Andhita duduk di pinggir tempat tidur Putri dengan napas masih terengah-engah. Wajahnya tampak jengkel.
”Kenapa sih?” tanya Putri.
”Iah, ada apaan sih Dhit?” timpal Tasha.
”Soal pengiring vocal grup kita...orang-orang yang ada di dalam daftar ...malam kesenian...,” kata Andhita nggak jelas. Napasnya tak beraturan kayak habis lari marathon.
”Tenang, tenang! Jangan cepat-cepat ngomongnya. Kita jadi bingung nih. Pelan-pelan aja. Kenapa sama pengiring kita?” tanya Keyra.
Andhita mengangguk sambil menelan ludah. Tatapannya tertuju pada Putri. ”Put, gue udah ngehubungi beberapa nomor telepon yang lo kasih kemarin. Kelima orang yang lo bilang pinter maen piano itu. Alam gak bisa, jadwalnya padat. Surya juga, jadwalnya bentrok sama jadwal kita. Ivan gak mau, dia bilang dia gak bisa ngiringin orang. Kalau si Rizal, katanya dia udah dikontak sama anak kelas satu buat ngiringin mereka maen drama teater. Dan satu-satunya harapan gue cuma yang terakhir, Rendy. Gue udah berusaha sesopan mungkin, sememelas mungkin, karena gue tahu dia satu-satunya harapan kita. Tapi... kalian tahu gak apa yang dia bilang?” teriak Andhita dengan nada suara yang semakin tinggi.
Rambut Andhita yang lurus bergoyang-goyang mengikuti gerak tubuhnya ketika dia berbicara. Alisnya yang hitam bertaut tada dia sedang marah. Wajahnya memerah seperti tomat segar. Memang nggak sealami itu sih, soalnya Andhita-lah satu-satunya diantara mereka berempat yang paling suka dandan. Karena baginya penampilan memang nomor satu. Mata yang ahli bisa melihat kalau alis Andhita yang hitam dicabuti dan dibentuk seperti sabit, lalu ditambahkan warna cokelat samar dengan pensil alis. Dia memakai bedak dua warna, putih sebagai dasar dan merah untuk bagian pipi. Mau tahu bulu matanya? Setiap hari dijepit biar lentik dan diberi maskara bening. Ketiga temannya tahu itu dan tidak lagi merasa aneh. Lagipula itu memang menambah kecantikan wajah Andhita yang memang sudah cantik, cuma agak curang memang.
“What? Tanya Putri penasaran.
“Dia belum bilang mau apa nggak. Kata dia, dia harus liat dulu seperti apa vocal grup kita. Coba deh... rese kan?” seru Andhita, lalu membasahi bibirnya yang terasa kering. Karena buru-buru, tadi dia lupa memakai lipgloss. Walau sedang emosi, cewek ini masih sempat juga mencari-cari lipgloss di dalam tasnya dan memakainya sambil menunduk. Setelah selesai, ia mengibaskan rambut panjangnya yang terjatuh ke depan.
Tiba-tiba Tasha, gadis paling imut-imut diantara mereka berempat, tertawa terbahak-bahak. Yang lain melihatnya bingung.
“Kenapa malah ketawa Sha?” Tanya Keyra.
Tasha berhenti tertawa dan berkata, ”Rendy itu emang aneh. Lo belum pernah katemu kan sama dia?”
”Belum.” Andhita menggeleng.
”Lo kemana aja Dhit? Si Rendy itu anak baru di kelas gue. Anaknya emang sok cool gitu. Tapi dia emang jagi banget. Baru sebulan di kelas gue, dia udah bisa ngebuktiin kalau dia pinter maen basket, voli, sepakbola, pinter dalam pelajaran, musik, dan yang paling penting…” Tasha membelalakkan matanya yang terlihat sangat besar dan kontras dibandingkan dengan wajahnya yang mungil dan berambut pendek. “…orangnya ganteng banget!!” katanya dengan ekspresi sedang membicarakan bintang film. Padahal aslinya Tasha pemalu. Cuma di depan teman-temannya saja dia bisa terlihat ”normal”.
”Apa?!” teriak Andhita. Dia bangkit berdiri dan bertolak pinggang. “Jadi itu alasan lo ngajuin dia sebagai calon pengiring kita? Jadi lo belum nanya dia mau apa nggak? Lo tau gak sih, lo tuh udah bikin malu gue!” serunya.
Tasha tersenyum malu-malu. ”Sori deh, Dhit. Harusnya gue yang nanya langsung ke dia. Tapi masalahnya… jantung gue deg-degan tiap kali berdeketan sama dia. Makanya gue minta Putri sekalian nyuruh lo yang hubungi dia, siapa tahu aja dia mau jadi pengiring kita.”
Putri yang berwibawa menengahi, ”Udah deh. Kalau kelima orang yang kita ajukan itu semua gak goal, kita bisa nyari orang lain kok. Iya kan?” Putri memang selalu lebih bijak, meski memang kadang-kadang sok ngatur.
Andhita menoleh pada Putri. ”Duh. Lo gak ngerti sih Put. Masalahnya, besok dia mau ketemu sama kita berempat. Gue kan tadi udah bilang kalo dia mau ngeliat penampilan kita dulu...”
”Apa? Sombong banget tuh orang!” sembur Keyra marah. Diantara mereka berempat, Keyra memang paling cepat marah dan suka protes. Dia juga agak-agak tomboy, suka banget sama yang berbau olahraga dan tubuhnya altetis dan tinggi. Rambutnya dipotong pendek, membuat wajahnya terlihat manis.
“Iya, makanya gue juga sebel. Tau gak, tadi gue di telepon cuma ngomong beberapa kata, selebihnya dia yang ngomong terus!” gerutu Andhita.
Putri diam sejenak dan berpikir. “Ya udah deh. Siapa tahu Rendy ini memang calon pengiring kita nanti. Sekarang sebaiknya kita latihan supaya gak malu-maluin di depan dia.” Katanya memutuskan. Yang lain setuju dan mulai berlatih.
***
Andhita memarkir mobilnya di garasi. Ada mobil Papa. Ia memegangnya, panas. Berarti Papa baru pulang. Ia buru-buru masuk ke rumah.
“Ma! Papa udah pulang ya!?” teriaknya.
Mamanya mengerutkan kening. ”Jangan teriak-teriak gitu dong, Dhit! Kuping Mama sakit dengernya!”
Andhita meringis. Dia masuk ke dalam dan melihat Papanya di ruang tengah. Papanya tersenyum melihatnya.
”Halo, anak Papa tersayang... Baru pulang?” ujar Papanya dengan gaya ngomong seperti pada anak balita, cuma nggak cadel aja. Dia memang sangat memanjakan anak semata wayangnya itu.
“Hai Pa! hari ini bawa oleh-oleh apa?” tanya Adhita sambil duduk di samping papanya.
”Cuma bawa lauk ikan woku-woku kesukaan kamu.”
”Asyik!!” seru Andhita. Dia langsung pergi ke meja makan. Dilihatnya ikan tongkol besar yang diberi bumbu cabe hijau superpedas dengan daun kemangi yang wangi terhidang di piring besar. Rasanya... wuih! Enak banget! Asal kuat pedas aja.
”Andhita! Cuci tangan dulu!” tegur Mama.
Andhita cemberut dan bangkit berdiri menuju wastafel. Beberapa saat kemudian mereka bertiga sudah duduk di meja makan untuk makan malam.
”Bagaimana latihan vocal grupnya? Sudah ketemu lagu yang cocok?” Tanya Papa.
“Mmm… mmm…” gumam Andhita dengan mulut penuh. “Judul lagunya A Whole New World. Lagunya bagus banget, dan kebetulan emang bisa megah kalau cuma diiringi sama piano. Tapi kita ada masalah sama pengiringnya. Masih belum ketemu, padahal malam kesenian tinggal dua bulan lagi.”
“Oh ya, kenapa kalian gak pake iringan karaoke aja?” usul Papa.
”Udah kepikir sih, Pa. Tapi kita udah nyari-nyari, gak ada karaoke dengan lagu itu.”
”Kalau begitu pakai lagu karaoke yang ada aja.”
”Gak bisa, Pa. Si Putri nggak mau. Dia udah susah payah bikin partiturnya.”
“Oh ya sudah.” Jawab Papa cuek. Sebenarnya sih beliau Cuma basa-basi nanyain Andhita.
Tiba-tiba Mama menyela, “Pa, jangan lupa soal itu!” katanya sambil mengedipkan sebelah mata pada Papa.
Andhita sempat melihatnya. ”Soal apa Ma?” tanyanya penasaran.
”Nanti saja, Papa yang cerita.” kata Papa.
Andhita mengerutkan kening. Nggak biasanya Mama sama Papa maen rahasia-rahasiaan gini. ”Apaan sih?” tanyanya lagi. Tapi ketika Mama mengeluarkan manisan leci dari kulkas, pertanyaannya segera terlupakan. Leci buah kesukaannya. Papa sama Mama hari ini aneh, menyajikan semua makanan kesukaan Andhita. Mestinya Andhita curiga.
Sehabis makan, Andhita duduk di ruang tamu bersama kedua orangtuanya. Dia kembali teringat soal tadi. Soal apa ya? Kok tampang Mama serius begitu? Jangan-jangan... gue mau disekolahin ke luar negeri. Asyik! Pikir Andhita.
”Dhit, Mama sama Papa mau ngomong sesuatu sama kamu.”
”Ngomong apa Pa?” tanya Andhita pura-pura gak tahu. Dia sedang berpikir. Lebih baik kemana? Amerika, Canada, atau Australia? Kayaknya sih lebih enak Amerika. Tapi Canada juga asik. Australia juga gak bakal nolak. Hehe…
“Begini, Dhit.. ini tentang masa depan kamu.” Kata Mama.
“Oh ya? Masa depan?” Tanya Andhita dengan mimik polos. Gue ngambil jurusan apa ya? Design grafis apa ilmu komunikasi? Atau fotografi! Ya fotografi! Kalau gitu ke New York saja, pikirnya sibuk.
“Ya Dhit… Papa mau kamu jangan marah dulu karena Papa sama Mama mengatur masa depan kamu. Setiap orang kan pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya.” kata Papa.
”Nggak apa-apa kok, pa. Andhita rasa, Andhita bisa berjauhan dengan Mama Papa, hidup mandiri... Andhita pasti bisa.” kata Andhita sok yakin.
Papa Mamanya tampak terkejut mendengar pernyataan anaknya.
”Apa? Kamu ngomong apa Dhit?”
Andhita mengangguk mantap. ”Ya, Andhita udah bisa duga. Papa sama Mama pasti sangat berat hati melepaskan Andhita...”
”Andhita... kalau sudah waktunya nanti, Mama sama Papa rela kok melepas kamu. Tapi kamu udah tau kalau kamu akan dijodohkan?” tanya Mama.
Andhita langsung melompat berdiri dari sofa. ”Apa !? dijodohin?!” teriaknya membuat kedua orangtuanya menutup kuping.
”Papa sama Mama mau ngejodohin Andhita?!” seru Andhita pada orangtuanya.
Kedua orangtuanya memandangnya dengan tatapan serba salah.
”Maafin Papa sama Mama Dhit... papa juga gak nyangka kalau kami harus ngelakuin ini. Tapi dia anaknya baik kok, seumur sama kamu. Begini aja, papa akan ceritakan semuanya sama kamu dari awal.” kata papanya.
”Papa sama Mama kok tega ya? Pokoknya Andhita gak mau dijodohin!! Titik.” gerutu Andhita sambil menghempaskan kembali tubuhnya ke sofa depan TV. Dia membuang muka. Huh, kirain mau disekolahin ke luar negeri. Nggak taunya mau dijodohin. Apa-apaan sih? Emangnya ini zamannya Siti Nurbaya apa? Siapa juga jodohnya? Datuk Maringgih? Pikir andhita kesal.
”Sebenernya Papa juga nggak tega Dhit. Ceritanya begini, Papa punya teman baik dari kecil. Kami tumbuh bersama, sama kayak kamu dan teman-teman kamu yang berteman sejak SD itu.”
”Maksud Papa... Putri, Keyra, sama Tasha? Sori Pa. Tapi kita bertiga gak pernah kepikiran buat ngejodohin anak-anak kita nanti!” seru Andhita jengkel.
”Tenang dulu, Dhit. Masalahnya, sewaktu kami punya anak, kebetulan anak pertama Om Seno dan Papa dilahirkan pada saat yang sama, di rumah sakit yang sama, dan Papa baru bertemu kembali dengannya di rumah sakit itu setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Ketika menyadari bahwa anak Papa perempuan dan anaknya laki-laki, tiba-tiba saja kami berjanji untuk saling menjodohkan anak kami saat dewasa nanti.” jelas Papa.
Andhita melotot dan mau menjawab lagi, tapi mama mencegahnya. ”Dengar dulu cerita Papa.” dan Andhita terpaksa diam dan mendengarkan.
”Lalu kami tidak saling bertemu lagi sejak sepuluh tahun yang lalu, waktu kami berumur tujuh tahun. Dan saat perusahaan Papa sedang dalam krisis, Papa bingung mau meminta bantuan dengan siapa. Akhirnya Papa menghubungi nomor Om Seno. Dia tinggal di surabaya saat itu. Papa mendapat nomornya dari keluarganya disini. Coba tebak apa yang dia lakukan?” Tanya Papa.
“Dia memberi bantuan pada perusahaan Papa kan? Kalo gak ya Andhita gak bakalan dijodohin kayak gini. Ya kan!!” pekik Andhita. Mama sampai menutup kuping lagi mendengar suara keras Andhita.
Papa tersenyum. ”Kamu benar. Om Seno sangat baik. Dia langsung mengirimkan bantuannya sebesar lima puluh juta rupiah ke rekening Papa. Bahkan kakekmu, kalau dia masih hidup, belum tentu mau melakukan hal itu pada Papa. Setahun kemudian Papa membayar kembali hutang itu, karena kondisi perusahaan Papa sudah baik kembali. Bahkan Om Seno nggak mengenakan bunga sepersen pun. Coba lihat betapa baiknya dia.” jelas Papa.
Oh ya? Begitu baiknya sampai dia mau menjodohkan anaknya yang buruk rupa itu sama gue? Dumel Andhita dalam hati. Duh.. Papa! Papa tuh udah tua, tapi kok naif banget sih? Batin Andhita kesal.
”Kemudian, sebulan yang lalu Papa bertemu kembali dengan Om Seno. Ternyata dia sekeluarga sudah kembali lagi ke Jakarta. Dan coba kamu tebak apa yang dikatakan Om Seno!”
”Pasti dia bilang, Kamu ingat gak perjodohan yang kita lakukan tujuh belas tahun yang lalu antara kedua anak kita? Sekarang kau harus menyerahkan anakmu yang cantik itu.” jawab Andhita dramatis.
Papa tertawa, ”Hehehe... ya benar! Cuma dia nggak bilang kalau kamu cantik, soalnya kan dia belum bertemu sama kamu yang sekarang.”
Andhita memutar kedua bola matanya. Duh! Papa pura-pura gak ngerti lagi. Udah jelas Andhita yang jadi korban disini, dijadikan imbalan atas hutang piutang Papanya. Seperti anak perawan yang dikorbankan di kawah gunung berapi. Dibayangkannya tubuhnya, sedang diturunkan dengan tali, perlahan-lahan terpanggang sampai matang oleh api kawah berwarna merah yang panas dan mengepul-ngepul.
”Andhita! Kamu dengerin Papa gak sih?”
Andhita tersentak. Dia melamun rupanya.
”Andhita, Mama sama Papa nggak maksa kamu supaya kamu bisa suka sama anaknya Om Seno. Tapi seenggaknya kamu harus bisa mencoba dulu. Papa kan nggak enak kalau begitu saja membatalkan janji tujuh belas tahun yang lalu.” ujar Mama. ”Kami kan gak memaksa kamu dan anaknya Om Seno menikah sekarang. Kalau memang kalian berdua gak cocok, siapa yang bisa memaksa? Tapi setidaknya kamu harus mau kalau diundang ketemu sama dia.”
Wah.. ternyata Mama lebih diktator! Mati gue! Pikir Andhita. Gimana kalau gue dipaksa nikah sama cowok yang gue gak suka? Sekarang sih ngomongnya emang gak maksa, tapi selanjutnya gimana nanti. Begitu kan? Pikir Andhita kuatir.
”Andhita, kok kamu diem aja? Marah ya sama Papa?” tanya Papa sambil menepuk bahu anaknya.
Andhita gak menjawab. Dia menggeleng pasrah dengan terpaksa.
”Nah, begitu baru anak Papa. Bagini, sabtu ini kalian akan dipertemukan dalam acara ulang tahun adik perempuan calon tunangan kamu. Namanya Bebby.”
”Apa aku mesti pergi?” tanya Andhita lemah.
”Iya dong! Lha kan kamu yang dijodohin!” ultimatum Mama.
Duh, udah deh... kalau udah Mama yang ngomong, pasti ujung-ujungnya maksa. Nggak ada gunanya membantah. Sekarang Andhita tahu dari mana dia dapat sifat keras kepalanya. Mamanya saja seperti ini. Tapi terus terang, Andhita gak suka sama perjodohan ini. Sama sekali gak suka. Dan dia harus cari akal supaya bisa keluar dari masalah ini. Dan dia tau itu gak gampang.
***
”Dijodohin?”
Disaat yang sama, di rumah yang berbeda, terjadi argumentasi yang sama. Rendy menolak mentah-mentah dijodohkan dengan gadis yang belum pernah dilihatnya. Meski kata Mama gadis itu cantik, meski papa bilang gadis itu dari keluarga baik-baik. Apa-apaan sih? Kayak dia gak bisa nyari cewek sendiri aja.
”Rendy gak mau! Papa ngaco nih!” kata Rendy terus terang.
”Ren, denger dulu. Gimana kalau kamu lihat dulu orangnya seperti apa?” bujuk Mamanya.
”Ih Mama, kok gak rasional banget sih cara berpikirnya? Papa sama Mama kan bilang sendiri kalau Rendy belum pernah melihat orangnya seperti apa. Kayak Rendy jelek aja sampe harus dicariin pasangan segala. Gini-gini teman sekelas Rendy banyak yang ngantri tau! Apa harus diadain seyembara buat memilihkan jodoh Rendy?” katanya sok nyombong.
Papa tertawa. ”Hei, ini bukan masalah kamu mesti dijodohin, jelek, gak laku, atau bagaimana, tapi ini soal janji. Papa udah telanjur janji sama teman Papa itu. Toh Papa juga gak bisa memaksa kamu. Lebih baik kamu lihat dulu orangnya seperti apa, baru bisa kasih keputusan.”
”Oke, tapi Rendy nggak mau baru ngeliat dia di saat pertemuan Rendy dengan cewek itu. Rendy harus lihat dulu, kayak apa sih cewek yang dijodohkan dengannya tanpa dia tahu identitas Rendy sebenernya. Kalau begitu lebih enak kan? Jadi kesannya gak nolak setelah pertemuan pertama, tapi nolak sebelum bertemu, itu lebih baik kan?”
Papa mengangguk-angguk, lalu berkata, “kalau begitu Papa setuju. Kamu saja yang cari tahu sendiri Andhita seperti apa ya? Dia satu sekolah sama kamu, dia kelas 2 IPA 1. Nama lengkapnya Andhita Aradella Cahyadi. Panggilannya Andhita.”
”Andhita Aradella Cahyadi?!” tanya Rendy kaget.
Dia teringat, baru-baru ini ada cewek yang meneleponnya bernama Andhita.
“Kenapa? Kamu sudah kenal?”
“Nggak, cuma… ya udah deh Pa. pokoknya kesimpulannya gitu ya? Rendy belum memutuskan mau apa nggak lho!” kata Rendy dan langsung keluar dari ruangan itu sebelum orangtuanya sempat mengeluarkan pernyataan baru. Dasar orangtua, aneh-aneh aja! Gerutunya.
“Tunggu Ren!” panggil Papanya, lalu menyerahkan selembar foto padanya.
***
Senin, 31 Mei 2010
Lovable (part 1)
*cowok nyebelin*
Suasana mal minggu siang ini tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Kebiasaan belanja yang dulu hanya berpusat di pertokoan biasa, kini berpindah ke mal yang serba ada. Mulai dari makanan, pakaian, alat tulis, handphone, komputer, alat-alat elektronik, sampai semua perabot rumah tangga, semua ada disini. Suasananya pun asik, sejuk, dan sebagai pengunjung, gak beli apapun nggak apa-apa. Pokoknya beberapa tahun terakhir ini, mal jadi tempat favorit orang-orang Jakarta buat ngisi kegiatan, atau hanya untuk bersantai makan siang.
Andhita dan sahabatnya Keyra hari ini pergi ke mal khusus untuk membeli baju merek luar negeri yang lagi sale besar-besaran. Dari mulai 20% sampai 70%. Bukannya nggak mampu beli, tapi beli barang yang biasanya mahal dengan potongan harga yang gila-gilaan kan asyik juga. Zaman sekarang kan kita harus prihatin sama pengeluaran. Nah, bagi Andhita dan sahabatnya, ikutan belanja di saat sale juga prihatin namanya. Maksudnya, prihatin sama harga barang bermerek yang harganya selangit! Hehehe...
Walaupun sepi, alangkah kagetnya mereka ketika tiba di depan toko yang mereka tuju. Ternyata bukan hanya mereka berdua yang punya tujuan sama. Di dalam toko sudah banyak orang yang membeli.
Andhita dan Keyra saling menatap. “Rame banget Key!”
“Oke kalau begitu kita mencar aja Dhit. Lo nyari kaos yang lo incer itu, gue mao liat sepatu kets. Gimana?” Keyra melancarkan strategi.
“Oke!” Angguk Andhita sambil mengacungkan jempolnya. Mereka berdua pun menyebar di toko tersebut tanpa babibu lagi.
Tetapi memang bukan mereka saja yang punya rencana, semua orang juga. Jadi begitu Andhita masuk ke dalam, baju yang dia incar dipasangi label diskon 50% banyak orang yang menyerbunya.
Andhita sudah mengincar kaos putih yang bertulis merek terkenal dalam ukuran besar. Harga aslinya Rp159.000, tetapi setelah didiskon bisa jadi separuhnya. Dan setelah memakainya toh gak ada yang tahu kalau itu barang diskon, kan?
Tapi ternyata gak cuma dia yang mengincar kaos itu. Saat dia berhasil mengambil kaos itu dari gantungannya, ada tangan lain yang juga melakukan hal yang sama. Mereka saling menarik kaos itu. Andhita mengangkat wajahnya, ingin melihat siapa saingannya. Tatapannya tertumbuk pada cowok paling ganteng dan paling keren yang pernah dia dilihatnya. Wow! Andhita tertegun sesaat. Cowok itu juga menatapnya. Mereka berpandangan beberapa detik.
”Ini kan kaos cewek!” kata Andhita akhirnya, setelah berhasil mengusir pesona cowok itu dan membuangnya jauh-jauh. Ini sale man! Jangan terpikat oleh pesona wajah siapapun kalau mau dapat barang bagus. Gak ada deh dalam kamus Andhita terperangah sama cowok ganteng dalam perebutan barang sale.
”Siapa bilang cowok gak boleh beli kaos cewek?” seru cowok itu sambil menarik kaos yang dipegangnya.
Andhita mulai kesal. ”Tapi kan gue duluan yang pegang!”
”Sori yah, tapi gue duluan yang nempelin tangan gue di kaos ini!” ujar cowok itu gak mau kalah.
”Ngalah dong!”
”Kenapa gak lo aja yang ngalah?”
”Ladies first!”
”Gue paling gak suka sama cewek yang mau menang sendiri dengan ngebawa-bawa jenis kelamin. Katanya emansipasi…”
Andhita yang udah kesal langsung melepaskan tangannya dari kaus itu. Ya sudah, mending dia ngalah dari pada berurusan panjang sama cowok satu ini. Cowok nyebelin, rese, dan gak tahu malu. Ngapain lagian dia beli kaos cewek? Buat pacarnya? Lalu Andhita sadar, buat apa pula dia pusing-pusing mikirin hal sepele kayak gini? Mendingan dia cepat-cepat cabut dari situ!
Cowok itu mengejar Andhita dan menyentuh pundaknya. “Hei, jangan marah dong. Gue kasian sama lo. Nih, buat lo aja.” katanya sambil tersenyum manis.
Andhita sudah terlanjur kesal dengan insiden rebut-rebutan tadi. Lagipula kaos itu udah nggak narik minatnya lagi. Kaos lain kan masih banyak, walau beberapa gantungan dilihatnya sudah tampak kosong karena diambil pembeli lain. Kayak besok dunia mau kiamat aja, jadi duit dibuang-buang sekarang. Besok-besok juga bisa nyari lagi. Pikir Andhita.
“Nggak usah, gue gak jadi!” kata Andhita ngambek.
Cowok itu memaksa, “Lho, kok ngambek? Nih..buat lo aja.”
“Nggak jadi!” bentak Andhita.
”Wah! Elo jadi cewek kok galak banget?”
”Whatever!” kata Andhita sambil ngeloyor pergi. Dia menghampiri Keyra yang sedang mengantri di kasir membayar sepatu yang dibelinya.
“Lo gak dapet kaos yang lo pengen Dhit?” Tanya Keyra melihat Andhita gak bawa apa-apa.
”Ceritanya panjang, lagian gue udah gak minat lagi sama tu kaos. Mending belanja di tempat laen deh.” jawabnya sambil cemberut kesal.
***
Andhita celingak-celinguk mencari teman-temannya di kantin. Mana sih Keyra, Putri, dan Tasha? Katanya istirahat ini mau ngumpul buat ngomongin malam kesenian. Dasar tukang ngaret! Semprot Andhita dalam hati. Sendirian di kantin kan malu juga. Mana yang lain pada ngeliatin lagi. (padahal sih nggak. Andhitanya aja yang GR. Sindrom doang).
Hampir sepuluh menit teman-temannya gak dateng. Andhita memutuskan kembali ke kelasnya. Mungkin teman-temannya masih belum istirahat siang. Ketika ia berbalik, tubuhnya menabrak seorang cowok yang sedang membawa nampan berisi makanan. Nasi campur plus es buah yang dibawanya tumpah ke lantai. Andhita terpekik.
“Aduh, sori! sori! Gue gak liat. Sori banget ya.” katanya, dan langsung menunduk untuk memunguti pecahan piring dan gelas yang jatuh ke lantai. Tentu saja udah telat menyelamatkan makanannya. Semua udah tumpah ruah ke lantai. Kemudian petugas kantin datang dan membatunya membersihkan pecahan piring dan dan gelas.
”Elo beli lagi dih makanannya. Nih, pake duit gue aja.” Andhita merogoh kantong seragamnya, dan mengelurakan uang sepuluh ribuan, lalu menyerahkannya pada cowok di depannya. Ia mengangkat wajahnya. Dan betapa kagetnya dia saat melihat sorot mata dingin yang sudah dikenalnya.
”Elo lagi?” pekik Andhita kaget. Cowok yang ditabraknya tadi adalah cowok yang sama dengan yang ditemuinya di mal kemarin siang. Cowok yang sama sekali gak mau ngalah dengannya saat berebutan baju sale dengannya.
”Rupanya elo lagi!” desis cowok itu kesal.
Diam-diam Andhita tertawa dalam hati. Akhirnya dia punya kesempatan juga buat ngebalas keegoisan cowok itu. Tuhan memang adil!
”Sori, gue bener-bener gak liat lo di belakang gue. Biar gue beliin lagi yah? Tadi.. lo beli apa aja? Nasi campurnya pake apa? Ayam sama kentang pedes yah? Pake sambel lagi gak? Es buahnya pake semua? Apa gak mau pake bangkuang? Gue juga gak suka bangkuang, bisa alergi..” katanya asal.
“Nggak usah!” bentak cowok itu.
Andhita mengamati muka cowok itu. “Kayaknya elo anak baru ya? Kok gue belom pernah liat? Atau… lo anak kelas 1 ya? Pantesan gue gak pernah ngeliat lo. Oh ya kenalin, gue Andhita kelas 2 IPA 1. berarti gue kakak kelas lo dong..” Andhita terus nyerocos sambil mengulurkan tangannya.
Cowok itu gak ngegubris, dan malah ngeloyor pergi meninggalkan Andhita. Andhita menahan tawa. Sukurin! Emang enak? Dasar, belagu-belagu nggak taunya masih adik kelas. Masih bau kencur! Hahaha…!
_To be Continued_
Suasana mal minggu siang ini tidak terlalu ramai, bahkan cenderung sepi. Kebiasaan belanja yang dulu hanya berpusat di pertokoan biasa, kini berpindah ke mal yang serba ada. Mulai dari makanan, pakaian, alat tulis, handphone, komputer, alat-alat elektronik, sampai semua perabot rumah tangga, semua ada disini. Suasananya pun asik, sejuk, dan sebagai pengunjung, gak beli apapun nggak apa-apa. Pokoknya beberapa tahun terakhir ini, mal jadi tempat favorit orang-orang Jakarta buat ngisi kegiatan, atau hanya untuk bersantai makan siang.
Andhita dan sahabatnya Keyra hari ini pergi ke mal khusus untuk membeli baju merek luar negeri yang lagi sale besar-besaran. Dari mulai 20% sampai 70%. Bukannya nggak mampu beli, tapi beli barang yang biasanya mahal dengan potongan harga yang gila-gilaan kan asyik juga. Zaman sekarang kan kita harus prihatin sama pengeluaran. Nah, bagi Andhita dan sahabatnya, ikutan belanja di saat sale juga prihatin namanya. Maksudnya, prihatin sama harga barang bermerek yang harganya selangit! Hehehe...
Walaupun sepi, alangkah kagetnya mereka ketika tiba di depan toko yang mereka tuju. Ternyata bukan hanya mereka berdua yang punya tujuan sama. Di dalam toko sudah banyak orang yang membeli.
Andhita dan Keyra saling menatap. “Rame banget Key!”
“Oke kalau begitu kita mencar aja Dhit. Lo nyari kaos yang lo incer itu, gue mao liat sepatu kets. Gimana?” Keyra melancarkan strategi.
“Oke!” Angguk Andhita sambil mengacungkan jempolnya. Mereka berdua pun menyebar di toko tersebut tanpa babibu lagi.
Tetapi memang bukan mereka saja yang punya rencana, semua orang juga. Jadi begitu Andhita masuk ke dalam, baju yang dia incar dipasangi label diskon 50% banyak orang yang menyerbunya.
Andhita sudah mengincar kaos putih yang bertulis merek terkenal dalam ukuran besar. Harga aslinya Rp159.000, tetapi setelah didiskon bisa jadi separuhnya. Dan setelah memakainya toh gak ada yang tahu kalau itu barang diskon, kan?
Tapi ternyata gak cuma dia yang mengincar kaos itu. Saat dia berhasil mengambil kaos itu dari gantungannya, ada tangan lain yang juga melakukan hal yang sama. Mereka saling menarik kaos itu. Andhita mengangkat wajahnya, ingin melihat siapa saingannya. Tatapannya tertumbuk pada cowok paling ganteng dan paling keren yang pernah dia dilihatnya. Wow! Andhita tertegun sesaat. Cowok itu juga menatapnya. Mereka berpandangan beberapa detik.
”Ini kan kaos cewek!” kata Andhita akhirnya, setelah berhasil mengusir pesona cowok itu dan membuangnya jauh-jauh. Ini sale man! Jangan terpikat oleh pesona wajah siapapun kalau mau dapat barang bagus. Gak ada deh dalam kamus Andhita terperangah sama cowok ganteng dalam perebutan barang sale.
”Siapa bilang cowok gak boleh beli kaos cewek?” seru cowok itu sambil menarik kaos yang dipegangnya.
Andhita mulai kesal. ”Tapi kan gue duluan yang pegang!”
”Sori yah, tapi gue duluan yang nempelin tangan gue di kaos ini!” ujar cowok itu gak mau kalah.
”Ngalah dong!”
”Kenapa gak lo aja yang ngalah?”
”Ladies first!”
”Gue paling gak suka sama cewek yang mau menang sendiri dengan ngebawa-bawa jenis kelamin. Katanya emansipasi…”
Andhita yang udah kesal langsung melepaskan tangannya dari kaus itu. Ya sudah, mending dia ngalah dari pada berurusan panjang sama cowok satu ini. Cowok nyebelin, rese, dan gak tahu malu. Ngapain lagian dia beli kaos cewek? Buat pacarnya? Lalu Andhita sadar, buat apa pula dia pusing-pusing mikirin hal sepele kayak gini? Mendingan dia cepat-cepat cabut dari situ!
Cowok itu mengejar Andhita dan menyentuh pundaknya. “Hei, jangan marah dong. Gue kasian sama lo. Nih, buat lo aja.” katanya sambil tersenyum manis.
Andhita sudah terlanjur kesal dengan insiden rebut-rebutan tadi. Lagipula kaos itu udah nggak narik minatnya lagi. Kaos lain kan masih banyak, walau beberapa gantungan dilihatnya sudah tampak kosong karena diambil pembeli lain. Kayak besok dunia mau kiamat aja, jadi duit dibuang-buang sekarang. Besok-besok juga bisa nyari lagi. Pikir Andhita.
“Nggak usah, gue gak jadi!” kata Andhita ngambek.
Cowok itu memaksa, “Lho, kok ngambek? Nih..buat lo aja.”
“Nggak jadi!” bentak Andhita.
”Wah! Elo jadi cewek kok galak banget?”
”Whatever!” kata Andhita sambil ngeloyor pergi. Dia menghampiri Keyra yang sedang mengantri di kasir membayar sepatu yang dibelinya.
“Lo gak dapet kaos yang lo pengen Dhit?” Tanya Keyra melihat Andhita gak bawa apa-apa.
”Ceritanya panjang, lagian gue udah gak minat lagi sama tu kaos. Mending belanja di tempat laen deh.” jawabnya sambil cemberut kesal.
***
Andhita celingak-celinguk mencari teman-temannya di kantin. Mana sih Keyra, Putri, dan Tasha? Katanya istirahat ini mau ngumpul buat ngomongin malam kesenian. Dasar tukang ngaret! Semprot Andhita dalam hati. Sendirian di kantin kan malu juga. Mana yang lain pada ngeliatin lagi. (padahal sih nggak. Andhitanya aja yang GR. Sindrom doang).
Hampir sepuluh menit teman-temannya gak dateng. Andhita memutuskan kembali ke kelasnya. Mungkin teman-temannya masih belum istirahat siang. Ketika ia berbalik, tubuhnya menabrak seorang cowok yang sedang membawa nampan berisi makanan. Nasi campur plus es buah yang dibawanya tumpah ke lantai. Andhita terpekik.
“Aduh, sori! sori! Gue gak liat. Sori banget ya.” katanya, dan langsung menunduk untuk memunguti pecahan piring dan gelas yang jatuh ke lantai. Tentu saja udah telat menyelamatkan makanannya. Semua udah tumpah ruah ke lantai. Kemudian petugas kantin datang dan membatunya membersihkan pecahan piring dan dan gelas.
”Elo beli lagi dih makanannya. Nih, pake duit gue aja.” Andhita merogoh kantong seragamnya, dan mengelurakan uang sepuluh ribuan, lalu menyerahkannya pada cowok di depannya. Ia mengangkat wajahnya. Dan betapa kagetnya dia saat melihat sorot mata dingin yang sudah dikenalnya.
”Elo lagi?” pekik Andhita kaget. Cowok yang ditabraknya tadi adalah cowok yang sama dengan yang ditemuinya di mal kemarin siang. Cowok yang sama sekali gak mau ngalah dengannya saat berebutan baju sale dengannya.
”Rupanya elo lagi!” desis cowok itu kesal.
Diam-diam Andhita tertawa dalam hati. Akhirnya dia punya kesempatan juga buat ngebalas keegoisan cowok itu. Tuhan memang adil!
”Sori, gue bener-bener gak liat lo di belakang gue. Biar gue beliin lagi yah? Tadi.. lo beli apa aja? Nasi campurnya pake apa? Ayam sama kentang pedes yah? Pake sambel lagi gak? Es buahnya pake semua? Apa gak mau pake bangkuang? Gue juga gak suka bangkuang, bisa alergi..” katanya asal.
“Nggak usah!” bentak cowok itu.
Andhita mengamati muka cowok itu. “Kayaknya elo anak baru ya? Kok gue belom pernah liat? Atau… lo anak kelas 1 ya? Pantesan gue gak pernah ngeliat lo. Oh ya kenalin, gue Andhita kelas 2 IPA 1. berarti gue kakak kelas lo dong..” Andhita terus nyerocos sambil mengulurkan tangannya.
Cowok itu gak ngegubris, dan malah ngeloyor pergi meninggalkan Andhita. Andhita menahan tawa. Sukurin! Emang enak? Dasar, belagu-belagu nggak taunya masih adik kelas. Masih bau kencur! Hahaha…!
_To be Continued_
Minggu, 30 Mei 2010
cewek agresif
“Dit, gue suka sama lo. Ma..mau gak jadi... pacar gue?” tanya Mia dengan wajah memelas.
Adit menatapnya bingung tapi serius.
“Atas dasar apa lo suka sama gue?”
“Mm... aduh susah dijelasinnya. Pokoknya gue suka semua tentang lo. Wajah lo yang ganteng, sikap lo yang misterius dan dingin, otak lo yang pinter, body lo yang oke. Everything about you, deh!” jawab Mia bersemangat. “Jadi gimana? gue siap kok menerima apapun jawaban lo.”
“Hmm...”
“Apa lo butuh waktu?”
“Yah mungkin besok gue udah bisa ngasih jawabannya, gak papa kan?”
“Oh, iya gak papa. Oke, gue tunggu jawabannya besok.”
“Gue balik duluan ya..” Adit naik ke motornya.
“Oke, daaah...” Mia melambaikan tangannya pada Adit yang sudah melesat jauh ke jalan. “Hhh...” Mia menunduk lemas. Dina berlari kecil menghampiri Mia. “Gimana Mi, berhasil enggak? jawaban dia apa?”
“Dia bilang dia butuh waktu. Mungkin besok baru ngasih jawabannya.” Mia menghela nafas panjang. “Gue salah ya nembak dia ya din? jangan-jangan dia ilfil sama cewek agresif kayak gue.”
“Lagian lo sih aneh-aneh aja suka sama cowok macem Adit. Dia tuh dingin ke semua cewek, eh lo berani-beraninya nembak dia. Perbedaan lo sama dia tuh jauh banget, kayak air dan api. Dia tuh cowok yang intelek, lo cuman cewek pinter rata-rata. Dia cool abis, lo selengean banget. Dia pembawaannya tenang, lo menggebu-gebu dan agresif. Pokoknya terlalu banyak perbedaan antara lo dan dia. Enggak bakal bisa cocok deh.”
“Tapi Din...”
“Udah deh, Mi, lo mendingan lupain dia. Cari cowok lain asal jangan dia. Dia gak mungkin suka sama lo. Gue tau banget cowok kayak dia pasti nyari cewek yang selevel sama dia. Dan elo tuh beda level sama dia.”
“Lu kok nakut-nakutin gue gitu sih? harusnya lo tuh ngasih gue dukungan dong!” seru Mia jutek.
“Gue cuman ngasih pendapat gue sebagai temen. Gue enggak mau lo nanti terluka gara-gara cowok gak penting itu.”
“Jadi Adit bakalan nolak gue besok?”
“Kemungkinan besar... iya lo siapin deh mental baja waktu dia ngasih jawabannya.”
“Aduuuh gue jadi takut menghadapi hari esok.” Kata Mia mulai panik.
“Tenang mi.. Lo harus menghadapi dia dengan kepala dingin. Mendingan kita pulang deh supaya lo bisa istirahat di rumah. Lo kan harus cukup istirahat untuk menghadapi hari esok.” “Hah? ya whatever!”
Mia mondar mandir di depan kelasnya menunggu Adit lewat. Dengan rasa cemas yang hampir membuat hatinya meledak, ia terus celingak celinguk mencari sosok Adit. Tak lama munculah Adit, sang pujaan hati. Mia langsung berdiri tegap dan merapikan dandanannya.
“Adit!” panggil Mia. Adit pun berhenti di hadapannya. Mia menariknya ke tempat yang agak sepi. “Gimana dit jawabannya?” tanyanya ragu.
“Mm... menurut gue sih, yaa kita jalanin aja.”
“Haa... ja-jadi lo mau jadi pacar gue?“
“Yaa... semacam itu.”
Hati Mia meletup-letup gembira. Saking senangnya ia sampai memeluk Adit sambil loncat-loncat.
“Mia,Mia stop!”seru Adit yang malu diperhatikan anak-anak yang lewat.
“So-sori,sori. Gue... gue seneng banget lo udah mau jadi pacar gue.”
“Ya udah, gue mau ke kelas dulu.”
“Oke. Bye. Oh ya ntar istirahat kita ke kantinnya bareng ya?” Adit hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Mia masuk ke kelasnya. Ia melihat Dina sudah datang, langsung saja dihampirinya. “Dina...gue dah dapet jawabannya!” serunya sambil tersenyum-senyum.
“Dia mau jadi pacar lo?”
“Lo kok tau sih? Hehehe...iya, dia mau jadi pacar gue. Senengnya...sampe gak bisa gue ungkapin dengan kata-kata.”
“Selamet deh. Eh tapi kok bisa sih seorang Adit yang biasanya dingin sama cewek tiba-tiba nerima lo jadi pacarnya?”
“I don’t know. It’s miracle! udahlah gak perlu curiga terus sama dia. Yang penting sekarang dia udah jadi milik gue. Hahaha...” Mia tertawa puas.
Bel istirahat berbunyi. Mia langsung ngacir ke kelasnya Adit.
“Makan bareng yukk?” ajak Mia. Adit hanya mengangguk dan mengikutinya. Mereka makan di kantin sambil mengobrol. Pertamanya agak kaku, tapi kemudian Mia bisa mencairkan suasana dengan kebawelannya. Mia lebih banyak bicara daripada Adit. Paling Adit hanya mengangguk dan berbicara sedikit. Tapi Mia tetap tidak peduli, mungkin Adit hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengannya.
Pulang sekolah Adit harus latihan basket. Dengan setia Mia menungguinya di pinggir lapangan. Ia terus berteriak-teriak menyemangati Adit sehingga jadi pusat perhatian anak-anak lain yang juga latihan basket. Mia tidak peduli, ia tetap menyemangati Adit.
“Ayo Adit, kamu pasti bisa! go Adit, go Adit! Adit you’re the best.”
***
Tidak terasa minggu depan hubungan Mia dan Adit sudah genap satu tahun. Dan selama ini, selalu Mia yang agresif terhadap Adit. Setiap hari Mia mendatangi Adit untuk mengajak makan bareng saat istirahat atau pulang bareng sesudah bel pulang. Setiap kali Adit latihan basket, Mia selalu setia menunggui dan menyemangatinya di pinggir lapangan. Saat istirahat latihan, Mia segera mengelapi keringat Adit dan memberinya minuman.
Mia benar-benar mendominasi dalam segala hal. Bahkan yang mengajak jalan atau nonton di bioskop pun selalu Mia. Dan...Mia juga yang mencium Adit duluan saat first date mereka. Mia, Mia, Dan Mia. Adit tidak pernah berinisiatif sedikit pun untuk memulai sesuatu. Selalu saja Mia yang memulainya dan Adit tinggal mengikutinya saja. Meskipun Adit bersikap demikian, Mia tidak pernah marah karena ia sudah mengerti begitulah sikap Adit. Namun kadang terbesit juga keinginan Mia untuk dimanjakan oleh pacar sendiri.
Saat ini Mia sedang berada di kamar saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Mia membuka pintu dan akhirnya yang ditunggu datang juga. Dina.
“Hai Din. Masuk yuk oh ya ada apa sih tadi di telpon lo panik banget?”tanya Mia agak cemas.
“Adit Mi...”
“Kenapa Adit?”
Dina mengeluarkan Hpnya lalu menunjukkan beberapa foto. Di foto-foto itu Adit sedang bersama seorang cewek cantik dan terlihat intelek. Di salah satu foto nampak Adit sedang tertawa lepas bersama cewek itu. Hati Mia sangat terluka melihat semua itu. Adit tidak pernah tertawa seperti itu saat bersamanya.
“Tadi waktu gue lagi di mall sama nyokab, gue ngeliat Adit sama cewek itu. Langsung aja gue foto mereka diam-diam supaya ada bukti kalo dia itu selingkuh. Gue tau banget lo enggak bakal percaya begitu aja kalo gue bilang dia selingkuh.” Jelas Dina.
“Hik...kenapa Din? kenapa dia berpaling ke cewek lain? gue udah berusaha selalu ada buat dia, dan setia di sampingnya. Apa itu semua enggak cukup Din? hikz...”Mia mulai terisak.
“Mia buka mata lo. Udah gue bilang kan dari awal, Adit tuh enggak cocok buat lo. Terlalu banyak perbedaan antara lo dan dia. Dia enggak pernah sayang dan cinta sama lo. Dia cuma manfaatin lo aja selama ini. Lo sendiri kan yang bilang kalo dia itu gak pernah berinisiatif untuk memulai sesuatu. Selalu elo. Kenapa? karena lo yang cinta sama dia, sedangkan dia enggak pernah cinta sama lo.”
“Enggak gue sangka Adit tega berbuat seperti ini ke gue.” Mia menghapus air matanya. ”Udah gue putuskan, sampai di sini aja hubungan gue dan dia.”
***
Dear Adit,
Sebelumnya aku minta maaf enggak bisa ngomong langsung sama kamu, kaena hanya akan membuat aku semakin benci sama kamu. Aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini aja. Aku udah enggak tahan dengan semua keegoisan kamu dan penghianatan kamu dengan cewek lain. Selama ini aku udah sabar menghadapi tingkah laku kamu yang cuek dan enggak pernah peduli sama aku. Tapi lama-kelamaan kesabaranku udah habis.
Aku baru sadar kalo sebenernya kamu enggak pernah sayang sama aku. Kenapa waktu itu kamu terima aku sebagai pacar kamu walaupun kamu enggak pernah tertarik sama aku Dit? seandainya saja waktu itu kamu bilang tidak, aku enggak akan pernah merasa sesakit ini sekarang. Dan sekarang aku putuskan semuanya sudah berakhir. Lupakan saja dengan apa yang telah terjadi diantara kita.
Mia
Adit melipat kembali surat dari Mia. Kemudian dia melihat satu-persatu foto-foto yang diselipkan bersama surat itu. Ia memasukkan surat dan foto itu ke dalam tasnya lalu berlari ke kelas Mia. Tapi terlambat, kelasnya sudah kosong. Ia berlari ke gerbang sekolah dan melihat Mia naik angkot bersama Dina. Langsung saja ia menuju motornya untuk mengejar Mia.
“Adit kamu mau kemana? sekarang kan waktunya latihan.” Tiba-tiba pelatih basketnya Adit muncul.
“Maaf pak saya enggak bisa ikutan latihan hari ini.”
“Kamu tidak bisa tidak latihan hari ini. Besok kita ada pertandingan penting. Besok adalah pertandingan final, ingat itu Dit. Apalagi kamu kapten, kamu harus tanggung jawab dong. Atau kamu...ingin saya gantikan dengan pemain lain?”
“Jangan Pak! oke, oke saya akan latihan.” Adit memarkir kembali motornya. Kemudian dengan berat hati ia mengikuti pelatihnya ke lapangan basket.
Istirahat tiba, Adit dan yang lainnya duduk di pinggir lapangan sambil ngos-ngosan. Teman-temannya sibuk mengelap keringat dan minum sebanyak-banyaknya. Adit merasa sangat haus, tapi tidak ada yang minuman untuknya. Mia yang selalu memberinya minuman kini sudah tidak ada lagi. Adit pun terpaksa membeli sendiri.
“Adit, sini kamu.” Panggil pelatih.
“Iya Pak ada apa?”
“Harusnya saya yang tanya, ada apa dengan kamu? permainan kamu tadi buruk sekali, padahal kemarin masih bagus. Kenapa kamu? sakit?”
“E-enggak kok Pak. Saya...Cuma lagi enggak mood aja. Tapi saya akan perbaiki kesalahan saya tadi.”
“Ya sudah begini saja, Lebih baik kamu sekarang pulang. Mudah-mudahan besok mood kamu sudah kembali baik. Latihan hari ini kita sudahi saja. Lagipula cuaca kurang mendukung.” Memang cuaca hari ini mendung dan mulai gerimis.
”Iya pak. Makasih pak.”
Adit kembali duduk di pinggir lapangan. Ia teringat Mia yang selalu menyemangatinya dari pinggir lapangan. Walaupun rasanya sudah tidak kuat berlari, tapi begitu mendengar teriakan Mia, Adit merasa berenergi kembali. Baru dirasakannya ia begitu sangat kehilangan sosok Mia yang selalu berada di sisinya. Dan detik itu pula dia sangat menyadari perasaan yang seharusnya dari dulu dia ungkapkan. Dia yakin kalau dia benar-benar sayang sama Mia dan gak mau kehilangan Mia.
Tanpa pikir panjang Adit langsung berlari ke parkiran mengambil motornya dan mengendarainya dengan cepat ke rumah seseorang yang saat ini sangat ingin sekali ia temui. Dia tidak peduli dengan hujan yang sudah mulai turun deras.
***
Mia terkejut melihat kedatangan Adit di rumahnya. Badannya basah kuyup.”A-adit!”
“Hai Mi,”sapa Adit.”Ng...a-aku ke sini mau tanya tentang surat yang kamu kasih tadi siang. Maksudnya apa, Mia?” Tanya Adit dengan raut yang sulit ditebak. Nafasnya tersengal.
“Masa kamu enggak ngerti juga? aku minta putus!”
“Alasannya?”
“Kamu nanya alasan? dengar ya, kamu bersikap egois dan enggak pernah berinisiatif duluan masih bisa aku tolelir. Tapi kamu jalan sama cewek lain. Aku bener-bener enggak bisa terima.” Kata Mia sewot.
“Mia dengar dulu, itu semua enggak seperti apa yang kamu kira. Cewek itu teman aku, Cuma teman, yang aku ajak nyari hadiah untuk merayakan satu tahun kita jadian. Udah itu doang enggak lebih.”
Air mata Mia mengembang. “Berani-beraninya kamu ngajak jalan cewek lain, padahal aku sebagai pacar kamu enggak pernah diajak jalan-jalan sekalipun. Kamu jahaaaat!!”
“Mia tenang dulu.”
“Aku enggak bisa tenang kalo kamu bersikap seperti itu. Sebenernya gimana sih perasaan kamu ke aku? jawab dengan jujur, sejak aku nyatain cinta sampe sekarang.”
“Oke, kalo kamu pengen aku jujur. Sebenernya waktu kamu nembak aku, aku enggak punya perasaan apa-apa ke kamu. Tapi karena ngeliat keberanian kamu mengungkapkan perasaan kamu ke aku, aku jadi nerima kamu. Aku bersikap egois dan enggak pernah mencoba untuk berinisiatif duluan karena......”
“Karena apa?”
“Karena kamu adalah pacar pertamaku. Makanya aku enggak tau kalo pacaran itu harus bagaimana. Lagian juga aku udah keenakan kamu manjain terus. Pokoknya, seiring berjalannya waktu aku sadar kalo kamu itu unik dan aku enggak ingin kehilangan kamu. Asal kamu tau aja, sehari tanpa kamu aku jadi kacau. Istirahat tadi aku enggak ke luar kelas gara-gara nungguin kamu yang enggak datang-datang. Terus tadi latihan basket jadi kacau karena enggak ada teriakan kamu yang bisa membuat aku jadi tambah semangat latihan. Dan yang penting......tanpa kehadiran kamu, semua yang aku lakukan jadi tidak berarti.”
Mia terpana mendengar penjelasan Adit. Ternyata di balik wajahnya yang terlihat dewasa dan sikap dinginnya, ia justru kekanak-kanakan. “Terus...mau kamu gimana sekarang?” tanya Mia.
“Aku ingin kamu kembali, Mia. Aku sayang banget sama kamu.”
“Baru kali ini kamu ngomong panjang lebar plus romantis.” Mia tersenyum. “kalo kamu mau aku kembali, kamu harus bisa merubah sikap kamu dan berinisiatif duluan oke?”
“Oke. Jadi sekarang kita pacaran lagi?”
Mia mengangguk.
“Yes,yes !!” Adit memeluk Mia sambil loncat-loncat.
“Adit apaan siiih. Baju aku jadi basah nih.”
Adit tersenyum lebar sambil mengeluarkan seuntai kalung. “Ini hadiah yang aku beli untuk kamu. Kalung ini juga sebagai tanda bersatunya lagi cinta kita.” Adit memakaikan kalung itu di leher Mia.
“Adit...makasih ya.”
“Sama-sama. Oh ya, gimana kalo hari minggu nanti kita nonton plus dinner.”
“Wow kamu udah cepet berubah ya? untuk pertama kalinya kamu ngajak aku jalan. Aku enggak bakal nolak dan melewatkannya.”
Adit mengecup kening Mia dan memeluknya erat. “Aku enggak mau kehilangan kamu lagi. Sayang...”
***
Adit menatapnya bingung tapi serius.
“Atas dasar apa lo suka sama gue?”
“Mm... aduh susah dijelasinnya. Pokoknya gue suka semua tentang lo. Wajah lo yang ganteng, sikap lo yang misterius dan dingin, otak lo yang pinter, body lo yang oke. Everything about you, deh!” jawab Mia bersemangat. “Jadi gimana? gue siap kok menerima apapun jawaban lo.”
“Hmm...”
“Apa lo butuh waktu?”
“Yah mungkin besok gue udah bisa ngasih jawabannya, gak papa kan?”
“Oh, iya gak papa. Oke, gue tunggu jawabannya besok.”
“Gue balik duluan ya..” Adit naik ke motornya.
“Oke, daaah...” Mia melambaikan tangannya pada Adit yang sudah melesat jauh ke jalan. “Hhh...” Mia menunduk lemas. Dina berlari kecil menghampiri Mia. “Gimana Mi, berhasil enggak? jawaban dia apa?”
“Dia bilang dia butuh waktu. Mungkin besok baru ngasih jawabannya.” Mia menghela nafas panjang. “Gue salah ya nembak dia ya din? jangan-jangan dia ilfil sama cewek agresif kayak gue.”
“Lagian lo sih aneh-aneh aja suka sama cowok macem Adit. Dia tuh dingin ke semua cewek, eh lo berani-beraninya nembak dia. Perbedaan lo sama dia tuh jauh banget, kayak air dan api. Dia tuh cowok yang intelek, lo cuman cewek pinter rata-rata. Dia cool abis, lo selengean banget. Dia pembawaannya tenang, lo menggebu-gebu dan agresif. Pokoknya terlalu banyak perbedaan antara lo dan dia. Enggak bakal bisa cocok deh.”
“Tapi Din...”
“Udah deh, Mi, lo mendingan lupain dia. Cari cowok lain asal jangan dia. Dia gak mungkin suka sama lo. Gue tau banget cowok kayak dia pasti nyari cewek yang selevel sama dia. Dan elo tuh beda level sama dia.”
“Lu kok nakut-nakutin gue gitu sih? harusnya lo tuh ngasih gue dukungan dong!” seru Mia jutek.
“Gue cuman ngasih pendapat gue sebagai temen. Gue enggak mau lo nanti terluka gara-gara cowok gak penting itu.”
“Jadi Adit bakalan nolak gue besok?”
“Kemungkinan besar... iya lo siapin deh mental baja waktu dia ngasih jawabannya.”
“Aduuuh gue jadi takut menghadapi hari esok.” Kata Mia mulai panik.
“Tenang mi.. Lo harus menghadapi dia dengan kepala dingin. Mendingan kita pulang deh supaya lo bisa istirahat di rumah. Lo kan harus cukup istirahat untuk menghadapi hari esok.” “Hah? ya whatever!”
Mia mondar mandir di depan kelasnya menunggu Adit lewat. Dengan rasa cemas yang hampir membuat hatinya meledak, ia terus celingak celinguk mencari sosok Adit. Tak lama munculah Adit, sang pujaan hati. Mia langsung berdiri tegap dan merapikan dandanannya.
“Adit!” panggil Mia. Adit pun berhenti di hadapannya. Mia menariknya ke tempat yang agak sepi. “Gimana dit jawabannya?” tanyanya ragu.
“Mm... menurut gue sih, yaa kita jalanin aja.”
“Haa... ja-jadi lo mau jadi pacar gue?“
“Yaa... semacam itu.”
Hati Mia meletup-letup gembira. Saking senangnya ia sampai memeluk Adit sambil loncat-loncat.
“Mia,Mia stop!”seru Adit yang malu diperhatikan anak-anak yang lewat.
“So-sori,sori. Gue... gue seneng banget lo udah mau jadi pacar gue.”
“Ya udah, gue mau ke kelas dulu.”
“Oke. Bye. Oh ya ntar istirahat kita ke kantinnya bareng ya?” Adit hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Mia masuk ke kelasnya. Ia melihat Dina sudah datang, langsung saja dihampirinya. “Dina...gue dah dapet jawabannya!” serunya sambil tersenyum-senyum.
“Dia mau jadi pacar lo?”
“Lo kok tau sih? Hehehe...iya, dia mau jadi pacar gue. Senengnya...sampe gak bisa gue ungkapin dengan kata-kata.”
“Selamet deh. Eh tapi kok bisa sih seorang Adit yang biasanya dingin sama cewek tiba-tiba nerima lo jadi pacarnya?”
“I don’t know. It’s miracle! udahlah gak perlu curiga terus sama dia. Yang penting sekarang dia udah jadi milik gue. Hahaha...” Mia tertawa puas.
Bel istirahat berbunyi. Mia langsung ngacir ke kelasnya Adit.
“Makan bareng yukk?” ajak Mia. Adit hanya mengangguk dan mengikutinya. Mereka makan di kantin sambil mengobrol. Pertamanya agak kaku, tapi kemudian Mia bisa mencairkan suasana dengan kebawelannya. Mia lebih banyak bicara daripada Adit. Paling Adit hanya mengangguk dan berbicara sedikit. Tapi Mia tetap tidak peduli, mungkin Adit hanya perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengannya.
Pulang sekolah Adit harus latihan basket. Dengan setia Mia menungguinya di pinggir lapangan. Ia terus berteriak-teriak menyemangati Adit sehingga jadi pusat perhatian anak-anak lain yang juga latihan basket. Mia tidak peduli, ia tetap menyemangati Adit.
“Ayo Adit, kamu pasti bisa! go Adit, go Adit! Adit you’re the best.”
***
Tidak terasa minggu depan hubungan Mia dan Adit sudah genap satu tahun. Dan selama ini, selalu Mia yang agresif terhadap Adit. Setiap hari Mia mendatangi Adit untuk mengajak makan bareng saat istirahat atau pulang bareng sesudah bel pulang. Setiap kali Adit latihan basket, Mia selalu setia menunggui dan menyemangatinya di pinggir lapangan. Saat istirahat latihan, Mia segera mengelapi keringat Adit dan memberinya minuman.
Mia benar-benar mendominasi dalam segala hal. Bahkan yang mengajak jalan atau nonton di bioskop pun selalu Mia. Dan...Mia juga yang mencium Adit duluan saat first date mereka. Mia, Mia, Dan Mia. Adit tidak pernah berinisiatif sedikit pun untuk memulai sesuatu. Selalu saja Mia yang memulainya dan Adit tinggal mengikutinya saja. Meskipun Adit bersikap demikian, Mia tidak pernah marah karena ia sudah mengerti begitulah sikap Adit. Namun kadang terbesit juga keinginan Mia untuk dimanjakan oleh pacar sendiri.
Saat ini Mia sedang berada di kamar saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Mia membuka pintu dan akhirnya yang ditunggu datang juga. Dina.
“Hai Din. Masuk yuk oh ya ada apa sih tadi di telpon lo panik banget?”tanya Mia agak cemas.
“Adit Mi...”
“Kenapa Adit?”
Dina mengeluarkan Hpnya lalu menunjukkan beberapa foto. Di foto-foto itu Adit sedang bersama seorang cewek cantik dan terlihat intelek. Di salah satu foto nampak Adit sedang tertawa lepas bersama cewek itu. Hati Mia sangat terluka melihat semua itu. Adit tidak pernah tertawa seperti itu saat bersamanya.
“Tadi waktu gue lagi di mall sama nyokab, gue ngeliat Adit sama cewek itu. Langsung aja gue foto mereka diam-diam supaya ada bukti kalo dia itu selingkuh. Gue tau banget lo enggak bakal percaya begitu aja kalo gue bilang dia selingkuh.” Jelas Dina.
“Hik...kenapa Din? kenapa dia berpaling ke cewek lain? gue udah berusaha selalu ada buat dia, dan setia di sampingnya. Apa itu semua enggak cukup Din? hikz...”Mia mulai terisak.
“Mia buka mata lo. Udah gue bilang kan dari awal, Adit tuh enggak cocok buat lo. Terlalu banyak perbedaan antara lo dan dia. Dia enggak pernah sayang dan cinta sama lo. Dia cuma manfaatin lo aja selama ini. Lo sendiri kan yang bilang kalo dia itu gak pernah berinisiatif untuk memulai sesuatu. Selalu elo. Kenapa? karena lo yang cinta sama dia, sedangkan dia enggak pernah cinta sama lo.”
“Enggak gue sangka Adit tega berbuat seperti ini ke gue.” Mia menghapus air matanya. ”Udah gue putuskan, sampai di sini aja hubungan gue dan dia.”
***
Dear Adit,
Sebelumnya aku minta maaf enggak bisa ngomong langsung sama kamu, kaena hanya akan membuat aku semakin benci sama kamu. Aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini aja. Aku udah enggak tahan dengan semua keegoisan kamu dan penghianatan kamu dengan cewek lain. Selama ini aku udah sabar menghadapi tingkah laku kamu yang cuek dan enggak pernah peduli sama aku. Tapi lama-kelamaan kesabaranku udah habis.
Aku baru sadar kalo sebenernya kamu enggak pernah sayang sama aku. Kenapa waktu itu kamu terima aku sebagai pacar kamu walaupun kamu enggak pernah tertarik sama aku Dit? seandainya saja waktu itu kamu bilang tidak, aku enggak akan pernah merasa sesakit ini sekarang. Dan sekarang aku putuskan semuanya sudah berakhir. Lupakan saja dengan apa yang telah terjadi diantara kita.
Mia
Adit melipat kembali surat dari Mia. Kemudian dia melihat satu-persatu foto-foto yang diselipkan bersama surat itu. Ia memasukkan surat dan foto itu ke dalam tasnya lalu berlari ke kelas Mia. Tapi terlambat, kelasnya sudah kosong. Ia berlari ke gerbang sekolah dan melihat Mia naik angkot bersama Dina. Langsung saja ia menuju motornya untuk mengejar Mia.
“Adit kamu mau kemana? sekarang kan waktunya latihan.” Tiba-tiba pelatih basketnya Adit muncul.
“Maaf pak saya enggak bisa ikutan latihan hari ini.”
“Kamu tidak bisa tidak latihan hari ini. Besok kita ada pertandingan penting. Besok adalah pertandingan final, ingat itu Dit. Apalagi kamu kapten, kamu harus tanggung jawab dong. Atau kamu...ingin saya gantikan dengan pemain lain?”
“Jangan Pak! oke, oke saya akan latihan.” Adit memarkir kembali motornya. Kemudian dengan berat hati ia mengikuti pelatihnya ke lapangan basket.
Istirahat tiba, Adit dan yang lainnya duduk di pinggir lapangan sambil ngos-ngosan. Teman-temannya sibuk mengelap keringat dan minum sebanyak-banyaknya. Adit merasa sangat haus, tapi tidak ada yang minuman untuknya. Mia yang selalu memberinya minuman kini sudah tidak ada lagi. Adit pun terpaksa membeli sendiri.
“Adit, sini kamu.” Panggil pelatih.
“Iya Pak ada apa?”
“Harusnya saya yang tanya, ada apa dengan kamu? permainan kamu tadi buruk sekali, padahal kemarin masih bagus. Kenapa kamu? sakit?”
“E-enggak kok Pak. Saya...Cuma lagi enggak mood aja. Tapi saya akan perbaiki kesalahan saya tadi.”
“Ya sudah begini saja, Lebih baik kamu sekarang pulang. Mudah-mudahan besok mood kamu sudah kembali baik. Latihan hari ini kita sudahi saja. Lagipula cuaca kurang mendukung.” Memang cuaca hari ini mendung dan mulai gerimis.
”Iya pak. Makasih pak.”
Adit kembali duduk di pinggir lapangan. Ia teringat Mia yang selalu menyemangatinya dari pinggir lapangan. Walaupun rasanya sudah tidak kuat berlari, tapi begitu mendengar teriakan Mia, Adit merasa berenergi kembali. Baru dirasakannya ia begitu sangat kehilangan sosok Mia yang selalu berada di sisinya. Dan detik itu pula dia sangat menyadari perasaan yang seharusnya dari dulu dia ungkapkan. Dia yakin kalau dia benar-benar sayang sama Mia dan gak mau kehilangan Mia.
Tanpa pikir panjang Adit langsung berlari ke parkiran mengambil motornya dan mengendarainya dengan cepat ke rumah seseorang yang saat ini sangat ingin sekali ia temui. Dia tidak peduli dengan hujan yang sudah mulai turun deras.
***
Mia terkejut melihat kedatangan Adit di rumahnya. Badannya basah kuyup.”A-adit!”
“Hai Mi,”sapa Adit.”Ng...a-aku ke sini mau tanya tentang surat yang kamu kasih tadi siang. Maksudnya apa, Mia?” Tanya Adit dengan raut yang sulit ditebak. Nafasnya tersengal.
“Masa kamu enggak ngerti juga? aku minta putus!”
“Alasannya?”
“Kamu nanya alasan? dengar ya, kamu bersikap egois dan enggak pernah berinisiatif duluan masih bisa aku tolelir. Tapi kamu jalan sama cewek lain. Aku bener-bener enggak bisa terima.” Kata Mia sewot.
“Mia dengar dulu, itu semua enggak seperti apa yang kamu kira. Cewek itu teman aku, Cuma teman, yang aku ajak nyari hadiah untuk merayakan satu tahun kita jadian. Udah itu doang enggak lebih.”
Air mata Mia mengembang. “Berani-beraninya kamu ngajak jalan cewek lain, padahal aku sebagai pacar kamu enggak pernah diajak jalan-jalan sekalipun. Kamu jahaaaat!!”
“Mia tenang dulu.”
“Aku enggak bisa tenang kalo kamu bersikap seperti itu. Sebenernya gimana sih perasaan kamu ke aku? jawab dengan jujur, sejak aku nyatain cinta sampe sekarang.”
“Oke, kalo kamu pengen aku jujur. Sebenernya waktu kamu nembak aku, aku enggak punya perasaan apa-apa ke kamu. Tapi karena ngeliat keberanian kamu mengungkapkan perasaan kamu ke aku, aku jadi nerima kamu. Aku bersikap egois dan enggak pernah mencoba untuk berinisiatif duluan karena......”
“Karena apa?”
“Karena kamu adalah pacar pertamaku. Makanya aku enggak tau kalo pacaran itu harus bagaimana. Lagian juga aku udah keenakan kamu manjain terus. Pokoknya, seiring berjalannya waktu aku sadar kalo kamu itu unik dan aku enggak ingin kehilangan kamu. Asal kamu tau aja, sehari tanpa kamu aku jadi kacau. Istirahat tadi aku enggak ke luar kelas gara-gara nungguin kamu yang enggak datang-datang. Terus tadi latihan basket jadi kacau karena enggak ada teriakan kamu yang bisa membuat aku jadi tambah semangat latihan. Dan yang penting......tanpa kehadiran kamu, semua yang aku lakukan jadi tidak berarti.”
Mia terpana mendengar penjelasan Adit. Ternyata di balik wajahnya yang terlihat dewasa dan sikap dinginnya, ia justru kekanak-kanakan. “Terus...mau kamu gimana sekarang?” tanya Mia.
“Aku ingin kamu kembali, Mia. Aku sayang banget sama kamu.”
“Baru kali ini kamu ngomong panjang lebar plus romantis.” Mia tersenyum. “kalo kamu mau aku kembali, kamu harus bisa merubah sikap kamu dan berinisiatif duluan oke?”
“Oke. Jadi sekarang kita pacaran lagi?”
Mia mengangguk.
“Yes,yes !!” Adit memeluk Mia sambil loncat-loncat.
“Adit apaan siiih. Baju aku jadi basah nih.”
Adit tersenyum lebar sambil mengeluarkan seuntai kalung. “Ini hadiah yang aku beli untuk kamu. Kalung ini juga sebagai tanda bersatunya lagi cinta kita.” Adit memakaikan kalung itu di leher Mia.
“Adit...makasih ya.”
“Sama-sama. Oh ya, gimana kalo hari minggu nanti kita nonton plus dinner.”
“Wow kamu udah cepet berubah ya? untuk pertama kalinya kamu ngajak aku jalan. Aku enggak bakal nolak dan melewatkannya.”
Adit mengecup kening Mia dan memeluknya erat. “Aku enggak mau kehilangan kamu lagi. Sayang...”
***
Kamis, 27 Mei 2010
izinkan nina memanggilmu ayah
Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda?
Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya. Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materilistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.
-ada sebuah cerita-
Setiap tahun, ayah saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
----------------
Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina.
"Nina, apa yang anakku mau sayang?" begitu ayah saya membuka percakapan. "Nina mau baju baru?, sepatu baru?, tas baru? Atau apa nak?" tambah ayah saya.
"Nggak ah, ntar om marah" jawab Nina.
"nggak sayang, om tidak akan marah" ayah saya menimpali.
"Nggak ah, ntar om marah" Nina mengulang jawabannya.
Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi.
Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, "ayo nak katakan apa yang kamu minta sayang.
"Tapi janji ya om tidak marah" jawab Nina manja.
"Om janji tidak akan marah sayang" tegas ayah saya.
"Bener om tidak akan marah' sahut Nina agak ragu.
Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk tidak marah.
Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina. Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah? pikir ayah saya.
Sambil tersenyum orang tua saya mengatakan, "ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak."
Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata; "bener ya om tidak marah.???" Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala.
Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya "om, boleh nggak saya memanggil ayah?"
Mendengar jawaban itu, tak kuasa ayah saya membendung air matanya. Segera dia peluk Nina dan mengatakan "tentu anakku.. tentu , mulai hari ini Nina boleh memanggil ayah, bukan om."
Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata "terima kasih ayah, terima kasih ayah"
Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata kepada Nina
"Anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak?"
"Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah" sergah Nina.
"Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih." Sambil memegang tangan ayah saya, Nina memohon "nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya minta ayah bawa foto bareng ayah, ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?"
Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; 'buat apa foto itu nak?"
Tanpa ragu Nina menjawab "Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina."
Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu. Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta.
------------
Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan anda akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.
Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya. Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materilistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.
-ada sebuah cerita-
Setiap tahun, ayah saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
----------------
Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina.
"Nina, apa yang anakku mau sayang?" begitu ayah saya membuka percakapan. "Nina mau baju baru?, sepatu baru?, tas baru? Atau apa nak?" tambah ayah saya.
"Nggak ah, ntar om marah" jawab Nina.
"nggak sayang, om tidak akan marah" ayah saya menimpali.
"Nggak ah, ntar om marah" Nina mengulang jawabannya.
Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi.
Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, "ayo nak katakan apa yang kamu minta sayang.
"Tapi janji ya om tidak marah" jawab Nina manja.
"Om janji tidak akan marah sayang" tegas ayah saya.
"Bener om tidak akan marah' sahut Nina agak ragu.
Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk tidak marah.
Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina. Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah? pikir ayah saya.
Sambil tersenyum orang tua saya mengatakan, "ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak."
Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata; "bener ya om tidak marah.???" Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala.
Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya "om, boleh nggak saya memanggil ayah?"
Mendengar jawaban itu, tak kuasa ayah saya membendung air matanya. Segera dia peluk Nina dan mengatakan "tentu anakku.. tentu , mulai hari ini Nina boleh memanggil ayah, bukan om."
Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata "terima kasih ayah, terima kasih ayah"
Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata kepada Nina
"Anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak?"
"Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah" sergah Nina.
"Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih." Sambil memegang tangan ayah saya, Nina memohon "nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya minta ayah bawa foto bareng ayah, ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?"
Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; 'buat apa foto itu nak?"
Tanpa ragu Nina menjawab "Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina."
Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu. Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta.
------------
Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan anda akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)