Pertengkaran Empat Sahabat
Lagu A Whole New World yang belum ada “jiwa”nya itu benar-benar bikin Andhita pusing. Malam itu dia mencoba menyanyikannya di depan Papa dan Mama. Niatnya untuk observasi benar-benar serius.
Papa menawarkan, ”Apa mau diiringi gitar Dhit? Papa bisa ambil dari gudang.”
Andhita meringis. ”Nggak usah deh Pa. Andhita nyanyi akapela aja.”
”Oke deh.”
Mama meletakkan majalah yang sedang dibacanya, dan Papa membuka kacamatab bacanya lalu meletakan dokumen yang sedang ditandatanganinya.
Andhita berdeham untuk melancarkan tenggorokannya. ”Ehem..ehem..” dia mengambil posisi tegap dan mengisi paru-parunya dengan udara. Perutnya dikempiskan seperti gaya menyanyi penyanyi seriosa kawakan.
I can show you the world, shinning, shimmering, splendid
Tell me princess now when did you last let your heart decide
I can open your eyes, take you wonder by wonder
Over side ways and under on a magic carpet ride
Papa dan Mama memerhatikannya. Meskipun Andhita menyanyikan versi duanya, tetap saja mereka mendengarkan dnegan serius. Ketika selesai, Andhita bertanya, ”Gimana menurut Mama sama Papa?”
Mama duluan yang mengomentari. ”Ehm... gimana ya? Suara kamu cukup bagus dan menyanyikannya juga cukup baik. Tapi... kamu kurang menghayati isi lagunya. Kesannya seperti...”
”Nyanyian lagu Indonesia Raya waktu upacara.” Papa nyeletuk.
Mama melotot. ”Bukan. Kalau itu sih tergantung penyanyinya. Pakai penghayatan juga bisa.”
”Maksud Papa, Andhita nyanyinya kayak robot. Nggak ada alunannya.” tambah Papa.
”Iya, benar Dhit..” Mama mengangguk-angguk.
Wajah Andhita muram. “Nah, justru itu masalahnya Pa. Andhita juga pengen tau gimana cara kita menghayati lagu. ‘Cukup bagus’ kan nggak membuat lagu itu jadi istimewa.”
Papa dan Mama berpikir sejenak. Tiba-tiba Papa puny ide. “Begini aja! Gimana kalau kamu menyanyikan lagu itu di taman? Sekarang Dhit! Semua lampu kita matiin. Jadi kamu cuma bisa melihat cahaya bulan dan mendengarkan suara alam. Jadi kamu bisa...”
”Menghayati lagu!” timpal Mama.
”Benar!”
Andhita tersenyum. Kenapa dia nggak memikirkan ide ini sejak kemarin ya? ”Kalau begitu, ayo kita mulai sekarang.” kata Andhita sambil menuju taman rumahnya.
A whole new world, a new fantastic point of view
No one to tell us no or where to go or say we're only dreaming
A whole new world, a dazzling place I never knew
But when I way up here, it's crystal clear
That now I'm in a whole new world with you
Plok! Plok! Plok! Tepuk tangan Mama dan Papa terdengar.
“Bagus! Bagus! Ini baru pengahayatan.” Seru Mama.
Andhita tersenyum gembira. Dia juga merasa begitu tadi.
Plok! Plok! Plok! Ternyata ada suara tepu tangan susulan. Andhita dan kedua orangtuanya jadi kaget. Mereka menoleh dan melihat seorang cowok tinggi atletis di depan pagar.
Rendy? Batin Andhita. Ngapain lagi tuh anak ke sini?
”Selama malam Om, Tante...” kata Rendy ramah.
”Eh..kamu Ren.. kami lagi mengobservasi lagunya Andhita. Dia bilang dia butuh penghayatan, jadi kami mengajaknya ke sini.” kata Papa.
”Maaf aku datang malam-malam Om. Aku mau mengantarkan kue buatan Mama untuk Tante Anne dan Andhita.” kata Rendy.
”Jadi buat Om nggak ada nih?”
”Buat Om juga deh.” senyum Rendy. Dia memberikan sekotak kua pada Mama Andhita dan langsung membawa kue itu ke dalam.
”Om dan Tante masuk dulu ya. Kalau kamu mau ngobrol sama Andhita, silahkan.” kata Papa.
Andhita melotot. Uh, lain banget sikap mereka tempo hari, waktu mereka belum tahu bahwa Rendy adalah calon tunangannya. Waktu itu Andhita dan Rendy diawasi terus di ruang tamu. Sekarang mereka malah ditinggal berdua di taman yang gelap.
”Aku nggak lama-lama kok, Om. Aku paling cuma mau ngomongin soal vokal grup sebentar sama Andhita.” Kata Rendy.
“Lama juga nggak apa-apa.” Papa Andhita tersenyum lebar. ”Om tinggal dulu ya?” kata Papa Andhita sambil meninggalkan mereka berdua.
Andhita menunjuk bangku taman tempat Papa tadi duduk, mempersilahkan Rendy duduk di situ. ”Duduk Ren.” katanya enggan. Rendy segera duduk di situ.
”Jadi ceritanya elo udah bisa mengahayati lagu nih?” kata Rendy sambil cengengesan.
”Yah.. begitu deh. Setidaknya sekarang gue tau gimana caranya mengahayati lagu ini. Kalau elo kan tentunya nggak usah diajari lagi kan. Elo kan punya teman yang hebat dan bisa menyanyi dengan hati.” sindir Andhita.
Rendy tertawa. ”Elo masih ingat kejadian tadi siang? Kenapa, cemburu?”
”Ngaco! Jangan GR deh lo! Lagian lo ngapain sih di sini? Bukannya pulang, masih kangen sama gue?” tanya Andhita asal.
”Kan gue udah bilang, mau ngomongin soal grup vokal.”
Andhita memandang Rendy. “Dan nyokab lo niat banget nyuruh lo nganterin kue malam-malam ke sini. Pasti buat ngelaksanain niatnya, memaksa elo supaya bisa dekat sama gue.”
Rendy mengangkat bahu. ”Nggak tahu deh. Tapi kalau dipikir-pikir...mungkin juga.”
”Oh ya, terus hubungan lo sama Putri gimana?”
Rendy mengerutkan kening. ”Linda? Baik-baik aja.”
”Sama Tasha?”
”Baik juga.” jawab Rendy bingung. “Sama Keyra juga baik. Emangnya kenapa?”
”Bukan begitu. Gue denger dari Keyra, katanya elo suka makan bareng di kantin sama Putri, terus ke perpustakaan sama Tasha. Gue cuma mau ngasih tahu, sebaiknya elo jangan terlalu banyak tebar pesona sama cewek-cewek. Lo sadar nggak sih, kalau perbuatan lo sama aja dengan mempermainkan mereka?”
Rendy bertanya polos. ”Kenapa? Elo cemburu?”
Andhita mendengus. ”Nggak lah! orang yang nggak punya perasaan apa pun mana bisa cemburu? Gue tuh cuma pengen bilang, saat ini hubungan Putri dan Tasha sedang buruk karena mereka bersaing memperebutkan elo!”
”Memperebutkan gue?”
”Kenapa? Bangga?” desis Andhita tajam. “Lo tau nggak, masalah ini bisa ngancurin persahabatan kita berempat.”
Sebelah alis Rendy terangkat. ”Gue sama sekali nggak berpikir begitu. gue tuh kebetulan aja makan sama Putri di kantin, itu pun karena kita ketemu di sana. Lagian juga kita cuma ngobrolin soal vokal grup. Terus ke perpustakaan sama Tasha, karena kita lagi nyari data untuk tugas kelompok. Soalnya gue sama Tasha itu satu kelompok.
”Oh ya?”
”Suer!”
Benar juga ya, pikir Andhita. Dia jadi sadar Putri dan Tasha telah salah paham sama perhatian Rendy. Andhita dan Rendy diam dalam keheningan. Saat itu bisa terdengar suara jangkrik dan katak yang bersahutan di tengah malam. Suara deru angon dan keheningan malam terasa jelas. Andhita tiba-tiba jadi memikirkan foto cewek tadi siang.
”Ren...kalau gue bole nanya, foto cewek yang ada di studio lo itu, siapa sih?” tanya Andhita.
”Gue nggak mau ngebicarain itu.” Kata Rendy. Tiba-tiba mimik mukanya menjadi muram dan dingin seperti tadi siang.
”Kenapa? Dia mantan lo?” tanya Andhita lagi.
Rendy bangkit berdiri. ”Udah malam, gue pulang dulu. Besok ada ulangan. Tolong pamitin sama bokap-nyokab lo ya.”
Andhita nggak sempat menahan Rendy yang mungkin tersinggung dengan kata-katanya. Cowok itu sudah berlalu dari hadapannya.
***
Rendy mengeluarkan semua foto dan barang-barang pribadi milik Grey yang masih di simpannya. Surat-surat, foto, stiker, gelang tali, pokoknya apa saja yang bisa mengingatkannya pada Grey, sebab untuk keperluan itulah dulu dia menyimpannya. Tapi sekarang dia nggak mau mengingat Grey lagi. Grey, maafin gue… gue nggak bermaksud ngelupain lo, tapi gue sadar udah saatnya gue melangkah maju dan nggak terus berada di masa lalu.
Ketika melihat selembar foto dirinya yang sedang berpelukan mesra dengan Grey, Rendy tertegun. Lamunannya pun melayang jauh beberapa tahun yang lalu.
Dulu Rendy punya sahabat baik bernama Grey. Rendy sangat menyayanginya. Sampai suatu waktu Rendy menyatakan perasaannya. Grey menangis dan dia bilang nggak bisa. Karena dokter telah memvonis umurnya tinggal enam bulan lagi. Grey sakit leukimia, kanker darah, dan nggak bisa sembuh lagi. ”Gue bakal mati Ren! Mati!” teriak Grey histeris saat itu. Rendy hanya bisa melongo, nggak tahu apa yang mesti dilakukannya untuk menenangkan cewek itu.
Tetapi Rendy yang tetap memaksa hubungan itu malah mempercepat vonis dokter, karena Grey malah menolak minum obat. Soalnya Grey tahu, minum obat akan membuat penampilannya kelihatan buruk. Obat akan membuat matanya cekung, rambutnya rontok, dan kulitnya kusam. Dia hanya minum obat untuk menahan sakit, dan itu yang menyebabkan dia meninggal tiga bulan lebih cepat.
Saat meninggal Grey ada di dalam pelukan Rendy. ”Ren, elo harus janji sama gue, elo harus bisa dapetin cewek yang lebih baik dari gue.”
Saat itu Rendy nggak bisa berkata apa-apa, hanya bisa mengangguk dengan mata merebak. Lalu, setelah Grey meninggal, dia tidak mampu tinggal di kota yang penuh kenangan bersama Grey. Jadi dia tidak menolak ketika papanya mengajaknya pindah sekeluarga ke Jakarta.
Rendy memasukkan semua barang Grey ke dalam drum kosong di belakang rumah, lalu menyiramnya dengan minyak tanah. Dia mengambil selembar kertas dan membakarnya dengan korek api, kemudian melemparkannya ke dalam drum. Blup! Api membesar dan menghanguskan semuanya.
”Selamat tinggal Grey...kayaknya gue udah menemukan cewek itu. Dan gue harus meyakinkan dia bahwa dia mencintai gue seperti gue mencintai dia.”
Asap hitam yang membumbung tinggi itu melayang terbawa angina, seolah membawa kesedihan dan menghapusnya, untuk menggantinya dengan kebahagiaan.
***
Keesokan harinya, Andhita menceritakan pengalamannya kepada teman-temannya. ”Kemarin gue nyanyiin lagu kita di tengah taman gue. Tiba-tiba, gue merasa tenang, terus bisa deh menghayati lagunya. Kata nyokab gue, pas gue nyanyiin lagu itu terasa beda sama pas gue nyanyi biasa.”
”Masa?” ujar Keyra.
”Kalau begitu kita coba aja. Gimana?” kata Tasha.
”Di taman rumah lo aja ya Dhit? Kan lo bisa menghayati lagu itu di taman rumah lo. Jadi suasananya udah pas.” usul Keyra.
Andhita mengerutkan keningnya. ”Taman di rumah gue kan sempit. Nggak sebesar taman di rumah Rendy atau Putri. Lagian, di rumah gue kan nggak ada piano.
“Nggak apa-apa. Kita bisa latihan tanpa piano. Kalau malam hari gitu, kita bisa latihan akapela. Jadi lebih konsentrasi, ya kan?” ujar Putri.
Semuanya setuju dan mengiyakan. Diputuskan malam ini mereka latihan di rumah Andhita, di taman kecil rumahnya.
***
Sebelum pulang, Andhita menyempatkan diri melongok ruang OSIS untuk mengintip Adit. Keyra menemaninya. Andhita memang hanya berani cerita blak-blakan sama Keyra soal Adit. Putri dan Tasha juga
”Heran, lo tuh udah suka sama Adit dari kelas satu. Tapi tindakan lo gini-gini aja. Waktu itu gue kasih kesempatan kencan, nggak lo manfaatkan sebaik mungkin. Apa elo nggak mau jadian sama dia? Cuma mau suka-sukaan doang?” tanya Keyra berjalan di samping Andhita di koridor sekolah.
”Abis, gue harus gimana dong? Harus nembak dia?” kata Andhita.
”Eit! Jangan salah. Zaman sekarang, cowok atau cewek yang nembak duluan, nggak jadi masalah. Cewek juga berhak kok menyatakan isi hati. Masa kita cuma bisa nunggu cowok yang nembak. Kalau mereka nggak tau perasaan kita, mau nunggu sampai sepuluh tahun juga nggak dapat-dapat.”
”Ya ngomong sih gampang. Kalau gue nembak dia terus gue ditolak gimana?” Tanya Andhita.
“Ya..gak gimana-gimana.” Jawab Keyra sambil nyengir.
Mereka sudah tiba di ruang OSIS. Andhita menyenggol Keyra. Gadis berambut pendek itu mengerti. Dia mengintip ke dalam. Cukup lama hingga Andhita nggak sabaran.
“Ada nggak?” Tanya Andhita.
Keyra mengulurkan tangannya ke belakang tanda dia nggak mau diganggu dulu. Andhita menunggu nggak sabar. Dia menggeser Keyra.
“Gue aja deh yang ngintip.”
“Heh, tunggu dulu!” bisik Keyra. Andhita nggak peduli. Akibatnya mereka berdua berebutan ngintip. Ketika akhirnya Andhita menang, belum sempat dia melihat apa-apa pintu terbuka mendadak sehingga keduanya terdorong ke depan.
“Rendy?!!” seru Andhita kaget.
“Makanya gue bilang juga tunggu.” Bisik Keyra.
“Ngapain lo ke sini? Nyari gue?” tanya Rendy melihat kedua cewek itu berdiri di depannya dengan tatapan bersalah.
“GR! Gue lagi nyari Adit!” kata Andhita.
Rendy mengangkat bahu. ”Sayang dia nggak ada di tempat. Kalau ada perlu kasih tahu gue aja. Kan gue juga sering ketemu dia.” katanya santai.
”Eh... nggak ada yang penting kok. Ya..kalau nggak ada ya udah.” Andhita langsung mengamit tangan Keyra dan mengajaknya berlalu dari situ.
Namun Keyra menarik tangannya kembali. ”Ren, nanti malam kita mau latihan di rumah Andhita buat ngedapetin inspirasi cara menghayati lagu.” Kata Keyra.
“Oh ya? Di taman rumah Andhita?” Tanya Rendy.
”Lho, lo tau dari mana kalau latihannya di taman?” tanya Keyra bingung.
”Gue tau semua hal.” kata Rendy bangga. Andhita cepat-cepat menarik tangan Keyra lagi dan berlalu dari situ.
”Iya, ya. Kenapa dia selalu bisa tau semua hal?” tanya Keyra lagi setelah mereka sudah di dekat kelas.
”Jangan dengerin. Dia kan sok tau!” kata Andhita. Dalam hati dia berharap agar Keyra nggak curiga sama sekali. Dia nggak ingin siapa pun tahu soal ini,
“Tapi aneh deh Dhit. Rendy itu selalu tau hal-hal kecil tentang lo. Seperti waktu elo nuduh dia yang ngebocorin perjodohan lo, terus tadi pas dia nebak kita bakalan latihan di taman rumah lo. Aneh kan?”
”Aduh, jangan dipikirin Key. Oh ya, gimana hubungan Putri sama Tasha sekarang? Mereka udah baikan?” Andhita mengalihkan pembicaraan.
”Lumayan. Terus, balik lagi ke Rendy. Kayaknya cowok itu belum mikirin pacaran deh. Atau jangan-jangan…” Keyra menatap wajah Andhita dengan serius. “Dia pernah sakit hati sama cewek lagi. Sama cewek yang ada di foto itu Dhit. Ingat nggak? Jadi dia nggak antusias lagi berhubungan sama cewek. Mungkin hatinya masih terluka gitu.”
Andhita tersenyum. “Gue saranin ya, daripada mikirin masalah Rendy yang benar-benar nggak penting ini. Mendingan lo nasihatin Putri sama Tasha yang lagi berantem gara-gara suka sama cowok yang salah.”
Kedua alis Keyra bertaut. “Kenapa sih Dhit lo selalu aja sengit sama dia? Jangan-jangan elo juga kepincut ya sama dia?” tebak Keyra.
”Jangan ngaco deh! Elo kan tau, satu-satunya cowok yang pengen gue jadiin cowok tuh cuma Adit.” elak Andhita yang bahkan dia sendiri nggak yakin dengan ucapannya. Dan kalau diingat, saat lagi ngedate sama Rendy, walaupun diwarnai dengan insiden mabok, itu maish jauh lebih baik dibanding hambarnya saat dia berkencan dengan Adit.
”Terus gimana sama cowok yang dijodohin sama lo itu Dhit? Elo nggak lupa kan kalau elo itu udah dijodohin?”
”Nggak! Gue cuma nggak peduli aja.” Jawab Andhita santai.
“Terus, nyokab-bokap lo gimana? Mereka masih ngarepin elo pacaran sama cowok itu?”
Andhita diam. Keyra memang nggak ngerti masalahnya, tapi kata-katanya membuatnya sadar sesuatu. Andhita mengakui kalau perjodohan ini sangat mengikatnya, membuat perasaannya pada Rendy jadi nggak karuan. Antara kesal karena merasa terjebak, tapi juga nggak bisa bilang benci sama keadaan. Dan dia juga harus mengakui kadang dia juga suka memikirkan cowok itu. Tidak, bukan kadang, tapi sering...
***
Jam tujuh malam, semua sudah berkumpul di taman rumah Andhita. Daerah rumah Andhita memang sepi karena tetangga kiri kanan udah masuk setelah hari gelap. Lampu taman dan lampu depan rumah sengaja dimatikan. Suasana jadi gelap dan cahaya yang mereka lihat hanya berasal dari rumah-rumah sebelah dan lampu jalan. Mereka berempat berdiri, membentuk lingkaran sambil bergandengan tangan.
”Sstt...diam. sekarang coba deh kalian dengerin suara hati kita masing-masing satu menit aja.” ajak Andhita. Mereka berempat diam, memejamkan mata, dan mencoba untuk mendengarkan detak jantung mereka, merasakan cinta dalam diri mereka, cinta untuk siapa saja...
Selang satu menit, Andhita memecah keheningan. ”Sudah bisa merasakan suara hati kita? Sekarang siap nyanyi?”
”Siap.” jawab ketiga temannya serempak.
”Satu.. dua.. tiga.. ” Putri memberi komando.
I can show you the world, shinning, shimmering, splendid
Tell me princess now when did you last let your heart decide
I can open your eyes, take you wonder by wonder
Over side ways and under on a magic carpet ride
A whole new world, a new fantastic point of view
No one to tell us no or where to go or say we're only dreaming
A whole new world, a dazzling place I never knew
But when I way up here, it's crystal clear
That now I'm in a whole new world with you
Unbelievable sight, indescribable feeling, soaring, tumbling, free wheeling
Through an endless diamond sky
A whole new world (don't you dare close your eyes)
A hundred thousand things to see (hold your breath it gets better)
I like a shooting start, I've come so far
I can't go back to where I used to be
I'll chase them anywhere
There's time to spare, let me share
This whole new world with you
Mereka membuka mata dan tersenyum, lalu melompat-lompat gembira.
”Dapat! Hore!!”
”Gue nggak nyangka latihan kita hari ini jauh lebih berarti daripada latihan tiga jam berturut-turut.” komentar Tasha.
”Iya, gue juga ngerasa suara kita semakin profesional dan nggak bisa diremehkan.” kata Putri bangga.
”Udah..udah..kita masuk yuk! Nyokab gue udah nyiapin makanan kecil buat kita.” ajak Andhita.
”Kasihan juga ya, Rendy malam ini nggak diajak.” ujar Putri.
”Tapi kalau diajak juga kasihan. Kan rumahnya jauh di Sunter.” kata Keyra,
Mereka masuk ke dalam rumah. Ternyata mama Andhita udah menyiapkan camilan. Andhita menyetel kaset yang baru dibelinya dan mereka makan sambil ngobrol.
”Maaf nih Tante, malam-malam gini kita ngeganggu. Kita lagi nyari penghayatan lagu buat malam kesenian.” kata Putri sambil mengunyah apel yang sudah dikupas. Andhita kebetulan lagi di kamar mandi.
”Nggak apa-apa kok. Tante senang kali ini rumah Tante bisa dipakai latihan. Biasanya di rumah kamu kan Put?” tanya mama Andhita.
”Iya, Tante. Tapi karena sekarang rumah aku lagi di renovasi, jadi kita latihan di rumahnya Rendy.”
Mama Andhita nggak jadi beranjak ke dapur. Dia berhenti dan mendekati Putri. ”Kamu bilang latihan di rumah Rendy? Rendy yang tinggal di Sunter?”
Putri menatap wanita di depannya dengan bingung. “Sepertinya begitu sih Tante. Tante kenal?”
“Kenal!” jawab Mama Andhita antusias.
“Kenal? Kok Andhita nggak pernah cerita Tan?” Tanya Tasha. Kalau tidak salah kan yang kenal duluan dengan Rendy itu dia, karena mereka sekelas.
”Lho! Andhita nggak pernah cerita ya? Kalian kan teman dekatnya, masa Andhita nggak pernah cerita kalau dia sudah dijodohkan?” tanya mama Andhita.
”Kalau itu sih cerita Tante, tapi...” Keyra membelalakkan matanya, ”Apa cowok yang dijodohkan dengan Andhita itu...Rendy??!!”
Mama Andhita langsung menyadari kesalahannya. Ternyata teman-teman Andhita nggak tahu, dan tanpa sengaja dia membongkar rahasia yang sudah Andhita simpan rapat-rapat.
”Ehm...Tante...eh..permisi dulu ya...mau nyuci piring dulu.” katanya sambil buru-buru berlalu.
Sepeninggal mama Andhita, mereka bertiga langsung heboh.
“Jadi, Rendy itu…cowok yang dijodohkan sama Andhita? Gue sama sekali nggak nyangka.” kata Keyra.
Putri masih sedikit kesal. ”Andhita keterlaluann! Dia masih nganggap kita temannya nggak sih? Kok soal penting kayak gini pake ditutup-tutupin segala!”
Tasha menyela, ”Ya...selama ini kita udah dibohongin mentah-mentah sama dia!”
Andhita keluar dari kamar mandi. Dia memandang ketiga temannya dan bingung melihat ekspresi mereka. “Ada apa sih? Kok kalian kayak abis ngeliat setan?”
Keyra berdiri dan berkacak pinggang. “Elo keterlaluan Dhit! Elo nganggap kita apa? Kambing conge? Atau kerbau dungu?”
“Ada apa sih?” Tanya Andhita bingung.
“Jangan pura-pura deh. Kita semua udah pada tau kalau elo tuh udah dijodohin sama Rendy!” seru Keyra.
Wajah Andhita memucat. ”Jadi kalian udah tau? Dari siapa?”
”Dari siapa nggak penting Dhit. Yang penting elo udah mengkhianati kita.” tegas Putri.
Andhita mendekati teman-temannya dan berusaha menenangkan.
”Tenang dulu. Gue bisa jelasin semuanya!”
”Elo udah bikin gue dan Putri ribut tanpa tau kalau Rendy itu calon tunangan lo.” kata Tasha.
Keyra menengahi, ”Udah, udah! Semua tenang dulu! Biar Andhita ngasih penjelasan.”
Putri melipat tangannya dengan sikap menunggu. ”Oke, gue menunggu penjelasan lo Dhit!”
Andhita mulai menjelaskan, ”Gini...semula gue juga nggak tau kalau cowok yang bakal dijodohkan sama gue itu Rendy. Suer! Gue juga baru tau pas pertama kali gue ke rumahnya. Jadi kita sepakat buat merahasiakan perjodohan ini di sekolah dan pura-pura akur di depan orangtua gue dan dia, soalnya...”
”Tapi kan lo masih bisa cerita sama kita Dhit! Kalau begini kan namanya lo udah ngebohong sama kita. Bahkan mungkin lo udah ngetawain tingkah laku gue dan Tasha sama Rendy.” sela Putri.
”Iah, itu sama aja lo mempermainkan kita!” lanjut Tasha. Dia dan Putri sama-sama emosi dan malu. Andhita menunduk dengan wajah bersalah.
”Put! Sha! Biar andhita ngejelasin dulu sampai selesai. Dia pasti punya alasan!” Keyra berusaha membela Andhita.
”Gue...bukannya berbohong...tapi gue cuma nggak bilang soal ini. Itu dua hal yang berbeda kan?” kata Andhita.
“Ya sama aja! Lo nggak jujur Dhit!” Sela Putri.
Wajah Andhita kebingungan. Saat itu juga Putri dan Tasha langsung keluar rumah Andhita.
”Putri! Tasha!” teriak Andhita memanggil mereka berdua. ”Gimana dong Key?” Tanya Andhita sambil mulai menangis.
“Gue nggak tau Dhit. Gue susul mereka dulu ya.” Jawab Keyra lalu keluar juga dari rumah Andhita.
Andhita terduduk lunglai di sofa dan menangis sejadinya. Dia sangat takut kehilangan ketiga sahabatnya. Apa gara-gara hal seperti ini mereka semua harus terpecah? Batinnya sedih.
Semua ini karena Rendy! Dan saat itu juga dia sadar, yang membuat masalahnya menjadi tambah kacau adalah karena dia jatuh hati pada Rendy. Itulah sebabnya mengapa dia nggak berani memberitahukan pada teman-temannya bahwa Rendy adalah cowok yang dijodohkan dengannya. Dia takut hal itu malah meruntuhkan persahabatannya. Dan Andhita nggak menyangka sekarang kalau masalah ini malah menjadi besar.
***
Kamis, 10 Juni 2010
Lovable (part 9)
Strategi Lembut
Setelah mendengar cerita tentang kedekatan Rendy dengan Putri dan Tasha, entah mengapa Andhita jadi antipati sama cowok ini. Walaupun Rendy nggak senang dijodohkan dengannya –sama dengan Andhita- bukan berarti cowok itu bisa mengincar cewek lain semasa masih berstatus calon tunangan Andhita.
Beberapa minggu terakhir ini harus memikirkan Rendy membuatnya sangat pusing. Untung hari ini diadakan rapat OSIS untuk membicarakan acara malam kesenian. Andhita ikut rapat sebagai wakil dari vocal groupnya. Putri nggak bisa karena katanya mau ngomongin tentang perubahan interlude lagu gitu deh sama Rendy. Sebodo amat deh, pikir Andhita. Dan hari ini dia akan bertemu dengan Adit. Setelah nonton balet itu dia belum bertemu dengan Adit lagi. Setidaknya dia bisa mengalihkan masalahnya sejenak.
Di malam kesenian, bakalan banyak banget yang akan ditampilkan. Ada drama musikal, tarian daerah, modern dance, pantomim, ansambel dan masih banyak lagi.
“Hai Dhit. Elo nih yang ikut rapat? Nggak jadi Putri?” tanya Adit sambil melontarkan senyum manisnya.
”Iya Kak. Putri lagi ada urusan.” jawab Andhita tersenyum semanis-manisnya. ”Yang lain belum pada datang Kak?”
”Biasa, ngaret.”
Andhita duduk di samping Adit yang sedang menekuni catatan yang dibuatnya. Asyik! Gue bisa berduaan. Pikir Andhita.
”Hai! Gue ganggu nggak?” tiba-tiba terdengar suara.
Suara di belakangannya membuat Andhita kaget dan sudah bisa menebak siapa yang datang. Kapan dia bisa bebas dari cowok nyebelin satu ini? Gerutu Andhita dalam hati.
Rendy duduk di samping Andhita. “Asik ya yang lagi berduaan.” sindirnya berbisik.
“Ngapain lo di sini?” tanyanya ketus.
”Gue kan penanggung jawab asambel. Jadi gue yang ngewakilin untuk ikut rapat.” jawabnya santai.
Andhita langsung diam. Dan tak lama wakil-wakil yang lain datang, dan mereka pun mulai rapat. Selama rapat pun Andhita diam seribu bahasa kecuali kalau ditanya.
”Dhit, pulang naik apa?” tanya Rendy ketika rapat sudah bubar.
”Jalan kaki!” jawabnya ketus.
”Gue anterin ya, mau nggak? Gue bawa mobil.”
“Nggak usah! Gue lagi nggak mau diturunin di jalan. Lagian rumah gue kan deket.”
“Lo kok masih nyinggung itu sih? Kan gue udah minta maaf.”
“Nggak. Makasih.”
“Nggak nyesel?” tanyanya lagi.
“Nggak!” tegas Andhita.
“Yaudah kalau nggak mau, gue pulang duluan ya, daaaggh.” Katanya sambil mengelus rambutnya Andhita dan berlalu.
Sedetik Andhita terpaku di tempat. Apa yang barusan terjadi, membuatnya deg-degan sesaat. Andhita senyum-senyum sendiri sambil berjalan ke depan sekolah. Kenapa dia senang ya saat Rendy memegang kepalanya? Dia merasa aneh sendiri.
***
Rendy sedang bengong di kamarnya. Akhir-akhir ini dia jadi suka bengong, entah kenapa. Bebby masuk ke kamarnya dan tersenyum melihat Rendy sedang melongo sendirian. Dia mencabut sehelai bulu ayam dari kemoceng dan berjalan mengendap-endap, lalu mengeluskannya perlahan ke telinga belakang kakaknya. Rendy bergidik sekali, tapi nggak sadar kalau dia sedang diganggu adiknya. Bebby semakin berani, dia mengeluskan bulu ayam itu ke tengkuk Rendy. Rendy menepiskan tengkuknya dengan tangan, lalu menoleh dan melihat adiknya sedang cekikikan.
“Ngapain sih lo? Ganggu orang aja!” seru Rendy marah.
“Lagian Kakak bengong. Lagi mikirin Andhita ya?” Bebby mengambil tempat duduk di hadapan kakaknya lalu bertopang dagu.
”Mikirin Andhita? Ngapain gue mikirin dia? Selama ini cewek mana sih yang perlu gue pikirin?”
”Emang, semua cewek nggak perlu dipikirin. Kecuali Andhita, soalnya dia nggak gampang ditaklukin kan?”
Rendy melotot. ”Tahu dari mana lo?”
Bebby mengangkat bahu. ”Ada aja! Cowok kan GR-an. Kalau cewek ngejar-ngejar terus, mereka bakalan malas. Tapi kalau ceweknya cuek aja, mereka malah penasaran. Iya kan?”
Rendy mengambil koran dan menepuk lembut kepala adiknya. ”Sok tau lo!”
Bebby tertawa. ”Tapi benar kan? Benar kan Kak Rendy ada hati sama Kak Andhita?”
Rendy berdiri. ”Dia naksir cowok lain.”
“Oh, cowok yang diceritain sama Rachel itu?”
Rendy kaget. “Ngapain Rachel cerita-cerita ke elo? Dasar tuh cewek! Ember bocor!”
“Nggak, aku kok yang nanya. Kok tumben Kak Rendy mau pergi nonton pertunjukkan balet, terus Rachel cerita semuanya.”
”Dasar cewek-cewek tukang gosip!” gerutu Rendy.
“Aku sih cuma mau usul Kak.”
”Usul apa?”
”Jangan cepat menyerah. Kadang para siswi mengidolakan ketua OSIS dan mengira ketua OSIS itu naksir, padahal nggak. Ketua OSIS kan menarik karena mereka tampak sulit dijangkau. Aku rasa Andhita juga begitu terhadap Adit. Lebih baik Kakak pakai strategi lembut aja.”
”Strategi lembut?”
”Iya. Kalau Kakak nggak pengen Andhita terlepas dari genggaman, Kakak nggak boleh gampang marah. Kakak harus lebih lembut, perhatian. Tunjukkin kalau Kakak bisa ngertiin perasaan dia.”
”Sok tau banget sih lo!”
Tapi dalam hati Rendy mengakui perkataan Bebby ada benarnya juga. Dia harus menyusun rencana untuk bisa naklukin Andhita, supaya nggak penasaran lagi.
***
”Andhita, tadi Mama ketemu sama Tante Astrid. Dia ngajak kamu pergi ke Dufan besok. Pergi berempat bareng sama Rendy dan Bebby. Terus, mama bilang kamu pasti bisa. Daripada kamu malas-malasan di rumah hari Sabtu, mending kamu ikut kan?”
”Uhuk! Uhuk!” Andhita yang lagi makan langsung tersedak, lalu buru-buru minum air di depannya.
”Duh, kamu makannya pelan-pelan dong Dhit.”
”Abisnya Mama seenaknya aja bikin janji sama Tante Astrid. Kan rencana Andhita buat nonton DVD seharian jadi batal. Kenapa Mama nggak ngomong dulu sih sama Andhita?”
”Kamu kok gitu sih Dhit? Tante Astrid kan ngajak kamu ada niat baiknya juga. Biar kamu bisa lebih akrab sama keluarganya Rendy. Termasuk sama Rendynya juga.”
”Duh, Mama kok maksa Andhita gini sih? Andhita kan malas Ma...batalin aja ya?”
”Nggak bisa Dhit. Pokoknya besok dia datang ke sini pagi-pagi jemput kamu. Kalau kamu mau ngebatalin, kamu bilang sendiri aja sama Tante Astrid.” ujar Mama tersenyum menang.
Bruk! Andhita masuk ke kamarnya dan membanting pintunya. Dasar Mama, tukang maksa!
***
Keesokan harinya, Andhita bangun kesiangan. Dia nggak sempat sarapan dulu sebelum berangkat. Perasaannya sangat kesal waktu melihat mobil Tante Astrid datang, di dalamnya hanya ada Rendy. Sendirian! Tapi Andhita tetap saja nggak bisa menolak, karena Mamanya mendorong Andhita masuk ke mobil.
”Nyokab gue nggak jadi ikut Dhit. Katanya sakit perut. Bebby ada janji sama temannya. Jadi yang pergi cuma kita berdua. Kalau lo nggak mau, ya nggak apa-apa. Kita pulang lagi.” kata Rendy sambil menyetir.
Andhita membuang napas berat. “Percuma, nyokab gue malah lebih senang kita jalan berdua. Kalau sampai pulang lagi, nanti dia malah nyuruh kita pergi ke tempat lain.”
“Ternyata nyokab lo juga gencar banget ya ngedeketin lo sama gue?” ujar Rendy santai. Andhita diam.
“Kok lo diam? Masih kesal dan merasa terpaksa? Udah deh, hari ini kita baikan dulu ya. Lagian nggak ada salahnya kan kita jalan-jalan. Jadi nikmati aja.”
Andhita berpikir sebentar. ”Oke.”
“Kalau gitu senyum dong.” Kata Rendy sambil mengacak rambut Andhita.
“Jangan pegang-pegang gue!” bentaknya.
Rendy malah tertawa, “Oke..oke.. lo santai aja. Katanya udah baikan. Eh, tapi beberapa hari yang lalu, gue liat lo dirangkul Adit nggak sewot gini.”
Andhita kaget. ”Maksud lo?”
”Beberapa hari yang lalu kan gue pergi sama sepupu gue, Rachel, nonton pertunjukkan balet di TIM. Eh, gue nggak sengaja ngeliat lo jalan sama Adit. Cuma gue nggak nyapa aja, soalnya lo berdua duduknya jauh sih.” ujar Rendy santai.
”Sep..pupu?” tanya Andhita.
”Iya, sepupu gue. Elo liat kita juga ya?”
”Ng..nggak.” jawab Andhita tergagap. Jadi cewek cantik yang pergi sama Rendy itu sepupunya. Jadi… gue udah salah sangka dong? Pikir Andhita.
“Kenapa lo nggak konfirmasi dulu ke gue kalau lo bakalan jalan sama Adit? Kan kita udah bikin kesepakatan, nggak ada pihak ketiga, sebelum masalah ini selesai.”
”Sori, abisnya gue udah terlanjur janjian sama Adit. Kan nggak mungkin gue batalin hari itu juga.” Andhita sebenarnya malu juga. Rasanya kayak ketahuan selingkuh.
”Oke, gue maafin. Kalau begitu, jangan ada marah-marah lagi ya? Hari ini kita have fun aja. Setuju?”
”Setuju.” kata Andhita sambil mengangguk. Kayaknya ada yang beda sama Rendy hari ini. Dia lebih... baik. Setidaknya itu yang dirasakannya dari tadi. Rendy tidak menyebalkan seperti biasanya.
Dufan hari Sabtu ini untungnya nggak terlalu ramai, mungkin kebetulan saja. Padahal biasanya Ancol kan nggak pernah sepi pengunjung saat akhir pekan.
”Lo mau naik apa dulu?” tanya Rendy ketika mereka sudah elewati pos stempel punggung tangan, tanda mereka bisa menaiki wahana apa saja.
Andhita tertawa dan berseru, ”Halilintar, Kora-Kora, Niagara-Gara, Arung Jeram, Tornado, Kicir-Kicir, Ontang-Anting, pokoknya semuanya!”
”Lo ternyata lucu juga ya?” Rendy berkata sambil menggandeng tangan Andhita menuju wahana Kora-Kora. Andhita juga nggak menolak tangannya digandeng.
Sebenarnya acara hari ini akan sangat menyenangkan kalau kondisi Andhita dalam keadaan prima. Tapi sayangnya nggak. Kepalanya sudah mulai pusing sejak pagi tadi. Jadi tambah nyut-nyutan saat perutnya merasa mual. Mungkin gara-gara dia nggak sarapan tadi pagi, jadi masuk angin. Dadanya juga sedikit terasa sesak. Dia takut-takut asmanya yang udah lama nggak kambuh, malah datang di saat yang nggak tepat ini. Terlebih setelah turun dari Kora-Kora, Andhita langsung mengeluarkan isi perutnya.
”Keluarin deh semuanya, biar lo nggak mual lagi!” kata Rendy sambil memijat-mijat tengkuk Andhita. Ternyata cowok ini cukup pengertian juga. Tadinya Andhita pikir Rendy bakalan marah-marah kalau sampai dia ngerusak acara hari ini.
Rendy membelikannya air minum supaya tenggorokan Andhita nggak perih. “Elo mau pulang aja? Muka lo tuh pucat.”
Andhita menggeleng. “Nggak usah. Gue udah baikan kok. Yuk naik yang lain lagi!” Andhita menarik tangan Rendy.
”Lo yakin?” Rendy agak sangsi.
”Suer!” jawab Andhita.
Dasar cewek keras kepala! Pikir Rendy.
Dan benar saja, begitu turun dari Halilintar, Andhita muntah lagi untuk kedua kalinya. Karena tadi isi perutnya sudah terkuras, jadi yang keluar kini nggak banyak. Tapi kemudian perutnya terasa sakit dan lemah. Dia sedikit sulit bernapas. Tapi dia nggak bilang sama Rendy. Kemudian Rendy membelikannya Antimo.
”Kok lo beliin gue Antimo?” Andhita bingung.
“Ya iyalah… anggap aja lo mabok kendaraan. Udah deh, minum aja! Dan abis ini, kita pulang. Nggak ada main-main lagi.” Kata Rendy prihatin.
Kali ini Andhita menurut. Dia mengangguk. Mereka keluar dan menuju mobil. Rendy menuju pantai untuk mencari pintu keluar.
”Elo baik-baik aja kan? Apa perlu gue anterin ke dokter sekarang?”
”Nggak. Gue cuma masuk angin. Mungkin gara-gara gue nggak sarapan tadi pagi.”
“Jadi tadi pagi lo nggak sarapan? Kenapa lo nggak bilang? Tau gitu kan kita bisa nyari makanan dulu tadi.” ujar Rendy.
”Yaudah lah. Gue udah baikan juga. Eh Ren, stop dulu dong sebentar. Gue mau liat laut dulu.”
Rendy menurut, dan menghentikan mobilnya di pinggir pantai. Sayangnya tepi lautnya udah dibeton dan diberi pagar batu pengaman untuk mencegah erosi pantai.
“Bagus ya? Gue udah lama nggak liat laut.” Andhita membuka kaca mobil. Menghirup udara segar. Hampir saja asmanya kambuh tadi. Dia nggak mau merepotkan Rendy, makanya dia nggak bilang. Rendy menyalakan radio yang kebetulan memutar lagu slow yang lembut.
Tak lama kemudian, mungkin karena pengaruh Antimo dan hembusan sepoi-sepoi angin laut, Andhita terkantuk-kantuk dan tertidur pulas di bangku.
Rendy memandang wajah Andhita yang terlihat manis dan polos. Andhita, gue pikir lo cukup keras hati dan kuat melakukan apa aja. Ternyata elo juga cewek biasa yang bisa sakit juga. Tapi sayang, benar-benar susah buat naklukin lo, kata Rendy dalam hati.
Rendy tak tahan untuk tidak menyentuh Andhita. Perlahan jemarinya terangkat dan menyusuri pipi gadis itu. ”Dhit, jangan sakit. Cepat sembuh ya...” kata Rendy tulus. Kemudian dia menjalankan mobilnya pulang ke rumah Andhita.
***
Andhita terbangun di tempat tidurnya. Perasaan dia tadi lagi melihat laut, kok sekarang udah ada di rumah? Dia bertanya-tanya dalam hati. Mamanya memasuki kamarnya.
”Udah bangun Dhit? Tidurnya lama juga ya!”
”Sekarang jam berapa Ma?” tanya Andhita.
”Hampir jam lima sore. Tadi pas pulang, Rendy yang menggendong kamu masuk, dan kamu sama sekali nggak bangun. Dia bilang katanya kamu masuk angin gara-gara tadi pagi nggak sarapan. Kamu masih nggak enak badan? Kita ke dokter aja ya? Mama tuh tadi takut asma kamu kambuh lagi.” kata Mama.
Andhita menggeleng. ”Nggak usah Ma. Aku udah nggak apa-apa kok. Tapi Ma... tadi kata Mama... aku digendong Rendy?”
”Iah. Dia tuh baik banget ya? Perhatian banget sama kamu, juga…”
Andhita nggak mendengar kata-kata Mama selanjutnya karena dia sudah memegang pipinya yang terasa panas.
“Andhita, kamu dengerin kata-kata Mama nggak sih?”
Andhita menoleh kaget. ”Apa Ma?”
”Kalau menurut Mama, Rendy itu pasti suka sama kamu.”
Andhita membaringkan tubuhnya lagi dan menarik selimut hingga menutupi wajahnya. ”Aku nggak mau dengar Ma, aku mau istirahat lagi.”
”Apa? Tidur lagi? Kamu tuh udah hampir tidur empat jam lebih!”
Di bawah selimut, Andhita merasa jantungnya berdebar cepat. Kenapa? Kenapa Rendy baik padanya? Kalau saja cowok itu bisa lebih cuek dan menyebalkan seperti biasa, tentunya Andhita nggak akan sulit untuk tetap bertahan pada sikapnya semula, yaitu membenci Rendy.
***
Waktu berlalu cepat, tanpa terasa malam kesenian tinggal seminggu lagi. Putri memutuskan untuk mengadakan latihan intensif setiap hari dan waktu latihan diperpanjang. Karena di malam kesenian nanti mereka masing-masing akan memegang mikrofon, dan setiap kesalahan akan terdengar jelas. Maka semua setuju latihan tiap Selasa dan Kamis di aula, sisanya di rumah Putri karena di hari lain aula dipakai pendukung acara lain. Tapi sayangnya, mendadak rumah Putri harus direnovasi. Jadi mereka nggak bisa latihan di sana. Saat ini mereka baru selesai latihan di aula.
”Gimana dong? Benar-benar nggak bisa dipakai Put?” Tanya Keyra.
Tasha diam saja. Dia sudah ikut latihan lagi, tapi sekarang jadi lebih pendiam dan tidak pernah bicara lagi sama Putri. Dan kalau ingin bicara, dia pasti pakai perantara siapa saja. Misalnya waktu itu Tasha bertanya, ”Hei, kenapa kita nggak latihan tiap hari aja?” lalu Putri menjawab, tapi matanya tertuju pada Keyra, ”Boleh juga latihan tiap hari ya Key?” ya, begitulah.
”Ya, benar-benar nggak bisa. Soalnya emang ruangan latihan yang lagi direnovasi. Kalau dipaksain, nanti malah latihan kita keganggu, soalnya bakalan berisik pasti. Lagian bakalan banyak banget debunya. Inget, Andhita kan ada asma, dia udah lama nggak kambuh, jangan sampai kambuh lagi.” ujar Putri.
”Gue aja lupa kalau gue punya asma. Hehehe...” Andhita hanya nyengir. Dia juga baru ingat lagi kalau dia punya asma. Sejak lulus SMP, penyakit asmanya udah jarang banget kambuh. Waktu dia pergi ke Dufan bareng Rendy, dia takut akan kambuh, untungnya nggak. Soalnya, kalau asmanya kambuh, bukan ventolin lagi yang dia butuhin, tapi tabung oksigen. Soalnya dulu asmanya parah banget. Tapi berkat terapi yang dilakukannya, dia hampir nggak pernah ngerasa sesak lagi.
”Kalau begitu latihan di rumah gue aja.” kata Rendy.
”Hah? Nggak salah? Ke Sunter?” Tanya Andhita.
“Rumah Rendy di Sunter? Kok lo bisa tau Dhit?” Tanya Keyra.
“Ehmm…. Ya tau aja. Gue pernah nanya.” jawab Andhita gelagapan.
“Di sana ada piano?” Tanya Tasha penuh harap.
”Gue punya studio sendiri. Drum, gitar, sound system,mikrofon juga ada. Jadi kita bisa latihan pakai mic.” Kata Rendy.
“Yaudah, kalau begitu kita ke sana aja deh.” kata Putri.
Semuanya setuju. Apalagi Rendy janji, setelah selesai latihan mereka bakalan diantar pulang ke rumah masing-masing.
***
Kini, saat Andhita menjejakkan kakinya di rumah Rendy, terasa agak berbeda. Rumah itu terlhat lebih mewah dari kedatangannya yang pertama. Mungkin karena waktu pertama kali ke sana dia lebih menguatirkan pertemuannya dengan cowok yang akan dijodohkan dengannya ketimbang memerhatikan rumah. Pertemuan kedua, tidak terlalu ada kesan mendalam karena Rendy telahmenyita seluruh perhatian Andhita dengan sikap nyolotnya. Tapi ketika mobil Rendy berhenti di depan rumah, Andhita merasa kuatir. Gimana kalau keluarganya Rendy membocorkan bahwa Andhita sudah dijodohkan dengan cowok itu? Ngeri sekali Andhita membayangkan ketiga temannya akan sangat marah padanya. Padahal ini bukan salahnya. Toh ide tentang perjodohan ini bukan berasal darinya, melainkan dari kedua orang tua mereka, yang masih aja memikirkan perjodohan di zaman modern ini.
”Ren, gimana kalau nyokab lo ngebocorin kalau gue...” bisik Andhita ketika dia mendapat kesempatan berjalan di samping Rendy sementara yang lain sibuk mengagumi rumah Rendy yang megah dari luar pagar.
”Tenang aja. Rumah gue lagi nggak ada orang. Bebby lagi les, bonyok gue lagi di kantor.” Balas Rendy berbisik.
“Terus besok-besok gimana?”
“Gue bakalan konfirmasi dulu ke orang rumah gue supaya mereka nggak bakalan bilang apa-apa. Ntar malam gue bakalan cerita ke mereka.”
“Bagus deh.” Bisik Andhita lega. Setidaknya dia nggak bakalan dijutekin Putrid an Tasha untuk sementara waktu. Dan kalau bisa sampai kapan pun dia nggak akan bilang Rendy adalah cowok yang dijodohkan dengannya. Toh perjodohan mereka juga belum tentu berlanjut.
“Teman-teman, yuk masuk! Jangan malu-malu. Kita langsung ke lantai dua. Di sana ada studio pribadi gue.” seru Rendy pada semuanya.
Mulai lagi deh nyombongnya, pikir Andhita. Tapi lama-lama dia jadi biasa. Lagi pula kayaknya cuma gue yang mikir Rendy itu sombong. Yang lainnya kayaknya biasa aja tuh.
Mereka menuju lantai atas dan terkagum-kagum melihat tangganya saja dilapisi karpet merah seperti layaknya hotel berbintang. Dan seperti yang Rendy bilang, dia memang punya studio pribadi yang lengkap. Jadi dia memang bukan tukang ngecap.
“Ren, orangtua lo lagi nggak ada di rumah?” Tanya Putri sambil celingak celinguk.
“Nggak. Mereka lagi di kantor.” kata Rendy sambil memasang kabel mikrofon ke sound system.
”Yah, sayang ya...padahal gue mau kenalan sama mereka.” cetus Putri.
”Wah, hebat!” seruan kekaguman Tasha menyela ucapan Putri. ”Kita benar-benar latihan pakai mikrofon nih?”
Andhita melirik Rendy yang tersenyum bangga.
“Ya iyalah. Kalian kan belum coba nyanyi pakai mikrofon. Suara kalian bisa lebih ketauan kalau salah.” goda cowok itu.
”Wah, jangan begitu dong.” sela Keyra.
“Maksud gue, karena itu kita mesti latihan yang tekun, jangan sampai fals. Malu tau!” kata cowok itu.
Andhita memandang dinding studio yang penuh dengan foto Polaroid. Semuanya foto Rendy, baik sendiri atau bersama dengan teman-teman dan keluarganya. Andhita melihat foto Rendy bersama seorang cewek. Agak banyak sehingga Anhdita jadi curiga cewek itu punya hubungan istimewa dengan Rendy. Lagi pula kalau dilihat, pose mereka mesra juga.
“Ini siapa?” tanya Andhita penasaran. Rendy mengangkat wajahnya dan memandang arah yang ditunjukkan Andhita. Tiba-tiba wajahnya berubah dingin.
“Teman.”
Keyra ikut melihat foto itu. “Mesra banget. Pacar lo ya Ren? Apa karena rambutnya panjang ya, kok mukanya mirip Andhita?”
Tiba-tiba Rendy menghampiri dinding dan menurunkan semua foto polaroid yang ada di situ.
”Sebenarnya udah lama gue pengen ganti dekorasi. Tapi gue pasti selalu lupa. Mumpung lagi ingat, gue copot dulu aja deh.”
Andhita merasakan perasaan aneh yang timbul di hatinya. Sama seperti malam di mana saat dia diturunkan di jalan gara-gara Andhita bertanya soal Claire. Kalau cewek itu cuma teman, kenapa seemosional itu Rendy menanggapnya?
”Kayaknya bekas pacar.” bisik Putri pada Andhita yang ada di sampingnya. Andhita diam saja.
”Yuk, kita mulai latihan.” kata Rendy kembali ceria, seolah-ola tidak ada yang terjadi. ”Gue harap kalian suka pizza soalnya gue tadi udah nyuruh sopir gue buat beli pizza buat kita.”
”Asyik!!” teriak semuanya.
Mereka latihan lama juga, tanpa terasa satu jam sudah berlalu. Pizza sudah datang dan mereka menikmatinya bersama-sama.
”Lebih enak latihan di rumah Rendy ya? Bisa ditraktir pizza. Besok apa lagi nih Ren?” kata Keyra. ”Daripada di rumah Putri, ngambil minum aja mesti sendiri.”
”Oh, gitu ya?” ujar Putri pura-pura marah.
”Tapi menurut gue, lagi kita ini masih kurang bagus. Tapi apanya ya?” sela Andhita.
Tasha yang pendiam langsung menyela, ”Gue rasa kita kurang pengahayatan. Menyanyi tanpa menghayati lagu kan sama aja kayak robot.”
”Benar!” tukas Rendy. ”Kalian harus bisa lebih mengahayati lagu ini. Percuma aja nyanyi lagu bagus tapi kalian asal nyanyinya.”
”Abis mau gimana lagi? Bukannya kita udah cukup bagus? Nggak fals? Gimana kita bisa ngebedain yang pakai pengahayatan dengan yang nggak?” tanya Keyra.
Rendy berkata serius. ”Pernah seseorang berkata sama gue kalau dia selalu menyanyi dengan hati. Itu sebabnya kalau dia nyanyi lagu sedih, dia bisa menangis. Kalau dia menyanyi lagu gembira, semangatnya bisa bangkit. Dia...” tiba-tiba wajah Rendy berubah dingin kembali.
”Apa...elo sedang ngomongin cewek yang di foto tadi?” Tanya Keyra terus terang. Putri langsung menyikut Keyra. Keyra meringis kesakitan.
”Ehm...gue nggak mau membicarakannya.” kata Rendy bangkit berdiri lalu pura-pura membersihkan kardus pizza yang berserakan.
Andhita juga jadi penasaran, kenapa sikap Rendy jadi begitu. Dia lalu berusaha mencairkan suasana yang beku karena sikap rendy barusan. ”Begini aja. Kita nyoba di rumah masing-masing nyanyiin lagu A Whole New World. Di kamar tidur kek, di kamar mandi kek. Pokoknya itu jadi PR buat kita, gimana caranya supaya kita bisa menghayati lagu itu. Latihan besok kita evaluasi lagi.”
“Bagus, gue setuju. Selama kita bisa memperbaiki kualitas nyanyian kita, gue setuju kita mengadakan obervasi semacam itu.” Kata Putri.
Rendy tersenyum. “Gue senang kalian menaruh minat yang cukup besar terhadap musik. Di dunia ini, selain musik dan olahraga, nggak ada hal lain yang benar-benar gue sukai.”
“Termasuk cewek?” pancing Keyra.
“Yup!” sahut Rendy yakin.
Andhita mencibir tak percaya.
***
Setelah mendengar cerita tentang kedekatan Rendy dengan Putri dan Tasha, entah mengapa Andhita jadi antipati sama cowok ini. Walaupun Rendy nggak senang dijodohkan dengannya –sama dengan Andhita- bukan berarti cowok itu bisa mengincar cewek lain semasa masih berstatus calon tunangan Andhita.
Beberapa minggu terakhir ini harus memikirkan Rendy membuatnya sangat pusing. Untung hari ini diadakan rapat OSIS untuk membicarakan acara malam kesenian. Andhita ikut rapat sebagai wakil dari vocal groupnya. Putri nggak bisa karena katanya mau ngomongin tentang perubahan interlude lagu gitu deh sama Rendy. Sebodo amat deh, pikir Andhita. Dan hari ini dia akan bertemu dengan Adit. Setelah nonton balet itu dia belum bertemu dengan Adit lagi. Setidaknya dia bisa mengalihkan masalahnya sejenak.
Di malam kesenian, bakalan banyak banget yang akan ditampilkan. Ada drama musikal, tarian daerah, modern dance, pantomim, ansambel dan masih banyak lagi.
“Hai Dhit. Elo nih yang ikut rapat? Nggak jadi Putri?” tanya Adit sambil melontarkan senyum manisnya.
”Iya Kak. Putri lagi ada urusan.” jawab Andhita tersenyum semanis-manisnya. ”Yang lain belum pada datang Kak?”
”Biasa, ngaret.”
Andhita duduk di samping Adit yang sedang menekuni catatan yang dibuatnya. Asyik! Gue bisa berduaan. Pikir Andhita.
”Hai! Gue ganggu nggak?” tiba-tiba terdengar suara.
Suara di belakangannya membuat Andhita kaget dan sudah bisa menebak siapa yang datang. Kapan dia bisa bebas dari cowok nyebelin satu ini? Gerutu Andhita dalam hati.
Rendy duduk di samping Andhita. “Asik ya yang lagi berduaan.” sindirnya berbisik.
“Ngapain lo di sini?” tanyanya ketus.
”Gue kan penanggung jawab asambel. Jadi gue yang ngewakilin untuk ikut rapat.” jawabnya santai.
Andhita langsung diam. Dan tak lama wakil-wakil yang lain datang, dan mereka pun mulai rapat. Selama rapat pun Andhita diam seribu bahasa kecuali kalau ditanya.
”Dhit, pulang naik apa?” tanya Rendy ketika rapat sudah bubar.
”Jalan kaki!” jawabnya ketus.
”Gue anterin ya, mau nggak? Gue bawa mobil.”
“Nggak usah! Gue lagi nggak mau diturunin di jalan. Lagian rumah gue kan deket.”
“Lo kok masih nyinggung itu sih? Kan gue udah minta maaf.”
“Nggak. Makasih.”
“Nggak nyesel?” tanyanya lagi.
“Nggak!” tegas Andhita.
“Yaudah kalau nggak mau, gue pulang duluan ya, daaaggh.” Katanya sambil mengelus rambutnya Andhita dan berlalu.
Sedetik Andhita terpaku di tempat. Apa yang barusan terjadi, membuatnya deg-degan sesaat. Andhita senyum-senyum sendiri sambil berjalan ke depan sekolah. Kenapa dia senang ya saat Rendy memegang kepalanya? Dia merasa aneh sendiri.
***
Rendy sedang bengong di kamarnya. Akhir-akhir ini dia jadi suka bengong, entah kenapa. Bebby masuk ke kamarnya dan tersenyum melihat Rendy sedang melongo sendirian. Dia mencabut sehelai bulu ayam dari kemoceng dan berjalan mengendap-endap, lalu mengeluskannya perlahan ke telinga belakang kakaknya. Rendy bergidik sekali, tapi nggak sadar kalau dia sedang diganggu adiknya. Bebby semakin berani, dia mengeluskan bulu ayam itu ke tengkuk Rendy. Rendy menepiskan tengkuknya dengan tangan, lalu menoleh dan melihat adiknya sedang cekikikan.
“Ngapain sih lo? Ganggu orang aja!” seru Rendy marah.
“Lagian Kakak bengong. Lagi mikirin Andhita ya?” Bebby mengambil tempat duduk di hadapan kakaknya lalu bertopang dagu.
”Mikirin Andhita? Ngapain gue mikirin dia? Selama ini cewek mana sih yang perlu gue pikirin?”
”Emang, semua cewek nggak perlu dipikirin. Kecuali Andhita, soalnya dia nggak gampang ditaklukin kan?”
Rendy melotot. ”Tahu dari mana lo?”
Bebby mengangkat bahu. ”Ada aja! Cowok kan GR-an. Kalau cewek ngejar-ngejar terus, mereka bakalan malas. Tapi kalau ceweknya cuek aja, mereka malah penasaran. Iya kan?”
Rendy mengambil koran dan menepuk lembut kepala adiknya. ”Sok tau lo!”
Bebby tertawa. ”Tapi benar kan? Benar kan Kak Rendy ada hati sama Kak Andhita?”
Rendy berdiri. ”Dia naksir cowok lain.”
“Oh, cowok yang diceritain sama Rachel itu?”
Rendy kaget. “Ngapain Rachel cerita-cerita ke elo? Dasar tuh cewek! Ember bocor!”
“Nggak, aku kok yang nanya. Kok tumben Kak Rendy mau pergi nonton pertunjukkan balet, terus Rachel cerita semuanya.”
”Dasar cewek-cewek tukang gosip!” gerutu Rendy.
“Aku sih cuma mau usul Kak.”
”Usul apa?”
”Jangan cepat menyerah. Kadang para siswi mengidolakan ketua OSIS dan mengira ketua OSIS itu naksir, padahal nggak. Ketua OSIS kan menarik karena mereka tampak sulit dijangkau. Aku rasa Andhita juga begitu terhadap Adit. Lebih baik Kakak pakai strategi lembut aja.”
”Strategi lembut?”
”Iya. Kalau Kakak nggak pengen Andhita terlepas dari genggaman, Kakak nggak boleh gampang marah. Kakak harus lebih lembut, perhatian. Tunjukkin kalau Kakak bisa ngertiin perasaan dia.”
”Sok tau banget sih lo!”
Tapi dalam hati Rendy mengakui perkataan Bebby ada benarnya juga. Dia harus menyusun rencana untuk bisa naklukin Andhita, supaya nggak penasaran lagi.
***
”Andhita, tadi Mama ketemu sama Tante Astrid. Dia ngajak kamu pergi ke Dufan besok. Pergi berempat bareng sama Rendy dan Bebby. Terus, mama bilang kamu pasti bisa. Daripada kamu malas-malasan di rumah hari Sabtu, mending kamu ikut kan?”
”Uhuk! Uhuk!” Andhita yang lagi makan langsung tersedak, lalu buru-buru minum air di depannya.
”Duh, kamu makannya pelan-pelan dong Dhit.”
”Abisnya Mama seenaknya aja bikin janji sama Tante Astrid. Kan rencana Andhita buat nonton DVD seharian jadi batal. Kenapa Mama nggak ngomong dulu sih sama Andhita?”
”Kamu kok gitu sih Dhit? Tante Astrid kan ngajak kamu ada niat baiknya juga. Biar kamu bisa lebih akrab sama keluarganya Rendy. Termasuk sama Rendynya juga.”
”Duh, Mama kok maksa Andhita gini sih? Andhita kan malas Ma...batalin aja ya?”
”Nggak bisa Dhit. Pokoknya besok dia datang ke sini pagi-pagi jemput kamu. Kalau kamu mau ngebatalin, kamu bilang sendiri aja sama Tante Astrid.” ujar Mama tersenyum menang.
Bruk! Andhita masuk ke kamarnya dan membanting pintunya. Dasar Mama, tukang maksa!
***
Keesokan harinya, Andhita bangun kesiangan. Dia nggak sempat sarapan dulu sebelum berangkat. Perasaannya sangat kesal waktu melihat mobil Tante Astrid datang, di dalamnya hanya ada Rendy. Sendirian! Tapi Andhita tetap saja nggak bisa menolak, karena Mamanya mendorong Andhita masuk ke mobil.
”Nyokab gue nggak jadi ikut Dhit. Katanya sakit perut. Bebby ada janji sama temannya. Jadi yang pergi cuma kita berdua. Kalau lo nggak mau, ya nggak apa-apa. Kita pulang lagi.” kata Rendy sambil menyetir.
Andhita membuang napas berat. “Percuma, nyokab gue malah lebih senang kita jalan berdua. Kalau sampai pulang lagi, nanti dia malah nyuruh kita pergi ke tempat lain.”
“Ternyata nyokab lo juga gencar banget ya ngedeketin lo sama gue?” ujar Rendy santai. Andhita diam.
“Kok lo diam? Masih kesal dan merasa terpaksa? Udah deh, hari ini kita baikan dulu ya. Lagian nggak ada salahnya kan kita jalan-jalan. Jadi nikmati aja.”
Andhita berpikir sebentar. ”Oke.”
“Kalau gitu senyum dong.” Kata Rendy sambil mengacak rambut Andhita.
“Jangan pegang-pegang gue!” bentaknya.
Rendy malah tertawa, “Oke..oke.. lo santai aja. Katanya udah baikan. Eh, tapi beberapa hari yang lalu, gue liat lo dirangkul Adit nggak sewot gini.”
Andhita kaget. ”Maksud lo?”
”Beberapa hari yang lalu kan gue pergi sama sepupu gue, Rachel, nonton pertunjukkan balet di TIM. Eh, gue nggak sengaja ngeliat lo jalan sama Adit. Cuma gue nggak nyapa aja, soalnya lo berdua duduknya jauh sih.” ujar Rendy santai.
”Sep..pupu?” tanya Andhita.
”Iya, sepupu gue. Elo liat kita juga ya?”
”Ng..nggak.” jawab Andhita tergagap. Jadi cewek cantik yang pergi sama Rendy itu sepupunya. Jadi… gue udah salah sangka dong? Pikir Andhita.
“Kenapa lo nggak konfirmasi dulu ke gue kalau lo bakalan jalan sama Adit? Kan kita udah bikin kesepakatan, nggak ada pihak ketiga, sebelum masalah ini selesai.”
”Sori, abisnya gue udah terlanjur janjian sama Adit. Kan nggak mungkin gue batalin hari itu juga.” Andhita sebenarnya malu juga. Rasanya kayak ketahuan selingkuh.
”Oke, gue maafin. Kalau begitu, jangan ada marah-marah lagi ya? Hari ini kita have fun aja. Setuju?”
”Setuju.” kata Andhita sambil mengangguk. Kayaknya ada yang beda sama Rendy hari ini. Dia lebih... baik. Setidaknya itu yang dirasakannya dari tadi. Rendy tidak menyebalkan seperti biasanya.
Dufan hari Sabtu ini untungnya nggak terlalu ramai, mungkin kebetulan saja. Padahal biasanya Ancol kan nggak pernah sepi pengunjung saat akhir pekan.
”Lo mau naik apa dulu?” tanya Rendy ketika mereka sudah elewati pos stempel punggung tangan, tanda mereka bisa menaiki wahana apa saja.
Andhita tertawa dan berseru, ”Halilintar, Kora-Kora, Niagara-Gara, Arung Jeram, Tornado, Kicir-Kicir, Ontang-Anting, pokoknya semuanya!”
”Lo ternyata lucu juga ya?” Rendy berkata sambil menggandeng tangan Andhita menuju wahana Kora-Kora. Andhita juga nggak menolak tangannya digandeng.
Sebenarnya acara hari ini akan sangat menyenangkan kalau kondisi Andhita dalam keadaan prima. Tapi sayangnya nggak. Kepalanya sudah mulai pusing sejak pagi tadi. Jadi tambah nyut-nyutan saat perutnya merasa mual. Mungkin gara-gara dia nggak sarapan tadi pagi, jadi masuk angin. Dadanya juga sedikit terasa sesak. Dia takut-takut asmanya yang udah lama nggak kambuh, malah datang di saat yang nggak tepat ini. Terlebih setelah turun dari Kora-Kora, Andhita langsung mengeluarkan isi perutnya.
”Keluarin deh semuanya, biar lo nggak mual lagi!” kata Rendy sambil memijat-mijat tengkuk Andhita. Ternyata cowok ini cukup pengertian juga. Tadinya Andhita pikir Rendy bakalan marah-marah kalau sampai dia ngerusak acara hari ini.
Rendy membelikannya air minum supaya tenggorokan Andhita nggak perih. “Elo mau pulang aja? Muka lo tuh pucat.”
Andhita menggeleng. “Nggak usah. Gue udah baikan kok. Yuk naik yang lain lagi!” Andhita menarik tangan Rendy.
”Lo yakin?” Rendy agak sangsi.
”Suer!” jawab Andhita.
Dasar cewek keras kepala! Pikir Rendy.
Dan benar saja, begitu turun dari Halilintar, Andhita muntah lagi untuk kedua kalinya. Karena tadi isi perutnya sudah terkuras, jadi yang keluar kini nggak banyak. Tapi kemudian perutnya terasa sakit dan lemah. Dia sedikit sulit bernapas. Tapi dia nggak bilang sama Rendy. Kemudian Rendy membelikannya Antimo.
”Kok lo beliin gue Antimo?” Andhita bingung.
“Ya iyalah… anggap aja lo mabok kendaraan. Udah deh, minum aja! Dan abis ini, kita pulang. Nggak ada main-main lagi.” Kata Rendy prihatin.
Kali ini Andhita menurut. Dia mengangguk. Mereka keluar dan menuju mobil. Rendy menuju pantai untuk mencari pintu keluar.
”Elo baik-baik aja kan? Apa perlu gue anterin ke dokter sekarang?”
”Nggak. Gue cuma masuk angin. Mungkin gara-gara gue nggak sarapan tadi pagi.”
“Jadi tadi pagi lo nggak sarapan? Kenapa lo nggak bilang? Tau gitu kan kita bisa nyari makanan dulu tadi.” ujar Rendy.
”Yaudah lah. Gue udah baikan juga. Eh Ren, stop dulu dong sebentar. Gue mau liat laut dulu.”
Rendy menurut, dan menghentikan mobilnya di pinggir pantai. Sayangnya tepi lautnya udah dibeton dan diberi pagar batu pengaman untuk mencegah erosi pantai.
“Bagus ya? Gue udah lama nggak liat laut.” Andhita membuka kaca mobil. Menghirup udara segar. Hampir saja asmanya kambuh tadi. Dia nggak mau merepotkan Rendy, makanya dia nggak bilang. Rendy menyalakan radio yang kebetulan memutar lagu slow yang lembut.
Tak lama kemudian, mungkin karena pengaruh Antimo dan hembusan sepoi-sepoi angin laut, Andhita terkantuk-kantuk dan tertidur pulas di bangku.
Rendy memandang wajah Andhita yang terlihat manis dan polos. Andhita, gue pikir lo cukup keras hati dan kuat melakukan apa aja. Ternyata elo juga cewek biasa yang bisa sakit juga. Tapi sayang, benar-benar susah buat naklukin lo, kata Rendy dalam hati.
Rendy tak tahan untuk tidak menyentuh Andhita. Perlahan jemarinya terangkat dan menyusuri pipi gadis itu. ”Dhit, jangan sakit. Cepat sembuh ya...” kata Rendy tulus. Kemudian dia menjalankan mobilnya pulang ke rumah Andhita.
***
Andhita terbangun di tempat tidurnya. Perasaan dia tadi lagi melihat laut, kok sekarang udah ada di rumah? Dia bertanya-tanya dalam hati. Mamanya memasuki kamarnya.
”Udah bangun Dhit? Tidurnya lama juga ya!”
”Sekarang jam berapa Ma?” tanya Andhita.
”Hampir jam lima sore. Tadi pas pulang, Rendy yang menggendong kamu masuk, dan kamu sama sekali nggak bangun. Dia bilang katanya kamu masuk angin gara-gara tadi pagi nggak sarapan. Kamu masih nggak enak badan? Kita ke dokter aja ya? Mama tuh tadi takut asma kamu kambuh lagi.” kata Mama.
Andhita menggeleng. ”Nggak usah Ma. Aku udah nggak apa-apa kok. Tapi Ma... tadi kata Mama... aku digendong Rendy?”
”Iah. Dia tuh baik banget ya? Perhatian banget sama kamu, juga…”
Andhita nggak mendengar kata-kata Mama selanjutnya karena dia sudah memegang pipinya yang terasa panas.
“Andhita, kamu dengerin kata-kata Mama nggak sih?”
Andhita menoleh kaget. ”Apa Ma?”
”Kalau menurut Mama, Rendy itu pasti suka sama kamu.”
Andhita membaringkan tubuhnya lagi dan menarik selimut hingga menutupi wajahnya. ”Aku nggak mau dengar Ma, aku mau istirahat lagi.”
”Apa? Tidur lagi? Kamu tuh udah hampir tidur empat jam lebih!”
Di bawah selimut, Andhita merasa jantungnya berdebar cepat. Kenapa? Kenapa Rendy baik padanya? Kalau saja cowok itu bisa lebih cuek dan menyebalkan seperti biasa, tentunya Andhita nggak akan sulit untuk tetap bertahan pada sikapnya semula, yaitu membenci Rendy.
***
Waktu berlalu cepat, tanpa terasa malam kesenian tinggal seminggu lagi. Putri memutuskan untuk mengadakan latihan intensif setiap hari dan waktu latihan diperpanjang. Karena di malam kesenian nanti mereka masing-masing akan memegang mikrofon, dan setiap kesalahan akan terdengar jelas. Maka semua setuju latihan tiap Selasa dan Kamis di aula, sisanya di rumah Putri karena di hari lain aula dipakai pendukung acara lain. Tapi sayangnya, mendadak rumah Putri harus direnovasi. Jadi mereka nggak bisa latihan di sana. Saat ini mereka baru selesai latihan di aula.
”Gimana dong? Benar-benar nggak bisa dipakai Put?” Tanya Keyra.
Tasha diam saja. Dia sudah ikut latihan lagi, tapi sekarang jadi lebih pendiam dan tidak pernah bicara lagi sama Putri. Dan kalau ingin bicara, dia pasti pakai perantara siapa saja. Misalnya waktu itu Tasha bertanya, ”Hei, kenapa kita nggak latihan tiap hari aja?” lalu Putri menjawab, tapi matanya tertuju pada Keyra, ”Boleh juga latihan tiap hari ya Key?” ya, begitulah.
”Ya, benar-benar nggak bisa. Soalnya emang ruangan latihan yang lagi direnovasi. Kalau dipaksain, nanti malah latihan kita keganggu, soalnya bakalan berisik pasti. Lagian bakalan banyak banget debunya. Inget, Andhita kan ada asma, dia udah lama nggak kambuh, jangan sampai kambuh lagi.” ujar Putri.
”Gue aja lupa kalau gue punya asma. Hehehe...” Andhita hanya nyengir. Dia juga baru ingat lagi kalau dia punya asma. Sejak lulus SMP, penyakit asmanya udah jarang banget kambuh. Waktu dia pergi ke Dufan bareng Rendy, dia takut akan kambuh, untungnya nggak. Soalnya, kalau asmanya kambuh, bukan ventolin lagi yang dia butuhin, tapi tabung oksigen. Soalnya dulu asmanya parah banget. Tapi berkat terapi yang dilakukannya, dia hampir nggak pernah ngerasa sesak lagi.
”Kalau begitu latihan di rumah gue aja.” kata Rendy.
”Hah? Nggak salah? Ke Sunter?” Tanya Andhita.
“Rumah Rendy di Sunter? Kok lo bisa tau Dhit?” Tanya Keyra.
“Ehmm…. Ya tau aja. Gue pernah nanya.” jawab Andhita gelagapan.
“Di sana ada piano?” Tanya Tasha penuh harap.
”Gue punya studio sendiri. Drum, gitar, sound system,mikrofon juga ada. Jadi kita bisa latihan pakai mic.” Kata Rendy.
“Yaudah, kalau begitu kita ke sana aja deh.” kata Putri.
Semuanya setuju. Apalagi Rendy janji, setelah selesai latihan mereka bakalan diantar pulang ke rumah masing-masing.
***
Kini, saat Andhita menjejakkan kakinya di rumah Rendy, terasa agak berbeda. Rumah itu terlhat lebih mewah dari kedatangannya yang pertama. Mungkin karena waktu pertama kali ke sana dia lebih menguatirkan pertemuannya dengan cowok yang akan dijodohkan dengannya ketimbang memerhatikan rumah. Pertemuan kedua, tidak terlalu ada kesan mendalam karena Rendy telahmenyita seluruh perhatian Andhita dengan sikap nyolotnya. Tapi ketika mobil Rendy berhenti di depan rumah, Andhita merasa kuatir. Gimana kalau keluarganya Rendy membocorkan bahwa Andhita sudah dijodohkan dengan cowok itu? Ngeri sekali Andhita membayangkan ketiga temannya akan sangat marah padanya. Padahal ini bukan salahnya. Toh ide tentang perjodohan ini bukan berasal darinya, melainkan dari kedua orang tua mereka, yang masih aja memikirkan perjodohan di zaman modern ini.
”Ren, gimana kalau nyokab lo ngebocorin kalau gue...” bisik Andhita ketika dia mendapat kesempatan berjalan di samping Rendy sementara yang lain sibuk mengagumi rumah Rendy yang megah dari luar pagar.
”Tenang aja. Rumah gue lagi nggak ada orang. Bebby lagi les, bonyok gue lagi di kantor.” Balas Rendy berbisik.
“Terus besok-besok gimana?”
“Gue bakalan konfirmasi dulu ke orang rumah gue supaya mereka nggak bakalan bilang apa-apa. Ntar malam gue bakalan cerita ke mereka.”
“Bagus deh.” Bisik Andhita lega. Setidaknya dia nggak bakalan dijutekin Putrid an Tasha untuk sementara waktu. Dan kalau bisa sampai kapan pun dia nggak akan bilang Rendy adalah cowok yang dijodohkan dengannya. Toh perjodohan mereka juga belum tentu berlanjut.
“Teman-teman, yuk masuk! Jangan malu-malu. Kita langsung ke lantai dua. Di sana ada studio pribadi gue.” seru Rendy pada semuanya.
Mulai lagi deh nyombongnya, pikir Andhita. Tapi lama-lama dia jadi biasa. Lagi pula kayaknya cuma gue yang mikir Rendy itu sombong. Yang lainnya kayaknya biasa aja tuh.
Mereka menuju lantai atas dan terkagum-kagum melihat tangganya saja dilapisi karpet merah seperti layaknya hotel berbintang. Dan seperti yang Rendy bilang, dia memang punya studio pribadi yang lengkap. Jadi dia memang bukan tukang ngecap.
“Ren, orangtua lo lagi nggak ada di rumah?” Tanya Putri sambil celingak celinguk.
“Nggak. Mereka lagi di kantor.” kata Rendy sambil memasang kabel mikrofon ke sound system.
”Yah, sayang ya...padahal gue mau kenalan sama mereka.” cetus Putri.
”Wah, hebat!” seruan kekaguman Tasha menyela ucapan Putri. ”Kita benar-benar latihan pakai mikrofon nih?”
Andhita melirik Rendy yang tersenyum bangga.
“Ya iyalah. Kalian kan belum coba nyanyi pakai mikrofon. Suara kalian bisa lebih ketauan kalau salah.” goda cowok itu.
”Wah, jangan begitu dong.” sela Keyra.
“Maksud gue, karena itu kita mesti latihan yang tekun, jangan sampai fals. Malu tau!” kata cowok itu.
Andhita memandang dinding studio yang penuh dengan foto Polaroid. Semuanya foto Rendy, baik sendiri atau bersama dengan teman-teman dan keluarganya. Andhita melihat foto Rendy bersama seorang cewek. Agak banyak sehingga Anhdita jadi curiga cewek itu punya hubungan istimewa dengan Rendy. Lagi pula kalau dilihat, pose mereka mesra juga.
“Ini siapa?” tanya Andhita penasaran. Rendy mengangkat wajahnya dan memandang arah yang ditunjukkan Andhita. Tiba-tiba wajahnya berubah dingin.
“Teman.”
Keyra ikut melihat foto itu. “Mesra banget. Pacar lo ya Ren? Apa karena rambutnya panjang ya, kok mukanya mirip Andhita?”
Tiba-tiba Rendy menghampiri dinding dan menurunkan semua foto polaroid yang ada di situ.
”Sebenarnya udah lama gue pengen ganti dekorasi. Tapi gue pasti selalu lupa. Mumpung lagi ingat, gue copot dulu aja deh.”
Andhita merasakan perasaan aneh yang timbul di hatinya. Sama seperti malam di mana saat dia diturunkan di jalan gara-gara Andhita bertanya soal Claire. Kalau cewek itu cuma teman, kenapa seemosional itu Rendy menanggapnya?
”Kayaknya bekas pacar.” bisik Putri pada Andhita yang ada di sampingnya. Andhita diam saja.
”Yuk, kita mulai latihan.” kata Rendy kembali ceria, seolah-ola tidak ada yang terjadi. ”Gue harap kalian suka pizza soalnya gue tadi udah nyuruh sopir gue buat beli pizza buat kita.”
”Asyik!!” teriak semuanya.
Mereka latihan lama juga, tanpa terasa satu jam sudah berlalu. Pizza sudah datang dan mereka menikmatinya bersama-sama.
”Lebih enak latihan di rumah Rendy ya? Bisa ditraktir pizza. Besok apa lagi nih Ren?” kata Keyra. ”Daripada di rumah Putri, ngambil minum aja mesti sendiri.”
”Oh, gitu ya?” ujar Putri pura-pura marah.
”Tapi menurut gue, lagi kita ini masih kurang bagus. Tapi apanya ya?” sela Andhita.
Tasha yang pendiam langsung menyela, ”Gue rasa kita kurang pengahayatan. Menyanyi tanpa menghayati lagu kan sama aja kayak robot.”
”Benar!” tukas Rendy. ”Kalian harus bisa lebih mengahayati lagu ini. Percuma aja nyanyi lagu bagus tapi kalian asal nyanyinya.”
”Abis mau gimana lagi? Bukannya kita udah cukup bagus? Nggak fals? Gimana kita bisa ngebedain yang pakai pengahayatan dengan yang nggak?” tanya Keyra.
Rendy berkata serius. ”Pernah seseorang berkata sama gue kalau dia selalu menyanyi dengan hati. Itu sebabnya kalau dia nyanyi lagu sedih, dia bisa menangis. Kalau dia menyanyi lagu gembira, semangatnya bisa bangkit. Dia...” tiba-tiba wajah Rendy berubah dingin kembali.
”Apa...elo sedang ngomongin cewek yang di foto tadi?” Tanya Keyra terus terang. Putri langsung menyikut Keyra. Keyra meringis kesakitan.
”Ehm...gue nggak mau membicarakannya.” kata Rendy bangkit berdiri lalu pura-pura membersihkan kardus pizza yang berserakan.
Andhita juga jadi penasaran, kenapa sikap Rendy jadi begitu. Dia lalu berusaha mencairkan suasana yang beku karena sikap rendy barusan. ”Begini aja. Kita nyoba di rumah masing-masing nyanyiin lagu A Whole New World. Di kamar tidur kek, di kamar mandi kek. Pokoknya itu jadi PR buat kita, gimana caranya supaya kita bisa menghayati lagu itu. Latihan besok kita evaluasi lagi.”
“Bagus, gue setuju. Selama kita bisa memperbaiki kualitas nyanyian kita, gue setuju kita mengadakan obervasi semacam itu.” Kata Putri.
Rendy tersenyum. “Gue senang kalian menaruh minat yang cukup besar terhadap musik. Di dunia ini, selain musik dan olahraga, nggak ada hal lain yang benar-benar gue sukai.”
“Termasuk cewek?” pancing Keyra.
“Yup!” sahut Rendy yakin.
Andhita mencibir tak percaya.
***
Lovable (part 8)
Saingan Baru
Jadi ternyata Andhita itu ada hati sama Adit, pikir Rendy. Apa sih kelebihannya Adit dibanding cowok lain? Pendiam, jadi ketua OSIS cuma karena nggak ada calon lain yang lebih baik. Tampangnya sebenarnya pas-pasan, tapi kalau lagi diam malah kelihatan ganteng. Jadi karena Adit itu pendiam, jadi ya...kelihatan ganteng terus deh. Rendy kesal sendiri.
Andhita, Andhita, Andhita! Cewek itu benar-benar menyita seluruh pikirannya. Kenapa ya? Sebelumnya dia nggak pernah begini. Apa karena Andhita mirip Grey? Tapi mereka beda kok. Grey kalem, Andhita jarang kalem. Grey lembut, Andhita nggak pernah lembut sama sekali sama dia. Grey baik, Andhita juga baik sih. Tapi...perasaan manusia memang aneh. Kita nggak akan pernah bisa menduga apa yang bisa terjadi pada diri kita sendiri. Seperti ada sesuatu di dalam diri kita yang siap meledak kapan saja, tanpa dapat kita kendalikan.
”Halo, Rendy!” tegur Tasha. Rendy menoleh dan tersenyum pada cewek iu.
“Mau ke perpustakaan juga Sha?” tanya Rendy.
”Iah. Abisnya takut bukunya kehabisan. Maklum, di kelas kita kan banyak yang rajin. Mereka juga pasti nyari buku tentang makalah sosial yang disuruh Ibu Ema. Mending kita duluan deh. Elo sekelompok sama gue kan? Apa lo mau nyari buku juga?”
Rendy mengangkat dua buku perpustakaan yang dipinjamnya, ”Kalo gue sih biasa, pinjem buku buat dibaca sendiri aja. Lagian ini mesti dibalikin. Kalau sampe kena denda kan nggak enak juga.”
”Kalau begitu bareng deh!” kata Tasha senang. Mereka pun pergi ke perpustakaan bersama.
”Ren! Cewek-cewek di kelas kita kan banyak yang ngedeketin lo. Gimana perasaan lo ke mereka? Apa ada yang elo suka?”tanya Tasha saat memilih buku bagian sosial.
”Suka apanya nih? Suka dideketin apa suka sama orangnya?”
”Ah, elo kan tahu maksud gue...”
Rendy tertawa. Pertama kali bertemu Tasha, dia pikir cewek ini pendiam. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata Tasha cukup bawel dan enak diajak ngobrol. ”Ehm... gue belom kepikir ke arah sana tuh. Gue masih senang ngejomblo. Oh ya, kalau elo, Putri, Keyra, dan Andhita, apa masih pada jomblo juga? Atau ada yang udah punya pacar?”
”Kita berempat masih jojoba kok.”
”Apa tuh jojoba?”
”Jomblo-jomblo bahagia!”
Rendy tertawa renyah. ”Ada-ada aja. Oh ya, kalau Andhita gimana? Gue dengar dia lagi suka sama seorang cowok.”
”Maksud lo...Adit? ehm... kayaknya dia cuma iseng kok. Kalau Andhita beneran suka, kenapa dia nggak gencar ngedeketin Adit? Kalau menurut gue sih Adit itu cuma semacam idola buat Andhita. Kayak fans gitu lah.”
”Jadi maksud lo...sebenarnya kalau Andhita serius ngdeketin, dia bakalan ngedapetin Adit, begitu?”
”Kenapa nggak? Secara fisik, meraka cocok kok.” Tasha tertawa. ”Elo suka ya sama Andhita? Kok ngomongin dia terus sih?”
”Oke, kita ngomongin yang lain deh.”
”Nah, gitu dong!”
***
Di saat yang sama dan tempat yang berbeda, Keyra sedang berjalan bersama Andhita. ”Eh Dhit, pernah kepikir nggak buat bilang terus terang sama Adit kalau lo suka sama dia?”
”Apa?” seru Andhita. ”Nggak ah! Gila lo! Gue cuma suka ngeliat mukanya doang, bukan berarti gue mau nembak dia. Kalau ditolak gimana? Malu ah!”
Keyra bertanya serius, ”Tapi elo kan udah lama banget suka sama dia. Apa salahnya kalau elo mencoba buat peruntungan lo? Siapa tahu berhasil.”
Andhita nggak sadar Keyra membimbing langkah mereka menuju kelas Adit. Soalnya dari tadi Andhita ngeikutin Keyra terus. Saat di depan kelas Adit, Keyra menyodorkan dua lembar tiket pertunjukkan balet di TIM pada Andhita. ”Nih, mumpung sekarang kita udah di depan kelasnya Adit, lo tawarin deh tiket nonton ini ke dia. Kebetulan gue punya dua. Abang gue yang ngasih ke gue. Pacarnya sakit, jadi dari pada mubazir mending dikasih ke gue katanya. Lagi pula gue nggak suka balet, jadi siapa tahu tiket ini bisa lebih bermanfaat buat lo.”
Andhita mengambil tiket itu ragu-ragu. “Kenapa lo ngasih ini ke gue?”
”Sebenarnya pilihan gue kalau nggak dikasih ke elo, ya Putri, atau Tasha. Tapi belakangan ini gue liat tampang lo tuh BT terus. Gue rasa elo agak sedih soalnya orangtua lo ngejodohin lo sama orang yang nggak lo suka. Sekarang saatnya elo ngebuktiin apa rasa suka lo sama Adit itu main-main apa beneran. Soalnya kalau begini terus, kan kasian elonya juga. Nanti elo jadi terpaksa kawin sama orang yang nggak pernah lo suka sama sekali, padahal sampai sekarang lo sendiri nggak tahu siapa yang lo suka.”
Andhita masih ragu-ragu, tapi Keyra mendorongnya masuk ke kelas Adit. Untung saat itu cuma ada beberapa orang di kelasnya Adit. Andhita nekat menghampiri Adit yang sedang menulis sesuatu di mejanya.
”Kak Adit, aku mau ngomong sesuatu.” katanya grogi.
Adit mengangkat wajahnya. Dan begitu melihat Andhita, dia tersenyum. ”Eh, Andhita. Kenapa?”
“Aku… aku punya dua tiket nonton balet. Apa Kakak mau pergi nonton sama aku?” tanya Andhita takut-takut.
Adit tampak terkejut. Dia berpikir sesaat, lalu mengambil tiket itu dari tangan Andhita. ”Buat besok ya? Kayaknya gue nggak sibuk. Oke, kita ketemuan dimana?”
Andhita tersenyum gembira. Dia berkata, ”Kita janjian di sekolah aja. Terus naik taksi ke sana. Gimana?”
”Oke kalau begitu. Sampai besok ya?”
Andhita pun keluar kelas dengan hati berdebar-debar. Berhasil! Adit mau pergi dengannya! Ini berkat Keyra. Keyra benar-benar sobat setia yang perlu di acungkan jempol.
“Gimana? Gimana?” Tanya Keyra nggak sabar ketika Andhita udah di luar kelas.
Andhita membentuk lingkaran dengan telunjuk dan jempol kanannya. “Berhasil!”
Mereka pun berlalu dari kelas Adit dengan gembira.
***
Sore harinya, saat latihan di rumah Putri, Keyra menceritakan hal itu pada Tasha dan Putri.
”Apa? Andhita akhirnya ngedate sama Adit?” tanya Putri kaget. Sebagai sahabat Andhita, dia juga turut senang mendengarnya. Saat itu Andhita dan Rendy belum datang, jadi mereka bertiga ngerunpi dulu.
Namun saat Rendy datang, tanpa disadari mereka bertiga, cowok itu mendengar pembicaraan Putri, Keyra, dan Tasha. Tiba-tiba Rendy mendapati bahwa perasaanya kali ini jadi nggak karuan mendengar hal itu. Andhita... bakalan ngedate sama Adit? Dengan cowok lain? Meskipun di antara mereka belum ada komitmen apa-apa, mestinya Andhita nggak berbuat hal itu tanpa konfirmasi dengannya lebih dulu, kan? Ini sama saja dengan ”bermain api”.
”Mereka bakalan nonton balet besok sore? Wah, romantis banget! Tapi... gimana tuh sama cowok yang dijodohin sama Andhita?” tanya Tasha.
”Ah, dia nggak bakal tahu!” kata Keyra. ”Gue sih udah ngebayangin, orangnya pasti jelek, atau sifatnya yang nyebelin. Kalau nggak, kenapa muka Andhita selalu aja muram kalau lagi cerita tentang cowok itu? Kasihan dia, mudah-mudahan acara ngedatenya dengan Adit bisa berhasil.”
“Lo baik juga Key. Lain kali elo deh yang ngatur kencan gue sama orang yang gue suka.” ujar Tasha penuh harap.
“Elo kan suka sama Rendy, ngomong aja sendiri!” ujar Keyra blak-blakan.
Rendy merasa udah saatnya dia memberitahukan kedatangannya. ”Ehm... Ehm... kalian lagi ngomongin apa sih? Kok serius banget?”
Tepat di saat itu, Andhita juga tiba datang dengan ngos-ngosan. ”Sori semuanya, gue terlambat.”
”Nggak apa-apa, kita juga belum mulai kok.” kata Rendy dengan wajah dingin. ”Lagian, telat atau nggak kan menandakan kadar loyalitas kita pada latihan ini. Kalau ada hal lain yang lebih penting, nggak datang juga nggak apa-apa.”
Andhita tersinggung. Kekesalannya pada malam saat dia diturunin di jalan masih terbawa sampai sekarang. Dia tidak akan menanggapi omongan cowok itu. Dia udah cukup muak dengan semua yang dialaminya dengan cowok sok ini. Kalau bukan karena kepentingan latihan, dia nggak mau ketemu lagi sama Rendy.
”Bahkan gue rasa, kalaupun latihan hari ini nggak ada lo, bakalan berjalan dengan baik juga.” lanjut Rendy lagi.
Andhita benar-benar kesal dengan semua ocehan Rendy. “Lho, kok jadi lo yang sewot gini sih? Yang lain baik-baik aja. Gue kan cuma telat lima belas menit. Itu kan biasa. Kayak lo nggak pernah telat aja! Kalau emang elo ngerasa kehadiran gue benar-benar nggak penting, gue pulang!” Andhita langsung pergi keluar dari ruang latihan.
Putri langsung menahannya. ”Andhita, Andhita! Sabar dong. Kok sekarang elo jadi gampang tersinggung sih?”
Rendy menambahkan, ”Mungkin prioritas dia udah berubah. Banyak hal lain yang jauh lebih penting, jadi sedikit-sedikit tersinggung. Mungkin itu alasan dia doang supaya dia bisa pulang terus nggak ikut latihan!”
Andhita mendekati Rendy dengan wajah gusar. Air matanya sudah mengembang di pelupuk matanya. “Terus terang aja, gue juga males ikut latihan ini! Terlebih sejak lo datang dalam kehidupan gue, gue nggak pernah merasa tenang! Mungkin elo benar. Kehadiran lo malah membuat gue terpaksa buat datang. Elo terus-menerus nyindir gue, ngatain gue, bilang kalau suara gue fals lah, gue nggak loyal lah, nggak punya prioritas. Siapa sih yang bisa tahan?!” katanya miris. Air matanya pun mengalir ke pipi. ”Lo udah buat gue nangis dua kali, sebelumnya nggak ada yang pernah ngelakuin hal itu. Gue benci sama lo!!”
Yang lain bingung kenapa Andhita tiba-tiba meledak seperti itu, tak terkecuali Rendy. Andhita langsung meninggalkan rumah Putri dan keluar. Rendy langsung mengejarnya.
”Andhita! Tunggu!” serunya sambil berlari keluar. Putri, Tasha, dan Keyra berpandangan.
”Gimana nih? Kita ikut ngejar nggak?” tanya Putri.
”Nggak usah. Mereka berdua pasti punya masalah sendiri. Biar aja mereka menyelesaikan masalah mereka berdua dulu.” kata Tasha.
”Masalah apa Sha? Emangnya elo tahu sesuatu?” tanya Keyra.
Tasha mengangkat bahu. ”Nggak. Gue cuma ngerasa aja, sebaiknya biarin mereka bicara empat mata dulu.”
Di luar, Rendy berhasil mengejar Andhita dan menarik tangannya. Andhita mengelak, tapi Rendy tetap menahan tangannya erat. “Dhit, Andhita! Tunggu dulu! Gue emang salah banget sama lo, dari mulai malam gue nurunin lo di jalan, gue minta maaf, tapi lo jangan kayak gini dong! Bukannya lo nggak mau masalah pribadi kita diketahui orang lain?”
Andhita masih berusaha melepaskan genggaman tangan Rendy dan menatapnya dingin. ”Lepasin tangan gue! Sakit!”
”Kalau elo janji bersikap dewasa dan nggak lari kayak tadi. Gue lepasin.” kata Rendy.
Andhita berhenti menarik tangannya, karena genggaman Rendy memang kuat. Dia memalingkan mukanya dan mengangguk pelan. Rendy melepaskan cekalannya pada tangan Andhita. ”Oke. Gue minta maaf atas semua yang gue lakuin ke lo. Gue memang terlalu berlebihan. Gue memang cukup tempramen kalau lagi terlibat dalam suatu masalah. Gue selalu mengharapkan hasil yang bagus dan perfeksionis dalam hal apapun. Gue janji sama lo, gue akan mengubah sikap jelek gue. Tapi gue juga mau lo janji satu hal sama gue.”
”Apa?”
”Tentang hubungan kita. Kita kan udah sepakat buat pura-pura saling suka dan menerima perjodohan ini, jadi gue minta... nggak ada pihak ketiga dalam hubungan kita sebelum masalahnya selesai.”
Andhita terdiam memikirkan semua perkataan Rendy. Rendy berjanji akan merubah sikapnya untuk mendapat maafnya. Tapi saratnya barusan. Nggak ada pihak ketiga? Tapi... besok kan dia bakalan ngedate sama Adit dan nggak mungkin dia ngebatalin sekarang. Akhirnya dengan telunjuk dan jari tengah terkait di belakang tubuhnya, Andhita berkata, ”Oke, gue janji.”
Rendy mengusap air mata di pipi Andhita dan menggandeng tangannya masuk kembali ke rumah Putri. Perasaan Andhita bercampur aduk. Entah apa yang mereka berdua rasakan saat itu.
***
Esok harinya, setelah bel pulang berbunyi, Andhita berganti pakaian di kamar mandi sekolah dan menaruh seragamnya di loker. Dia sudah bilang sama Mama akan nonton balet, tapi dia nggak bilang kalau mau nontonnya sana Adit. Dia juga udah bilang bakalan pulang malaman.
Andhita memakai kaus ketat dan rok jeans model kasual, entah cocok apa nggak dipakai buat nonton pertunjukan balet. Tapi aneh juga, kali ini Andhita nggak terlalu memilih-milih baju.
Pukul tiga dia datang ke kantin, tempat yang dijanjikan Adit kemarin.
Kantin sekolah sudah sepi, penjualnya juga udah nggak ada. Hanya ada beberapa pasang siswa yang sedang pacaran dan belum pulang kalau belum di usir satpam. Adit udah menunggu di sana dengan senyum manisnya yang biasa. Dengan perasaan bersalah, Andhita mengakui bahwa Adit sangat tampan hari ini.
”Hei, aku nggak telat kan?” ujar Andhita.
”Nggak, gue juga baru nyampe. Kita berangkat sekarang aja ya? Nanti terlambat. Oh ya, kebetulah gue bawa mobil hari ini, jadi kita nggak usah naik taksi.”
Andhita mengangguk. Dia dan Adit menuju parkiran dan langsung berangkat ke TIM. Di mobil, Adit diam saja. Dia hanya memandang jalanan di depannya. Andhita sendiripun sepertinya enggan untuk berbicara.
“Ehm… Dhit, lo sering nonton pertunjukkan balet?” akhirnya dia membuka pembicaraan juga.
“Belum pernah. Ini baru pertama kali.” jawabnya.
”Gue juga belum. Tapi gue rasa gue bakalan suka.” Katanya, kemudian diam lagi.
“Emangnya, Kak Adit kalau jalan sama pacar, kemana aja?”
”Pacar? Gue belum punya pacar.” Dan Adit diam lagi.
Ah, kalau begini capek juga Andhita. Adit terlalu banyak diam. Akhirnya dia pun hanya menatap pemandangan di sepanjang jalan seolah itu sangat menarik. Tiba-tiba dia teringat pada Rendy. Kalau cowok itu ada di sebelahnya, pasti mereka udah bicara apa saja. Paling tidak mereka akan bertengkar mulut. Entah mengapa Andhita jadi merindukan saat-saat bersama cowok itu. Seandainya Rendy ada di sebelahnya, pasti akan lebih menyenangkan. Aneh! Dengan sebal Andhita menghela napas keras-keras dan mengalihkan pikirannya pada hal-hal lalin, selain Rendy tentunya.
Tiket pertunjukkan balet yang diberika Keyra adalah pertunjukkan balet lokal. Pertunjukkannya menceritakan tentang cerita rakyat Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari tanpa dialog. Hanya emosi dari gerakan yang ditampilkan. Sangat bagus dan indah. Selama pertunjukkan, Adit hanya menikmati apa yang ditontonnya. Jarang sekali dia bicara. Andhita merasa kencannya sangat hambar.
”Ceritanya bagus ya?” ujar Andhita saat pertunjukkan selesai dan mereka berjejal-jejal dengan penonton lain yang aka meninggalkan ruangan.
”Ya. Apalagi waktu Jaka Tarub ditinggal Nawangwulang ke kahyangan. Sedih juga.” kata Adit.
”Iya, juga waktu...” ucapan Andhita terputus saat dia melihat sosok yang dikenalnya, yang beberapa menit lalu sangat dirindukannya. Tepat di barisan sebelahnya, seorang cowok yang berjalan mesra dengan seorang cewek. Mereka tertawa-tawa sambil mengantri keluar. Entah siapa cewek itu, yang pasti cowok itu...Rendy!
”Kenapa Dhit?” tanya Adit melihat Andhita tiba-tiba berhenti.
”Ngg..gak! nggak ada apa-apa.” jawab Andhita dengan wajah pucat. Dalam hati dia gelisah. Sialan Rendy! Cowok brengsek! Rendy jelek! Katanya nggak boleh ada pihak ketiga sebelum masalah perjodohan ini selesai. Tapi apa buktinya? Andhita ingin sekali menghampirinya dan menangkap basah cowok itu. Tapi lalu dia sadar bahwa dia pun melakukan hal yang sama.
Tiba-tiba Adit bertanya, ”Kok elo pucat Dhit? Elo sakit ya?” cowok itu memegang dahi Andhita dan merangkulnya.
“Nggak…nggak..aku nggak apa-apa kok.” Jawab Andhita cepat.
“Oh ya udah…” Adit pun melepaskan rangkulannya.
Di Barisan lain, Rendy tertawa pada cewek di sebelahnya, “Dia ngeliat kita Hel? Elo yakin?”
Rachel, sepupu Rendy, sengaja mendekatkan tubuhnya ke Rendy dan menjawab, ”Pasti. Tapi kayaknya dia cuma kaget aja ngeliat lo. Mukanya sih emang pucat, tadi cowok itu ngerangkul dia. Elo yakin dia nggak punya perasaan apa-apa sama lo?”
Rendy mengangkat bahu. ”Tau deh. Kalau iya, kenapa dia jalan sama cowok lain?”
Rachel tertawa, ”Mungkin dia masih meragukan perasaannya aja kali sama lo Ren!”
Rendy mengangkat bahunya lagi, lalu mengajak Rachel berlalu dari gedung itu. Sangat diyakininya, kalau perasaannya cemburu melihat kedekatan Andhita dan Adit.
***
Terus terang saja, semenjak Rendy masuk ke kehidupan Andhita, kehidupan gadis itu tidak pernah sama lagi. Tidak pernah Andhita begitu meresahkan masalah bertemu dengan seseorang di sekolah, teristimewa orang itu harus sering ditemuinya karena suatu keadaan. Dia benar-benar frustasi karena harus latihan bersama Rendy, karena itu sedapat mungkin di waktu lain dia menghindar dari cowok itu.
Rasanya sangat aneh mendapati cowok yang dijodohkan dengannya adalah Rendy yang dikenalnya di sekolah. Masalahnya, Andhita belum bisa menerimanya. Mungkin kalau orang lain yang dijodohkan dengannya, dia tidak akan sepusing ini memikirkan masalahnya.
Entah bagaimana perasaannya saat ini. Campur aduk nggak karuan. Apalagi sekarang dia bakalan lebih sering lagi bertemu dengan Rendy, soalnya malam kesenian tinggal dua minggu lagi. Jadi otomatis latihan akan lebih intensif. Dan terlebih lagi, Rendy memutuskan latihan ditambah dua hari. Praktis dari Senin sampai Kamis berturut-turut bakalan ketemu Rendy terus.
Apalagi Mama sama Papa juga selalu bertanya tentang Rendy. Gimana sikap Rendy? Gimana dia di sekolah? Apa kalian sekarang pacaran? Uh, nyebelin banget! Andhita terpaksa mengatupkan mulutnya rapat-rapat atau mengalihkan pembicaraan kalau mereka nanya begitu. Daripada salah ngomong.
Satu hal yang mengejutkan lagi, Rendy sekarang sangat populer di sekolah. Apalagi setelah Tasha memberitahukan bahwa Rendy menjadi kandidat ketua OSIS untuk menggantikan Adit. Sekarang Andhita juga baru sadar kalau teman-teman sekelasnya sering membicarakannya cowok itu, entah kagum pada permainan bolanya, musiknya, orangnya, atau kegantengannya... nggak tahu deh. Dan ada lagi! Ternyata Putri dan Tasha sama-sama naksir Rendy! Oh no!
Sebelumnya Andhita sama sekali nggak tahu. Dia nyesel karena lupa memerhatikan teman-temannya karena teralu sibuk dengan masalahnya sendiri. Dia tahu dari Keyra ketika mereka mau latihan menyanyi di aula sekolah.
”Tasha mana?”
”Nggak datang. Marahan sama Putri.”
”Kenapa? Kok bisa marahan?”
”Gara-gara Rendy.” jawab Keyra.
Mereka duduk berdua di bangku aula menunggu latihan dimulai, sementara Putri sedang menjelaskan tambahan bagian partitur untuk improvisasi piano pada Rendy.
“Hah? Gara-gara Rendy?” Tanya Andhita kaget, walaupun sedang berbicara Keyra, sesekali tatapan Andhita tertuju pada Rendy dan Putri. Posisi cowok itu benar-benar dekat dengan Putri dan entah mengapa itu membuat hati Andhita kebat-kebit.
Keyra mendekatkan bibirnya ke telinga Andhita dan berbisik, “Putri sama Tasha sama-sama suka Rendy! Tasha kan udah lama kenal Rendy, dan sejak awal kita semua udah pada tahu dia kayaknya naksir cwok itu.”
”Terus?” tanya Andhita penasaran.
”Tasha nggak suka Putri selalu dekat-dekat Rendy. Apalagi Rendy selalu datang ke rumah Putri lebih awal kalau kita latihan.”
”Oh ya?”
”Bahkan katanya mereka sering makan bareng di kantin!”
Andhita tersentak kaget. ”Masa?”
”Iya. Gue rasa Rendy emang ular kepala dua. Gue juga pernah ngeliat dia ke perpustakaan bareng sama Tasha. Mereka kayaknya sedang ngobrolin sesuatu dengan serius.”
”Oh ya? Kapan?”
Keyra mengerutkan keningnya. ”Kira-kira... beberapa hari yang lalu deh.”
”Oh ya? Terus sebenarnya Rendy senangnya sama siapa? Putri apa Tasha?”
”Dengar dulu cerita gue!” sergah Keyra. Andhita terdiam. Keyra melanjutkan, “Gue sih nggak peduli Rendy sukanya sama siapa. Yang gue kuatirin itu ya persahabatan kita. Tasha dan Putri saling cemburu. Ternyata Tasha sering mergokin Putri makan bareng di kantin sama Rendy. Nah, Tasha juga ngelabrak Putri supaya Putri nggak mendekati Rendy. Tapi Putri malah nantangin dan bilang gini, ’kalau gue suka sama cowok itu, emangnya kenapa?’ Tasha langsung marah dan nggak mau datang latihan hari ini.”
“Lo tahu dari siapa Tasha ngelabrak Putri?” tanya Andhita.
”Gue denger sendiri tadi siang, di WC, waktu kita bertiga ketemu.”
Andhita berusaha mencerna informasi yang disampaikan Keyra. Rendy ular berkepala dua? Mendekati kedua temannya sekaligus. Dan Andhita tiba-tiba merasa perutnya sakit saat dia mengingat cewek yang pergi dengan Rendy saat menonton pertunjukkan balet.
Andhita tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar semua cerita Keyra. Padahal Putri yang dia kenal itu selalu berpikir rasional, harusnya bisa ngalah dong sama Tasha yang memang cenderung sensitif dan melankolis. Dia nggak bisa ngebayangin kalau sampai teman-temannya tahu kalau cowok yang dijodohin dengannya adalah Rendy. Apa jadinya nanti?
“Hmm..Key.. kayaknya si Rendy udah nggak jomblo deh.” Kata Andhita.
“Maksud lo, dia udah punya pacar?” tanya Keyra.
“Yaa.. nggak tahu juga sih. Jadi gini waktu gue nonton balet sama Adit, gue ngeliat Rendy jalan sama cewek. Gue sih nggak sempet nyamperin dia. Abis rame banget sih.”
“Oh ya? Kok lo nggak cerita ke gue pas gue Tanya gimana ngedate lo sama Adit? Lo cuma bilang nggak asik, tapi nggak bilang ketemu sama Rendy di sana.”
“Yah… gue pikir kan itu nggak begitu penting, lagian kan itu bukan urusan gue.”
“Iya juga sih, tapi sekarang jadi urusan kita, soalnya Rendy bisa ngerusak persahabatan kita berempat. Yaudah, pokoknya kita harus ngasih tahu ke Tasha dan Putri kalau Rendy itu playboy kelas kakap!” maki Keyra.
“Key…sebenarnya…Rendy itu…hmm..nggak jadi deh. Bingung jadinya. Kita mulai aja yuk latihannya. Urusan ini kita omongin nanti lagi.” Andhita merasa bukan ini saat yang tepat.
***
Jadi ternyata Andhita itu ada hati sama Adit, pikir Rendy. Apa sih kelebihannya Adit dibanding cowok lain? Pendiam, jadi ketua OSIS cuma karena nggak ada calon lain yang lebih baik. Tampangnya sebenarnya pas-pasan, tapi kalau lagi diam malah kelihatan ganteng. Jadi karena Adit itu pendiam, jadi ya...kelihatan ganteng terus deh. Rendy kesal sendiri.
Andhita, Andhita, Andhita! Cewek itu benar-benar menyita seluruh pikirannya. Kenapa ya? Sebelumnya dia nggak pernah begini. Apa karena Andhita mirip Grey? Tapi mereka beda kok. Grey kalem, Andhita jarang kalem. Grey lembut, Andhita nggak pernah lembut sama sekali sama dia. Grey baik, Andhita juga baik sih. Tapi...perasaan manusia memang aneh. Kita nggak akan pernah bisa menduga apa yang bisa terjadi pada diri kita sendiri. Seperti ada sesuatu di dalam diri kita yang siap meledak kapan saja, tanpa dapat kita kendalikan.
”Halo, Rendy!” tegur Tasha. Rendy menoleh dan tersenyum pada cewek iu.
“Mau ke perpustakaan juga Sha?” tanya Rendy.
”Iah. Abisnya takut bukunya kehabisan. Maklum, di kelas kita kan banyak yang rajin. Mereka juga pasti nyari buku tentang makalah sosial yang disuruh Ibu Ema. Mending kita duluan deh. Elo sekelompok sama gue kan? Apa lo mau nyari buku juga?”
Rendy mengangkat dua buku perpustakaan yang dipinjamnya, ”Kalo gue sih biasa, pinjem buku buat dibaca sendiri aja. Lagian ini mesti dibalikin. Kalau sampe kena denda kan nggak enak juga.”
”Kalau begitu bareng deh!” kata Tasha senang. Mereka pun pergi ke perpustakaan bersama.
”Ren! Cewek-cewek di kelas kita kan banyak yang ngedeketin lo. Gimana perasaan lo ke mereka? Apa ada yang elo suka?”tanya Tasha saat memilih buku bagian sosial.
”Suka apanya nih? Suka dideketin apa suka sama orangnya?”
”Ah, elo kan tahu maksud gue...”
Rendy tertawa. Pertama kali bertemu Tasha, dia pikir cewek ini pendiam. Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata Tasha cukup bawel dan enak diajak ngobrol. ”Ehm... gue belom kepikir ke arah sana tuh. Gue masih senang ngejomblo. Oh ya, kalau elo, Putri, Keyra, dan Andhita, apa masih pada jomblo juga? Atau ada yang udah punya pacar?”
”Kita berempat masih jojoba kok.”
”Apa tuh jojoba?”
”Jomblo-jomblo bahagia!”
Rendy tertawa renyah. ”Ada-ada aja. Oh ya, kalau Andhita gimana? Gue dengar dia lagi suka sama seorang cowok.”
”Maksud lo...Adit? ehm... kayaknya dia cuma iseng kok. Kalau Andhita beneran suka, kenapa dia nggak gencar ngedeketin Adit? Kalau menurut gue sih Adit itu cuma semacam idola buat Andhita. Kayak fans gitu lah.”
”Jadi maksud lo...sebenarnya kalau Andhita serius ngdeketin, dia bakalan ngedapetin Adit, begitu?”
”Kenapa nggak? Secara fisik, meraka cocok kok.” Tasha tertawa. ”Elo suka ya sama Andhita? Kok ngomongin dia terus sih?”
”Oke, kita ngomongin yang lain deh.”
”Nah, gitu dong!”
***
Di saat yang sama dan tempat yang berbeda, Keyra sedang berjalan bersama Andhita. ”Eh Dhit, pernah kepikir nggak buat bilang terus terang sama Adit kalau lo suka sama dia?”
”Apa?” seru Andhita. ”Nggak ah! Gila lo! Gue cuma suka ngeliat mukanya doang, bukan berarti gue mau nembak dia. Kalau ditolak gimana? Malu ah!”
Keyra bertanya serius, ”Tapi elo kan udah lama banget suka sama dia. Apa salahnya kalau elo mencoba buat peruntungan lo? Siapa tahu berhasil.”
Andhita nggak sadar Keyra membimbing langkah mereka menuju kelas Adit. Soalnya dari tadi Andhita ngeikutin Keyra terus. Saat di depan kelas Adit, Keyra menyodorkan dua lembar tiket pertunjukkan balet di TIM pada Andhita. ”Nih, mumpung sekarang kita udah di depan kelasnya Adit, lo tawarin deh tiket nonton ini ke dia. Kebetulan gue punya dua. Abang gue yang ngasih ke gue. Pacarnya sakit, jadi dari pada mubazir mending dikasih ke gue katanya. Lagi pula gue nggak suka balet, jadi siapa tahu tiket ini bisa lebih bermanfaat buat lo.”
Andhita mengambil tiket itu ragu-ragu. “Kenapa lo ngasih ini ke gue?”
”Sebenarnya pilihan gue kalau nggak dikasih ke elo, ya Putri, atau Tasha. Tapi belakangan ini gue liat tampang lo tuh BT terus. Gue rasa elo agak sedih soalnya orangtua lo ngejodohin lo sama orang yang nggak lo suka. Sekarang saatnya elo ngebuktiin apa rasa suka lo sama Adit itu main-main apa beneran. Soalnya kalau begini terus, kan kasian elonya juga. Nanti elo jadi terpaksa kawin sama orang yang nggak pernah lo suka sama sekali, padahal sampai sekarang lo sendiri nggak tahu siapa yang lo suka.”
Andhita masih ragu-ragu, tapi Keyra mendorongnya masuk ke kelas Adit. Untung saat itu cuma ada beberapa orang di kelasnya Adit. Andhita nekat menghampiri Adit yang sedang menulis sesuatu di mejanya.
”Kak Adit, aku mau ngomong sesuatu.” katanya grogi.
Adit mengangkat wajahnya. Dan begitu melihat Andhita, dia tersenyum. ”Eh, Andhita. Kenapa?”
“Aku… aku punya dua tiket nonton balet. Apa Kakak mau pergi nonton sama aku?” tanya Andhita takut-takut.
Adit tampak terkejut. Dia berpikir sesaat, lalu mengambil tiket itu dari tangan Andhita. ”Buat besok ya? Kayaknya gue nggak sibuk. Oke, kita ketemuan dimana?”
Andhita tersenyum gembira. Dia berkata, ”Kita janjian di sekolah aja. Terus naik taksi ke sana. Gimana?”
”Oke kalau begitu. Sampai besok ya?”
Andhita pun keluar kelas dengan hati berdebar-debar. Berhasil! Adit mau pergi dengannya! Ini berkat Keyra. Keyra benar-benar sobat setia yang perlu di acungkan jempol.
“Gimana? Gimana?” Tanya Keyra nggak sabar ketika Andhita udah di luar kelas.
Andhita membentuk lingkaran dengan telunjuk dan jempol kanannya. “Berhasil!”
Mereka pun berlalu dari kelas Adit dengan gembira.
***
Sore harinya, saat latihan di rumah Putri, Keyra menceritakan hal itu pada Tasha dan Putri.
”Apa? Andhita akhirnya ngedate sama Adit?” tanya Putri kaget. Sebagai sahabat Andhita, dia juga turut senang mendengarnya. Saat itu Andhita dan Rendy belum datang, jadi mereka bertiga ngerunpi dulu.
Namun saat Rendy datang, tanpa disadari mereka bertiga, cowok itu mendengar pembicaraan Putri, Keyra, dan Tasha. Tiba-tiba Rendy mendapati bahwa perasaanya kali ini jadi nggak karuan mendengar hal itu. Andhita... bakalan ngedate sama Adit? Dengan cowok lain? Meskipun di antara mereka belum ada komitmen apa-apa, mestinya Andhita nggak berbuat hal itu tanpa konfirmasi dengannya lebih dulu, kan? Ini sama saja dengan ”bermain api”.
”Mereka bakalan nonton balet besok sore? Wah, romantis banget! Tapi... gimana tuh sama cowok yang dijodohin sama Andhita?” tanya Tasha.
”Ah, dia nggak bakal tahu!” kata Keyra. ”Gue sih udah ngebayangin, orangnya pasti jelek, atau sifatnya yang nyebelin. Kalau nggak, kenapa muka Andhita selalu aja muram kalau lagi cerita tentang cowok itu? Kasihan dia, mudah-mudahan acara ngedatenya dengan Adit bisa berhasil.”
“Lo baik juga Key. Lain kali elo deh yang ngatur kencan gue sama orang yang gue suka.” ujar Tasha penuh harap.
“Elo kan suka sama Rendy, ngomong aja sendiri!” ujar Keyra blak-blakan.
Rendy merasa udah saatnya dia memberitahukan kedatangannya. ”Ehm... Ehm... kalian lagi ngomongin apa sih? Kok serius banget?”
Tepat di saat itu, Andhita juga tiba datang dengan ngos-ngosan. ”Sori semuanya, gue terlambat.”
”Nggak apa-apa, kita juga belum mulai kok.” kata Rendy dengan wajah dingin. ”Lagian, telat atau nggak kan menandakan kadar loyalitas kita pada latihan ini. Kalau ada hal lain yang lebih penting, nggak datang juga nggak apa-apa.”
Andhita tersinggung. Kekesalannya pada malam saat dia diturunin di jalan masih terbawa sampai sekarang. Dia tidak akan menanggapi omongan cowok itu. Dia udah cukup muak dengan semua yang dialaminya dengan cowok sok ini. Kalau bukan karena kepentingan latihan, dia nggak mau ketemu lagi sama Rendy.
”Bahkan gue rasa, kalaupun latihan hari ini nggak ada lo, bakalan berjalan dengan baik juga.” lanjut Rendy lagi.
Andhita benar-benar kesal dengan semua ocehan Rendy. “Lho, kok jadi lo yang sewot gini sih? Yang lain baik-baik aja. Gue kan cuma telat lima belas menit. Itu kan biasa. Kayak lo nggak pernah telat aja! Kalau emang elo ngerasa kehadiran gue benar-benar nggak penting, gue pulang!” Andhita langsung pergi keluar dari ruang latihan.
Putri langsung menahannya. ”Andhita, Andhita! Sabar dong. Kok sekarang elo jadi gampang tersinggung sih?”
Rendy menambahkan, ”Mungkin prioritas dia udah berubah. Banyak hal lain yang jauh lebih penting, jadi sedikit-sedikit tersinggung. Mungkin itu alasan dia doang supaya dia bisa pulang terus nggak ikut latihan!”
Andhita mendekati Rendy dengan wajah gusar. Air matanya sudah mengembang di pelupuk matanya. “Terus terang aja, gue juga males ikut latihan ini! Terlebih sejak lo datang dalam kehidupan gue, gue nggak pernah merasa tenang! Mungkin elo benar. Kehadiran lo malah membuat gue terpaksa buat datang. Elo terus-menerus nyindir gue, ngatain gue, bilang kalau suara gue fals lah, gue nggak loyal lah, nggak punya prioritas. Siapa sih yang bisa tahan?!” katanya miris. Air matanya pun mengalir ke pipi. ”Lo udah buat gue nangis dua kali, sebelumnya nggak ada yang pernah ngelakuin hal itu. Gue benci sama lo!!”
Yang lain bingung kenapa Andhita tiba-tiba meledak seperti itu, tak terkecuali Rendy. Andhita langsung meninggalkan rumah Putri dan keluar. Rendy langsung mengejarnya.
”Andhita! Tunggu!” serunya sambil berlari keluar. Putri, Tasha, dan Keyra berpandangan.
”Gimana nih? Kita ikut ngejar nggak?” tanya Putri.
”Nggak usah. Mereka berdua pasti punya masalah sendiri. Biar aja mereka menyelesaikan masalah mereka berdua dulu.” kata Tasha.
”Masalah apa Sha? Emangnya elo tahu sesuatu?” tanya Keyra.
Tasha mengangkat bahu. ”Nggak. Gue cuma ngerasa aja, sebaiknya biarin mereka bicara empat mata dulu.”
Di luar, Rendy berhasil mengejar Andhita dan menarik tangannya. Andhita mengelak, tapi Rendy tetap menahan tangannya erat. “Dhit, Andhita! Tunggu dulu! Gue emang salah banget sama lo, dari mulai malam gue nurunin lo di jalan, gue minta maaf, tapi lo jangan kayak gini dong! Bukannya lo nggak mau masalah pribadi kita diketahui orang lain?”
Andhita masih berusaha melepaskan genggaman tangan Rendy dan menatapnya dingin. ”Lepasin tangan gue! Sakit!”
”Kalau elo janji bersikap dewasa dan nggak lari kayak tadi. Gue lepasin.” kata Rendy.
Andhita berhenti menarik tangannya, karena genggaman Rendy memang kuat. Dia memalingkan mukanya dan mengangguk pelan. Rendy melepaskan cekalannya pada tangan Andhita. ”Oke. Gue minta maaf atas semua yang gue lakuin ke lo. Gue memang terlalu berlebihan. Gue memang cukup tempramen kalau lagi terlibat dalam suatu masalah. Gue selalu mengharapkan hasil yang bagus dan perfeksionis dalam hal apapun. Gue janji sama lo, gue akan mengubah sikap jelek gue. Tapi gue juga mau lo janji satu hal sama gue.”
”Apa?”
”Tentang hubungan kita. Kita kan udah sepakat buat pura-pura saling suka dan menerima perjodohan ini, jadi gue minta... nggak ada pihak ketiga dalam hubungan kita sebelum masalahnya selesai.”
Andhita terdiam memikirkan semua perkataan Rendy. Rendy berjanji akan merubah sikapnya untuk mendapat maafnya. Tapi saratnya barusan. Nggak ada pihak ketiga? Tapi... besok kan dia bakalan ngedate sama Adit dan nggak mungkin dia ngebatalin sekarang. Akhirnya dengan telunjuk dan jari tengah terkait di belakang tubuhnya, Andhita berkata, ”Oke, gue janji.”
Rendy mengusap air mata di pipi Andhita dan menggandeng tangannya masuk kembali ke rumah Putri. Perasaan Andhita bercampur aduk. Entah apa yang mereka berdua rasakan saat itu.
***
Esok harinya, setelah bel pulang berbunyi, Andhita berganti pakaian di kamar mandi sekolah dan menaruh seragamnya di loker. Dia sudah bilang sama Mama akan nonton balet, tapi dia nggak bilang kalau mau nontonnya sana Adit. Dia juga udah bilang bakalan pulang malaman.
Andhita memakai kaus ketat dan rok jeans model kasual, entah cocok apa nggak dipakai buat nonton pertunjukan balet. Tapi aneh juga, kali ini Andhita nggak terlalu memilih-milih baju.
Pukul tiga dia datang ke kantin, tempat yang dijanjikan Adit kemarin.
Kantin sekolah sudah sepi, penjualnya juga udah nggak ada. Hanya ada beberapa pasang siswa yang sedang pacaran dan belum pulang kalau belum di usir satpam. Adit udah menunggu di sana dengan senyum manisnya yang biasa. Dengan perasaan bersalah, Andhita mengakui bahwa Adit sangat tampan hari ini.
”Hei, aku nggak telat kan?” ujar Andhita.
”Nggak, gue juga baru nyampe. Kita berangkat sekarang aja ya? Nanti terlambat. Oh ya, kebetulah gue bawa mobil hari ini, jadi kita nggak usah naik taksi.”
Andhita mengangguk. Dia dan Adit menuju parkiran dan langsung berangkat ke TIM. Di mobil, Adit diam saja. Dia hanya memandang jalanan di depannya. Andhita sendiripun sepertinya enggan untuk berbicara.
“Ehm… Dhit, lo sering nonton pertunjukkan balet?” akhirnya dia membuka pembicaraan juga.
“Belum pernah. Ini baru pertama kali.” jawabnya.
”Gue juga belum. Tapi gue rasa gue bakalan suka.” Katanya, kemudian diam lagi.
“Emangnya, Kak Adit kalau jalan sama pacar, kemana aja?”
”Pacar? Gue belum punya pacar.” Dan Adit diam lagi.
Ah, kalau begini capek juga Andhita. Adit terlalu banyak diam. Akhirnya dia pun hanya menatap pemandangan di sepanjang jalan seolah itu sangat menarik. Tiba-tiba dia teringat pada Rendy. Kalau cowok itu ada di sebelahnya, pasti mereka udah bicara apa saja. Paling tidak mereka akan bertengkar mulut. Entah mengapa Andhita jadi merindukan saat-saat bersama cowok itu. Seandainya Rendy ada di sebelahnya, pasti akan lebih menyenangkan. Aneh! Dengan sebal Andhita menghela napas keras-keras dan mengalihkan pikirannya pada hal-hal lalin, selain Rendy tentunya.
Tiket pertunjukkan balet yang diberika Keyra adalah pertunjukkan balet lokal. Pertunjukkannya menceritakan tentang cerita rakyat Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari tanpa dialog. Hanya emosi dari gerakan yang ditampilkan. Sangat bagus dan indah. Selama pertunjukkan, Adit hanya menikmati apa yang ditontonnya. Jarang sekali dia bicara. Andhita merasa kencannya sangat hambar.
”Ceritanya bagus ya?” ujar Andhita saat pertunjukkan selesai dan mereka berjejal-jejal dengan penonton lain yang aka meninggalkan ruangan.
”Ya. Apalagi waktu Jaka Tarub ditinggal Nawangwulang ke kahyangan. Sedih juga.” kata Adit.
”Iya, juga waktu...” ucapan Andhita terputus saat dia melihat sosok yang dikenalnya, yang beberapa menit lalu sangat dirindukannya. Tepat di barisan sebelahnya, seorang cowok yang berjalan mesra dengan seorang cewek. Mereka tertawa-tawa sambil mengantri keluar. Entah siapa cewek itu, yang pasti cowok itu...Rendy!
”Kenapa Dhit?” tanya Adit melihat Andhita tiba-tiba berhenti.
”Ngg..gak! nggak ada apa-apa.” jawab Andhita dengan wajah pucat. Dalam hati dia gelisah. Sialan Rendy! Cowok brengsek! Rendy jelek! Katanya nggak boleh ada pihak ketiga sebelum masalah perjodohan ini selesai. Tapi apa buktinya? Andhita ingin sekali menghampirinya dan menangkap basah cowok itu. Tapi lalu dia sadar bahwa dia pun melakukan hal yang sama.
Tiba-tiba Adit bertanya, ”Kok elo pucat Dhit? Elo sakit ya?” cowok itu memegang dahi Andhita dan merangkulnya.
“Nggak…nggak..aku nggak apa-apa kok.” Jawab Andhita cepat.
“Oh ya udah…” Adit pun melepaskan rangkulannya.
Di Barisan lain, Rendy tertawa pada cewek di sebelahnya, “Dia ngeliat kita Hel? Elo yakin?”
Rachel, sepupu Rendy, sengaja mendekatkan tubuhnya ke Rendy dan menjawab, ”Pasti. Tapi kayaknya dia cuma kaget aja ngeliat lo. Mukanya sih emang pucat, tadi cowok itu ngerangkul dia. Elo yakin dia nggak punya perasaan apa-apa sama lo?”
Rendy mengangkat bahu. ”Tau deh. Kalau iya, kenapa dia jalan sama cowok lain?”
Rachel tertawa, ”Mungkin dia masih meragukan perasaannya aja kali sama lo Ren!”
Rendy mengangkat bahunya lagi, lalu mengajak Rachel berlalu dari gedung itu. Sangat diyakininya, kalau perasaannya cemburu melihat kedekatan Andhita dan Adit.
***
Terus terang saja, semenjak Rendy masuk ke kehidupan Andhita, kehidupan gadis itu tidak pernah sama lagi. Tidak pernah Andhita begitu meresahkan masalah bertemu dengan seseorang di sekolah, teristimewa orang itu harus sering ditemuinya karena suatu keadaan. Dia benar-benar frustasi karena harus latihan bersama Rendy, karena itu sedapat mungkin di waktu lain dia menghindar dari cowok itu.
Rasanya sangat aneh mendapati cowok yang dijodohkan dengannya adalah Rendy yang dikenalnya di sekolah. Masalahnya, Andhita belum bisa menerimanya. Mungkin kalau orang lain yang dijodohkan dengannya, dia tidak akan sepusing ini memikirkan masalahnya.
Entah bagaimana perasaannya saat ini. Campur aduk nggak karuan. Apalagi sekarang dia bakalan lebih sering lagi bertemu dengan Rendy, soalnya malam kesenian tinggal dua minggu lagi. Jadi otomatis latihan akan lebih intensif. Dan terlebih lagi, Rendy memutuskan latihan ditambah dua hari. Praktis dari Senin sampai Kamis berturut-turut bakalan ketemu Rendy terus.
Apalagi Mama sama Papa juga selalu bertanya tentang Rendy. Gimana sikap Rendy? Gimana dia di sekolah? Apa kalian sekarang pacaran? Uh, nyebelin banget! Andhita terpaksa mengatupkan mulutnya rapat-rapat atau mengalihkan pembicaraan kalau mereka nanya begitu. Daripada salah ngomong.
Satu hal yang mengejutkan lagi, Rendy sekarang sangat populer di sekolah. Apalagi setelah Tasha memberitahukan bahwa Rendy menjadi kandidat ketua OSIS untuk menggantikan Adit. Sekarang Andhita juga baru sadar kalau teman-teman sekelasnya sering membicarakannya cowok itu, entah kagum pada permainan bolanya, musiknya, orangnya, atau kegantengannya... nggak tahu deh. Dan ada lagi! Ternyata Putri dan Tasha sama-sama naksir Rendy! Oh no!
Sebelumnya Andhita sama sekali nggak tahu. Dia nyesel karena lupa memerhatikan teman-temannya karena teralu sibuk dengan masalahnya sendiri. Dia tahu dari Keyra ketika mereka mau latihan menyanyi di aula sekolah.
”Tasha mana?”
”Nggak datang. Marahan sama Putri.”
”Kenapa? Kok bisa marahan?”
”Gara-gara Rendy.” jawab Keyra.
Mereka duduk berdua di bangku aula menunggu latihan dimulai, sementara Putri sedang menjelaskan tambahan bagian partitur untuk improvisasi piano pada Rendy.
“Hah? Gara-gara Rendy?” Tanya Andhita kaget, walaupun sedang berbicara Keyra, sesekali tatapan Andhita tertuju pada Rendy dan Putri. Posisi cowok itu benar-benar dekat dengan Putri dan entah mengapa itu membuat hati Andhita kebat-kebit.
Keyra mendekatkan bibirnya ke telinga Andhita dan berbisik, “Putri sama Tasha sama-sama suka Rendy! Tasha kan udah lama kenal Rendy, dan sejak awal kita semua udah pada tahu dia kayaknya naksir cwok itu.”
”Terus?” tanya Andhita penasaran.
”Tasha nggak suka Putri selalu dekat-dekat Rendy. Apalagi Rendy selalu datang ke rumah Putri lebih awal kalau kita latihan.”
”Oh ya?”
”Bahkan katanya mereka sering makan bareng di kantin!”
Andhita tersentak kaget. ”Masa?”
”Iya. Gue rasa Rendy emang ular kepala dua. Gue juga pernah ngeliat dia ke perpustakaan bareng sama Tasha. Mereka kayaknya sedang ngobrolin sesuatu dengan serius.”
”Oh ya? Kapan?”
Keyra mengerutkan keningnya. ”Kira-kira... beberapa hari yang lalu deh.”
”Oh ya? Terus sebenarnya Rendy senangnya sama siapa? Putri apa Tasha?”
”Dengar dulu cerita gue!” sergah Keyra. Andhita terdiam. Keyra melanjutkan, “Gue sih nggak peduli Rendy sukanya sama siapa. Yang gue kuatirin itu ya persahabatan kita. Tasha dan Putri saling cemburu. Ternyata Tasha sering mergokin Putri makan bareng di kantin sama Rendy. Nah, Tasha juga ngelabrak Putri supaya Putri nggak mendekati Rendy. Tapi Putri malah nantangin dan bilang gini, ’kalau gue suka sama cowok itu, emangnya kenapa?’ Tasha langsung marah dan nggak mau datang latihan hari ini.”
“Lo tahu dari siapa Tasha ngelabrak Putri?” tanya Andhita.
”Gue denger sendiri tadi siang, di WC, waktu kita bertiga ketemu.”
Andhita berusaha mencerna informasi yang disampaikan Keyra. Rendy ular berkepala dua? Mendekati kedua temannya sekaligus. Dan Andhita tiba-tiba merasa perutnya sakit saat dia mengingat cewek yang pergi dengan Rendy saat menonton pertunjukkan balet.
Andhita tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar semua cerita Keyra. Padahal Putri yang dia kenal itu selalu berpikir rasional, harusnya bisa ngalah dong sama Tasha yang memang cenderung sensitif dan melankolis. Dia nggak bisa ngebayangin kalau sampai teman-temannya tahu kalau cowok yang dijodohin dengannya adalah Rendy. Apa jadinya nanti?
“Hmm..Key.. kayaknya si Rendy udah nggak jomblo deh.” Kata Andhita.
“Maksud lo, dia udah punya pacar?” tanya Keyra.
“Yaa.. nggak tahu juga sih. Jadi gini waktu gue nonton balet sama Adit, gue ngeliat Rendy jalan sama cewek. Gue sih nggak sempet nyamperin dia. Abis rame banget sih.”
“Oh ya? Kok lo nggak cerita ke gue pas gue Tanya gimana ngedate lo sama Adit? Lo cuma bilang nggak asik, tapi nggak bilang ketemu sama Rendy di sana.”
“Yah… gue pikir kan itu nggak begitu penting, lagian kan itu bukan urusan gue.”
“Iya juga sih, tapi sekarang jadi urusan kita, soalnya Rendy bisa ngerusak persahabatan kita berempat. Yaudah, pokoknya kita harus ngasih tahu ke Tasha dan Putri kalau Rendy itu playboy kelas kakap!” maki Keyra.
“Key…sebenarnya…Rendy itu…hmm..nggak jadi deh. Bingung jadinya. Kita mulai aja yuk latihannya. Urusan ini kita omongin nanti lagi.” Andhita merasa bukan ini saat yang tepat.
***
Selasa, 08 Juni 2010
Lovable (part 7)
Rendy
Keesokan harinya, hari minggu, ketika berkumpul di kamar Putri, ketiga temannya langsung menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
”Gimana jodoh lo itu? Cakep nggak?” Tanya mereka.
Sejujurnya Andhita sama sekali nggak mau ngomongin masalah ini. Apalagi dia harus menutupi bahwa cowok itu adalah Rendy, dan itu berarti dia harus ngebohong sama teman-temannya. Kalau suatu saat ketiga temannya ini tahu, mereka pasti sakit hati dan merasa dibohongi.
”Biasa-biasa aja.” kata Andhita. ”Katanya kita mau latihan hari ini?” ujarnya mengalihkan pembicaraan.
”Biasa-biasanya kayak gimana? Kalau dibandingin sama Adit, cakepan mana?” cecar Keyra tak mau begitu saja dialihkan.
”Cakepan mana ya?” gumam Andhita. Dia lalu berpikir. Dari segi cakepnya sih beda-beda. Rendy cakep, Adit juga cakep. Tapi dia sama sekali nggak mau ngasih petunjuk supaya teman-temannya bisa tahu kalau cowok itu Rendy. “Cakepan Adit kali.”
Putri menyela, “Kalau sama Rendy?”
Bibir Andhita terkatup. Nah, kali ini susah jawabnya.
Tasha yang menjawab. ”Cakepan Rendy, kali. Kalo nggak, kok Andhita sama sekali nggak antusias?”
”Duh, udah deh, jangan ngomongin itu lagi.” keluh Andhita.
Keyra menyela, ”Kalau begitu, elo benar-benar nggak antusias Dhit. Pasti ada yang aneh sama cowok yang dijodohin sama lo itu. Apa dia punya kebiasaan jelek? Seperti ngupil atau bersendawa sembarangan? Atau dia punya kekurangan, seperti berketombe atau bau badan? Atau dia punya masalah dengan penampilan, kekurusan, kegendutan, jerawatan, atau kependekan? Atau dia suka ngiler terus nggak berhenti-henti kayak anak SLB?”
Andhita tersenyum. ”Nggak, sama sekali nggak. Ngaco lo ah!”
”Tapi muka lo kok nggak antusias banget, Dhit? Cerita dong, kenapa elo muram dan nggak semangat.” kata Putri.
Andhita akhirnya menyerah. ”Gue cuma nggak senang dengan calon tunangan gue itu. Rada sombong orangnya. Rasanya dia itu bukan tipe gue.”
Tasha menyela, “Kalau sifatnya udah nggak cocok sama lo, lebih baik perjodohan itu dibatalin aja. Soalnya kecocokan sifat itu kan lebih penting daripada penampilan fisik. Ya kan? Coba bayangin, setelah tiga puluh tahun menikah, kita akan jadi nenek-nenek, duami kita jadi kakek-kakek. Saat itu penampilan fisik kita sama sekali sudah hilang, tinggal sifat jelek doang. Benar nggak?”
Keyra mengangguk. ”Benar juga sih. Kasihan Andhita, jadi korban pemaksaan kehendak orangtua.”
Putri menepuk-nepuk bahu Andhita. ”Sabar ya.”
Andhita mengehmbuskan napas panjang dan mengangguk pelan. Sebenarnya sejak kemarin dia sudah mencoba untuk sabar.
***
Saat telepon berdering, Andhita yang mengangkat. Ternyata dari Tante Astrid. “Halo, Andhita?”
”Eh, halo, iah Tante? Apa kabar?” tanya Andhita malu-malu.
”Ehm, baik. Begini Dhit. Besok Tante mau ngajak kamu belanja di mal. Maksud tante sih sebenarnya mau beliin beberapa potong baju buat Rendy, tapi tante nggak tahu selera dia seperti apa. Jadi tante mau ngajak kamu.”
Andhita bengong. Hah? Mamanya aja nggak tahu, apalagi dia? Tapi akhirnya Andhita setuju belanja bareng, soalnya dia juga mau beli pakaian dalam dan kaus kaki untuk sekolah.
Keesokan harinya, Tante Astrid menjemput Andhita di sekolah dan mereka langsung menuju mal terdekat.
Sambil melihat orang yang berlalu lalang, Tante Astrid yang agak bawel terus mengajak Andhita mengobrol. “Menurut kamu, Rendy gimana Dhit?”
“Hmm.. baik Tante.” Jawab Andhita sambil melihat-lihat baju di rak gantungan.
”Maksud Tante, apa kalian saling suka?”
Andhita teringat dengan rencana Rendy untuk pura-pura saling suka, jadi dia mengangguk, ”Iya Tante.”
Wajah mama Rendy berseri-seri. ”Wah, bagus itu! Tante tidak menyangka perjodohan ini berhasil juga. Tante senang bisa mendapatkan calon menantu sebaik kamu. Kalau begitu Tante akan bilang sama Om, supaya cepat-cepat merencanakan tanggal pernikahan yang baik untuk kalian.”
“Eit, tunggu dulu Tante! Ap-apa maksudnya? Tentang pernikahan?” kata Andhita tergagap. Apa-apaan nih? Main nentuin tanggal nikahan aja, gerutu Andhita dalam hati.
Tante Astrid tertawa dan mencubit pipi Andhita. “Maksud Tante nggak sekarang, Andhita. Tanggal yang baik itu kan bisa kapan saja, nggak harus tahun ini. Bisa saja enam tahun lagi, tujuh tahun lagi, delapan tahun bahkan. Iya kan?”
Andhita tertawa hambar. Duh, kok makin ngawur gini sih?
Tante Astrid mengangkat sepotong celana dalam pria. “Menurut kamu lebih bagus mana Dhit? Yang biru apa yang hijau?”
Ya ampun! Baru kali ini Andhita belanja celana dalam cowok. Glek! Andhita menelan ludah sebelum menjawab. ”Yang biru kali, Tante.”
”Iya, ya. Tante pikir juga begitu. Kalau hijau nanti jadi kolor ijo.” kali ini Andhita tak sempat tertawa, dia hanya tersenyum masam. Tante Astrid ini benar-benar jayus deh. Tobat!
Selesai belanja, Tante Astrid mengajak Andhita mampir ke rumahnya untuk makan siang. ”Sebenarnya Tante mau ngajak kamu makan siang di mal, tapi Tante hari ini masak empal balado. Sayang kalau nggak ada yang makan. Kamu ikut makan siang di rumah Tante aja ya?”
Andhita terpaksa mengangguk. Terserah deh. Kayaknya dia nggak punya hak bicara, soalnya dari tadi Tante Astrid yang bicara terus. Mereka pun menuju rumah Rendy. Andhita cuma bisa berdoa semoga cowok rese itu nggak ada di rumahnya.
Tapi sayangnya doa Andhita tidak terkabul. Rendy justru baru pulang sekolah. Cowok itu kaget melihat Andhita ada di rumahnya. “Heh, ngapain lo di sini?” tanyanya.
Andhita nggak bisa ngejawab, wajahnya merona. Dia merasa nggak enak, seolah-olah dia datang sendiri untuk menjalin keakraban dengan keluarga Rendy. Dia kan datang atas undangan Tante Astrid.
Untung Tante Astrid menyela. “Wajar dong Andhita datang ke sini, dia kan pacar kamu. Nanyanya jangan begitu dong Ren. Kamu bisa bikin Andhita malu.” sebenarnya Andhita malah tambah malu kalau Tante Astrid ngomong begitu.
Bebby sudah pulang. Sekarang mereka berempat ngumpul di meja makan, sebab Papa Rendy belum pulang kantor. Andhita jadi teringat insiden waktu dia tersedak di sini beberapa hari yang lalu. Memalukan, semoga tidak terjadi lagi.
Saat Tante Astrid ke dapur, Andhita duduk di samping Rendy. Rendy berbisik. ”Ngapain elo ke sini?”
Andhita balas berbisik, ”Diajak sama nyokab lo. Emangnya elo pikir gue ngapain?”
”Gue pikir elo emang benar-benar niat sama perjodohan ini, terus mau pedekate sama keluarga gue. Auw!!” Rendy berteriak karena Andhita menendang tulang keringnya dari bawah meja.
Rasain! Dasar cowok nyebelin! GR amat sih! Bukannya dia juga yang bilang supaya Andhita pura-pura setuju dengan perjodohan ini?
“Kenapa kak?” Tanya Bebby bingung.
“Ngg..gak.”
Tante Astrid datang dari arah dapur sambil membawa sepiring empal balado, lalu begabung di meja makan. “Makan yang banyak ya, Dhit. Kamu itu masih kekurusan!”
Andhita hanya bisa meringis. Apa Tante Astrid nggak tahu kalau dia paling takut nambah berat badan walau cuma setengah kilo? Nambah dikit aja dia langsung panik dan diet ketat. Diet ketat ala Andhita itu adalah nggak makan nasi dan cuma minum seharian. Andhita memang sudah terkena sindrom takut BBM (Berat Badan Meningkat). Kayak selebriti terkenal yang dapurnya ngebul dari penampilan aja.
”Gimana hubungan kalian di sekolah? Apa teman-teman sudah pada tahu? Apa perlu Tante bikin pesta pertunangan dan mengundang semua teman-teman sekolah?”
Andhita langsung menyela, ”Nggak usah Tante! Ehm.. teman-teman udah pada tahu kok. Ya kan Ren?”
”Iya Ma. Lagian kalo dipestain kan nggak enak. Kayak besok kita berdua mau dikawini aja!” ujar Rendy sambil meneguk air putih.
”Lho, bukannya emang begitu?”
“Uhuk! Uhuk!” Rendy langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Bebby yang melihat tingkah kakaknya hanya tertawa-tawa.
“Maksud Mama, pertunangan itu kan pada akhirnya menuju pernikahan. Entah enam tahun lagi, tujuh tahun lagi, tapi kan sudah serius.”
”Ma, nggak usah buru-buru. Aku dan Andhita kan masih sekolah, masih jauh ke urusan kawin.” gerutu Rendy kesal.
Andhita juga nggak mau kalah, “Iya, Tante... lagipula pertunangan itu kan mengikat kita satu sama lain, tapi ikatannya kan masih bisa terputus dengan berbagai macam hal yang mungkin saja bisa terjadi. Kalau Rendy ketemu cewek yang lebih baik dari aku, dia bisa aja kan memutuskan hubungan kita. Begitu juga sama aku, kalau aku ketemu cowok yang lebih baik dari Rendy...”
”Nggak mungkin ada.” gumam Rendy memotong pembicaraan Andhita. “Kalau pun ada, pasti susah banget nyarinya.”
Uh, sok banget! Gerutu Andhita dalam hati. Nggak mau kalah, Andhita kembali ngomong, “Tante… barangkali kalau aku ketemu sama cowok yang lebih dewasa, lebih pengertian, lebih pandai, lebih ganteng, lebih baik, dan lebih segala-galanya dari Rendy…” dia menarik napas panjang, “Aku bisa berubah pikiran. Iya kan?” katanya manis.
Rendy mengangguk-angguk. “Benar juga, Ma. Bisa aja kan kalau aku ketemu sama cewek yang lebih cantik, lebih feminin, lebih baik, lebih manis, lebih pandai, dan lebih segala-galanya dari Andhita...” Rendy juga menarik napas panjang, “Aku juga bisa berubah pikiran.”
Andhita melotot. ”Tentu saja cowok yang lebih baik dari Rendy itu masih banyak di dunia, Tante. Di sekolah aja bertebaran. Cuma karena aku memang setia, dan aku udah terlanjur memilih Rendy, yah... apa boleh buat.”
Rendy gak mau kalah. ”Cewek kayak Andhita kan dimana-mana juga banyak Ma. Rambut panjang, wajah biasa banget, tinggi langsing, yang pasti...rata-ratalah. Yang lebih baik dari Andhita itu banyak, tapi karena aku udah memilih Andhita dan aku juga tipe yang setia, ya apa boleh buat...”
Bebby cekikikan. Tante Astrid bingung. “Kalian berdua tuh ngomongin apa sih? Udah udah, makan aja. Kalau orang lain dengar, salah-salah bisa menyangka kalau kalian itu bukan tunangan, tapi musuh bebuyutan.kayak Om sama Tante waktu pacaran dulu.”
Andhita cemberut. Rendy buang muka. Empal balado Tante Astrid yang sebenarnya enak malah mengganjal di tenggrokan dan gak ketelan. Untungnya Tante Astrid yang bawel ngoceh terus sehingga nggak sadar telah terjadi perang dingin antara Andhita dan Rendy.
Sehabis makan, Andhita duduk-duduk di ruang tamu bersama Bebby. Bebby yang bingung dengan hubungan Andhita dan kakaknya bertanya terus terang, “Kak, sebenarnya antara Kakak dan Kak Rendy itu ada hubungan apa sih? Aku kok bingung, sebentar kalian keliatan damai, tapi sebentar lagi kayak musuh bebuyutan.”
“Oh, nggak ada apa-apa kok.” elak Andhita.
“Terus terang aja nih. Apa kalian sebenarnya tidak menyetujui perjodohan ini?”
Sebenarnya sih sebelum Andhita mengetahui bahwa ternyata calonnya adalah Rendy, dia berniat untuk mencoba perjodohan ini. Lagian dia juga sedang tidak punya pacar. Kalau gebetan sih ada, tapi itu kan cuma iseng aja. Tapi setelah tahu kalau ternyata Rendy yang dijodohkan dengannya, dia malah malas mencoba hubungan apa pun. Soalnya Rendy itu tipe cowok rese, sombongnya minta ampun, dan egois. Jadi, setiap Andhita berdekatan dengannya, maunya marah terus.
“Aku sebenarnya udah kenal sama Rendy di sekolah. Tapi aku tuh nggak pernah tahu kalau yg dijodohkan sama aku itu ternyata dia. Dia ngiringin group vocal aku dan tiga temanku untuk tampil nyanyi di malam kesenian nanti. Terus terang aja, aku sebenarnya nggak begitu cocok sama dia. Dan hubungan kita juga nggak rukun-rukun banget. Begitu aku tahu dia yang akan dijodohkan sama aku, aku pengen nolak. Rendy juga mau nolak sih, tapi dia bilang, kalau nolak mentah-mentah nanti Tante Astrid malah bakalan lebih sering mempertemukan kita berdua. Jadi kita pakai cara ini, pura-pura saling suka. Tapi kamu juga udah liat sendiri kan? Kayaknya nggak terlalu berhasil.”
”Yah... sayang banget yah kalian nggak saling suka. Padahal aku suka banget sama Kak Andhita. Menurutku Kakak tipe cewek yang tepat buat ngedampingi Kak Rendy. Soalnya Kak Rendy jarang bisa berhubungan serius sama cewek, kecuali kalau cewek itu benar-benar bisa memahaminya, seperti Kak Grey...”
”Grey? Siapa tuh?”
Wajah Bebby memucat, seperti tanpa sadar membocorkan sesuatu yang semestinya tidak dikatakannya. ”Ng... bukan siapa-siapa kok. Nanti deh, kalau ada waktu aku bakalan cerita tentang dia. Tapi Kak Andhita jangan nanya langsung ya sama Kak Rendy. Nanti dia bisa ngamuk.”
Andhita jadi penasaran, siapa Grey itu? Apa mantan pacar Rendy? Jangan-jangan cewek itu nggak tahan sama sikap Rendy yang buruk lalu memutuskan hubungan, pikir Andhita sok tahu. Iya, pasti begitu. Rendy kan memang menyebalkan!
Selesai makan, Andhita pamit pulang. Tentu saja dia berharap diantar. Kalau mau naik taksi, sayang duitnya kan.
”Wah Dhit... kepala Tante agak pusing nih. Biar Rendy aja ya yang nganter kamu pulang?”
“Ren..Rendy?”
“Iya, hari ini nggak ada sopir karena lagi dipakai sama Om Seno. Rendy udah punya SIM kok, cuma Tante kadang-kadang nggak ngasih dia bawa mobil, takut kenapa-kenapa. Tapi hari ini bakalan jadi pengecualian deh. Lagi pula Kelapa Gading kan dekat dari sini.”
Beberapa saat kemudian, Andhita sudah berada di samping Rendy di mobil sedan milik Tante Astrid. Di luar, Tante Astrid dan Bebby melambaikan tangan padanya.
Setelah balas melambaikan tangan pada Tante Astrid dan Bebby, Andhita berkata pada Rendy, ”Mudah-mudahan kita nggak tabrakan ya?”
”Nggak sekalian nyumpahin biar jatoh ke kali Sunter. Kayak metromini beberapa tahun yang lalu.” ucap Rendy dengan wajah yang masam.
”Dalam hati gue berdoa terus nih... mudah-mudahan perjalanan gue aman-aman aja, walaupun disopirin sama seorang amatir.” sindir Andhita.
”Haha..! mudah-mudahan doa lo manjur deh, soalnya gue baru dapat SIM kemarin.”
”Apa?!!”
Mobil mulai melaju dengan lancar. Pasti Rendy bohong soal dia baru dapat SIM kemarin. Buktinya Andhita merasa cowok itu cukup jago bawa mobilnya.
“Kenapa sih elo tadi nyerang gue terus?” protes Andhita. ”Gue kan cuma nurutin kata-kata elo supaya kita pura-pura saling suka di depan nyokab lo. Nyokab lo ngajak gue, masa gue tolak?”
Rendy berkata dingin, ”Soalnya elo nggak konfirmasi lagi sih, jadi gue salah paham. Sori deh.”
”Elo kira gue ngedeketin nyokab lo karena gue suka sama lo, gitu? Jangan GR ya!” kata Andhita sama dinginnya. ”Oh ya, gue dengar elo pernah punya cewek, kenapa sekarang udah nggak lagi? Mungkin mantan lo itu udah enek kali yah sama sikap lo yang egois itu, jadi dia minta putus!”
Ciitt!! Tiba-tiba Rendy ngerem mendadak. Andhita kaget. Lalu dia melihat seekor kucing hitam menyebrang jalan di depan mobil Rendy.
“Kucing gila!!” seru Rendy.
Wajah Andhita langsung pucat. Rendy marah gara-gara kucing itu, apa gara-gara ucapannya yang keterlaluan barusan?
“Turun sekarang!” perintah Rendy tanpa menatap Andhita sedikit pun.
Andhita menatap Rendy nggak percaya. Dia turun dari mobil Rendy tanpa mengatakan apapun. Dia menyetop taksi yang kebetulan lewat di depannya. Entah mengapa rasanya dia ingin menangis sekeras-kerasnya. Dia nggak abis pikir Rendy bakalan ngelakuin hal seperti itu. Bahkan dia sampai kehabisan kata-kata.
Saat taksi yang ditumpanginya jalan, dia melihat ke belakang, dan mendapati mobil Rendy yang masih terpaku disitu. Dia kembali melihat ke depan. Pipinya terasa hangat. Dia menangis. Entah emosi apa yang dirasakannya.
***
Rendy berjalan ke kantin dengan pandangan kosong dan pikiran penuh. Belum pernah ada cewek yang begitu menyita perhatiannya seperti Andhita. Cewek itu benar-benar membuatnya penasaran. Selama ini banyak cewek yang suka padanya dan mengejar-ngejarnya terus. Andhita bukan tipe cewek seperti itu. Dia selalu ketus padanya. Apalagi dia menyinggung-nyinggung soal Grey tadi malam. Dari mana dia tahu soal Grey? Pasti Bebby. Adiknya itu emang nggak bisa jaga mulut.
Dari tadi pagi dia belum melihat Andhita sama sekali. Apa yang dia pikirkan sampai tadi malam senekat itu mengusir Andhita keluar dari mobilnya. Dia ingin sekali bertemu dengannya pagi ini. Ingin meminta maaf atas apa yang sudah dilakukannya. Tapi apa Andhita mau memaafkannya. Dia sangat menyesal, karena dia sadar perlakuannya sangat kasar.
Dash! Sebuah batu yang ada di lantai jadi sasaran tendangan sepatu Rendy. Sudah lama dia nggak ingat sama Grey. Kenapa dia sekarang membayangkan cewek itu lagi? Susah payah dia pindah ke Jakarta supaya bisa memulai lembaran baru lagi. Sekarang dia malah kembali ke titik awal, saat...
”Dorr!” suara orang yang mengagetkannya daribelakang membuat Rendy terlonjak. Hamper saja dia memaki-maki. Tapi dia menoleh dan melihat Putri, tersenyum manis ke arahnya. Rendy pun balas tersenyum.
”Halo Put! Ngagetin aja!”
”Hai juga. Abis gue liat elo jalan sambil bengong. Nanti kayak ayam tetangga gue lho. Kebanyakan bengong, eh malah mati besoknya. Kasihan kan makhluk-makhluk yang suka bengong?” melihat Rendy bengong lagi, Putri langsung menambahkan, “Nggak deh, bercanda! Lo kok jadi tambah bengong gitu sih?” Putri menumpangkan tangannya ke bahu Rendy, sok akrab, walau agak susah soalnya tinggi Rendy jauh di atas Putri. “Udah makan belom?”
“Kalau gue kearah kantin, ya berarti gue belom makan. Masa gue mau pipis di kantin.” Ujar rendy diplomatis.
“Oke, gue juga laper nih. Yuk, makan bareng aja.” Ujar Putri senang.
Putri memesan nasi goreng dan teh botol. Sementara Rendy membeli nasi campur dan es buah langganannya. Mereka duduk berdua di antara puluhan anak lainnya yang memenuhi kantin saat istirahat.
”Menurut lo, suara vocal group kita tuh udah bagus belom?” Tanya Putri membuka percakapan.
“Udah, cuma suara Andhita suka fals tuh. Tapi kalau banyak latihan, gue yakin itu bisa diatasi.” kata Rendy sambil mengangkat ayam gorengnya dan menggigitnya.
Putri tertawa. ”Ternyata elo suka mengkrititik Andhita juga. Tau nggak, gue pikir antara elo dan Andhita ada sesuatu. Soalnya kalian gontok-gontokan terus sih.”
”Nggak ada apa-apa kok,” kilah Rendy. ”Oh ya, gue pengen nanya. Andhita itu jutek juga ya? Sikap dia begitu sama semua cowok, apa sama gue doang ya? Dia udah punya pacar belom?”
”Andhita? Jutek? Nggak lagi. Dia tuh baik kok. Cuma gue emang bingung sih, kenapa dia bisa jutek sama lo. Pacar? Belom tuh kayaknya. Tapi kalau gebetan, kayaknya ada.”
“Siapa?”
“Kok lo penasaran banget sih? Jangan-jangan lo suka ya sama Andhita?”
”Siapa bilang?” kata Rendy sambil makan es buah dengan sok cuek. ”Gue cuma penasaran aja, apa ada cowok yang mau sama cewek jutek kayak dia?”
”Andhita tuh suka sama ketua OSIS yang namanya Adit, tapi nggak ada tanggapan apa-apa dari cowok itu. Abis, kalau Andhita-nya nggak terus terang, orangnya juga nggak bakal tahu kan?”
”Oh...begitu.” Rendy mengangguk-angguk. Dia kenal Adit. Cowok cakep, keren, dan pendiam. Rupanya Andhita suka tipe cowok yang kayak gitu.
“Iya. Kalau cowok yang suka sama andhita sih itu sebenarnya banyak, tapi nggak pernah ditanggapi sama dia. Kalau ada yang ngedeketin, Andhita langsung bilang dia cuma suka cowok itu jadi sahabatnya. Gitu deh. Jadi Andhita masih ngejomblo sampai sekarang. Belum pernah pacaran!”
Rendy bengong dan mengangguk-angguk.
Bel berbunyi, mereka udah selesai makan. Rendy dan Putri berjalan bareng menuju kelas masing-masing, tanpa mengetahui ada sepasang mata yang memerhatikan mereka.
***
Keesokan harinya, hari minggu, ketika berkumpul di kamar Putri, ketiga temannya langsung menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
”Gimana jodoh lo itu? Cakep nggak?” Tanya mereka.
Sejujurnya Andhita sama sekali nggak mau ngomongin masalah ini. Apalagi dia harus menutupi bahwa cowok itu adalah Rendy, dan itu berarti dia harus ngebohong sama teman-temannya. Kalau suatu saat ketiga temannya ini tahu, mereka pasti sakit hati dan merasa dibohongi.
”Biasa-biasa aja.” kata Andhita. ”Katanya kita mau latihan hari ini?” ujarnya mengalihkan pembicaraan.
”Biasa-biasanya kayak gimana? Kalau dibandingin sama Adit, cakepan mana?” cecar Keyra tak mau begitu saja dialihkan.
”Cakepan mana ya?” gumam Andhita. Dia lalu berpikir. Dari segi cakepnya sih beda-beda. Rendy cakep, Adit juga cakep. Tapi dia sama sekali nggak mau ngasih petunjuk supaya teman-temannya bisa tahu kalau cowok itu Rendy. “Cakepan Adit kali.”
Putri menyela, “Kalau sama Rendy?”
Bibir Andhita terkatup. Nah, kali ini susah jawabnya.
Tasha yang menjawab. ”Cakepan Rendy, kali. Kalo nggak, kok Andhita sama sekali nggak antusias?”
”Duh, udah deh, jangan ngomongin itu lagi.” keluh Andhita.
Keyra menyela, ”Kalau begitu, elo benar-benar nggak antusias Dhit. Pasti ada yang aneh sama cowok yang dijodohin sama lo itu. Apa dia punya kebiasaan jelek? Seperti ngupil atau bersendawa sembarangan? Atau dia punya kekurangan, seperti berketombe atau bau badan? Atau dia punya masalah dengan penampilan, kekurusan, kegendutan, jerawatan, atau kependekan? Atau dia suka ngiler terus nggak berhenti-henti kayak anak SLB?”
Andhita tersenyum. ”Nggak, sama sekali nggak. Ngaco lo ah!”
”Tapi muka lo kok nggak antusias banget, Dhit? Cerita dong, kenapa elo muram dan nggak semangat.” kata Putri.
Andhita akhirnya menyerah. ”Gue cuma nggak senang dengan calon tunangan gue itu. Rada sombong orangnya. Rasanya dia itu bukan tipe gue.”
Tasha menyela, “Kalau sifatnya udah nggak cocok sama lo, lebih baik perjodohan itu dibatalin aja. Soalnya kecocokan sifat itu kan lebih penting daripada penampilan fisik. Ya kan? Coba bayangin, setelah tiga puluh tahun menikah, kita akan jadi nenek-nenek, duami kita jadi kakek-kakek. Saat itu penampilan fisik kita sama sekali sudah hilang, tinggal sifat jelek doang. Benar nggak?”
Keyra mengangguk. ”Benar juga sih. Kasihan Andhita, jadi korban pemaksaan kehendak orangtua.”
Putri menepuk-nepuk bahu Andhita. ”Sabar ya.”
Andhita mengehmbuskan napas panjang dan mengangguk pelan. Sebenarnya sejak kemarin dia sudah mencoba untuk sabar.
***
Saat telepon berdering, Andhita yang mengangkat. Ternyata dari Tante Astrid. “Halo, Andhita?”
”Eh, halo, iah Tante? Apa kabar?” tanya Andhita malu-malu.
”Ehm, baik. Begini Dhit. Besok Tante mau ngajak kamu belanja di mal. Maksud tante sih sebenarnya mau beliin beberapa potong baju buat Rendy, tapi tante nggak tahu selera dia seperti apa. Jadi tante mau ngajak kamu.”
Andhita bengong. Hah? Mamanya aja nggak tahu, apalagi dia? Tapi akhirnya Andhita setuju belanja bareng, soalnya dia juga mau beli pakaian dalam dan kaus kaki untuk sekolah.
Keesokan harinya, Tante Astrid menjemput Andhita di sekolah dan mereka langsung menuju mal terdekat.
Sambil melihat orang yang berlalu lalang, Tante Astrid yang agak bawel terus mengajak Andhita mengobrol. “Menurut kamu, Rendy gimana Dhit?”
“Hmm.. baik Tante.” Jawab Andhita sambil melihat-lihat baju di rak gantungan.
”Maksud Tante, apa kalian saling suka?”
Andhita teringat dengan rencana Rendy untuk pura-pura saling suka, jadi dia mengangguk, ”Iya Tante.”
Wajah mama Rendy berseri-seri. ”Wah, bagus itu! Tante tidak menyangka perjodohan ini berhasil juga. Tante senang bisa mendapatkan calon menantu sebaik kamu. Kalau begitu Tante akan bilang sama Om, supaya cepat-cepat merencanakan tanggal pernikahan yang baik untuk kalian.”
“Eit, tunggu dulu Tante! Ap-apa maksudnya? Tentang pernikahan?” kata Andhita tergagap. Apa-apaan nih? Main nentuin tanggal nikahan aja, gerutu Andhita dalam hati.
Tante Astrid tertawa dan mencubit pipi Andhita. “Maksud Tante nggak sekarang, Andhita. Tanggal yang baik itu kan bisa kapan saja, nggak harus tahun ini. Bisa saja enam tahun lagi, tujuh tahun lagi, delapan tahun bahkan. Iya kan?”
Andhita tertawa hambar. Duh, kok makin ngawur gini sih?
Tante Astrid mengangkat sepotong celana dalam pria. “Menurut kamu lebih bagus mana Dhit? Yang biru apa yang hijau?”
Ya ampun! Baru kali ini Andhita belanja celana dalam cowok. Glek! Andhita menelan ludah sebelum menjawab. ”Yang biru kali, Tante.”
”Iya, ya. Tante pikir juga begitu. Kalau hijau nanti jadi kolor ijo.” kali ini Andhita tak sempat tertawa, dia hanya tersenyum masam. Tante Astrid ini benar-benar jayus deh. Tobat!
Selesai belanja, Tante Astrid mengajak Andhita mampir ke rumahnya untuk makan siang. ”Sebenarnya Tante mau ngajak kamu makan siang di mal, tapi Tante hari ini masak empal balado. Sayang kalau nggak ada yang makan. Kamu ikut makan siang di rumah Tante aja ya?”
Andhita terpaksa mengangguk. Terserah deh. Kayaknya dia nggak punya hak bicara, soalnya dari tadi Tante Astrid yang bicara terus. Mereka pun menuju rumah Rendy. Andhita cuma bisa berdoa semoga cowok rese itu nggak ada di rumahnya.
Tapi sayangnya doa Andhita tidak terkabul. Rendy justru baru pulang sekolah. Cowok itu kaget melihat Andhita ada di rumahnya. “Heh, ngapain lo di sini?” tanyanya.
Andhita nggak bisa ngejawab, wajahnya merona. Dia merasa nggak enak, seolah-olah dia datang sendiri untuk menjalin keakraban dengan keluarga Rendy. Dia kan datang atas undangan Tante Astrid.
Untung Tante Astrid menyela. “Wajar dong Andhita datang ke sini, dia kan pacar kamu. Nanyanya jangan begitu dong Ren. Kamu bisa bikin Andhita malu.” sebenarnya Andhita malah tambah malu kalau Tante Astrid ngomong begitu.
Bebby sudah pulang. Sekarang mereka berempat ngumpul di meja makan, sebab Papa Rendy belum pulang kantor. Andhita jadi teringat insiden waktu dia tersedak di sini beberapa hari yang lalu. Memalukan, semoga tidak terjadi lagi.
Saat Tante Astrid ke dapur, Andhita duduk di samping Rendy. Rendy berbisik. ”Ngapain elo ke sini?”
Andhita balas berbisik, ”Diajak sama nyokab lo. Emangnya elo pikir gue ngapain?”
”Gue pikir elo emang benar-benar niat sama perjodohan ini, terus mau pedekate sama keluarga gue. Auw!!” Rendy berteriak karena Andhita menendang tulang keringnya dari bawah meja.
Rasain! Dasar cowok nyebelin! GR amat sih! Bukannya dia juga yang bilang supaya Andhita pura-pura setuju dengan perjodohan ini?
“Kenapa kak?” Tanya Bebby bingung.
“Ngg..gak.”
Tante Astrid datang dari arah dapur sambil membawa sepiring empal balado, lalu begabung di meja makan. “Makan yang banyak ya, Dhit. Kamu itu masih kekurusan!”
Andhita hanya bisa meringis. Apa Tante Astrid nggak tahu kalau dia paling takut nambah berat badan walau cuma setengah kilo? Nambah dikit aja dia langsung panik dan diet ketat. Diet ketat ala Andhita itu adalah nggak makan nasi dan cuma minum seharian. Andhita memang sudah terkena sindrom takut BBM (Berat Badan Meningkat). Kayak selebriti terkenal yang dapurnya ngebul dari penampilan aja.
”Gimana hubungan kalian di sekolah? Apa teman-teman sudah pada tahu? Apa perlu Tante bikin pesta pertunangan dan mengundang semua teman-teman sekolah?”
Andhita langsung menyela, ”Nggak usah Tante! Ehm.. teman-teman udah pada tahu kok. Ya kan Ren?”
”Iya Ma. Lagian kalo dipestain kan nggak enak. Kayak besok kita berdua mau dikawini aja!” ujar Rendy sambil meneguk air putih.
”Lho, bukannya emang begitu?”
“Uhuk! Uhuk!” Rendy langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Bebby yang melihat tingkah kakaknya hanya tertawa-tawa.
“Maksud Mama, pertunangan itu kan pada akhirnya menuju pernikahan. Entah enam tahun lagi, tujuh tahun lagi, tapi kan sudah serius.”
”Ma, nggak usah buru-buru. Aku dan Andhita kan masih sekolah, masih jauh ke urusan kawin.” gerutu Rendy kesal.
Andhita juga nggak mau kalah, “Iya, Tante... lagipula pertunangan itu kan mengikat kita satu sama lain, tapi ikatannya kan masih bisa terputus dengan berbagai macam hal yang mungkin saja bisa terjadi. Kalau Rendy ketemu cewek yang lebih baik dari aku, dia bisa aja kan memutuskan hubungan kita. Begitu juga sama aku, kalau aku ketemu cowok yang lebih baik dari Rendy...”
”Nggak mungkin ada.” gumam Rendy memotong pembicaraan Andhita. “Kalau pun ada, pasti susah banget nyarinya.”
Uh, sok banget! Gerutu Andhita dalam hati. Nggak mau kalah, Andhita kembali ngomong, “Tante… barangkali kalau aku ketemu sama cowok yang lebih dewasa, lebih pengertian, lebih pandai, lebih ganteng, lebih baik, dan lebih segala-galanya dari Rendy…” dia menarik napas panjang, “Aku bisa berubah pikiran. Iya kan?” katanya manis.
Rendy mengangguk-angguk. “Benar juga, Ma. Bisa aja kan kalau aku ketemu sama cewek yang lebih cantik, lebih feminin, lebih baik, lebih manis, lebih pandai, dan lebih segala-galanya dari Andhita...” Rendy juga menarik napas panjang, “Aku juga bisa berubah pikiran.”
Andhita melotot. ”Tentu saja cowok yang lebih baik dari Rendy itu masih banyak di dunia, Tante. Di sekolah aja bertebaran. Cuma karena aku memang setia, dan aku udah terlanjur memilih Rendy, yah... apa boleh buat.”
Rendy gak mau kalah. ”Cewek kayak Andhita kan dimana-mana juga banyak Ma. Rambut panjang, wajah biasa banget, tinggi langsing, yang pasti...rata-ratalah. Yang lebih baik dari Andhita itu banyak, tapi karena aku udah memilih Andhita dan aku juga tipe yang setia, ya apa boleh buat...”
Bebby cekikikan. Tante Astrid bingung. “Kalian berdua tuh ngomongin apa sih? Udah udah, makan aja. Kalau orang lain dengar, salah-salah bisa menyangka kalau kalian itu bukan tunangan, tapi musuh bebuyutan.kayak Om sama Tante waktu pacaran dulu.”
Andhita cemberut. Rendy buang muka. Empal balado Tante Astrid yang sebenarnya enak malah mengganjal di tenggrokan dan gak ketelan. Untungnya Tante Astrid yang bawel ngoceh terus sehingga nggak sadar telah terjadi perang dingin antara Andhita dan Rendy.
Sehabis makan, Andhita duduk-duduk di ruang tamu bersama Bebby. Bebby yang bingung dengan hubungan Andhita dan kakaknya bertanya terus terang, “Kak, sebenarnya antara Kakak dan Kak Rendy itu ada hubungan apa sih? Aku kok bingung, sebentar kalian keliatan damai, tapi sebentar lagi kayak musuh bebuyutan.”
“Oh, nggak ada apa-apa kok.” elak Andhita.
“Terus terang aja nih. Apa kalian sebenarnya tidak menyetujui perjodohan ini?”
Sebenarnya sih sebelum Andhita mengetahui bahwa ternyata calonnya adalah Rendy, dia berniat untuk mencoba perjodohan ini. Lagian dia juga sedang tidak punya pacar. Kalau gebetan sih ada, tapi itu kan cuma iseng aja. Tapi setelah tahu kalau ternyata Rendy yang dijodohkan dengannya, dia malah malas mencoba hubungan apa pun. Soalnya Rendy itu tipe cowok rese, sombongnya minta ampun, dan egois. Jadi, setiap Andhita berdekatan dengannya, maunya marah terus.
“Aku sebenarnya udah kenal sama Rendy di sekolah. Tapi aku tuh nggak pernah tahu kalau yg dijodohkan sama aku itu ternyata dia. Dia ngiringin group vocal aku dan tiga temanku untuk tampil nyanyi di malam kesenian nanti. Terus terang aja, aku sebenarnya nggak begitu cocok sama dia. Dan hubungan kita juga nggak rukun-rukun banget. Begitu aku tahu dia yang akan dijodohkan sama aku, aku pengen nolak. Rendy juga mau nolak sih, tapi dia bilang, kalau nolak mentah-mentah nanti Tante Astrid malah bakalan lebih sering mempertemukan kita berdua. Jadi kita pakai cara ini, pura-pura saling suka. Tapi kamu juga udah liat sendiri kan? Kayaknya nggak terlalu berhasil.”
”Yah... sayang banget yah kalian nggak saling suka. Padahal aku suka banget sama Kak Andhita. Menurutku Kakak tipe cewek yang tepat buat ngedampingi Kak Rendy. Soalnya Kak Rendy jarang bisa berhubungan serius sama cewek, kecuali kalau cewek itu benar-benar bisa memahaminya, seperti Kak Grey...”
”Grey? Siapa tuh?”
Wajah Bebby memucat, seperti tanpa sadar membocorkan sesuatu yang semestinya tidak dikatakannya. ”Ng... bukan siapa-siapa kok. Nanti deh, kalau ada waktu aku bakalan cerita tentang dia. Tapi Kak Andhita jangan nanya langsung ya sama Kak Rendy. Nanti dia bisa ngamuk.”
Andhita jadi penasaran, siapa Grey itu? Apa mantan pacar Rendy? Jangan-jangan cewek itu nggak tahan sama sikap Rendy yang buruk lalu memutuskan hubungan, pikir Andhita sok tahu. Iya, pasti begitu. Rendy kan memang menyebalkan!
Selesai makan, Andhita pamit pulang. Tentu saja dia berharap diantar. Kalau mau naik taksi, sayang duitnya kan.
”Wah Dhit... kepala Tante agak pusing nih. Biar Rendy aja ya yang nganter kamu pulang?”
“Ren..Rendy?”
“Iya, hari ini nggak ada sopir karena lagi dipakai sama Om Seno. Rendy udah punya SIM kok, cuma Tante kadang-kadang nggak ngasih dia bawa mobil, takut kenapa-kenapa. Tapi hari ini bakalan jadi pengecualian deh. Lagi pula Kelapa Gading kan dekat dari sini.”
Beberapa saat kemudian, Andhita sudah berada di samping Rendy di mobil sedan milik Tante Astrid. Di luar, Tante Astrid dan Bebby melambaikan tangan padanya.
Setelah balas melambaikan tangan pada Tante Astrid dan Bebby, Andhita berkata pada Rendy, ”Mudah-mudahan kita nggak tabrakan ya?”
”Nggak sekalian nyumpahin biar jatoh ke kali Sunter. Kayak metromini beberapa tahun yang lalu.” ucap Rendy dengan wajah yang masam.
”Dalam hati gue berdoa terus nih... mudah-mudahan perjalanan gue aman-aman aja, walaupun disopirin sama seorang amatir.” sindir Andhita.
”Haha..! mudah-mudahan doa lo manjur deh, soalnya gue baru dapat SIM kemarin.”
”Apa?!!”
Mobil mulai melaju dengan lancar. Pasti Rendy bohong soal dia baru dapat SIM kemarin. Buktinya Andhita merasa cowok itu cukup jago bawa mobilnya.
“Kenapa sih elo tadi nyerang gue terus?” protes Andhita. ”Gue kan cuma nurutin kata-kata elo supaya kita pura-pura saling suka di depan nyokab lo. Nyokab lo ngajak gue, masa gue tolak?”
Rendy berkata dingin, ”Soalnya elo nggak konfirmasi lagi sih, jadi gue salah paham. Sori deh.”
”Elo kira gue ngedeketin nyokab lo karena gue suka sama lo, gitu? Jangan GR ya!” kata Andhita sama dinginnya. ”Oh ya, gue dengar elo pernah punya cewek, kenapa sekarang udah nggak lagi? Mungkin mantan lo itu udah enek kali yah sama sikap lo yang egois itu, jadi dia minta putus!”
Ciitt!! Tiba-tiba Rendy ngerem mendadak. Andhita kaget. Lalu dia melihat seekor kucing hitam menyebrang jalan di depan mobil Rendy.
“Kucing gila!!” seru Rendy.
Wajah Andhita langsung pucat. Rendy marah gara-gara kucing itu, apa gara-gara ucapannya yang keterlaluan barusan?
“Turun sekarang!” perintah Rendy tanpa menatap Andhita sedikit pun.
Andhita menatap Rendy nggak percaya. Dia turun dari mobil Rendy tanpa mengatakan apapun. Dia menyetop taksi yang kebetulan lewat di depannya. Entah mengapa rasanya dia ingin menangis sekeras-kerasnya. Dia nggak abis pikir Rendy bakalan ngelakuin hal seperti itu. Bahkan dia sampai kehabisan kata-kata.
Saat taksi yang ditumpanginya jalan, dia melihat ke belakang, dan mendapati mobil Rendy yang masih terpaku disitu. Dia kembali melihat ke depan. Pipinya terasa hangat. Dia menangis. Entah emosi apa yang dirasakannya.
***
Rendy berjalan ke kantin dengan pandangan kosong dan pikiran penuh. Belum pernah ada cewek yang begitu menyita perhatiannya seperti Andhita. Cewek itu benar-benar membuatnya penasaran. Selama ini banyak cewek yang suka padanya dan mengejar-ngejarnya terus. Andhita bukan tipe cewek seperti itu. Dia selalu ketus padanya. Apalagi dia menyinggung-nyinggung soal Grey tadi malam. Dari mana dia tahu soal Grey? Pasti Bebby. Adiknya itu emang nggak bisa jaga mulut.
Dari tadi pagi dia belum melihat Andhita sama sekali. Apa yang dia pikirkan sampai tadi malam senekat itu mengusir Andhita keluar dari mobilnya. Dia ingin sekali bertemu dengannya pagi ini. Ingin meminta maaf atas apa yang sudah dilakukannya. Tapi apa Andhita mau memaafkannya. Dia sangat menyesal, karena dia sadar perlakuannya sangat kasar.
Dash! Sebuah batu yang ada di lantai jadi sasaran tendangan sepatu Rendy. Sudah lama dia nggak ingat sama Grey. Kenapa dia sekarang membayangkan cewek itu lagi? Susah payah dia pindah ke Jakarta supaya bisa memulai lembaran baru lagi. Sekarang dia malah kembali ke titik awal, saat...
”Dorr!” suara orang yang mengagetkannya daribelakang membuat Rendy terlonjak. Hamper saja dia memaki-maki. Tapi dia menoleh dan melihat Putri, tersenyum manis ke arahnya. Rendy pun balas tersenyum.
”Halo Put! Ngagetin aja!”
”Hai juga. Abis gue liat elo jalan sambil bengong. Nanti kayak ayam tetangga gue lho. Kebanyakan bengong, eh malah mati besoknya. Kasihan kan makhluk-makhluk yang suka bengong?” melihat Rendy bengong lagi, Putri langsung menambahkan, “Nggak deh, bercanda! Lo kok jadi tambah bengong gitu sih?” Putri menumpangkan tangannya ke bahu Rendy, sok akrab, walau agak susah soalnya tinggi Rendy jauh di atas Putri. “Udah makan belom?”
“Kalau gue kearah kantin, ya berarti gue belom makan. Masa gue mau pipis di kantin.” Ujar rendy diplomatis.
“Oke, gue juga laper nih. Yuk, makan bareng aja.” Ujar Putri senang.
Putri memesan nasi goreng dan teh botol. Sementara Rendy membeli nasi campur dan es buah langganannya. Mereka duduk berdua di antara puluhan anak lainnya yang memenuhi kantin saat istirahat.
”Menurut lo, suara vocal group kita tuh udah bagus belom?” Tanya Putri membuka percakapan.
“Udah, cuma suara Andhita suka fals tuh. Tapi kalau banyak latihan, gue yakin itu bisa diatasi.” kata Rendy sambil mengangkat ayam gorengnya dan menggigitnya.
Putri tertawa. ”Ternyata elo suka mengkrititik Andhita juga. Tau nggak, gue pikir antara elo dan Andhita ada sesuatu. Soalnya kalian gontok-gontokan terus sih.”
”Nggak ada apa-apa kok,” kilah Rendy. ”Oh ya, gue pengen nanya. Andhita itu jutek juga ya? Sikap dia begitu sama semua cowok, apa sama gue doang ya? Dia udah punya pacar belom?”
”Andhita? Jutek? Nggak lagi. Dia tuh baik kok. Cuma gue emang bingung sih, kenapa dia bisa jutek sama lo. Pacar? Belom tuh kayaknya. Tapi kalau gebetan, kayaknya ada.”
“Siapa?”
“Kok lo penasaran banget sih? Jangan-jangan lo suka ya sama Andhita?”
”Siapa bilang?” kata Rendy sambil makan es buah dengan sok cuek. ”Gue cuma penasaran aja, apa ada cowok yang mau sama cewek jutek kayak dia?”
”Andhita tuh suka sama ketua OSIS yang namanya Adit, tapi nggak ada tanggapan apa-apa dari cowok itu. Abis, kalau Andhita-nya nggak terus terang, orangnya juga nggak bakal tahu kan?”
”Oh...begitu.” Rendy mengangguk-angguk. Dia kenal Adit. Cowok cakep, keren, dan pendiam. Rupanya Andhita suka tipe cowok yang kayak gitu.
“Iya. Kalau cowok yang suka sama andhita sih itu sebenarnya banyak, tapi nggak pernah ditanggapi sama dia. Kalau ada yang ngedeketin, Andhita langsung bilang dia cuma suka cowok itu jadi sahabatnya. Gitu deh. Jadi Andhita masih ngejomblo sampai sekarang. Belum pernah pacaran!”
Rendy bengong dan mengangguk-angguk.
Bel berbunyi, mereka udah selesai makan. Rendy dan Putri berjalan bareng menuju kelas masing-masing, tanpa mengetahui ada sepasang mata yang memerhatikan mereka.
***
Lovable (part 6)
Pengumuman Misterius
Setibanya di sekolah, Andhita bingung melihat teman-temannya memperhatikannya sambil berbisik-bisik. Tatapan mereka aneh. Andhita sampai mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya untuk melihat apakah penampilannya ada yang aneh atau lain dari biasanya. Tapi biasa-biasa saja kok, nggak ada yang aneh. Rambutnya memang hari ini dikuncir dua, tapi sah-sah saja kan? Kalau memang dikuncir dua jadi kelihatan aneh dan sok imut, besok dia nggak mau dikuncir dua lagi.
Tapi tatapan-tatapan itu terus berlangsung sepanjang jalan. Dia jadi bertanya-tanya. Apa karena gaya jalannya yang terpincang-pincang? Tapi sejak bangun tidur tadi pagi, kakinya sudah tidak terlalu parah kok. Dia nyaris bisa berjalan seperti biasa.
Ketika tiba di kelasnya, teman-temannya sedang mengerumuni papan tulis. Andhita bingung. ”Ada apa sih?” tanyanya pada Anya, teman sebangkunya.
Anya tampak salah tingkah. Dia berkata, ”Liat aja sendiri Dhit... elo mesti ngeliat sendiri deh.”
Andhita semakin bingung. Dia menguak kerumunan temannya dan melihat papan tulis yang penuh tulisan itu.
”Andhita sudah dijodohkan dengan pemuda pilihan orang tuanya. Tidak ada yang boleh mengganggunya, karena sebentar lagi dia akan bertunangan,” gumam Andhita membaca tulisan di papan tulis.
”Dhita, emangnya benar elo udah dijodohin?” kata salah seorang temannya.
Andhita tidak menjawab dan langsung menghapus tulisan di papan tulis. Apa-apaan sih? Siapa yang melakukan semua ini? Gerutunya.
”Emangnya elo udah ditunangin Dhit? Jangan-jangan lulus sekolah lo bakalan langsung dikawinin lagi.” timpal yang lainnya, membuat teman-teman sekelasnya tertawa.
Andhita cemberut gusar.
”Siapa sih yang nulis ini?!” serunya.
“Nggak tahu. Lala yang dating paling pagi juga bilang, waktu dia nyampe, tulisan ini udah ada. Oh ya, nggak cuma di kelas kita doang. Tulisan ini juga ditempel di papan pengumuman!” ujar Anya sambil mesem-mesem.
”Apa??!!”
***
Andhita merobek selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman. Boro-boro modal pake komputer, tulisannya tulisan tangan! Ditulis besar-besar dengan spidol. Semua orang memerhatikan Andhita. Bahkan yang nggak kenal sekalipun. Mereka menunjuk-nunjuk Andhita. Mungkin mereka pada bilang, ”Itu tuh yang namanya Andhita. Nggak nyangka ya, cakep-cakep ternyata mau aja dijodohin. Nggak laku-laku kali!” tentu saja itu cuma pikian Andhita sendiri, tapi cukup membuatnya frustasi. Dia langsung mencari Putri di kelasnya.
”Put!”
Putri menoleh dan memandang Andhita dengan salah tingkah. Andhita langsung tahu, sahabatnya itu pasti juga sudah mambaca pengumuman itu. Berarti semua orang sudah tahu dong?
”Elo udah baca tulisan yang dipasang di papan pengumuman?” tanya Andhita.
”Di papan pengumuman? Tapi malah tadi gue baca di depan kamar mandi cewek.” kata Putri.
Apa? Di kamar mandi cewek juga? Orang itu benar-benar sakit!
“Emangnya benar elo dijodohin, Dhit?” Tanya Putri berbisik.
“Duh… sekarang masalahnya bukan itu. Sekarang itu, gue mau tahu siapa yang ngelakuin semua ini ke gue? Siapa yang nulis dan nempelin semua ini di mana-mana?”
Putri melirik Andhita yang duduk di bangkunya.
”Udah, duduk dulu deh. Yang di kamar mandi cewek udah gue copot kok tadi.”
Andhita menghela napas panjang. Tapi kemudian...”Gimana dong?” keluhnya. Malu-maluin aja. Sekarang dia yang cuma cewek biasa-biasa aja di sekolah jadi sorotan dan bahan gosip.
”Emangnya soal dijodohin itu benar Dhit?” Tanya Putri.
Andhita mengangguk pelan.
”Dijodohin sih sebenarnya nggak salah, tapi kalau sampai disebarin ke orang-orang, ini benar-benar keterlaluan!” ujar Putri.
Tiba-tiba tangis Andhita pecah. Dia menelungkupkan wajahnya di meja. ”Gue malu banget.” katanya. Dia lalu teringat sesuatu, Rendy sudah tahu tentang masalah perjodohan ini. Apa cowok itu yang melakukan ini semua?
Andhita mengangkat kepala dan tiba-tiba berseru, ”Rendy!!”
”Rendy??” tanya Putri bingung.
”Pasti dia yang melakukan ini semua! Soalnya cuma dia yang tahu kalau gue dijodohin.”
”Dia tahu?” tanya Putri lagi. ”Kok gue nggak tahu, tapi dia bisa tahu? Kok elo nggak ngasih tahu gue? Elo udah nggak percaya lagi sama gue Dhit?”
”Sekarang jangan mikirin itu dulu deh. Gimana dong? Gue harus gimana? Gue mestinya marah kan?” Tanya Andhita.
Putri mengangguk-angguk. “Kalo memang benar dia orangnya, elo berhak marah kok. Tapi sebaiknya kita cari aja dulu orangnya.”
Kriing!! Bel masuk berbunyi.
“Nggak usah. Kalau gue nyari dia sekarang, selain udah nggak keburu karena udah bel, gue juga malu diliatin orang. Mending nanti aja, pulang sekolah pas latihan.”
“Oke deh. Biar bagaimana juga, gue pasti dukung elo. Kalau perlu kita oecat dia.” Tegas Putri.
“Thanks.” Kata Andhita pelan.
***
Pulang sekolah, Andhita buru-buru pergi ke aula sekolah sebelum yang lainnya datang. Dia benar-benar kesal. Hari ini tidak secuil pun pelajaran yang masuk ke kepalanya. Bahkan dia yakin pasti dapat nilai merah untuk ulangan sejarah tadi. Semua yang dipelajarinya kemarin lenyap entah ke mana gara-gara terlalu kesal memikirkan masalah ini.
Ini pasti ulah Rendy. Cuma cowok itu yang tahu masalah perjodohan ini. Apa sih maksudnya? Kalau ini maksudnya untuk menarik perhatian, jelas bukan perhatian yang dia dapatkan, melainkan kebencian Andhita yang meluap-luap.
Tak lama kemudian, ketiga temannya datang disusul Rendy di belakang mereka. Andhita langsung mendekati cowok itu.
”Heh, kenapa sih elo melakukan semua ini? Kenapa elo ngebocorin rahasia gue ke seluruh sekolah?” tuntut Andhita marah.
Rendy menatapnya dengan pendangan bingung. “Rahasia apa? Gue melakukan apa?” tanyanya.
”Jangan berlagak bego deh! Tau gak lo, gue nggak suka diperlakukan begitu, tau! Gue emang senang bercanda, tapi yang wajar-wajar aja dong. Jangan keterlaluan!” ujar Andhita berapi-api.
“Andhita, lo apa-apaan sih?” Rendy menatap yang lain untuk meminta bantuan, tapi yang lain hanya menunduk.
Akhirnya Putri berkata, ”Emang lo belum tau kalau satu sekolah sekarang udah pada tahu Andhita bakalan dijodohin bokap nyokabnya?”
Rendy terkejut. ”Oh ya? Gue kira cuma gue yang tahu...”
Keyra menyela, “Di papan tulisbeberapa kelas, di papan pengumuman, di depan kamar mandi cewek dan cowok, di pohon besar dekat lapangan upacara. Nah, kata Andhita cuma elo satu-satunya yang tahu. Bahkan kita bertiga aja nggak tahu. Kalau begitu...”
”Jadi kalian berempat nuduh gue nih?” Rendy tampak marah.
”Habis siapa lagi?!” bentak Andhita.
Di pohon besar dekat lapangan upacara? Oh my God! Tempat itu kan selalu dilewati para guru kalau mau menuju ke ruang guru! Malu-maluin nih! Jangan-jangan masih ada tempat lain yang belum diketahui Andhita. Memikirkan itu membuat Andhita ingin berteriak dan mencakar Rendy.
”Gue... gue nggak pernah nempelin pengumuman apa pun. Lagian juga, emangnya gue tipe orang seperti itu? Itu cuma kerjaan orang gila! Emangnya elo pikir orang gila yang nggak punya kerjaan?” kata Rendy.
Putri mulai melunak mendengar bantahan cowok itu. “Bener nih, bukan elo yang nulis?”
“Bukan!” tegas Rendy. “Begini aja, giar gue yang nyari tahu siapa pelakunya buat ngebuktiin kalau gue benar-benar nggak bersalah dalam hal ini!”
Putri menatap Andhita, tapi Andhita diam saja. Jelas cewek itu masih merasa Rendy-lah pelakunya.
”Ya udah, persoalan ini kita selesaikan lagi nanti. Sekarang labih baik kita latihan dulu!”
Andhita melotot. Tadi katanya Putri mau mecat...
Putri tahu perasaan Andhita. Dia berkata, ”Urusan pribadi jangan dicampuradukkan dengan vocal grup kita. Jangan kuatir, nanti akan gue selidiki lagi.”
Andhita merengut. Dia masih belum puas. Tapi apa boleh buat. Kata-kata Putri tadi benar, tapi satu yang pasti, dia benci luar biasa pada Rendy. Dalam hati dia berjanji, selamanya takkan berbicara lagi dengan cowok itu!
Tapi rupanya perasaannya saat itu memengaruhi kualitas menyanyinya. Atau karena dia tidak latihan satu kali, entahlah. Berkali-kali Andhita fals dan tidak mampu menyanyikan suatu nada dengan tepat.
”Tolong suara duanya ya! Itu do, bukannya si. Beda setengah nada sama saja dengan fals, tau? Fals itu artinya sumbang, in case elo nggak tahu artinya.” Sela Rendy menyebalkan di tengah-tengah latihan dengan tatapan tertuju pada Andhita.
Andhita mengatupkan bibirnya. Dia ingin membalas ucapan Rendy, tapi teringat dengan janjinya bahwa dia tidak akan pernah lagi mengajak cowok itu bicara. Semuanya hanya memandang mereka berdua dengan bingung. Suasana tegang mengambang di udara.
Ketika selesai latihan, Rendy mendekati Andhita. ”Benar Dhit. Bukan gue yang nyebarin berita itu.” Katanya sungguh-sungguh.
Andhita diam saja. Mana bisa dia percaya jika satu-satunya tersangka adalah Rendy. Lagipula, terbongkarnya rahasia perjodohan ini hanya selang beberapa jam setelah Rendy ke rumahnya. Itu mempersempit tersangka kan? Anyway, tersangkanya memang hanya ada satu.
”Masalah ini juga jangan sampai ngeganggu konsentrasi nyanyi lo, Dhit. Elo mikir deh pake akal sehat, buat apa gue melakukan semua ini? Apa untungnya gue ngasih tahu semua orang kalau elo udah dijodohin? Lagi pula tadi pagi kan gue datangnya terlambat. Jadi, lo jelas kan, gue nggak punya motif dan kesempatan.” tutur Rendy.
Andhita tetap mengatupkan mulutnya walau dia sudah gatal ingin mengatakan bahwa dia nggak percaya sama sekali dengan ucapanya. Apalagi sejak awal dia sama sekali nggak mengerti kenaa dia selalu bentrok dengan cowok ini. Dan bila melihat keseluruhan kejadiannya, itu bukan berasal dari dirinya, melainkan karena sifat buruk cowok ini.
Rendy menepuk bahu Andhita dan tersenyum sinis. ”Udah deh. Yang iseng melakukannya mungkin orang gila, dan sayangnya orang gila itu bukan gue. Elo bukan tipe gue, jadi gue nggak punya motif buat ngisengin elo.” katanya nyantai.
Andhita melotot, tapi cowok itu segera berlalu dari hadapannya.
***
Dua hari itu Andhita terpaksa bersembunyi di kelasnya karena dia mendadak menjadi selebriti sekolah. Untungnya ketiga temannya baik-baik. Selama istirahat pertama dan kedua mereka bergantian membawakan makanan untuk Andhita. Biar Andhita nggak kelaparan, begitu kata mereka. Dan Andhita jadi senang, soalnya saat nggak ada masalah, dia pun belum tentu bisa makan tiap kali istirahat. Sekarang dia nggak perlu lagi takut kelaparan.
”Sebenarnya gimana sih asal muasalnya orangtua lo ngejodohin lo?” tanya Keyra.
”Ceritanya panjang. Sepertinya masalah utang budi gitu deh. Tapi mereka nggak maksa kok, cuma… ya... maksa juga sih.” ucap Andhita, teringat pada papanya yang memang sangat mengharapkan penanaman modal saham di perusahaannya itu. Toh orangtuanya juga nggak mengharapkan dia menikah dalam waktu dekat. Paling nggak enam tahun lagi, dan enam tahun waktu yang cukup lama. Apa saja bisa terjadi selama enam tahun kan?
“Bonyok lo kok tega banget sih? Jujur aja ya, kalau hal itu terjadi sama gue, gue pasti bakalan langsung nolak abis. Peduli amat dengan hutang budi atau apalah namanya. Terus cowok yang dijodohin ke elo itu...cakep nggak?” tanya Keyra.
”Boro-boro bisa tahu cakep apa nggak. Gue aja belom pernah liat kayak gimana orangnya. Dan gue baru dipertemukan sama dia ntar malam!” kata Andhita sambil mengunyah kacang dengan asik. Putri sudah melarang mereka minum es, gorengan, kacang, dan makanan berminyak sebelum malam kesenian, tapi tentu saja yang lain tidak berminta mematuhi perintah nggak jelas itu. Apalagi tentang anjuran air jeruk nipis dua sendok makan setiap pagi. Apa nggak erosi tuh tenggorokan? Nggak sekalian minum cuka!
“Jadi, elo belum pernah ketemu cowok itu?” Tanya Keyra kaget.
Andhita mengangguk. “Bokap-nyokab gue aja belum pernah ngeliat gimana orangnya.”
“Apa?!! Kalau orangnya jelek abis, gimana? Gimana kalau dia gendut? Atau idiot, atau norak bin kampungan?” ujar Keyra dengan wajah serius.
”Yang gue tahu sih orangtuanya kaya banget. Dan soal idiot itu, gue udah pernah tanya, dan kata bokap gue itu nggak mungkin. Dia seumuran gue dan kelasnya setingkat juga sama kita.”
Keyra cengengesan. ”Kaya? He he he… boleh juga tuh. Gue juga mau dong dijodohin sama anak orang kaya.”
Andhita menimpuk wajah Keyra dnegan bungkus kacang. “Dasar matre lo!”
***
Jadi malam itu, dengan gaun hitam yang sudah di-laundry kilat oleh mama dan rambut yang ditata rapi di salon serta wajah yang di-makeup tipis tapi manis, Andhita bersama kedua orangtuanya pergi ke pesta makan malam adik calon tunangannya, Bebby.
Andhita sudah menyiapkan hadiah ulang tahun berupa hiasan meja. Isinya cairan berwarna merah dan biru. Bila hiasan itu dibalikkan, cairannya akan turun. Andhita sendiri suka banget, jadi dia berharap lupa memberikan kado itu dan terbawa pulang lagi, jdi benda itu bisa dimilikinya. Hihihi… soalnya kalau dia yang minta, mamanya belum tentu mau membelikan.
”Kira-kira calon tunanganmu itu seperti apa ya? Mama jadi nggak sabar ingin segera ketemu calon mantu.” kata Mamanya.
”Eit, bukan calon mantu, catet itu! Andhita kan janji buat ketemu doang, bukan janji buat kawin sama dia.” ujar Andhita cepat.
“Papa sudah beberapa kali bertemu dengan Om Seno di kantornya, tapi belum pernah ketemu dengan anaknya. Sebenarnya Papa penasaran juga. Mana Papa nggak ingat sama sekali dengan nama anaknya. Dulu, kalau Papa lihat, waktu bayi dia manis juga. Saat itu Papa pikir gedenya pasti ganteng. Nggak tahu deh sekarang seperti apa.”
”Andhita waktu kecil gimana, Pa?” tanya Andhita penasaran.
”Uh, jelek banget! Kayak monyet. Tapi gedenya mendingan. Syukurlah!” timpal Mama seenak udel.
“Ehm… kalau begitu, anaknya Om Seno yang kecilnya cakep, gedenya jangan-jangan kayak gorilla.” Canda Andhita sambil memalingkan wajah menatap jalanan.
Sebenarnya dia gugup juga. Bayangkan, bertemu dengan keluarga orang yang akan dijodohkan dengannya. Pasti mereka akan memerhatikannya dan menilai-nilai dirinya. Hal itu sama sekali nggak enak.
Tak lama kemudian mereka tiba di kediaman keluarga Om Seno. Mereka diundang langsung ke rumah, menandakan keluarga Om Seno benar-benar ingin beramah-tamah secara dekat dengan keluarga Andhita.
”Ini yang namanya Andhita? Cantik sekali ya.” ujar seorang wanita seumur mama Andhita.
Andhita tersipu malu. Tadi di rumah ketika memandang cermin, dia merasa begitu juga sih. Cantik. Hehehe.
”Mana anak kamu? Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya. Dulu waktu bayi lucu sekali. Sekarang pasti ganteng.” ujar papa.
Tante Astrid, suami Om Seno tersenyum. ”dia sudah bilang akan pulang terlambat. Katanya mau beli senar gitar di Music Store. Biasa, anak muda. Lagi senang-senangnya main gitar.”
”Wah, bagus itu. Daripada nge-drugs atau melakukan hal-hal negative, lebih baik disalurkan ke musik atau olahraga. Anakmu itu pintar main gitar? Wah seperti saya dong.” Kata Papa sok tahu. Setahu Andhita sih di rumah memang ada gitar, tapi sudah ditaruh di gudang. Dan terakhir kali papa menyentuh gitar…Andhita nggak tahu deh. Yang pasti dia baru sekali melihat papanya main gitar, ketika sedang gandrung lagunya Ektreme – More Than Words. Papa langsung beli gitar dan coba-coba mengikuti chord yang ada di majalah, tapi nggak bisa-bisa. Kemudian gitar itu dibanting dan ujungnya retak, lalu pensiun di gudang. Apa itu yang disebut pintar main gitar?
“Wah, hebat. Seno sih tidak bisa main gitar, tapi dia menyuruh Rendy les musik sebanyak-banyaknya. Dan Rendy juga senang olahraga.” Sahut Tante Astrid sedikit bangga.
Siapa? Rendy? Kenapa harus bernama Rendy? Nama yang saat ini nggak mau dia ingat sama sekali. Ternyata calon tunangannya itu punya nama yang sama dengan cowok yang paling dia benci saat ini. Andhita benar-benar nggak suka situasi kayak gini.
Sesudahnya Tante Astrid mempersilahkan keluarga Andhita masuk ke ruang tamu. Ternyata di situ Om Seno sudah menunggu mereka.
”Hai, kalian sudah kutunggu dari tadi. Ayo duduk. Mau minum apa?” tanyanya.
”Apa saja.” kata Mama Andhita.
”Ini yang namanya Andhita? Wah, cantik sekali. Dulu waktu bayi wajah kamu nggak seperti ini lho. Tembem! Papa kamu malah bilang kamu kayak badut, soalnya kamu gendut! Hehehe…” kata Om Seno.
Andhita hanya bisa meringis mendengar kata-kata Om Seno. Bicaranya terus terang sekali. Bapaknya begini, apa sifat anaknya juga seperti ini ya? Mudah-mudahan si Rendy yang satu ini nggak terlalu cerewet seperti Rendy yang dia kenal. Soalnya cowok emang nggak pantes bawel kan? Kayak cewek aja, pikir Andhita.
Mereka disuguhi orange tea dan donat oleh Tante Astrid. Tak lama kemudian Bebby bergabung dengan mereka. Dia masih kelas 1 SMU, dan sangat cantik. Tubuhnya malah lebih tinggi beberapa senti dari Andhita. Wajahnya tampak tidak asing bagi Andhita. Entah dia pernah liat di mana.
“Beb, ini hadiah buat kamu. Kamu ulang tahun pas hari ini ya?” tanya Andhita.
”Nggak, kemarin tepatnya. Sebenarnya mau di rayain, tapi kata Mama tahun depan aja pas tujuh belas tahun.” katanya.
Rambut Bebby pendek sebahu dan wajahnya besih tanpa makeup. Dia memakai tank top hitam berhiaskan kilau permata di dadanya. Untuk bawahannya dia mengenakan rok hitam lapis tule yang sedang in saat ini. Di telinga kanannya terpasang anting-anting panjang berbentuk rantai sepanjang sepuluh senti dan tindikannya yang ada tiga buah dipasangi anting berlian sehingga penampilannya tampak funky. Rambutnya dicat warna kemerahan sehingga Andhita tidak tahan untuk bertanya.
“Kamu sekolah di mana?”
“Di SMU Pramita Kelapa Gading.”
”SMU Pramita? Berarti kita satu sekolah dong?” ujar Andhita kaget.
”Iya, Mama sama Papa juga udah ngasih tahu kalau kakak sekolah di sana.” ujar Bebby. ”Tapi aku kan baru sebulan sekolah di situ, pindahan dari surabaya, jadi mungkin kakak belum pernah melihat aku.”
Andhita lantas mendapat fiasat buruk. Wajah Bebby tampak tak asing. Dia mirip… “Rendy sekolah di mana?” Tanya Andhita lagi.
“Di SMU Pramita juga. Satu-satunya sekolah bagus dekat dengan Sunter ya di sana. Dia kelas dua, sama dengan kakak. Malah jangan-jangan kakak pernah ngeliat dia.”
”Apa? Kelas dua? Dua apa?” seru Andhita.
”Dua IPA, tapi nggak tahu IPA berapa.” kata Bebby.
Oh my God! Jangan-jangan...
“Aku pulang!” seru seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu. Andhita menoleh ke ambang pintu dan melihat… Rendy berdiri di situ! Andhita memandang papa dan mamanya yang tampak terkejut sama seperti dirinya. Berarti...
Suara Om Seno memecah kesunyian. “Ini Rendynya sudah pulang! Ayo beri salam pada Tante Anne dan Om Heru, Rendy!”
”Ini...Ini kan..yang waktu itu...” tanya Papa mengenali.
Andhita menjadi lemas seketika. Baginya ini benar-benar kabar buruk. Pantas saja dia seperti pernah melihat Bebby. Rupanya wajahnya mirip dengan Rendy. Ini benar-benar buruk!
Rendy tampak terkejut melihat kehadiran Andhita di situ, tapi tidak terlalu terkejut seperti keluarga Andhita melihatnya. Cowok itu tersenyum ragu pada Andhita dan kedua orangtua gadis itu, lalu permisi ke dalam.
”Aku masuk dulu ya Pa, Ma. Aku mau ganti baju dulu.” katanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Andhita. Andhita menduga Rendy sudah tahu, dialah yang akan dijodohkan dnegannya. Bebby juga tadi bilang, dia udah tahu Andhita sekolah di SMU Pramita. Kemungkinan besar Rendy sudah mencari tahu tentang dirinya. Kalau begitu curang dong? Nggak fair! Pantas waktu pertama kali ketemu dulu, Rendy menelitinya seperti orang mau beli kuda!
”Jangan lama-lama ya, Ren. Makan malam segera dimulai.” Kata Tante Astrid, mama Rendy.
”Oke ma!”
Sepeninggal Rendy, mama Andhita bertanya dengan bingung, ”Kalau begitu...sebenarnya Rendy sudah mengenal Andhita sebelumnya?”
“Ya betul. Katanya Rendy sudah kenal dengan Andhita kok di sekolah. Dasar bandel. Walau pertama-tamanya saya sengaja nggak ngasih tahu, dia memaksa juga. Dia ingin tahu nama lengkap andhita siapa, kelas berapa. Terpaksa deh Seno memberitahu. Tapi si Rendy juga nggak komentar apa-apa tuh. Berarti dia setuju dijodohkan.” kata Tante Astrid.
Andhita memegang kepalanya. Mati gue!
”Jadi...” sambil menatap putrinya, Mama andhita mulai bingung, ”Kamu juga udah tahu kalau cowok yang dijodohkan dengan kamu itu Rendy?”
”Andhita nggak tahu Ma.” jawab Andhita lemas.
”Lalu...kenapa dia bisa ke rumah kita?”tanya Mama lagi.
”Aduh, Andhita juga nggak tau Ma. Di sekolah aja Andhita sama dia...”
Andhita hampir saja keceplosan bahwa hubungannya dengan Rendy di sekolah tidak bisa dibilang baik. ”Andhita sama dia nggak sekelas Ma.”
”Jadi Rendy pernah ke rumah kak Heru?” tanya Tante Astrid kaget.
”Lho, ngapain dia kesana? dasar anak nggak tahu aturan.” kata Om Seno senyum-senyum bangga, sama sekali beda dengan kata-katanya. Pasti dia bangga karena anaknya dinilai berani, pikir Andhita sebal.
”Dia datang untuk melihat kaki Andhita yang terkilir. Saya pikir dia teman baiknya Andhita di sekolah.” kata Mama Andhita.
”Wah, ternyata anak kita tanpa dijodohkan pun sudah akrab ya?” ujar Tante Astrid senang.
”Ngapain kak Rendy pergi ke rumah Andhita? Apalagi dengan menutupi identitasnya. Bukannya itu nggak bagus, Pa?” sela Bebby.
”Aku bukan menutupi identitas, aku cuma nggak bilang. Itu dua hal yang berbeda, kan?” ujar Rendy yang tiba-tiba saja sudah bergabung dengan mereka. Dia sudah mengganti bajunya dengan kasu hitam lengan panjang yang keren. Pasti merek mahal, soalnya pas banget di tubuhnya yang tinggi dan atletis, pikir Andhita. Duh... Andhita, masih sempat-sempatnya kamu...
”Rendy, kamu pergi ke rumah Andhita kok nggak bilang-bilang sama Papa dan Mama? Bukannya kamu sudah janji nggak akan nemuiin Andhita sebelum dipertemukan?” tegur Tante Astrid.
Rendy hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang diberi gel hingga rambutnya yang pendek berdiri seperti landak.
”Aku ke sana bukannya dalam rangka perjodohan Ma. Aku dan Andhita terlibat dalam suatu acara di malam kesenian. Aku yang mengiringi Andhita menyanyi.” katanya.
Andhita melotot. Cerita Rendy seolah-olah mereka sedang berlatih untuk konser tunggal, di mana dia yang menyanyi seriosa solo dan Rendy yang menjadi pianisnya. Padahal mereka cuma bergabung di vocal grup, menyumbangkan satu lagu!
“Oh ya? Menarik sekali! Kalau begitu kalian itu sudah cocok banget, yang satu suka main musik, yang satunya lagi suka nyanyi. Bukan begitu Pa?” tanya Tante Astrid.
“Tapi…” mama Andhita terlihat bingung. “Saya waktu itu mungkin memberikan kesan yang tidak baik pada Rendy karena telah mengusirnya secara halus.”
“Ah, nggak apa-apa kok Tante. Waktu itu kan Tante bilang supaya aku tidak mendekati Andhita karena Andhita udah dijodohkan dengan seseorang. Berarti Tante sudah mendukung aku dong?” kata Rendy menyebalkan.
Oh God! Keluh Andhita. Lengkap sudah kekesalannya pada cowok sok tahu dan sok cakep bin bawel ini.
“Berarti benar elo yang nyebarin berita di sekolah kalau gue udah dijodohin?” Tanya Andhita setengah berbisik pada cowok di sampingnya itu.
“Nggak. Kan gue udah bilang sama lo, bukan gue yang nyebarin gosip murahan kayak gitu!” elak Rendy.
“Gosip udah dijodohin? Itu nggak baik buat Andhita dong. Dia kan bisa malu.” timpal Tante Astrid.
”Iya Ma. Aku juga ngeliat selebaran itu ditempel di kantin. Cuma aku nggak tahu kalau Andhita yang dimaksud ya Kak Andhita.” kata Bebby.
Oh-oh! Di kantin juga? Astaga!
”Siapa yang membuat gosip itu Ren?” Tanya Om Seno serius.
“Bukan aku Pa, sumpah! Nanti akan Rendy selidiki deh.”
”Kamu harus nyelidikin ini baik-baik. Pokoknya, kalau kamu sampai mempermalukan Andhita, berarti kamu juga mempermalukan Papa di depan Om Heru.” kata om Seno.
”Oke Pa.” jawab Rendy.
Mereka lalu mulai makan malam. Meskipun yang tersaji adalah makanan restoran terkemuka dan rasanya sangat enak, Andhita hampir tak bisa menelannya. Pikirannya terus dipenuhi oleh kenyataan bahwa Rendy-lah ternyata yang dijodohkan dengannya. Tapi dia sudah terlanjur menilai negatif cowok itu, bagaimana dong? Tadinya dia berpikir, setidaknya dia bisa menjalin hubungan persahabatan lebih dulu dengan calon tunangannya itu. Tapi kini, setelah tahu bahwa Rendy adalah calon tunangannya, dia pun menjadi muak. Lagi pula dia sudah berjanji nggak akan pernah mengajak cowok itu berbicara lagi.
”Rendy, jadi rupanya kamu sudah menyelidiki keberadaan Andhita di sekolah tanpa Andhita sadari?” tanya Papa Andhita dengan raut muka ramah. Lain banget dengan waktu Rendy datang ke rumah beberapa hari yang lalu. Dengan raut muka sok wibawa dan segala deheman yang menyeramkan itu, tingkah laku Papa bagaikan Sherlock holmes menyelidiki kasus penting.
“Iya Om. Aku jadi ngerasa bersalah. Tapi sebenarnya pertemuan aku sama Andhita memang nggak disengaja Om. Andhita yang menghubungi aku untuk mengiringi vocal grupnya.”
“Benar-benar jodoh ya?” timpal mama.
Andhita memutar bola matanya. Duh, mama please dong! Jangan memihak Rendy terus! Anakmu nih… anakmu bagaimana?
“Kok kamu dari tadi Tante perhatikan diam saja Andhita? Apa kamu nggak senang mendapati kenyataan kamu sudah mengenal Rendy di sekolah?” Tanya Tante Astrid.
Andhita tersentak. Daging yang ditelannya menyangkut ke kerongkongan hingga dia tersedak. Dengan wajah membiru dia menunjuk-nunjuk ke kerongkongannya. Rendy yang duduk di sebelahnya langsung menariknya berdiri. Cowok itu melingkarkan tanganny di pinggang Andhita dan sekuat tenaga menyentakkan tubuh Andhita. Sang daging terkutuk itu keluar dan jatuh ke lantai. Memalukan! Lengkap sudah gue dipermalukan malam ini, desah Andhita dalam hati tak berdaya.
Semua yang ada di ruangan itu tampak panik.
”Ya ampun... untung ada Rendy...” desah Mama sambil mengusap-usap punggung Andhita sementara putrinya itu minum segelas air yang diberikan Rendy.
”Ya, untuk itulah seorang pria diciptakan. Untuk menjaga wanita. Betul kan Pa?” ujar Tante Astrid.
Andhita berusaha menahan sabar dengan menyesap air putihnya pelan-pelan. Rasanya malu banget. Apalagi daging yang dimuntahkannya meninggalkan noda di bajunya. Kenapa gue harus mengalami hal kayak gini sih?
”Makannya pelan-pelan aja Dhit.” kata Papa bikin Andhita tambah malu aja.
”Andhita... lanjutkan lagi makannya ya. Nanti setelah makan, kami mau menunjukkan foto-foto keluarga kami pada kalian.” kata Om Seno.
Mereka pun melanjutkan makan lagi. Kali ini tanpa terlalu banyak bicara. Mungkin semuanya jadi takut tersedak kayak Andhita.
Sehabis makan, sambil menikmati secangkir wedang jahe dan puding buah, tante Astrid menggelar foto-foto keluarga. Andhita duduk di karpet tanpa menaruh minat sedikit pun pada foto-foto itu.
”Lihat, ini Rendy waktu masih bayi. Karena keringetan terus, maka waktu difoto dia lagi telanjang.” kata Om Seno.
”Oh lucunya.” komentar Mama.
Andhita melirik sedikit dan tanpa sadar tersenyum. Rasain, memangnya enak dipermalukan?
Tiba-tiba terdengar denting gitar. Andhita melirik Rendy yang duduk di sebelahnya. Cowok itu sedang menyetem senar. Ah, biasa… pasti lagi pamer. Mau nunjukin kalau dia itu bisa segala macam jenis musik. Tapi melihat keahlian dan kecepatannya mengganti senar, mau tak mau Andhita kagum juga. Padahal sebelum melihat ini Andhita bahkan tidak ahu kalau ternyata senar gitar itu bisa diganti. Soalnya senar gitar Papa pernah putus dan Papa pasrah main gitar dengan lima senar. Tentu saja sebelum menyerah dan membanting gitarnya.
“Kenapa elo nggak pernah bilang kalau elo yang dijodohin sama gue?” bisik Andhita sedikit marah. Selagi kedua orangtua mereka sedang sibuk melihat foto, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk melabrak cowok berengsek di sebelahnya. Bebby sudah permisi ke kamarnya karena ada janji chatting di internet dengan teman-temannya.
”Elo kan nggak pernah nanya.” sahut Rendy santai.
”Elo ini...” geram Andhita. ”Kalau begitu, kenapa elo nyelidikin gue? Apa elo senang dengan perjodohan ini?”
Tanpa melirik, Rendy balas berbisik. ”Jangan GR! Kan gue udah pernah bilang sama lo, elo itu bukan tipe gue.”
Andhita makin kesal. ”Tapi...” suaranya meninggi. Namun ketika dilihatnya keempat orang dewasa di ruangan itu sedang memandangnya, dia jadi salah tingkah.
Tiba-tiba Rendy berdiri. ”Pa, Ma kami permisi dulu. Andhita mau melihat kolam renang dan kebun belakang.” katanya sambil menarik tangan Andhita.
”Oh ya, baguslah. Kalian memang buuh waktu untuk saling mengenal.” Kata Tante Astrid. Sekarang Andhita tahu mengapa Rendy begitu bawel. Mama dan Papanya juga sama-sama bawel sih.
Andhita sama sekali tidak menolak saat Rendy menarik tangannya menuju belakang rumah, tapi ketika orangtua mereka tidak melihat mereka lagi, Andhita langsung menarik tangannya.
“Gue bisa jalan sendiri.” Katanya ketus.
Rendy tidak menjawab. Dia mengajak Andhita ke kolam renang besar di belakang rumah. Diam-diam Andhita kagum juga. Rumah ini benar-benar mewah. Pekerjaan Papanya Rendy apa sih sampai bisa sekaya ini? Pantas saja Papa begitu ingin mendapatkan partner perusahaan seperti Om Seno. Mungkin dia ingin perusahaannya sukses seperti perusahaan Om Seno.
”Jangan GR. Gue ngajak elo ke sini sama sekali bukan karena mau lebih kenal sama lo. Karena yang gue liat, elo itu cewek yang sama sekali nggak bisa menutupi perasaan. Gue rasa gue udah cukup mengenal lo.” kata Rendy ketika mereka udah tiba di bangku santai pinggir kolam.
Dia mempersilahkan Andhita duduk di situ dengan gerakan tangannya. Andhita terpaksa menurut.
”Gue nggak GR!” Andhita merenggut.
”Tuh kan...”
Andhita melotot. ”Kenapa elo mau menyelidiki gue tanpa gue tahu siapa elo sebenarnya di sekolah?” tanyanya.
”Udah gue bilang, gue cuma mau tahu aja.”
“Dan setelah lo tahu? Lo kecewa?”
Rendy tertawa. “Bukan soal kecewa atau nggak. Gue cuma pengen tahu aja. Jangan banyak menduga yang nggak-nggak dong. Elo kan belum kenal gue dengan baik.”
“Kalau begitu, kenapa elo nggak marah dijodohin sama bonyok lo? Gue sendiri benar-benar nggak setuju sama perjodohan ini.” kata Andhita.
Rendy mendekatkan tubuhnya ke tubuh Andhita sehingga Andhita bisa mencium aroma parfum cowok itu. Andhita langsung mundur sedikit, perasaan deg-degan tiba-tiba menerpanya. Hei ingat! Jagalah hati! Jangan menangkap pesona yang ditebarkan cowok ini. Ayo pasang berikade. Seperti atmosfer yang menyelubungi bumi, benak Andhita memperingatkan.
“Sebenarnya gue ngajak elo ke sini untuk merundingkan sesuatu.” Bisik Rendy.
“Me…rundingkan apa?” kata Andhita dengan suara sedikit bergetar.
“Begini… sebenarnya gue juga nggak setuju dengan perjodohan ini. Tapi elo liat sendiri kan seperti apa kedua orangtua gue?”
Andhita mengangguk-angguk bloon sambil memerhatikan wajah Rendy yang cukup dekat dengannya. Ada apa sih dengan dirinya? Kok tiba-tiba jadi jengah begini?
”Mereka sangat antusias dengan perjodohan ini, entah kenapa. Dan gue nggak bisa bilang gue nggak mau gitu aja. Makanya gue minta data-data lo dan nyelidikin elo di sekolah. Sebenarnya waktu kamis kemarin gue mau bilang, tapi elo kan udah marah duluan soal selebaran itu, jadi nggak jadi deh.”
”Jadi...maksud lo... elo lagi nyusun rencana?”
”Yup!” Rendy mengangguk mantap. ”Gue rasa langsung menolak juga nggak ada gunanya. Jadi lebih baik kita pura-pura nerima aja.”
“Pura-pura nerima gimana?”
”Iya. Elo tahu kan, gimana jadinya kalau gue langsung nolak dan kita terlihat nggak saling menyukai?”
”Apa?”
”Nyokab gue tukang maksa. Dia paling ahli memaksakan pandapatnya dengan cara pelan-pelan. Jadi percuma aja nolak. Lebih baik kita terlihat saling suka.”
”Saling suka?”
”Ya. Kalau nggak, dia pasti bakalan nyuruh kita lebih sering ketemu. Elo bakalan sering diundang ke rumah gue satu atau dua kali seminggu. Elo mau?”
Satu atau dua kali seminggu? Apa-apaan nih? Andhita mulai cemas.
”Nggak!”
”Makanya, nurut aja sama apa yang gue bilang. Gue liat elo cewek yang cukup punya akal sehat. Untung deh. Coba kalau cewek yang lemot, bolot, atau telmi, rada susah juga.” Kata Rendy meyakinkan.
Andhita jadi mengangguk-angguk seperti orang bego. Kurang ajar juga nih. Kelihatannya gue lagi dibego-begoin sama dia.
”Jadi bagaimana?” tanya Andhita.
”Untuk sementara, kita berdua berlagak nerima aja. Urusan selanjutnya kita lihat keadaan dulu, jelas nggak?”
”Terus, masalah pengumuman di sekolah gimana?”
”Sedang gue selidiki. Lagian juga sekarang orang-orang belum pada tahu kalau gue yang dijodohin sama lo kan?”
”Iya, tapi kan...” Andhita mau bilang kalau ini berarti enak di Rendy, nggak enak di dia.
”Ya udah, sabar aja. Orang sabar disayang Tuhan, oke?” cowok itu menepuk-nepuk pundak Andhita.
Rendy kembali mengajak Andhita ke ruang tengah. Pembicaraan mereka selesai, tapi bukan berarti masalah ini sudah selesai. Andhita mendapatkan firasat buruk bahwa ini semua tidak akan berjalan dengan mulus. Rencana Rendy, juga yang lainnya, sama sekali tidak akan mudah.
***
Setibanya di sekolah, Andhita bingung melihat teman-temannya memperhatikannya sambil berbisik-bisik. Tatapan mereka aneh. Andhita sampai mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya untuk melihat apakah penampilannya ada yang aneh atau lain dari biasanya. Tapi biasa-biasa saja kok, nggak ada yang aneh. Rambutnya memang hari ini dikuncir dua, tapi sah-sah saja kan? Kalau memang dikuncir dua jadi kelihatan aneh dan sok imut, besok dia nggak mau dikuncir dua lagi.
Tapi tatapan-tatapan itu terus berlangsung sepanjang jalan. Dia jadi bertanya-tanya. Apa karena gaya jalannya yang terpincang-pincang? Tapi sejak bangun tidur tadi pagi, kakinya sudah tidak terlalu parah kok. Dia nyaris bisa berjalan seperti biasa.
Ketika tiba di kelasnya, teman-temannya sedang mengerumuni papan tulis. Andhita bingung. ”Ada apa sih?” tanyanya pada Anya, teman sebangkunya.
Anya tampak salah tingkah. Dia berkata, ”Liat aja sendiri Dhit... elo mesti ngeliat sendiri deh.”
Andhita semakin bingung. Dia menguak kerumunan temannya dan melihat papan tulis yang penuh tulisan itu.
”Andhita sudah dijodohkan dengan pemuda pilihan orang tuanya. Tidak ada yang boleh mengganggunya, karena sebentar lagi dia akan bertunangan,” gumam Andhita membaca tulisan di papan tulis.
”Dhita, emangnya benar elo udah dijodohin?” kata salah seorang temannya.
Andhita tidak menjawab dan langsung menghapus tulisan di papan tulis. Apa-apaan sih? Siapa yang melakukan semua ini? Gerutunya.
”Emangnya elo udah ditunangin Dhit? Jangan-jangan lulus sekolah lo bakalan langsung dikawinin lagi.” timpal yang lainnya, membuat teman-teman sekelasnya tertawa.
Andhita cemberut gusar.
”Siapa sih yang nulis ini?!” serunya.
“Nggak tahu. Lala yang dating paling pagi juga bilang, waktu dia nyampe, tulisan ini udah ada. Oh ya, nggak cuma di kelas kita doang. Tulisan ini juga ditempel di papan pengumuman!” ujar Anya sambil mesem-mesem.
”Apa??!!”
***
Andhita merobek selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman. Boro-boro modal pake komputer, tulisannya tulisan tangan! Ditulis besar-besar dengan spidol. Semua orang memerhatikan Andhita. Bahkan yang nggak kenal sekalipun. Mereka menunjuk-nunjuk Andhita. Mungkin mereka pada bilang, ”Itu tuh yang namanya Andhita. Nggak nyangka ya, cakep-cakep ternyata mau aja dijodohin. Nggak laku-laku kali!” tentu saja itu cuma pikian Andhita sendiri, tapi cukup membuatnya frustasi. Dia langsung mencari Putri di kelasnya.
”Put!”
Putri menoleh dan memandang Andhita dengan salah tingkah. Andhita langsung tahu, sahabatnya itu pasti juga sudah mambaca pengumuman itu. Berarti semua orang sudah tahu dong?
”Elo udah baca tulisan yang dipasang di papan pengumuman?” tanya Andhita.
”Di papan pengumuman? Tapi malah tadi gue baca di depan kamar mandi cewek.” kata Putri.
Apa? Di kamar mandi cewek juga? Orang itu benar-benar sakit!
“Emangnya benar elo dijodohin, Dhit?” Tanya Putri berbisik.
“Duh… sekarang masalahnya bukan itu. Sekarang itu, gue mau tahu siapa yang ngelakuin semua ini ke gue? Siapa yang nulis dan nempelin semua ini di mana-mana?”
Putri melirik Andhita yang duduk di bangkunya.
”Udah, duduk dulu deh. Yang di kamar mandi cewek udah gue copot kok tadi.”
Andhita menghela napas panjang. Tapi kemudian...”Gimana dong?” keluhnya. Malu-maluin aja. Sekarang dia yang cuma cewek biasa-biasa aja di sekolah jadi sorotan dan bahan gosip.
”Emangnya soal dijodohin itu benar Dhit?” Tanya Putri.
Andhita mengangguk pelan.
”Dijodohin sih sebenarnya nggak salah, tapi kalau sampai disebarin ke orang-orang, ini benar-benar keterlaluan!” ujar Putri.
Tiba-tiba tangis Andhita pecah. Dia menelungkupkan wajahnya di meja. ”Gue malu banget.” katanya. Dia lalu teringat sesuatu, Rendy sudah tahu tentang masalah perjodohan ini. Apa cowok itu yang melakukan ini semua?
Andhita mengangkat kepala dan tiba-tiba berseru, ”Rendy!!”
”Rendy??” tanya Putri bingung.
”Pasti dia yang melakukan ini semua! Soalnya cuma dia yang tahu kalau gue dijodohin.”
”Dia tahu?” tanya Putri lagi. ”Kok gue nggak tahu, tapi dia bisa tahu? Kok elo nggak ngasih tahu gue? Elo udah nggak percaya lagi sama gue Dhit?”
”Sekarang jangan mikirin itu dulu deh. Gimana dong? Gue harus gimana? Gue mestinya marah kan?” Tanya Andhita.
Putri mengangguk-angguk. “Kalo memang benar dia orangnya, elo berhak marah kok. Tapi sebaiknya kita cari aja dulu orangnya.”
Kriing!! Bel masuk berbunyi.
“Nggak usah. Kalau gue nyari dia sekarang, selain udah nggak keburu karena udah bel, gue juga malu diliatin orang. Mending nanti aja, pulang sekolah pas latihan.”
“Oke deh. Biar bagaimana juga, gue pasti dukung elo. Kalau perlu kita oecat dia.” Tegas Putri.
“Thanks.” Kata Andhita pelan.
***
Pulang sekolah, Andhita buru-buru pergi ke aula sekolah sebelum yang lainnya datang. Dia benar-benar kesal. Hari ini tidak secuil pun pelajaran yang masuk ke kepalanya. Bahkan dia yakin pasti dapat nilai merah untuk ulangan sejarah tadi. Semua yang dipelajarinya kemarin lenyap entah ke mana gara-gara terlalu kesal memikirkan masalah ini.
Ini pasti ulah Rendy. Cuma cowok itu yang tahu masalah perjodohan ini. Apa sih maksudnya? Kalau ini maksudnya untuk menarik perhatian, jelas bukan perhatian yang dia dapatkan, melainkan kebencian Andhita yang meluap-luap.
Tak lama kemudian, ketiga temannya datang disusul Rendy di belakang mereka. Andhita langsung mendekati cowok itu.
”Heh, kenapa sih elo melakukan semua ini? Kenapa elo ngebocorin rahasia gue ke seluruh sekolah?” tuntut Andhita marah.
Rendy menatapnya dengan pendangan bingung. “Rahasia apa? Gue melakukan apa?” tanyanya.
”Jangan berlagak bego deh! Tau gak lo, gue nggak suka diperlakukan begitu, tau! Gue emang senang bercanda, tapi yang wajar-wajar aja dong. Jangan keterlaluan!” ujar Andhita berapi-api.
“Andhita, lo apa-apaan sih?” Rendy menatap yang lain untuk meminta bantuan, tapi yang lain hanya menunduk.
Akhirnya Putri berkata, ”Emang lo belum tau kalau satu sekolah sekarang udah pada tahu Andhita bakalan dijodohin bokap nyokabnya?”
Rendy terkejut. ”Oh ya? Gue kira cuma gue yang tahu...”
Keyra menyela, “Di papan tulisbeberapa kelas, di papan pengumuman, di depan kamar mandi cewek dan cowok, di pohon besar dekat lapangan upacara. Nah, kata Andhita cuma elo satu-satunya yang tahu. Bahkan kita bertiga aja nggak tahu. Kalau begitu...”
”Jadi kalian berempat nuduh gue nih?” Rendy tampak marah.
”Habis siapa lagi?!” bentak Andhita.
Di pohon besar dekat lapangan upacara? Oh my God! Tempat itu kan selalu dilewati para guru kalau mau menuju ke ruang guru! Malu-maluin nih! Jangan-jangan masih ada tempat lain yang belum diketahui Andhita. Memikirkan itu membuat Andhita ingin berteriak dan mencakar Rendy.
”Gue... gue nggak pernah nempelin pengumuman apa pun. Lagian juga, emangnya gue tipe orang seperti itu? Itu cuma kerjaan orang gila! Emangnya elo pikir orang gila yang nggak punya kerjaan?” kata Rendy.
Putri mulai melunak mendengar bantahan cowok itu. “Bener nih, bukan elo yang nulis?”
“Bukan!” tegas Rendy. “Begini aja, giar gue yang nyari tahu siapa pelakunya buat ngebuktiin kalau gue benar-benar nggak bersalah dalam hal ini!”
Putri menatap Andhita, tapi Andhita diam saja. Jelas cewek itu masih merasa Rendy-lah pelakunya.
”Ya udah, persoalan ini kita selesaikan lagi nanti. Sekarang labih baik kita latihan dulu!”
Andhita melotot. Tadi katanya Putri mau mecat...
Putri tahu perasaan Andhita. Dia berkata, ”Urusan pribadi jangan dicampuradukkan dengan vocal grup kita. Jangan kuatir, nanti akan gue selidiki lagi.”
Andhita merengut. Dia masih belum puas. Tapi apa boleh buat. Kata-kata Putri tadi benar, tapi satu yang pasti, dia benci luar biasa pada Rendy. Dalam hati dia berjanji, selamanya takkan berbicara lagi dengan cowok itu!
Tapi rupanya perasaannya saat itu memengaruhi kualitas menyanyinya. Atau karena dia tidak latihan satu kali, entahlah. Berkali-kali Andhita fals dan tidak mampu menyanyikan suatu nada dengan tepat.
”Tolong suara duanya ya! Itu do, bukannya si. Beda setengah nada sama saja dengan fals, tau? Fals itu artinya sumbang, in case elo nggak tahu artinya.” Sela Rendy menyebalkan di tengah-tengah latihan dengan tatapan tertuju pada Andhita.
Andhita mengatupkan bibirnya. Dia ingin membalas ucapan Rendy, tapi teringat dengan janjinya bahwa dia tidak akan pernah lagi mengajak cowok itu bicara. Semuanya hanya memandang mereka berdua dengan bingung. Suasana tegang mengambang di udara.
Ketika selesai latihan, Rendy mendekati Andhita. ”Benar Dhit. Bukan gue yang nyebarin berita itu.” Katanya sungguh-sungguh.
Andhita diam saja. Mana bisa dia percaya jika satu-satunya tersangka adalah Rendy. Lagipula, terbongkarnya rahasia perjodohan ini hanya selang beberapa jam setelah Rendy ke rumahnya. Itu mempersempit tersangka kan? Anyway, tersangkanya memang hanya ada satu.
”Masalah ini juga jangan sampai ngeganggu konsentrasi nyanyi lo, Dhit. Elo mikir deh pake akal sehat, buat apa gue melakukan semua ini? Apa untungnya gue ngasih tahu semua orang kalau elo udah dijodohin? Lagi pula tadi pagi kan gue datangnya terlambat. Jadi, lo jelas kan, gue nggak punya motif dan kesempatan.” tutur Rendy.
Andhita tetap mengatupkan mulutnya walau dia sudah gatal ingin mengatakan bahwa dia nggak percaya sama sekali dengan ucapanya. Apalagi sejak awal dia sama sekali nggak mengerti kenaa dia selalu bentrok dengan cowok ini. Dan bila melihat keseluruhan kejadiannya, itu bukan berasal dari dirinya, melainkan karena sifat buruk cowok ini.
Rendy menepuk bahu Andhita dan tersenyum sinis. ”Udah deh. Yang iseng melakukannya mungkin orang gila, dan sayangnya orang gila itu bukan gue. Elo bukan tipe gue, jadi gue nggak punya motif buat ngisengin elo.” katanya nyantai.
Andhita melotot, tapi cowok itu segera berlalu dari hadapannya.
***
Dua hari itu Andhita terpaksa bersembunyi di kelasnya karena dia mendadak menjadi selebriti sekolah. Untungnya ketiga temannya baik-baik. Selama istirahat pertama dan kedua mereka bergantian membawakan makanan untuk Andhita. Biar Andhita nggak kelaparan, begitu kata mereka. Dan Andhita jadi senang, soalnya saat nggak ada masalah, dia pun belum tentu bisa makan tiap kali istirahat. Sekarang dia nggak perlu lagi takut kelaparan.
”Sebenarnya gimana sih asal muasalnya orangtua lo ngejodohin lo?” tanya Keyra.
”Ceritanya panjang. Sepertinya masalah utang budi gitu deh. Tapi mereka nggak maksa kok, cuma… ya... maksa juga sih.” ucap Andhita, teringat pada papanya yang memang sangat mengharapkan penanaman modal saham di perusahaannya itu. Toh orangtuanya juga nggak mengharapkan dia menikah dalam waktu dekat. Paling nggak enam tahun lagi, dan enam tahun waktu yang cukup lama. Apa saja bisa terjadi selama enam tahun kan?
“Bonyok lo kok tega banget sih? Jujur aja ya, kalau hal itu terjadi sama gue, gue pasti bakalan langsung nolak abis. Peduli amat dengan hutang budi atau apalah namanya. Terus cowok yang dijodohin ke elo itu...cakep nggak?” tanya Keyra.
”Boro-boro bisa tahu cakep apa nggak. Gue aja belom pernah liat kayak gimana orangnya. Dan gue baru dipertemukan sama dia ntar malam!” kata Andhita sambil mengunyah kacang dengan asik. Putri sudah melarang mereka minum es, gorengan, kacang, dan makanan berminyak sebelum malam kesenian, tapi tentu saja yang lain tidak berminta mematuhi perintah nggak jelas itu. Apalagi tentang anjuran air jeruk nipis dua sendok makan setiap pagi. Apa nggak erosi tuh tenggorokan? Nggak sekalian minum cuka!
“Jadi, elo belum pernah ketemu cowok itu?” Tanya Keyra kaget.
Andhita mengangguk. “Bokap-nyokab gue aja belum pernah ngeliat gimana orangnya.”
“Apa?!! Kalau orangnya jelek abis, gimana? Gimana kalau dia gendut? Atau idiot, atau norak bin kampungan?” ujar Keyra dengan wajah serius.
”Yang gue tahu sih orangtuanya kaya banget. Dan soal idiot itu, gue udah pernah tanya, dan kata bokap gue itu nggak mungkin. Dia seumuran gue dan kelasnya setingkat juga sama kita.”
Keyra cengengesan. ”Kaya? He he he… boleh juga tuh. Gue juga mau dong dijodohin sama anak orang kaya.”
Andhita menimpuk wajah Keyra dnegan bungkus kacang. “Dasar matre lo!”
***
Jadi malam itu, dengan gaun hitam yang sudah di-laundry kilat oleh mama dan rambut yang ditata rapi di salon serta wajah yang di-makeup tipis tapi manis, Andhita bersama kedua orangtuanya pergi ke pesta makan malam adik calon tunangannya, Bebby.
Andhita sudah menyiapkan hadiah ulang tahun berupa hiasan meja. Isinya cairan berwarna merah dan biru. Bila hiasan itu dibalikkan, cairannya akan turun. Andhita sendiri suka banget, jadi dia berharap lupa memberikan kado itu dan terbawa pulang lagi, jdi benda itu bisa dimilikinya. Hihihi… soalnya kalau dia yang minta, mamanya belum tentu mau membelikan.
”Kira-kira calon tunanganmu itu seperti apa ya? Mama jadi nggak sabar ingin segera ketemu calon mantu.” kata Mamanya.
”Eit, bukan calon mantu, catet itu! Andhita kan janji buat ketemu doang, bukan janji buat kawin sama dia.” ujar Andhita cepat.
“Papa sudah beberapa kali bertemu dengan Om Seno di kantornya, tapi belum pernah ketemu dengan anaknya. Sebenarnya Papa penasaran juga. Mana Papa nggak ingat sama sekali dengan nama anaknya. Dulu, kalau Papa lihat, waktu bayi dia manis juga. Saat itu Papa pikir gedenya pasti ganteng. Nggak tahu deh sekarang seperti apa.”
”Andhita waktu kecil gimana, Pa?” tanya Andhita penasaran.
”Uh, jelek banget! Kayak monyet. Tapi gedenya mendingan. Syukurlah!” timpal Mama seenak udel.
“Ehm… kalau begitu, anaknya Om Seno yang kecilnya cakep, gedenya jangan-jangan kayak gorilla.” Canda Andhita sambil memalingkan wajah menatap jalanan.
Sebenarnya dia gugup juga. Bayangkan, bertemu dengan keluarga orang yang akan dijodohkan dengannya. Pasti mereka akan memerhatikannya dan menilai-nilai dirinya. Hal itu sama sekali nggak enak.
Tak lama kemudian mereka tiba di kediaman keluarga Om Seno. Mereka diundang langsung ke rumah, menandakan keluarga Om Seno benar-benar ingin beramah-tamah secara dekat dengan keluarga Andhita.
”Ini yang namanya Andhita? Cantik sekali ya.” ujar seorang wanita seumur mama Andhita.
Andhita tersipu malu. Tadi di rumah ketika memandang cermin, dia merasa begitu juga sih. Cantik. Hehehe.
”Mana anak kamu? Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya. Dulu waktu bayi lucu sekali. Sekarang pasti ganteng.” ujar papa.
Tante Astrid, suami Om Seno tersenyum. ”dia sudah bilang akan pulang terlambat. Katanya mau beli senar gitar di Music Store. Biasa, anak muda. Lagi senang-senangnya main gitar.”
”Wah, bagus itu. Daripada nge-drugs atau melakukan hal-hal negative, lebih baik disalurkan ke musik atau olahraga. Anakmu itu pintar main gitar? Wah seperti saya dong.” Kata Papa sok tahu. Setahu Andhita sih di rumah memang ada gitar, tapi sudah ditaruh di gudang. Dan terakhir kali papa menyentuh gitar…Andhita nggak tahu deh. Yang pasti dia baru sekali melihat papanya main gitar, ketika sedang gandrung lagunya Ektreme – More Than Words. Papa langsung beli gitar dan coba-coba mengikuti chord yang ada di majalah, tapi nggak bisa-bisa. Kemudian gitar itu dibanting dan ujungnya retak, lalu pensiun di gudang. Apa itu yang disebut pintar main gitar?
“Wah, hebat. Seno sih tidak bisa main gitar, tapi dia menyuruh Rendy les musik sebanyak-banyaknya. Dan Rendy juga senang olahraga.” Sahut Tante Astrid sedikit bangga.
Siapa? Rendy? Kenapa harus bernama Rendy? Nama yang saat ini nggak mau dia ingat sama sekali. Ternyata calon tunangannya itu punya nama yang sama dengan cowok yang paling dia benci saat ini. Andhita benar-benar nggak suka situasi kayak gini.
Sesudahnya Tante Astrid mempersilahkan keluarga Andhita masuk ke ruang tamu. Ternyata di situ Om Seno sudah menunggu mereka.
”Hai, kalian sudah kutunggu dari tadi. Ayo duduk. Mau minum apa?” tanyanya.
”Apa saja.” kata Mama Andhita.
”Ini yang namanya Andhita? Wah, cantik sekali. Dulu waktu bayi wajah kamu nggak seperti ini lho. Tembem! Papa kamu malah bilang kamu kayak badut, soalnya kamu gendut! Hehehe…” kata Om Seno.
Andhita hanya bisa meringis mendengar kata-kata Om Seno. Bicaranya terus terang sekali. Bapaknya begini, apa sifat anaknya juga seperti ini ya? Mudah-mudahan si Rendy yang satu ini nggak terlalu cerewet seperti Rendy yang dia kenal. Soalnya cowok emang nggak pantes bawel kan? Kayak cewek aja, pikir Andhita.
Mereka disuguhi orange tea dan donat oleh Tante Astrid. Tak lama kemudian Bebby bergabung dengan mereka. Dia masih kelas 1 SMU, dan sangat cantik. Tubuhnya malah lebih tinggi beberapa senti dari Andhita. Wajahnya tampak tidak asing bagi Andhita. Entah dia pernah liat di mana.
“Beb, ini hadiah buat kamu. Kamu ulang tahun pas hari ini ya?” tanya Andhita.
”Nggak, kemarin tepatnya. Sebenarnya mau di rayain, tapi kata Mama tahun depan aja pas tujuh belas tahun.” katanya.
Rambut Bebby pendek sebahu dan wajahnya besih tanpa makeup. Dia memakai tank top hitam berhiaskan kilau permata di dadanya. Untuk bawahannya dia mengenakan rok hitam lapis tule yang sedang in saat ini. Di telinga kanannya terpasang anting-anting panjang berbentuk rantai sepanjang sepuluh senti dan tindikannya yang ada tiga buah dipasangi anting berlian sehingga penampilannya tampak funky. Rambutnya dicat warna kemerahan sehingga Andhita tidak tahan untuk bertanya.
“Kamu sekolah di mana?”
“Di SMU Pramita Kelapa Gading.”
”SMU Pramita? Berarti kita satu sekolah dong?” ujar Andhita kaget.
”Iya, Mama sama Papa juga udah ngasih tahu kalau kakak sekolah di sana.” ujar Bebby. ”Tapi aku kan baru sebulan sekolah di situ, pindahan dari surabaya, jadi mungkin kakak belum pernah melihat aku.”
Andhita lantas mendapat fiasat buruk. Wajah Bebby tampak tak asing. Dia mirip… “Rendy sekolah di mana?” Tanya Andhita lagi.
“Di SMU Pramita juga. Satu-satunya sekolah bagus dekat dengan Sunter ya di sana. Dia kelas dua, sama dengan kakak. Malah jangan-jangan kakak pernah ngeliat dia.”
”Apa? Kelas dua? Dua apa?” seru Andhita.
”Dua IPA, tapi nggak tahu IPA berapa.” kata Bebby.
Oh my God! Jangan-jangan...
“Aku pulang!” seru seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu. Andhita menoleh ke ambang pintu dan melihat… Rendy berdiri di situ! Andhita memandang papa dan mamanya yang tampak terkejut sama seperti dirinya. Berarti...
Suara Om Seno memecah kesunyian. “Ini Rendynya sudah pulang! Ayo beri salam pada Tante Anne dan Om Heru, Rendy!”
”Ini...Ini kan..yang waktu itu...” tanya Papa mengenali.
Andhita menjadi lemas seketika. Baginya ini benar-benar kabar buruk. Pantas saja dia seperti pernah melihat Bebby. Rupanya wajahnya mirip dengan Rendy. Ini benar-benar buruk!
Rendy tampak terkejut melihat kehadiran Andhita di situ, tapi tidak terlalu terkejut seperti keluarga Andhita melihatnya. Cowok itu tersenyum ragu pada Andhita dan kedua orangtua gadis itu, lalu permisi ke dalam.
”Aku masuk dulu ya Pa, Ma. Aku mau ganti baju dulu.” katanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Andhita. Andhita menduga Rendy sudah tahu, dialah yang akan dijodohkan dnegannya. Bebby juga tadi bilang, dia udah tahu Andhita sekolah di SMU Pramita. Kemungkinan besar Rendy sudah mencari tahu tentang dirinya. Kalau begitu curang dong? Nggak fair! Pantas waktu pertama kali ketemu dulu, Rendy menelitinya seperti orang mau beli kuda!
”Jangan lama-lama ya, Ren. Makan malam segera dimulai.” Kata Tante Astrid, mama Rendy.
”Oke ma!”
Sepeninggal Rendy, mama Andhita bertanya dengan bingung, ”Kalau begitu...sebenarnya Rendy sudah mengenal Andhita sebelumnya?”
“Ya betul. Katanya Rendy sudah kenal dengan Andhita kok di sekolah. Dasar bandel. Walau pertama-tamanya saya sengaja nggak ngasih tahu, dia memaksa juga. Dia ingin tahu nama lengkap andhita siapa, kelas berapa. Terpaksa deh Seno memberitahu. Tapi si Rendy juga nggak komentar apa-apa tuh. Berarti dia setuju dijodohkan.” kata Tante Astrid.
Andhita memegang kepalanya. Mati gue!
”Jadi...” sambil menatap putrinya, Mama andhita mulai bingung, ”Kamu juga udah tahu kalau cowok yang dijodohkan dengan kamu itu Rendy?”
”Andhita nggak tahu Ma.” jawab Andhita lemas.
”Lalu...kenapa dia bisa ke rumah kita?”tanya Mama lagi.
”Aduh, Andhita juga nggak tau Ma. Di sekolah aja Andhita sama dia...”
Andhita hampir saja keceplosan bahwa hubungannya dengan Rendy di sekolah tidak bisa dibilang baik. ”Andhita sama dia nggak sekelas Ma.”
”Jadi Rendy pernah ke rumah kak Heru?” tanya Tante Astrid kaget.
”Lho, ngapain dia kesana? dasar anak nggak tahu aturan.” kata Om Seno senyum-senyum bangga, sama sekali beda dengan kata-katanya. Pasti dia bangga karena anaknya dinilai berani, pikir Andhita sebal.
”Dia datang untuk melihat kaki Andhita yang terkilir. Saya pikir dia teman baiknya Andhita di sekolah.” kata Mama Andhita.
”Wah, ternyata anak kita tanpa dijodohkan pun sudah akrab ya?” ujar Tante Astrid senang.
”Ngapain kak Rendy pergi ke rumah Andhita? Apalagi dengan menutupi identitasnya. Bukannya itu nggak bagus, Pa?” sela Bebby.
”Aku bukan menutupi identitas, aku cuma nggak bilang. Itu dua hal yang berbeda, kan?” ujar Rendy yang tiba-tiba saja sudah bergabung dengan mereka. Dia sudah mengganti bajunya dengan kasu hitam lengan panjang yang keren. Pasti merek mahal, soalnya pas banget di tubuhnya yang tinggi dan atletis, pikir Andhita. Duh... Andhita, masih sempat-sempatnya kamu...
”Rendy, kamu pergi ke rumah Andhita kok nggak bilang-bilang sama Papa dan Mama? Bukannya kamu sudah janji nggak akan nemuiin Andhita sebelum dipertemukan?” tegur Tante Astrid.
Rendy hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang diberi gel hingga rambutnya yang pendek berdiri seperti landak.
”Aku ke sana bukannya dalam rangka perjodohan Ma. Aku dan Andhita terlibat dalam suatu acara di malam kesenian. Aku yang mengiringi Andhita menyanyi.” katanya.
Andhita melotot. Cerita Rendy seolah-olah mereka sedang berlatih untuk konser tunggal, di mana dia yang menyanyi seriosa solo dan Rendy yang menjadi pianisnya. Padahal mereka cuma bergabung di vocal grup, menyumbangkan satu lagu!
“Oh ya? Menarik sekali! Kalau begitu kalian itu sudah cocok banget, yang satu suka main musik, yang satunya lagi suka nyanyi. Bukan begitu Pa?” tanya Tante Astrid.
“Tapi…” mama Andhita terlihat bingung. “Saya waktu itu mungkin memberikan kesan yang tidak baik pada Rendy karena telah mengusirnya secara halus.”
“Ah, nggak apa-apa kok Tante. Waktu itu kan Tante bilang supaya aku tidak mendekati Andhita karena Andhita udah dijodohkan dengan seseorang. Berarti Tante sudah mendukung aku dong?” kata Rendy menyebalkan.
Oh God! Keluh Andhita. Lengkap sudah kekesalannya pada cowok sok tahu dan sok cakep bin bawel ini.
“Berarti benar elo yang nyebarin berita di sekolah kalau gue udah dijodohin?” Tanya Andhita setengah berbisik pada cowok di sampingnya itu.
“Nggak. Kan gue udah bilang sama lo, bukan gue yang nyebarin gosip murahan kayak gitu!” elak Rendy.
“Gosip udah dijodohin? Itu nggak baik buat Andhita dong. Dia kan bisa malu.” timpal Tante Astrid.
”Iya Ma. Aku juga ngeliat selebaran itu ditempel di kantin. Cuma aku nggak tahu kalau Andhita yang dimaksud ya Kak Andhita.” kata Bebby.
Oh-oh! Di kantin juga? Astaga!
”Siapa yang membuat gosip itu Ren?” Tanya Om Seno serius.
“Bukan aku Pa, sumpah! Nanti akan Rendy selidiki deh.”
”Kamu harus nyelidikin ini baik-baik. Pokoknya, kalau kamu sampai mempermalukan Andhita, berarti kamu juga mempermalukan Papa di depan Om Heru.” kata om Seno.
”Oke Pa.” jawab Rendy.
Mereka lalu mulai makan malam. Meskipun yang tersaji adalah makanan restoran terkemuka dan rasanya sangat enak, Andhita hampir tak bisa menelannya. Pikirannya terus dipenuhi oleh kenyataan bahwa Rendy-lah ternyata yang dijodohkan dengannya. Tapi dia sudah terlanjur menilai negatif cowok itu, bagaimana dong? Tadinya dia berpikir, setidaknya dia bisa menjalin hubungan persahabatan lebih dulu dengan calon tunangannya itu. Tapi kini, setelah tahu bahwa Rendy adalah calon tunangannya, dia pun menjadi muak. Lagi pula dia sudah berjanji nggak akan pernah mengajak cowok itu berbicara lagi.
”Rendy, jadi rupanya kamu sudah menyelidiki keberadaan Andhita di sekolah tanpa Andhita sadari?” tanya Papa Andhita dengan raut muka ramah. Lain banget dengan waktu Rendy datang ke rumah beberapa hari yang lalu. Dengan raut muka sok wibawa dan segala deheman yang menyeramkan itu, tingkah laku Papa bagaikan Sherlock holmes menyelidiki kasus penting.
“Iya Om. Aku jadi ngerasa bersalah. Tapi sebenarnya pertemuan aku sama Andhita memang nggak disengaja Om. Andhita yang menghubungi aku untuk mengiringi vocal grupnya.”
“Benar-benar jodoh ya?” timpal mama.
Andhita memutar bola matanya. Duh, mama please dong! Jangan memihak Rendy terus! Anakmu nih… anakmu bagaimana?
“Kok kamu dari tadi Tante perhatikan diam saja Andhita? Apa kamu nggak senang mendapati kenyataan kamu sudah mengenal Rendy di sekolah?” Tanya Tante Astrid.
Andhita tersentak. Daging yang ditelannya menyangkut ke kerongkongan hingga dia tersedak. Dengan wajah membiru dia menunjuk-nunjuk ke kerongkongannya. Rendy yang duduk di sebelahnya langsung menariknya berdiri. Cowok itu melingkarkan tanganny di pinggang Andhita dan sekuat tenaga menyentakkan tubuh Andhita. Sang daging terkutuk itu keluar dan jatuh ke lantai. Memalukan! Lengkap sudah gue dipermalukan malam ini, desah Andhita dalam hati tak berdaya.
Semua yang ada di ruangan itu tampak panik.
”Ya ampun... untung ada Rendy...” desah Mama sambil mengusap-usap punggung Andhita sementara putrinya itu minum segelas air yang diberikan Rendy.
”Ya, untuk itulah seorang pria diciptakan. Untuk menjaga wanita. Betul kan Pa?” ujar Tante Astrid.
Andhita berusaha menahan sabar dengan menyesap air putihnya pelan-pelan. Rasanya malu banget. Apalagi daging yang dimuntahkannya meninggalkan noda di bajunya. Kenapa gue harus mengalami hal kayak gini sih?
”Makannya pelan-pelan aja Dhit.” kata Papa bikin Andhita tambah malu aja.
”Andhita... lanjutkan lagi makannya ya. Nanti setelah makan, kami mau menunjukkan foto-foto keluarga kami pada kalian.” kata Om Seno.
Mereka pun melanjutkan makan lagi. Kali ini tanpa terlalu banyak bicara. Mungkin semuanya jadi takut tersedak kayak Andhita.
Sehabis makan, sambil menikmati secangkir wedang jahe dan puding buah, tante Astrid menggelar foto-foto keluarga. Andhita duduk di karpet tanpa menaruh minat sedikit pun pada foto-foto itu.
”Lihat, ini Rendy waktu masih bayi. Karena keringetan terus, maka waktu difoto dia lagi telanjang.” kata Om Seno.
”Oh lucunya.” komentar Mama.
Andhita melirik sedikit dan tanpa sadar tersenyum. Rasain, memangnya enak dipermalukan?
Tiba-tiba terdengar denting gitar. Andhita melirik Rendy yang duduk di sebelahnya. Cowok itu sedang menyetem senar. Ah, biasa… pasti lagi pamer. Mau nunjukin kalau dia itu bisa segala macam jenis musik. Tapi melihat keahlian dan kecepatannya mengganti senar, mau tak mau Andhita kagum juga. Padahal sebelum melihat ini Andhita bahkan tidak ahu kalau ternyata senar gitar itu bisa diganti. Soalnya senar gitar Papa pernah putus dan Papa pasrah main gitar dengan lima senar. Tentu saja sebelum menyerah dan membanting gitarnya.
“Kenapa elo nggak pernah bilang kalau elo yang dijodohin sama gue?” bisik Andhita sedikit marah. Selagi kedua orangtua mereka sedang sibuk melihat foto, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk melabrak cowok berengsek di sebelahnya. Bebby sudah permisi ke kamarnya karena ada janji chatting di internet dengan teman-temannya.
”Elo kan nggak pernah nanya.” sahut Rendy santai.
”Elo ini...” geram Andhita. ”Kalau begitu, kenapa elo nyelidikin gue? Apa elo senang dengan perjodohan ini?”
Tanpa melirik, Rendy balas berbisik. ”Jangan GR! Kan gue udah pernah bilang sama lo, elo itu bukan tipe gue.”
Andhita makin kesal. ”Tapi...” suaranya meninggi. Namun ketika dilihatnya keempat orang dewasa di ruangan itu sedang memandangnya, dia jadi salah tingkah.
Tiba-tiba Rendy berdiri. ”Pa, Ma kami permisi dulu. Andhita mau melihat kolam renang dan kebun belakang.” katanya sambil menarik tangan Andhita.
”Oh ya, baguslah. Kalian memang buuh waktu untuk saling mengenal.” Kata Tante Astrid. Sekarang Andhita tahu mengapa Rendy begitu bawel. Mama dan Papanya juga sama-sama bawel sih.
Andhita sama sekali tidak menolak saat Rendy menarik tangannya menuju belakang rumah, tapi ketika orangtua mereka tidak melihat mereka lagi, Andhita langsung menarik tangannya.
“Gue bisa jalan sendiri.” Katanya ketus.
Rendy tidak menjawab. Dia mengajak Andhita ke kolam renang besar di belakang rumah. Diam-diam Andhita kagum juga. Rumah ini benar-benar mewah. Pekerjaan Papanya Rendy apa sih sampai bisa sekaya ini? Pantas saja Papa begitu ingin mendapatkan partner perusahaan seperti Om Seno. Mungkin dia ingin perusahaannya sukses seperti perusahaan Om Seno.
”Jangan GR. Gue ngajak elo ke sini sama sekali bukan karena mau lebih kenal sama lo. Karena yang gue liat, elo itu cewek yang sama sekali nggak bisa menutupi perasaan. Gue rasa gue udah cukup mengenal lo.” kata Rendy ketika mereka udah tiba di bangku santai pinggir kolam.
Dia mempersilahkan Andhita duduk di situ dengan gerakan tangannya. Andhita terpaksa menurut.
”Gue nggak GR!” Andhita merenggut.
”Tuh kan...”
Andhita melotot. ”Kenapa elo mau menyelidiki gue tanpa gue tahu siapa elo sebenarnya di sekolah?” tanyanya.
”Udah gue bilang, gue cuma mau tahu aja.”
“Dan setelah lo tahu? Lo kecewa?”
Rendy tertawa. “Bukan soal kecewa atau nggak. Gue cuma pengen tahu aja. Jangan banyak menduga yang nggak-nggak dong. Elo kan belum kenal gue dengan baik.”
“Kalau begitu, kenapa elo nggak marah dijodohin sama bonyok lo? Gue sendiri benar-benar nggak setuju sama perjodohan ini.” kata Andhita.
Rendy mendekatkan tubuhnya ke tubuh Andhita sehingga Andhita bisa mencium aroma parfum cowok itu. Andhita langsung mundur sedikit, perasaan deg-degan tiba-tiba menerpanya. Hei ingat! Jagalah hati! Jangan menangkap pesona yang ditebarkan cowok ini. Ayo pasang berikade. Seperti atmosfer yang menyelubungi bumi, benak Andhita memperingatkan.
“Sebenarnya gue ngajak elo ke sini untuk merundingkan sesuatu.” Bisik Rendy.
“Me…rundingkan apa?” kata Andhita dengan suara sedikit bergetar.
“Begini… sebenarnya gue juga nggak setuju dengan perjodohan ini. Tapi elo liat sendiri kan seperti apa kedua orangtua gue?”
Andhita mengangguk-angguk bloon sambil memerhatikan wajah Rendy yang cukup dekat dengannya. Ada apa sih dengan dirinya? Kok tiba-tiba jadi jengah begini?
”Mereka sangat antusias dengan perjodohan ini, entah kenapa. Dan gue nggak bisa bilang gue nggak mau gitu aja. Makanya gue minta data-data lo dan nyelidikin elo di sekolah. Sebenarnya waktu kamis kemarin gue mau bilang, tapi elo kan udah marah duluan soal selebaran itu, jadi nggak jadi deh.”
”Jadi...maksud lo... elo lagi nyusun rencana?”
”Yup!” Rendy mengangguk mantap. ”Gue rasa langsung menolak juga nggak ada gunanya. Jadi lebih baik kita pura-pura nerima aja.”
“Pura-pura nerima gimana?”
”Iya. Elo tahu kan, gimana jadinya kalau gue langsung nolak dan kita terlihat nggak saling menyukai?”
”Apa?”
”Nyokab gue tukang maksa. Dia paling ahli memaksakan pandapatnya dengan cara pelan-pelan. Jadi percuma aja nolak. Lebih baik kita terlihat saling suka.”
”Saling suka?”
”Ya. Kalau nggak, dia pasti bakalan nyuruh kita lebih sering ketemu. Elo bakalan sering diundang ke rumah gue satu atau dua kali seminggu. Elo mau?”
Satu atau dua kali seminggu? Apa-apaan nih? Andhita mulai cemas.
”Nggak!”
”Makanya, nurut aja sama apa yang gue bilang. Gue liat elo cewek yang cukup punya akal sehat. Untung deh. Coba kalau cewek yang lemot, bolot, atau telmi, rada susah juga.” Kata Rendy meyakinkan.
Andhita jadi mengangguk-angguk seperti orang bego. Kurang ajar juga nih. Kelihatannya gue lagi dibego-begoin sama dia.
”Jadi bagaimana?” tanya Andhita.
”Untuk sementara, kita berdua berlagak nerima aja. Urusan selanjutnya kita lihat keadaan dulu, jelas nggak?”
”Terus, masalah pengumuman di sekolah gimana?”
”Sedang gue selidiki. Lagian juga sekarang orang-orang belum pada tahu kalau gue yang dijodohin sama lo kan?”
”Iya, tapi kan...” Andhita mau bilang kalau ini berarti enak di Rendy, nggak enak di dia.
”Ya udah, sabar aja. Orang sabar disayang Tuhan, oke?” cowok itu menepuk-nepuk pundak Andhita.
Rendy kembali mengajak Andhita ke ruang tengah. Pembicaraan mereka selesai, tapi bukan berarti masalah ini sudah selesai. Andhita mendapatkan firasat buruk bahwa ini semua tidak akan berjalan dengan mulus. Rencana Rendy, juga yang lainnya, sama sekali tidak akan mudah.
***
Langganan:
Postingan (Atom)