Rendy
Keesokan harinya, hari minggu, ketika berkumpul di kamar Putri, ketiga temannya langsung menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.
”Gimana jodoh lo itu? Cakep nggak?” Tanya mereka.
Sejujurnya Andhita sama sekali nggak mau ngomongin masalah ini. Apalagi dia harus menutupi bahwa cowok itu adalah Rendy, dan itu berarti dia harus ngebohong sama teman-temannya. Kalau suatu saat ketiga temannya ini tahu, mereka pasti sakit hati dan merasa dibohongi.
”Biasa-biasa aja.” kata Andhita. ”Katanya kita mau latihan hari ini?” ujarnya mengalihkan pembicaraan.
”Biasa-biasanya kayak gimana? Kalau dibandingin sama Adit, cakepan mana?” cecar Keyra tak mau begitu saja dialihkan.
”Cakepan mana ya?” gumam Andhita. Dia lalu berpikir. Dari segi cakepnya sih beda-beda. Rendy cakep, Adit juga cakep. Tapi dia sama sekali nggak mau ngasih petunjuk supaya teman-temannya bisa tahu kalau cowok itu Rendy. “Cakepan Adit kali.”
Putri menyela, “Kalau sama Rendy?”
Bibir Andhita terkatup. Nah, kali ini susah jawabnya.
Tasha yang menjawab. ”Cakepan Rendy, kali. Kalo nggak, kok Andhita sama sekali nggak antusias?”
”Duh, udah deh, jangan ngomongin itu lagi.” keluh Andhita.
Keyra menyela, ”Kalau begitu, elo benar-benar nggak antusias Dhit. Pasti ada yang aneh sama cowok yang dijodohin sama lo itu. Apa dia punya kebiasaan jelek? Seperti ngupil atau bersendawa sembarangan? Atau dia punya kekurangan, seperti berketombe atau bau badan? Atau dia punya masalah dengan penampilan, kekurusan, kegendutan, jerawatan, atau kependekan? Atau dia suka ngiler terus nggak berhenti-henti kayak anak SLB?”
Andhita tersenyum. ”Nggak, sama sekali nggak. Ngaco lo ah!”
”Tapi muka lo kok nggak antusias banget, Dhit? Cerita dong, kenapa elo muram dan nggak semangat.” kata Putri.
Andhita akhirnya menyerah. ”Gue cuma nggak senang dengan calon tunangan gue itu. Rada sombong orangnya. Rasanya dia itu bukan tipe gue.”
Tasha menyela, “Kalau sifatnya udah nggak cocok sama lo, lebih baik perjodohan itu dibatalin aja. Soalnya kecocokan sifat itu kan lebih penting daripada penampilan fisik. Ya kan? Coba bayangin, setelah tiga puluh tahun menikah, kita akan jadi nenek-nenek, duami kita jadi kakek-kakek. Saat itu penampilan fisik kita sama sekali sudah hilang, tinggal sifat jelek doang. Benar nggak?”
Keyra mengangguk. ”Benar juga sih. Kasihan Andhita, jadi korban pemaksaan kehendak orangtua.”
Putri menepuk-nepuk bahu Andhita. ”Sabar ya.”
Andhita mengehmbuskan napas panjang dan mengangguk pelan. Sebenarnya sejak kemarin dia sudah mencoba untuk sabar.
***
Saat telepon berdering, Andhita yang mengangkat. Ternyata dari Tante Astrid. “Halo, Andhita?”
”Eh, halo, iah Tante? Apa kabar?” tanya Andhita malu-malu.
”Ehm, baik. Begini Dhit. Besok Tante mau ngajak kamu belanja di mal. Maksud tante sih sebenarnya mau beliin beberapa potong baju buat Rendy, tapi tante nggak tahu selera dia seperti apa. Jadi tante mau ngajak kamu.”
Andhita bengong. Hah? Mamanya aja nggak tahu, apalagi dia? Tapi akhirnya Andhita setuju belanja bareng, soalnya dia juga mau beli pakaian dalam dan kaus kaki untuk sekolah.
Keesokan harinya, Tante Astrid menjemput Andhita di sekolah dan mereka langsung menuju mal terdekat.
Sambil melihat orang yang berlalu lalang, Tante Astrid yang agak bawel terus mengajak Andhita mengobrol. “Menurut kamu, Rendy gimana Dhit?”
“Hmm.. baik Tante.” Jawab Andhita sambil melihat-lihat baju di rak gantungan.
”Maksud Tante, apa kalian saling suka?”
Andhita teringat dengan rencana Rendy untuk pura-pura saling suka, jadi dia mengangguk, ”Iya Tante.”
Wajah mama Rendy berseri-seri. ”Wah, bagus itu! Tante tidak menyangka perjodohan ini berhasil juga. Tante senang bisa mendapatkan calon menantu sebaik kamu. Kalau begitu Tante akan bilang sama Om, supaya cepat-cepat merencanakan tanggal pernikahan yang baik untuk kalian.”
“Eit, tunggu dulu Tante! Ap-apa maksudnya? Tentang pernikahan?” kata Andhita tergagap. Apa-apaan nih? Main nentuin tanggal nikahan aja, gerutu Andhita dalam hati.
Tante Astrid tertawa dan mencubit pipi Andhita. “Maksud Tante nggak sekarang, Andhita. Tanggal yang baik itu kan bisa kapan saja, nggak harus tahun ini. Bisa saja enam tahun lagi, tujuh tahun lagi, delapan tahun bahkan. Iya kan?”
Andhita tertawa hambar. Duh, kok makin ngawur gini sih?
Tante Astrid mengangkat sepotong celana dalam pria. “Menurut kamu lebih bagus mana Dhit? Yang biru apa yang hijau?”
Ya ampun! Baru kali ini Andhita belanja celana dalam cowok. Glek! Andhita menelan ludah sebelum menjawab. ”Yang biru kali, Tante.”
”Iya, ya. Tante pikir juga begitu. Kalau hijau nanti jadi kolor ijo.” kali ini Andhita tak sempat tertawa, dia hanya tersenyum masam. Tante Astrid ini benar-benar jayus deh. Tobat!
Selesai belanja, Tante Astrid mengajak Andhita mampir ke rumahnya untuk makan siang. ”Sebenarnya Tante mau ngajak kamu makan siang di mal, tapi Tante hari ini masak empal balado. Sayang kalau nggak ada yang makan. Kamu ikut makan siang di rumah Tante aja ya?”
Andhita terpaksa mengangguk. Terserah deh. Kayaknya dia nggak punya hak bicara, soalnya dari tadi Tante Astrid yang bicara terus. Mereka pun menuju rumah Rendy. Andhita cuma bisa berdoa semoga cowok rese itu nggak ada di rumahnya.
Tapi sayangnya doa Andhita tidak terkabul. Rendy justru baru pulang sekolah. Cowok itu kaget melihat Andhita ada di rumahnya. “Heh, ngapain lo di sini?” tanyanya.
Andhita nggak bisa ngejawab, wajahnya merona. Dia merasa nggak enak, seolah-olah dia datang sendiri untuk menjalin keakraban dengan keluarga Rendy. Dia kan datang atas undangan Tante Astrid.
Untung Tante Astrid menyela. “Wajar dong Andhita datang ke sini, dia kan pacar kamu. Nanyanya jangan begitu dong Ren. Kamu bisa bikin Andhita malu.” sebenarnya Andhita malah tambah malu kalau Tante Astrid ngomong begitu.
Bebby sudah pulang. Sekarang mereka berempat ngumpul di meja makan, sebab Papa Rendy belum pulang kantor. Andhita jadi teringat insiden waktu dia tersedak di sini beberapa hari yang lalu. Memalukan, semoga tidak terjadi lagi.
Saat Tante Astrid ke dapur, Andhita duduk di samping Rendy. Rendy berbisik. ”Ngapain elo ke sini?”
Andhita balas berbisik, ”Diajak sama nyokab lo. Emangnya elo pikir gue ngapain?”
”Gue pikir elo emang benar-benar niat sama perjodohan ini, terus mau pedekate sama keluarga gue. Auw!!” Rendy berteriak karena Andhita menendang tulang keringnya dari bawah meja.
Rasain! Dasar cowok nyebelin! GR amat sih! Bukannya dia juga yang bilang supaya Andhita pura-pura setuju dengan perjodohan ini?
“Kenapa kak?” Tanya Bebby bingung.
“Ngg..gak.”
Tante Astrid datang dari arah dapur sambil membawa sepiring empal balado, lalu begabung di meja makan. “Makan yang banyak ya, Dhit. Kamu itu masih kekurusan!”
Andhita hanya bisa meringis. Apa Tante Astrid nggak tahu kalau dia paling takut nambah berat badan walau cuma setengah kilo? Nambah dikit aja dia langsung panik dan diet ketat. Diet ketat ala Andhita itu adalah nggak makan nasi dan cuma minum seharian. Andhita memang sudah terkena sindrom takut BBM (Berat Badan Meningkat). Kayak selebriti terkenal yang dapurnya ngebul dari penampilan aja.
”Gimana hubungan kalian di sekolah? Apa teman-teman sudah pada tahu? Apa perlu Tante bikin pesta pertunangan dan mengundang semua teman-teman sekolah?”
Andhita langsung menyela, ”Nggak usah Tante! Ehm.. teman-teman udah pada tahu kok. Ya kan Ren?”
”Iya Ma. Lagian kalo dipestain kan nggak enak. Kayak besok kita berdua mau dikawini aja!” ujar Rendy sambil meneguk air putih.
”Lho, bukannya emang begitu?”
“Uhuk! Uhuk!” Rendy langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Bebby yang melihat tingkah kakaknya hanya tertawa-tawa.
“Maksud Mama, pertunangan itu kan pada akhirnya menuju pernikahan. Entah enam tahun lagi, tujuh tahun lagi, tapi kan sudah serius.”
”Ma, nggak usah buru-buru. Aku dan Andhita kan masih sekolah, masih jauh ke urusan kawin.” gerutu Rendy kesal.
Andhita juga nggak mau kalah, “Iya, Tante... lagipula pertunangan itu kan mengikat kita satu sama lain, tapi ikatannya kan masih bisa terputus dengan berbagai macam hal yang mungkin saja bisa terjadi. Kalau Rendy ketemu cewek yang lebih baik dari aku, dia bisa aja kan memutuskan hubungan kita. Begitu juga sama aku, kalau aku ketemu cowok yang lebih baik dari Rendy...”
”Nggak mungkin ada.” gumam Rendy memotong pembicaraan Andhita. “Kalau pun ada, pasti susah banget nyarinya.”
Uh, sok banget! Gerutu Andhita dalam hati. Nggak mau kalah, Andhita kembali ngomong, “Tante… barangkali kalau aku ketemu sama cowok yang lebih dewasa, lebih pengertian, lebih pandai, lebih ganteng, lebih baik, dan lebih segala-galanya dari Rendy…” dia menarik napas panjang, “Aku bisa berubah pikiran. Iya kan?” katanya manis.
Rendy mengangguk-angguk. “Benar juga, Ma. Bisa aja kan kalau aku ketemu sama cewek yang lebih cantik, lebih feminin, lebih baik, lebih manis, lebih pandai, dan lebih segala-galanya dari Andhita...” Rendy juga menarik napas panjang, “Aku juga bisa berubah pikiran.”
Andhita melotot. ”Tentu saja cowok yang lebih baik dari Rendy itu masih banyak di dunia, Tante. Di sekolah aja bertebaran. Cuma karena aku memang setia, dan aku udah terlanjur memilih Rendy, yah... apa boleh buat.”
Rendy gak mau kalah. ”Cewek kayak Andhita kan dimana-mana juga banyak Ma. Rambut panjang, wajah biasa banget, tinggi langsing, yang pasti...rata-ratalah. Yang lebih baik dari Andhita itu banyak, tapi karena aku udah memilih Andhita dan aku juga tipe yang setia, ya apa boleh buat...”
Bebby cekikikan. Tante Astrid bingung. “Kalian berdua tuh ngomongin apa sih? Udah udah, makan aja. Kalau orang lain dengar, salah-salah bisa menyangka kalau kalian itu bukan tunangan, tapi musuh bebuyutan.kayak Om sama Tante waktu pacaran dulu.”
Andhita cemberut. Rendy buang muka. Empal balado Tante Astrid yang sebenarnya enak malah mengganjal di tenggrokan dan gak ketelan. Untungnya Tante Astrid yang bawel ngoceh terus sehingga nggak sadar telah terjadi perang dingin antara Andhita dan Rendy.
Sehabis makan, Andhita duduk-duduk di ruang tamu bersama Bebby. Bebby yang bingung dengan hubungan Andhita dan kakaknya bertanya terus terang, “Kak, sebenarnya antara Kakak dan Kak Rendy itu ada hubungan apa sih? Aku kok bingung, sebentar kalian keliatan damai, tapi sebentar lagi kayak musuh bebuyutan.”
“Oh, nggak ada apa-apa kok.” elak Andhita.
“Terus terang aja nih. Apa kalian sebenarnya tidak menyetujui perjodohan ini?”
Sebenarnya sih sebelum Andhita mengetahui bahwa ternyata calonnya adalah Rendy, dia berniat untuk mencoba perjodohan ini. Lagian dia juga sedang tidak punya pacar. Kalau gebetan sih ada, tapi itu kan cuma iseng aja. Tapi setelah tahu kalau ternyata Rendy yang dijodohkan dengannya, dia malah malas mencoba hubungan apa pun. Soalnya Rendy itu tipe cowok rese, sombongnya minta ampun, dan egois. Jadi, setiap Andhita berdekatan dengannya, maunya marah terus.
“Aku sebenarnya udah kenal sama Rendy di sekolah. Tapi aku tuh nggak pernah tahu kalau yg dijodohkan sama aku itu ternyata dia. Dia ngiringin group vocal aku dan tiga temanku untuk tampil nyanyi di malam kesenian nanti. Terus terang aja, aku sebenarnya nggak begitu cocok sama dia. Dan hubungan kita juga nggak rukun-rukun banget. Begitu aku tahu dia yang akan dijodohkan sama aku, aku pengen nolak. Rendy juga mau nolak sih, tapi dia bilang, kalau nolak mentah-mentah nanti Tante Astrid malah bakalan lebih sering mempertemukan kita berdua. Jadi kita pakai cara ini, pura-pura saling suka. Tapi kamu juga udah liat sendiri kan? Kayaknya nggak terlalu berhasil.”
”Yah... sayang banget yah kalian nggak saling suka. Padahal aku suka banget sama Kak Andhita. Menurutku Kakak tipe cewek yang tepat buat ngedampingi Kak Rendy. Soalnya Kak Rendy jarang bisa berhubungan serius sama cewek, kecuali kalau cewek itu benar-benar bisa memahaminya, seperti Kak Grey...”
”Grey? Siapa tuh?”
Wajah Bebby memucat, seperti tanpa sadar membocorkan sesuatu yang semestinya tidak dikatakannya. ”Ng... bukan siapa-siapa kok. Nanti deh, kalau ada waktu aku bakalan cerita tentang dia. Tapi Kak Andhita jangan nanya langsung ya sama Kak Rendy. Nanti dia bisa ngamuk.”
Andhita jadi penasaran, siapa Grey itu? Apa mantan pacar Rendy? Jangan-jangan cewek itu nggak tahan sama sikap Rendy yang buruk lalu memutuskan hubungan, pikir Andhita sok tahu. Iya, pasti begitu. Rendy kan memang menyebalkan!
Selesai makan, Andhita pamit pulang. Tentu saja dia berharap diantar. Kalau mau naik taksi, sayang duitnya kan.
”Wah Dhit... kepala Tante agak pusing nih. Biar Rendy aja ya yang nganter kamu pulang?”
“Ren..Rendy?”
“Iya, hari ini nggak ada sopir karena lagi dipakai sama Om Seno. Rendy udah punya SIM kok, cuma Tante kadang-kadang nggak ngasih dia bawa mobil, takut kenapa-kenapa. Tapi hari ini bakalan jadi pengecualian deh. Lagi pula Kelapa Gading kan dekat dari sini.”
Beberapa saat kemudian, Andhita sudah berada di samping Rendy di mobil sedan milik Tante Astrid. Di luar, Tante Astrid dan Bebby melambaikan tangan padanya.
Setelah balas melambaikan tangan pada Tante Astrid dan Bebby, Andhita berkata pada Rendy, ”Mudah-mudahan kita nggak tabrakan ya?”
”Nggak sekalian nyumpahin biar jatoh ke kali Sunter. Kayak metromini beberapa tahun yang lalu.” ucap Rendy dengan wajah yang masam.
”Dalam hati gue berdoa terus nih... mudah-mudahan perjalanan gue aman-aman aja, walaupun disopirin sama seorang amatir.” sindir Andhita.
”Haha..! mudah-mudahan doa lo manjur deh, soalnya gue baru dapat SIM kemarin.”
”Apa?!!”
Mobil mulai melaju dengan lancar. Pasti Rendy bohong soal dia baru dapat SIM kemarin. Buktinya Andhita merasa cowok itu cukup jago bawa mobilnya.
“Kenapa sih elo tadi nyerang gue terus?” protes Andhita. ”Gue kan cuma nurutin kata-kata elo supaya kita pura-pura saling suka di depan nyokab lo. Nyokab lo ngajak gue, masa gue tolak?”
Rendy berkata dingin, ”Soalnya elo nggak konfirmasi lagi sih, jadi gue salah paham. Sori deh.”
”Elo kira gue ngedeketin nyokab lo karena gue suka sama lo, gitu? Jangan GR ya!” kata Andhita sama dinginnya. ”Oh ya, gue dengar elo pernah punya cewek, kenapa sekarang udah nggak lagi? Mungkin mantan lo itu udah enek kali yah sama sikap lo yang egois itu, jadi dia minta putus!”
Ciitt!! Tiba-tiba Rendy ngerem mendadak. Andhita kaget. Lalu dia melihat seekor kucing hitam menyebrang jalan di depan mobil Rendy.
“Kucing gila!!” seru Rendy.
Wajah Andhita langsung pucat. Rendy marah gara-gara kucing itu, apa gara-gara ucapannya yang keterlaluan barusan?
“Turun sekarang!” perintah Rendy tanpa menatap Andhita sedikit pun.
Andhita menatap Rendy nggak percaya. Dia turun dari mobil Rendy tanpa mengatakan apapun. Dia menyetop taksi yang kebetulan lewat di depannya. Entah mengapa rasanya dia ingin menangis sekeras-kerasnya. Dia nggak abis pikir Rendy bakalan ngelakuin hal seperti itu. Bahkan dia sampai kehabisan kata-kata.
Saat taksi yang ditumpanginya jalan, dia melihat ke belakang, dan mendapati mobil Rendy yang masih terpaku disitu. Dia kembali melihat ke depan. Pipinya terasa hangat. Dia menangis. Entah emosi apa yang dirasakannya.
***
Rendy berjalan ke kantin dengan pandangan kosong dan pikiran penuh. Belum pernah ada cewek yang begitu menyita perhatiannya seperti Andhita. Cewek itu benar-benar membuatnya penasaran. Selama ini banyak cewek yang suka padanya dan mengejar-ngejarnya terus. Andhita bukan tipe cewek seperti itu. Dia selalu ketus padanya. Apalagi dia menyinggung-nyinggung soal Grey tadi malam. Dari mana dia tahu soal Grey? Pasti Bebby. Adiknya itu emang nggak bisa jaga mulut.
Dari tadi pagi dia belum melihat Andhita sama sekali. Apa yang dia pikirkan sampai tadi malam senekat itu mengusir Andhita keluar dari mobilnya. Dia ingin sekali bertemu dengannya pagi ini. Ingin meminta maaf atas apa yang sudah dilakukannya. Tapi apa Andhita mau memaafkannya. Dia sangat menyesal, karena dia sadar perlakuannya sangat kasar.
Dash! Sebuah batu yang ada di lantai jadi sasaran tendangan sepatu Rendy. Sudah lama dia nggak ingat sama Grey. Kenapa dia sekarang membayangkan cewek itu lagi? Susah payah dia pindah ke Jakarta supaya bisa memulai lembaran baru lagi. Sekarang dia malah kembali ke titik awal, saat...
”Dorr!” suara orang yang mengagetkannya daribelakang membuat Rendy terlonjak. Hamper saja dia memaki-maki. Tapi dia menoleh dan melihat Putri, tersenyum manis ke arahnya. Rendy pun balas tersenyum.
”Halo Put! Ngagetin aja!”
”Hai juga. Abis gue liat elo jalan sambil bengong. Nanti kayak ayam tetangga gue lho. Kebanyakan bengong, eh malah mati besoknya. Kasihan kan makhluk-makhluk yang suka bengong?” melihat Rendy bengong lagi, Putri langsung menambahkan, “Nggak deh, bercanda! Lo kok jadi tambah bengong gitu sih?” Putri menumpangkan tangannya ke bahu Rendy, sok akrab, walau agak susah soalnya tinggi Rendy jauh di atas Putri. “Udah makan belom?”
“Kalau gue kearah kantin, ya berarti gue belom makan. Masa gue mau pipis di kantin.” Ujar rendy diplomatis.
“Oke, gue juga laper nih. Yuk, makan bareng aja.” Ujar Putri senang.
Putri memesan nasi goreng dan teh botol. Sementara Rendy membeli nasi campur dan es buah langganannya. Mereka duduk berdua di antara puluhan anak lainnya yang memenuhi kantin saat istirahat.
”Menurut lo, suara vocal group kita tuh udah bagus belom?” Tanya Putri membuka percakapan.
“Udah, cuma suara Andhita suka fals tuh. Tapi kalau banyak latihan, gue yakin itu bisa diatasi.” kata Rendy sambil mengangkat ayam gorengnya dan menggigitnya.
Putri tertawa. ”Ternyata elo suka mengkrititik Andhita juga. Tau nggak, gue pikir antara elo dan Andhita ada sesuatu. Soalnya kalian gontok-gontokan terus sih.”
”Nggak ada apa-apa kok,” kilah Rendy. ”Oh ya, gue pengen nanya. Andhita itu jutek juga ya? Sikap dia begitu sama semua cowok, apa sama gue doang ya? Dia udah punya pacar belom?”
”Andhita? Jutek? Nggak lagi. Dia tuh baik kok. Cuma gue emang bingung sih, kenapa dia bisa jutek sama lo. Pacar? Belom tuh kayaknya. Tapi kalau gebetan, kayaknya ada.”
“Siapa?”
“Kok lo penasaran banget sih? Jangan-jangan lo suka ya sama Andhita?”
”Siapa bilang?” kata Rendy sambil makan es buah dengan sok cuek. ”Gue cuma penasaran aja, apa ada cowok yang mau sama cewek jutek kayak dia?”
”Andhita tuh suka sama ketua OSIS yang namanya Adit, tapi nggak ada tanggapan apa-apa dari cowok itu. Abis, kalau Andhita-nya nggak terus terang, orangnya juga nggak bakal tahu kan?”
”Oh...begitu.” Rendy mengangguk-angguk. Dia kenal Adit. Cowok cakep, keren, dan pendiam. Rupanya Andhita suka tipe cowok yang kayak gitu.
“Iya. Kalau cowok yang suka sama andhita sih itu sebenarnya banyak, tapi nggak pernah ditanggapi sama dia. Kalau ada yang ngedeketin, Andhita langsung bilang dia cuma suka cowok itu jadi sahabatnya. Gitu deh. Jadi Andhita masih ngejomblo sampai sekarang. Belum pernah pacaran!”
Rendy bengong dan mengangguk-angguk.
Bel berbunyi, mereka udah selesai makan. Rendy dan Putri berjalan bareng menuju kelas masing-masing, tanpa mengetahui ada sepasang mata yang memerhatikan mereka.
***
Selasa, 08 Juni 2010
Lovable (part 6)
Pengumuman Misterius
Setibanya di sekolah, Andhita bingung melihat teman-temannya memperhatikannya sambil berbisik-bisik. Tatapan mereka aneh. Andhita sampai mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya untuk melihat apakah penampilannya ada yang aneh atau lain dari biasanya. Tapi biasa-biasa saja kok, nggak ada yang aneh. Rambutnya memang hari ini dikuncir dua, tapi sah-sah saja kan? Kalau memang dikuncir dua jadi kelihatan aneh dan sok imut, besok dia nggak mau dikuncir dua lagi.
Tapi tatapan-tatapan itu terus berlangsung sepanjang jalan. Dia jadi bertanya-tanya. Apa karena gaya jalannya yang terpincang-pincang? Tapi sejak bangun tidur tadi pagi, kakinya sudah tidak terlalu parah kok. Dia nyaris bisa berjalan seperti biasa.
Ketika tiba di kelasnya, teman-temannya sedang mengerumuni papan tulis. Andhita bingung. ”Ada apa sih?” tanyanya pada Anya, teman sebangkunya.
Anya tampak salah tingkah. Dia berkata, ”Liat aja sendiri Dhit... elo mesti ngeliat sendiri deh.”
Andhita semakin bingung. Dia menguak kerumunan temannya dan melihat papan tulis yang penuh tulisan itu.
”Andhita sudah dijodohkan dengan pemuda pilihan orang tuanya. Tidak ada yang boleh mengganggunya, karena sebentar lagi dia akan bertunangan,” gumam Andhita membaca tulisan di papan tulis.
”Dhita, emangnya benar elo udah dijodohin?” kata salah seorang temannya.
Andhita tidak menjawab dan langsung menghapus tulisan di papan tulis. Apa-apaan sih? Siapa yang melakukan semua ini? Gerutunya.
”Emangnya elo udah ditunangin Dhit? Jangan-jangan lulus sekolah lo bakalan langsung dikawinin lagi.” timpal yang lainnya, membuat teman-teman sekelasnya tertawa.
Andhita cemberut gusar.
”Siapa sih yang nulis ini?!” serunya.
“Nggak tahu. Lala yang dating paling pagi juga bilang, waktu dia nyampe, tulisan ini udah ada. Oh ya, nggak cuma di kelas kita doang. Tulisan ini juga ditempel di papan pengumuman!” ujar Anya sambil mesem-mesem.
”Apa??!!”
***
Andhita merobek selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman. Boro-boro modal pake komputer, tulisannya tulisan tangan! Ditulis besar-besar dengan spidol. Semua orang memerhatikan Andhita. Bahkan yang nggak kenal sekalipun. Mereka menunjuk-nunjuk Andhita. Mungkin mereka pada bilang, ”Itu tuh yang namanya Andhita. Nggak nyangka ya, cakep-cakep ternyata mau aja dijodohin. Nggak laku-laku kali!” tentu saja itu cuma pikian Andhita sendiri, tapi cukup membuatnya frustasi. Dia langsung mencari Putri di kelasnya.
”Put!”
Putri menoleh dan memandang Andhita dengan salah tingkah. Andhita langsung tahu, sahabatnya itu pasti juga sudah mambaca pengumuman itu. Berarti semua orang sudah tahu dong?
”Elo udah baca tulisan yang dipasang di papan pengumuman?” tanya Andhita.
”Di papan pengumuman? Tapi malah tadi gue baca di depan kamar mandi cewek.” kata Putri.
Apa? Di kamar mandi cewek juga? Orang itu benar-benar sakit!
“Emangnya benar elo dijodohin, Dhit?” Tanya Putri berbisik.
“Duh… sekarang masalahnya bukan itu. Sekarang itu, gue mau tahu siapa yang ngelakuin semua ini ke gue? Siapa yang nulis dan nempelin semua ini di mana-mana?”
Putri melirik Andhita yang duduk di bangkunya.
”Udah, duduk dulu deh. Yang di kamar mandi cewek udah gue copot kok tadi.”
Andhita menghela napas panjang. Tapi kemudian...”Gimana dong?” keluhnya. Malu-maluin aja. Sekarang dia yang cuma cewek biasa-biasa aja di sekolah jadi sorotan dan bahan gosip.
”Emangnya soal dijodohin itu benar Dhit?” Tanya Putri.
Andhita mengangguk pelan.
”Dijodohin sih sebenarnya nggak salah, tapi kalau sampai disebarin ke orang-orang, ini benar-benar keterlaluan!” ujar Putri.
Tiba-tiba tangis Andhita pecah. Dia menelungkupkan wajahnya di meja. ”Gue malu banget.” katanya. Dia lalu teringat sesuatu, Rendy sudah tahu tentang masalah perjodohan ini. Apa cowok itu yang melakukan ini semua?
Andhita mengangkat kepala dan tiba-tiba berseru, ”Rendy!!”
”Rendy??” tanya Putri bingung.
”Pasti dia yang melakukan ini semua! Soalnya cuma dia yang tahu kalau gue dijodohin.”
”Dia tahu?” tanya Putri lagi. ”Kok gue nggak tahu, tapi dia bisa tahu? Kok elo nggak ngasih tahu gue? Elo udah nggak percaya lagi sama gue Dhit?”
”Sekarang jangan mikirin itu dulu deh. Gimana dong? Gue harus gimana? Gue mestinya marah kan?” Tanya Andhita.
Putri mengangguk-angguk. “Kalo memang benar dia orangnya, elo berhak marah kok. Tapi sebaiknya kita cari aja dulu orangnya.”
Kriing!! Bel masuk berbunyi.
“Nggak usah. Kalau gue nyari dia sekarang, selain udah nggak keburu karena udah bel, gue juga malu diliatin orang. Mending nanti aja, pulang sekolah pas latihan.”
“Oke deh. Biar bagaimana juga, gue pasti dukung elo. Kalau perlu kita oecat dia.” Tegas Putri.
“Thanks.” Kata Andhita pelan.
***
Pulang sekolah, Andhita buru-buru pergi ke aula sekolah sebelum yang lainnya datang. Dia benar-benar kesal. Hari ini tidak secuil pun pelajaran yang masuk ke kepalanya. Bahkan dia yakin pasti dapat nilai merah untuk ulangan sejarah tadi. Semua yang dipelajarinya kemarin lenyap entah ke mana gara-gara terlalu kesal memikirkan masalah ini.
Ini pasti ulah Rendy. Cuma cowok itu yang tahu masalah perjodohan ini. Apa sih maksudnya? Kalau ini maksudnya untuk menarik perhatian, jelas bukan perhatian yang dia dapatkan, melainkan kebencian Andhita yang meluap-luap.
Tak lama kemudian, ketiga temannya datang disusul Rendy di belakang mereka. Andhita langsung mendekati cowok itu.
”Heh, kenapa sih elo melakukan semua ini? Kenapa elo ngebocorin rahasia gue ke seluruh sekolah?” tuntut Andhita marah.
Rendy menatapnya dengan pendangan bingung. “Rahasia apa? Gue melakukan apa?” tanyanya.
”Jangan berlagak bego deh! Tau gak lo, gue nggak suka diperlakukan begitu, tau! Gue emang senang bercanda, tapi yang wajar-wajar aja dong. Jangan keterlaluan!” ujar Andhita berapi-api.
“Andhita, lo apa-apaan sih?” Rendy menatap yang lain untuk meminta bantuan, tapi yang lain hanya menunduk.
Akhirnya Putri berkata, ”Emang lo belum tau kalau satu sekolah sekarang udah pada tahu Andhita bakalan dijodohin bokap nyokabnya?”
Rendy terkejut. ”Oh ya? Gue kira cuma gue yang tahu...”
Keyra menyela, “Di papan tulisbeberapa kelas, di papan pengumuman, di depan kamar mandi cewek dan cowok, di pohon besar dekat lapangan upacara. Nah, kata Andhita cuma elo satu-satunya yang tahu. Bahkan kita bertiga aja nggak tahu. Kalau begitu...”
”Jadi kalian berempat nuduh gue nih?” Rendy tampak marah.
”Habis siapa lagi?!” bentak Andhita.
Di pohon besar dekat lapangan upacara? Oh my God! Tempat itu kan selalu dilewati para guru kalau mau menuju ke ruang guru! Malu-maluin nih! Jangan-jangan masih ada tempat lain yang belum diketahui Andhita. Memikirkan itu membuat Andhita ingin berteriak dan mencakar Rendy.
”Gue... gue nggak pernah nempelin pengumuman apa pun. Lagian juga, emangnya gue tipe orang seperti itu? Itu cuma kerjaan orang gila! Emangnya elo pikir orang gila yang nggak punya kerjaan?” kata Rendy.
Putri mulai melunak mendengar bantahan cowok itu. “Bener nih, bukan elo yang nulis?”
“Bukan!” tegas Rendy. “Begini aja, giar gue yang nyari tahu siapa pelakunya buat ngebuktiin kalau gue benar-benar nggak bersalah dalam hal ini!”
Putri menatap Andhita, tapi Andhita diam saja. Jelas cewek itu masih merasa Rendy-lah pelakunya.
”Ya udah, persoalan ini kita selesaikan lagi nanti. Sekarang labih baik kita latihan dulu!”
Andhita melotot. Tadi katanya Putri mau mecat...
Putri tahu perasaan Andhita. Dia berkata, ”Urusan pribadi jangan dicampuradukkan dengan vocal grup kita. Jangan kuatir, nanti akan gue selidiki lagi.”
Andhita merengut. Dia masih belum puas. Tapi apa boleh buat. Kata-kata Putri tadi benar, tapi satu yang pasti, dia benci luar biasa pada Rendy. Dalam hati dia berjanji, selamanya takkan berbicara lagi dengan cowok itu!
Tapi rupanya perasaannya saat itu memengaruhi kualitas menyanyinya. Atau karena dia tidak latihan satu kali, entahlah. Berkali-kali Andhita fals dan tidak mampu menyanyikan suatu nada dengan tepat.
”Tolong suara duanya ya! Itu do, bukannya si. Beda setengah nada sama saja dengan fals, tau? Fals itu artinya sumbang, in case elo nggak tahu artinya.” Sela Rendy menyebalkan di tengah-tengah latihan dengan tatapan tertuju pada Andhita.
Andhita mengatupkan bibirnya. Dia ingin membalas ucapan Rendy, tapi teringat dengan janjinya bahwa dia tidak akan pernah lagi mengajak cowok itu bicara. Semuanya hanya memandang mereka berdua dengan bingung. Suasana tegang mengambang di udara.
Ketika selesai latihan, Rendy mendekati Andhita. ”Benar Dhit. Bukan gue yang nyebarin berita itu.” Katanya sungguh-sungguh.
Andhita diam saja. Mana bisa dia percaya jika satu-satunya tersangka adalah Rendy. Lagipula, terbongkarnya rahasia perjodohan ini hanya selang beberapa jam setelah Rendy ke rumahnya. Itu mempersempit tersangka kan? Anyway, tersangkanya memang hanya ada satu.
”Masalah ini juga jangan sampai ngeganggu konsentrasi nyanyi lo, Dhit. Elo mikir deh pake akal sehat, buat apa gue melakukan semua ini? Apa untungnya gue ngasih tahu semua orang kalau elo udah dijodohin? Lagi pula tadi pagi kan gue datangnya terlambat. Jadi, lo jelas kan, gue nggak punya motif dan kesempatan.” tutur Rendy.
Andhita tetap mengatupkan mulutnya walau dia sudah gatal ingin mengatakan bahwa dia nggak percaya sama sekali dengan ucapanya. Apalagi sejak awal dia sama sekali nggak mengerti kenaa dia selalu bentrok dengan cowok ini. Dan bila melihat keseluruhan kejadiannya, itu bukan berasal dari dirinya, melainkan karena sifat buruk cowok ini.
Rendy menepuk bahu Andhita dan tersenyum sinis. ”Udah deh. Yang iseng melakukannya mungkin orang gila, dan sayangnya orang gila itu bukan gue. Elo bukan tipe gue, jadi gue nggak punya motif buat ngisengin elo.” katanya nyantai.
Andhita melotot, tapi cowok itu segera berlalu dari hadapannya.
***
Dua hari itu Andhita terpaksa bersembunyi di kelasnya karena dia mendadak menjadi selebriti sekolah. Untungnya ketiga temannya baik-baik. Selama istirahat pertama dan kedua mereka bergantian membawakan makanan untuk Andhita. Biar Andhita nggak kelaparan, begitu kata mereka. Dan Andhita jadi senang, soalnya saat nggak ada masalah, dia pun belum tentu bisa makan tiap kali istirahat. Sekarang dia nggak perlu lagi takut kelaparan.
”Sebenarnya gimana sih asal muasalnya orangtua lo ngejodohin lo?” tanya Keyra.
”Ceritanya panjang. Sepertinya masalah utang budi gitu deh. Tapi mereka nggak maksa kok, cuma… ya... maksa juga sih.” ucap Andhita, teringat pada papanya yang memang sangat mengharapkan penanaman modal saham di perusahaannya itu. Toh orangtuanya juga nggak mengharapkan dia menikah dalam waktu dekat. Paling nggak enam tahun lagi, dan enam tahun waktu yang cukup lama. Apa saja bisa terjadi selama enam tahun kan?
“Bonyok lo kok tega banget sih? Jujur aja ya, kalau hal itu terjadi sama gue, gue pasti bakalan langsung nolak abis. Peduli amat dengan hutang budi atau apalah namanya. Terus cowok yang dijodohin ke elo itu...cakep nggak?” tanya Keyra.
”Boro-boro bisa tahu cakep apa nggak. Gue aja belom pernah liat kayak gimana orangnya. Dan gue baru dipertemukan sama dia ntar malam!” kata Andhita sambil mengunyah kacang dengan asik. Putri sudah melarang mereka minum es, gorengan, kacang, dan makanan berminyak sebelum malam kesenian, tapi tentu saja yang lain tidak berminta mematuhi perintah nggak jelas itu. Apalagi tentang anjuran air jeruk nipis dua sendok makan setiap pagi. Apa nggak erosi tuh tenggorokan? Nggak sekalian minum cuka!
“Jadi, elo belum pernah ketemu cowok itu?” Tanya Keyra kaget.
Andhita mengangguk. “Bokap-nyokab gue aja belum pernah ngeliat gimana orangnya.”
“Apa?!! Kalau orangnya jelek abis, gimana? Gimana kalau dia gendut? Atau idiot, atau norak bin kampungan?” ujar Keyra dengan wajah serius.
”Yang gue tahu sih orangtuanya kaya banget. Dan soal idiot itu, gue udah pernah tanya, dan kata bokap gue itu nggak mungkin. Dia seumuran gue dan kelasnya setingkat juga sama kita.”
Keyra cengengesan. ”Kaya? He he he… boleh juga tuh. Gue juga mau dong dijodohin sama anak orang kaya.”
Andhita menimpuk wajah Keyra dnegan bungkus kacang. “Dasar matre lo!”
***
Jadi malam itu, dengan gaun hitam yang sudah di-laundry kilat oleh mama dan rambut yang ditata rapi di salon serta wajah yang di-makeup tipis tapi manis, Andhita bersama kedua orangtuanya pergi ke pesta makan malam adik calon tunangannya, Bebby.
Andhita sudah menyiapkan hadiah ulang tahun berupa hiasan meja. Isinya cairan berwarna merah dan biru. Bila hiasan itu dibalikkan, cairannya akan turun. Andhita sendiri suka banget, jadi dia berharap lupa memberikan kado itu dan terbawa pulang lagi, jdi benda itu bisa dimilikinya. Hihihi… soalnya kalau dia yang minta, mamanya belum tentu mau membelikan.
”Kira-kira calon tunanganmu itu seperti apa ya? Mama jadi nggak sabar ingin segera ketemu calon mantu.” kata Mamanya.
”Eit, bukan calon mantu, catet itu! Andhita kan janji buat ketemu doang, bukan janji buat kawin sama dia.” ujar Andhita cepat.
“Papa sudah beberapa kali bertemu dengan Om Seno di kantornya, tapi belum pernah ketemu dengan anaknya. Sebenarnya Papa penasaran juga. Mana Papa nggak ingat sama sekali dengan nama anaknya. Dulu, kalau Papa lihat, waktu bayi dia manis juga. Saat itu Papa pikir gedenya pasti ganteng. Nggak tahu deh sekarang seperti apa.”
”Andhita waktu kecil gimana, Pa?” tanya Andhita penasaran.
”Uh, jelek banget! Kayak monyet. Tapi gedenya mendingan. Syukurlah!” timpal Mama seenak udel.
“Ehm… kalau begitu, anaknya Om Seno yang kecilnya cakep, gedenya jangan-jangan kayak gorilla.” Canda Andhita sambil memalingkan wajah menatap jalanan.
Sebenarnya dia gugup juga. Bayangkan, bertemu dengan keluarga orang yang akan dijodohkan dengannya. Pasti mereka akan memerhatikannya dan menilai-nilai dirinya. Hal itu sama sekali nggak enak.
Tak lama kemudian mereka tiba di kediaman keluarga Om Seno. Mereka diundang langsung ke rumah, menandakan keluarga Om Seno benar-benar ingin beramah-tamah secara dekat dengan keluarga Andhita.
”Ini yang namanya Andhita? Cantik sekali ya.” ujar seorang wanita seumur mama Andhita.
Andhita tersipu malu. Tadi di rumah ketika memandang cermin, dia merasa begitu juga sih. Cantik. Hehehe.
”Mana anak kamu? Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya. Dulu waktu bayi lucu sekali. Sekarang pasti ganteng.” ujar papa.
Tante Astrid, suami Om Seno tersenyum. ”dia sudah bilang akan pulang terlambat. Katanya mau beli senar gitar di Music Store. Biasa, anak muda. Lagi senang-senangnya main gitar.”
”Wah, bagus itu. Daripada nge-drugs atau melakukan hal-hal negative, lebih baik disalurkan ke musik atau olahraga. Anakmu itu pintar main gitar? Wah seperti saya dong.” Kata Papa sok tahu. Setahu Andhita sih di rumah memang ada gitar, tapi sudah ditaruh di gudang. Dan terakhir kali papa menyentuh gitar…Andhita nggak tahu deh. Yang pasti dia baru sekali melihat papanya main gitar, ketika sedang gandrung lagunya Ektreme – More Than Words. Papa langsung beli gitar dan coba-coba mengikuti chord yang ada di majalah, tapi nggak bisa-bisa. Kemudian gitar itu dibanting dan ujungnya retak, lalu pensiun di gudang. Apa itu yang disebut pintar main gitar?
“Wah, hebat. Seno sih tidak bisa main gitar, tapi dia menyuruh Rendy les musik sebanyak-banyaknya. Dan Rendy juga senang olahraga.” Sahut Tante Astrid sedikit bangga.
Siapa? Rendy? Kenapa harus bernama Rendy? Nama yang saat ini nggak mau dia ingat sama sekali. Ternyata calon tunangannya itu punya nama yang sama dengan cowok yang paling dia benci saat ini. Andhita benar-benar nggak suka situasi kayak gini.
Sesudahnya Tante Astrid mempersilahkan keluarga Andhita masuk ke ruang tamu. Ternyata di situ Om Seno sudah menunggu mereka.
”Hai, kalian sudah kutunggu dari tadi. Ayo duduk. Mau minum apa?” tanyanya.
”Apa saja.” kata Mama Andhita.
”Ini yang namanya Andhita? Wah, cantik sekali. Dulu waktu bayi wajah kamu nggak seperti ini lho. Tembem! Papa kamu malah bilang kamu kayak badut, soalnya kamu gendut! Hehehe…” kata Om Seno.
Andhita hanya bisa meringis mendengar kata-kata Om Seno. Bicaranya terus terang sekali. Bapaknya begini, apa sifat anaknya juga seperti ini ya? Mudah-mudahan si Rendy yang satu ini nggak terlalu cerewet seperti Rendy yang dia kenal. Soalnya cowok emang nggak pantes bawel kan? Kayak cewek aja, pikir Andhita.
Mereka disuguhi orange tea dan donat oleh Tante Astrid. Tak lama kemudian Bebby bergabung dengan mereka. Dia masih kelas 1 SMU, dan sangat cantik. Tubuhnya malah lebih tinggi beberapa senti dari Andhita. Wajahnya tampak tidak asing bagi Andhita. Entah dia pernah liat di mana.
“Beb, ini hadiah buat kamu. Kamu ulang tahun pas hari ini ya?” tanya Andhita.
”Nggak, kemarin tepatnya. Sebenarnya mau di rayain, tapi kata Mama tahun depan aja pas tujuh belas tahun.” katanya.
Rambut Bebby pendek sebahu dan wajahnya besih tanpa makeup. Dia memakai tank top hitam berhiaskan kilau permata di dadanya. Untuk bawahannya dia mengenakan rok hitam lapis tule yang sedang in saat ini. Di telinga kanannya terpasang anting-anting panjang berbentuk rantai sepanjang sepuluh senti dan tindikannya yang ada tiga buah dipasangi anting berlian sehingga penampilannya tampak funky. Rambutnya dicat warna kemerahan sehingga Andhita tidak tahan untuk bertanya.
“Kamu sekolah di mana?”
“Di SMU Pramita Kelapa Gading.”
”SMU Pramita? Berarti kita satu sekolah dong?” ujar Andhita kaget.
”Iya, Mama sama Papa juga udah ngasih tahu kalau kakak sekolah di sana.” ujar Bebby. ”Tapi aku kan baru sebulan sekolah di situ, pindahan dari surabaya, jadi mungkin kakak belum pernah melihat aku.”
Andhita lantas mendapat fiasat buruk. Wajah Bebby tampak tak asing. Dia mirip… “Rendy sekolah di mana?” Tanya Andhita lagi.
“Di SMU Pramita juga. Satu-satunya sekolah bagus dekat dengan Sunter ya di sana. Dia kelas dua, sama dengan kakak. Malah jangan-jangan kakak pernah ngeliat dia.”
”Apa? Kelas dua? Dua apa?” seru Andhita.
”Dua IPA, tapi nggak tahu IPA berapa.” kata Bebby.
Oh my God! Jangan-jangan...
“Aku pulang!” seru seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu. Andhita menoleh ke ambang pintu dan melihat… Rendy berdiri di situ! Andhita memandang papa dan mamanya yang tampak terkejut sama seperti dirinya. Berarti...
Suara Om Seno memecah kesunyian. “Ini Rendynya sudah pulang! Ayo beri salam pada Tante Anne dan Om Heru, Rendy!”
”Ini...Ini kan..yang waktu itu...” tanya Papa mengenali.
Andhita menjadi lemas seketika. Baginya ini benar-benar kabar buruk. Pantas saja dia seperti pernah melihat Bebby. Rupanya wajahnya mirip dengan Rendy. Ini benar-benar buruk!
Rendy tampak terkejut melihat kehadiran Andhita di situ, tapi tidak terlalu terkejut seperti keluarga Andhita melihatnya. Cowok itu tersenyum ragu pada Andhita dan kedua orangtua gadis itu, lalu permisi ke dalam.
”Aku masuk dulu ya Pa, Ma. Aku mau ganti baju dulu.” katanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Andhita. Andhita menduga Rendy sudah tahu, dialah yang akan dijodohkan dnegannya. Bebby juga tadi bilang, dia udah tahu Andhita sekolah di SMU Pramita. Kemungkinan besar Rendy sudah mencari tahu tentang dirinya. Kalau begitu curang dong? Nggak fair! Pantas waktu pertama kali ketemu dulu, Rendy menelitinya seperti orang mau beli kuda!
”Jangan lama-lama ya, Ren. Makan malam segera dimulai.” Kata Tante Astrid, mama Rendy.
”Oke ma!”
Sepeninggal Rendy, mama Andhita bertanya dengan bingung, ”Kalau begitu...sebenarnya Rendy sudah mengenal Andhita sebelumnya?”
“Ya betul. Katanya Rendy sudah kenal dengan Andhita kok di sekolah. Dasar bandel. Walau pertama-tamanya saya sengaja nggak ngasih tahu, dia memaksa juga. Dia ingin tahu nama lengkap andhita siapa, kelas berapa. Terpaksa deh Seno memberitahu. Tapi si Rendy juga nggak komentar apa-apa tuh. Berarti dia setuju dijodohkan.” kata Tante Astrid.
Andhita memegang kepalanya. Mati gue!
”Jadi...” sambil menatap putrinya, Mama andhita mulai bingung, ”Kamu juga udah tahu kalau cowok yang dijodohkan dengan kamu itu Rendy?”
”Andhita nggak tahu Ma.” jawab Andhita lemas.
”Lalu...kenapa dia bisa ke rumah kita?”tanya Mama lagi.
”Aduh, Andhita juga nggak tau Ma. Di sekolah aja Andhita sama dia...”
Andhita hampir saja keceplosan bahwa hubungannya dengan Rendy di sekolah tidak bisa dibilang baik. ”Andhita sama dia nggak sekelas Ma.”
”Jadi Rendy pernah ke rumah kak Heru?” tanya Tante Astrid kaget.
”Lho, ngapain dia kesana? dasar anak nggak tahu aturan.” kata Om Seno senyum-senyum bangga, sama sekali beda dengan kata-katanya. Pasti dia bangga karena anaknya dinilai berani, pikir Andhita sebal.
”Dia datang untuk melihat kaki Andhita yang terkilir. Saya pikir dia teman baiknya Andhita di sekolah.” kata Mama Andhita.
”Wah, ternyata anak kita tanpa dijodohkan pun sudah akrab ya?” ujar Tante Astrid senang.
”Ngapain kak Rendy pergi ke rumah Andhita? Apalagi dengan menutupi identitasnya. Bukannya itu nggak bagus, Pa?” sela Bebby.
”Aku bukan menutupi identitas, aku cuma nggak bilang. Itu dua hal yang berbeda, kan?” ujar Rendy yang tiba-tiba saja sudah bergabung dengan mereka. Dia sudah mengganti bajunya dengan kasu hitam lengan panjang yang keren. Pasti merek mahal, soalnya pas banget di tubuhnya yang tinggi dan atletis, pikir Andhita. Duh... Andhita, masih sempat-sempatnya kamu...
”Rendy, kamu pergi ke rumah Andhita kok nggak bilang-bilang sama Papa dan Mama? Bukannya kamu sudah janji nggak akan nemuiin Andhita sebelum dipertemukan?” tegur Tante Astrid.
Rendy hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang diberi gel hingga rambutnya yang pendek berdiri seperti landak.
”Aku ke sana bukannya dalam rangka perjodohan Ma. Aku dan Andhita terlibat dalam suatu acara di malam kesenian. Aku yang mengiringi Andhita menyanyi.” katanya.
Andhita melotot. Cerita Rendy seolah-olah mereka sedang berlatih untuk konser tunggal, di mana dia yang menyanyi seriosa solo dan Rendy yang menjadi pianisnya. Padahal mereka cuma bergabung di vocal grup, menyumbangkan satu lagu!
“Oh ya? Menarik sekali! Kalau begitu kalian itu sudah cocok banget, yang satu suka main musik, yang satunya lagi suka nyanyi. Bukan begitu Pa?” tanya Tante Astrid.
“Tapi…” mama Andhita terlihat bingung. “Saya waktu itu mungkin memberikan kesan yang tidak baik pada Rendy karena telah mengusirnya secara halus.”
“Ah, nggak apa-apa kok Tante. Waktu itu kan Tante bilang supaya aku tidak mendekati Andhita karena Andhita udah dijodohkan dengan seseorang. Berarti Tante sudah mendukung aku dong?” kata Rendy menyebalkan.
Oh God! Keluh Andhita. Lengkap sudah kekesalannya pada cowok sok tahu dan sok cakep bin bawel ini.
“Berarti benar elo yang nyebarin berita di sekolah kalau gue udah dijodohin?” Tanya Andhita setengah berbisik pada cowok di sampingnya itu.
“Nggak. Kan gue udah bilang sama lo, bukan gue yang nyebarin gosip murahan kayak gitu!” elak Rendy.
“Gosip udah dijodohin? Itu nggak baik buat Andhita dong. Dia kan bisa malu.” timpal Tante Astrid.
”Iya Ma. Aku juga ngeliat selebaran itu ditempel di kantin. Cuma aku nggak tahu kalau Andhita yang dimaksud ya Kak Andhita.” kata Bebby.
Oh-oh! Di kantin juga? Astaga!
”Siapa yang membuat gosip itu Ren?” Tanya Om Seno serius.
“Bukan aku Pa, sumpah! Nanti akan Rendy selidiki deh.”
”Kamu harus nyelidikin ini baik-baik. Pokoknya, kalau kamu sampai mempermalukan Andhita, berarti kamu juga mempermalukan Papa di depan Om Heru.” kata om Seno.
”Oke Pa.” jawab Rendy.
Mereka lalu mulai makan malam. Meskipun yang tersaji adalah makanan restoran terkemuka dan rasanya sangat enak, Andhita hampir tak bisa menelannya. Pikirannya terus dipenuhi oleh kenyataan bahwa Rendy-lah ternyata yang dijodohkan dengannya. Tapi dia sudah terlanjur menilai negatif cowok itu, bagaimana dong? Tadinya dia berpikir, setidaknya dia bisa menjalin hubungan persahabatan lebih dulu dengan calon tunangannya itu. Tapi kini, setelah tahu bahwa Rendy adalah calon tunangannya, dia pun menjadi muak. Lagi pula dia sudah berjanji nggak akan pernah mengajak cowok itu berbicara lagi.
”Rendy, jadi rupanya kamu sudah menyelidiki keberadaan Andhita di sekolah tanpa Andhita sadari?” tanya Papa Andhita dengan raut muka ramah. Lain banget dengan waktu Rendy datang ke rumah beberapa hari yang lalu. Dengan raut muka sok wibawa dan segala deheman yang menyeramkan itu, tingkah laku Papa bagaikan Sherlock holmes menyelidiki kasus penting.
“Iya Om. Aku jadi ngerasa bersalah. Tapi sebenarnya pertemuan aku sama Andhita memang nggak disengaja Om. Andhita yang menghubungi aku untuk mengiringi vocal grupnya.”
“Benar-benar jodoh ya?” timpal mama.
Andhita memutar bola matanya. Duh, mama please dong! Jangan memihak Rendy terus! Anakmu nih… anakmu bagaimana?
“Kok kamu dari tadi Tante perhatikan diam saja Andhita? Apa kamu nggak senang mendapati kenyataan kamu sudah mengenal Rendy di sekolah?” Tanya Tante Astrid.
Andhita tersentak. Daging yang ditelannya menyangkut ke kerongkongan hingga dia tersedak. Dengan wajah membiru dia menunjuk-nunjuk ke kerongkongannya. Rendy yang duduk di sebelahnya langsung menariknya berdiri. Cowok itu melingkarkan tanganny di pinggang Andhita dan sekuat tenaga menyentakkan tubuh Andhita. Sang daging terkutuk itu keluar dan jatuh ke lantai. Memalukan! Lengkap sudah gue dipermalukan malam ini, desah Andhita dalam hati tak berdaya.
Semua yang ada di ruangan itu tampak panik.
”Ya ampun... untung ada Rendy...” desah Mama sambil mengusap-usap punggung Andhita sementara putrinya itu minum segelas air yang diberikan Rendy.
”Ya, untuk itulah seorang pria diciptakan. Untuk menjaga wanita. Betul kan Pa?” ujar Tante Astrid.
Andhita berusaha menahan sabar dengan menyesap air putihnya pelan-pelan. Rasanya malu banget. Apalagi daging yang dimuntahkannya meninggalkan noda di bajunya. Kenapa gue harus mengalami hal kayak gini sih?
”Makannya pelan-pelan aja Dhit.” kata Papa bikin Andhita tambah malu aja.
”Andhita... lanjutkan lagi makannya ya. Nanti setelah makan, kami mau menunjukkan foto-foto keluarga kami pada kalian.” kata Om Seno.
Mereka pun melanjutkan makan lagi. Kali ini tanpa terlalu banyak bicara. Mungkin semuanya jadi takut tersedak kayak Andhita.
Sehabis makan, sambil menikmati secangkir wedang jahe dan puding buah, tante Astrid menggelar foto-foto keluarga. Andhita duduk di karpet tanpa menaruh minat sedikit pun pada foto-foto itu.
”Lihat, ini Rendy waktu masih bayi. Karena keringetan terus, maka waktu difoto dia lagi telanjang.” kata Om Seno.
”Oh lucunya.” komentar Mama.
Andhita melirik sedikit dan tanpa sadar tersenyum. Rasain, memangnya enak dipermalukan?
Tiba-tiba terdengar denting gitar. Andhita melirik Rendy yang duduk di sebelahnya. Cowok itu sedang menyetem senar. Ah, biasa… pasti lagi pamer. Mau nunjukin kalau dia itu bisa segala macam jenis musik. Tapi melihat keahlian dan kecepatannya mengganti senar, mau tak mau Andhita kagum juga. Padahal sebelum melihat ini Andhita bahkan tidak ahu kalau ternyata senar gitar itu bisa diganti. Soalnya senar gitar Papa pernah putus dan Papa pasrah main gitar dengan lima senar. Tentu saja sebelum menyerah dan membanting gitarnya.
“Kenapa elo nggak pernah bilang kalau elo yang dijodohin sama gue?” bisik Andhita sedikit marah. Selagi kedua orangtua mereka sedang sibuk melihat foto, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk melabrak cowok berengsek di sebelahnya. Bebby sudah permisi ke kamarnya karena ada janji chatting di internet dengan teman-temannya.
”Elo kan nggak pernah nanya.” sahut Rendy santai.
”Elo ini...” geram Andhita. ”Kalau begitu, kenapa elo nyelidikin gue? Apa elo senang dengan perjodohan ini?”
Tanpa melirik, Rendy balas berbisik. ”Jangan GR! Kan gue udah pernah bilang sama lo, elo itu bukan tipe gue.”
Andhita makin kesal. ”Tapi...” suaranya meninggi. Namun ketika dilihatnya keempat orang dewasa di ruangan itu sedang memandangnya, dia jadi salah tingkah.
Tiba-tiba Rendy berdiri. ”Pa, Ma kami permisi dulu. Andhita mau melihat kolam renang dan kebun belakang.” katanya sambil menarik tangan Andhita.
”Oh ya, baguslah. Kalian memang buuh waktu untuk saling mengenal.” Kata Tante Astrid. Sekarang Andhita tahu mengapa Rendy begitu bawel. Mama dan Papanya juga sama-sama bawel sih.
Andhita sama sekali tidak menolak saat Rendy menarik tangannya menuju belakang rumah, tapi ketika orangtua mereka tidak melihat mereka lagi, Andhita langsung menarik tangannya.
“Gue bisa jalan sendiri.” Katanya ketus.
Rendy tidak menjawab. Dia mengajak Andhita ke kolam renang besar di belakang rumah. Diam-diam Andhita kagum juga. Rumah ini benar-benar mewah. Pekerjaan Papanya Rendy apa sih sampai bisa sekaya ini? Pantas saja Papa begitu ingin mendapatkan partner perusahaan seperti Om Seno. Mungkin dia ingin perusahaannya sukses seperti perusahaan Om Seno.
”Jangan GR. Gue ngajak elo ke sini sama sekali bukan karena mau lebih kenal sama lo. Karena yang gue liat, elo itu cewek yang sama sekali nggak bisa menutupi perasaan. Gue rasa gue udah cukup mengenal lo.” kata Rendy ketika mereka udah tiba di bangku santai pinggir kolam.
Dia mempersilahkan Andhita duduk di situ dengan gerakan tangannya. Andhita terpaksa menurut.
”Gue nggak GR!” Andhita merenggut.
”Tuh kan...”
Andhita melotot. ”Kenapa elo mau menyelidiki gue tanpa gue tahu siapa elo sebenarnya di sekolah?” tanyanya.
”Udah gue bilang, gue cuma mau tahu aja.”
“Dan setelah lo tahu? Lo kecewa?”
Rendy tertawa. “Bukan soal kecewa atau nggak. Gue cuma pengen tahu aja. Jangan banyak menduga yang nggak-nggak dong. Elo kan belum kenal gue dengan baik.”
“Kalau begitu, kenapa elo nggak marah dijodohin sama bonyok lo? Gue sendiri benar-benar nggak setuju sama perjodohan ini.” kata Andhita.
Rendy mendekatkan tubuhnya ke tubuh Andhita sehingga Andhita bisa mencium aroma parfum cowok itu. Andhita langsung mundur sedikit, perasaan deg-degan tiba-tiba menerpanya. Hei ingat! Jagalah hati! Jangan menangkap pesona yang ditebarkan cowok ini. Ayo pasang berikade. Seperti atmosfer yang menyelubungi bumi, benak Andhita memperingatkan.
“Sebenarnya gue ngajak elo ke sini untuk merundingkan sesuatu.” Bisik Rendy.
“Me…rundingkan apa?” kata Andhita dengan suara sedikit bergetar.
“Begini… sebenarnya gue juga nggak setuju dengan perjodohan ini. Tapi elo liat sendiri kan seperti apa kedua orangtua gue?”
Andhita mengangguk-angguk bloon sambil memerhatikan wajah Rendy yang cukup dekat dengannya. Ada apa sih dengan dirinya? Kok tiba-tiba jadi jengah begini?
”Mereka sangat antusias dengan perjodohan ini, entah kenapa. Dan gue nggak bisa bilang gue nggak mau gitu aja. Makanya gue minta data-data lo dan nyelidikin elo di sekolah. Sebenarnya waktu kamis kemarin gue mau bilang, tapi elo kan udah marah duluan soal selebaran itu, jadi nggak jadi deh.”
”Jadi...maksud lo... elo lagi nyusun rencana?”
”Yup!” Rendy mengangguk mantap. ”Gue rasa langsung menolak juga nggak ada gunanya. Jadi lebih baik kita pura-pura nerima aja.”
“Pura-pura nerima gimana?”
”Iya. Elo tahu kan, gimana jadinya kalau gue langsung nolak dan kita terlihat nggak saling menyukai?”
”Apa?”
”Nyokab gue tukang maksa. Dia paling ahli memaksakan pandapatnya dengan cara pelan-pelan. Jadi percuma aja nolak. Lebih baik kita terlihat saling suka.”
”Saling suka?”
”Ya. Kalau nggak, dia pasti bakalan nyuruh kita lebih sering ketemu. Elo bakalan sering diundang ke rumah gue satu atau dua kali seminggu. Elo mau?”
Satu atau dua kali seminggu? Apa-apaan nih? Andhita mulai cemas.
”Nggak!”
”Makanya, nurut aja sama apa yang gue bilang. Gue liat elo cewek yang cukup punya akal sehat. Untung deh. Coba kalau cewek yang lemot, bolot, atau telmi, rada susah juga.” Kata Rendy meyakinkan.
Andhita jadi mengangguk-angguk seperti orang bego. Kurang ajar juga nih. Kelihatannya gue lagi dibego-begoin sama dia.
”Jadi bagaimana?” tanya Andhita.
”Untuk sementara, kita berdua berlagak nerima aja. Urusan selanjutnya kita lihat keadaan dulu, jelas nggak?”
”Terus, masalah pengumuman di sekolah gimana?”
”Sedang gue selidiki. Lagian juga sekarang orang-orang belum pada tahu kalau gue yang dijodohin sama lo kan?”
”Iya, tapi kan...” Andhita mau bilang kalau ini berarti enak di Rendy, nggak enak di dia.
”Ya udah, sabar aja. Orang sabar disayang Tuhan, oke?” cowok itu menepuk-nepuk pundak Andhita.
Rendy kembali mengajak Andhita ke ruang tengah. Pembicaraan mereka selesai, tapi bukan berarti masalah ini sudah selesai. Andhita mendapatkan firasat buruk bahwa ini semua tidak akan berjalan dengan mulus. Rencana Rendy, juga yang lainnya, sama sekali tidak akan mudah.
***
Setibanya di sekolah, Andhita bingung melihat teman-temannya memperhatikannya sambil berbisik-bisik. Tatapan mereka aneh. Andhita sampai mengeluarkan kaca kecil dari dalam tasnya untuk melihat apakah penampilannya ada yang aneh atau lain dari biasanya. Tapi biasa-biasa saja kok, nggak ada yang aneh. Rambutnya memang hari ini dikuncir dua, tapi sah-sah saja kan? Kalau memang dikuncir dua jadi kelihatan aneh dan sok imut, besok dia nggak mau dikuncir dua lagi.
Tapi tatapan-tatapan itu terus berlangsung sepanjang jalan. Dia jadi bertanya-tanya. Apa karena gaya jalannya yang terpincang-pincang? Tapi sejak bangun tidur tadi pagi, kakinya sudah tidak terlalu parah kok. Dia nyaris bisa berjalan seperti biasa.
Ketika tiba di kelasnya, teman-temannya sedang mengerumuni papan tulis. Andhita bingung. ”Ada apa sih?” tanyanya pada Anya, teman sebangkunya.
Anya tampak salah tingkah. Dia berkata, ”Liat aja sendiri Dhit... elo mesti ngeliat sendiri deh.”
Andhita semakin bingung. Dia menguak kerumunan temannya dan melihat papan tulis yang penuh tulisan itu.
”Andhita sudah dijodohkan dengan pemuda pilihan orang tuanya. Tidak ada yang boleh mengganggunya, karena sebentar lagi dia akan bertunangan,” gumam Andhita membaca tulisan di papan tulis.
”Dhita, emangnya benar elo udah dijodohin?” kata salah seorang temannya.
Andhita tidak menjawab dan langsung menghapus tulisan di papan tulis. Apa-apaan sih? Siapa yang melakukan semua ini? Gerutunya.
”Emangnya elo udah ditunangin Dhit? Jangan-jangan lulus sekolah lo bakalan langsung dikawinin lagi.” timpal yang lainnya, membuat teman-teman sekelasnya tertawa.
Andhita cemberut gusar.
”Siapa sih yang nulis ini?!” serunya.
“Nggak tahu. Lala yang dating paling pagi juga bilang, waktu dia nyampe, tulisan ini udah ada. Oh ya, nggak cuma di kelas kita doang. Tulisan ini juga ditempel di papan pengumuman!” ujar Anya sambil mesem-mesem.
”Apa??!!”
***
Andhita merobek selembar kertas yang ditempel di papan pengumuman. Boro-boro modal pake komputer, tulisannya tulisan tangan! Ditulis besar-besar dengan spidol. Semua orang memerhatikan Andhita. Bahkan yang nggak kenal sekalipun. Mereka menunjuk-nunjuk Andhita. Mungkin mereka pada bilang, ”Itu tuh yang namanya Andhita. Nggak nyangka ya, cakep-cakep ternyata mau aja dijodohin. Nggak laku-laku kali!” tentu saja itu cuma pikian Andhita sendiri, tapi cukup membuatnya frustasi. Dia langsung mencari Putri di kelasnya.
”Put!”
Putri menoleh dan memandang Andhita dengan salah tingkah. Andhita langsung tahu, sahabatnya itu pasti juga sudah mambaca pengumuman itu. Berarti semua orang sudah tahu dong?
”Elo udah baca tulisan yang dipasang di papan pengumuman?” tanya Andhita.
”Di papan pengumuman? Tapi malah tadi gue baca di depan kamar mandi cewek.” kata Putri.
Apa? Di kamar mandi cewek juga? Orang itu benar-benar sakit!
“Emangnya benar elo dijodohin, Dhit?” Tanya Putri berbisik.
“Duh… sekarang masalahnya bukan itu. Sekarang itu, gue mau tahu siapa yang ngelakuin semua ini ke gue? Siapa yang nulis dan nempelin semua ini di mana-mana?”
Putri melirik Andhita yang duduk di bangkunya.
”Udah, duduk dulu deh. Yang di kamar mandi cewek udah gue copot kok tadi.”
Andhita menghela napas panjang. Tapi kemudian...”Gimana dong?” keluhnya. Malu-maluin aja. Sekarang dia yang cuma cewek biasa-biasa aja di sekolah jadi sorotan dan bahan gosip.
”Emangnya soal dijodohin itu benar Dhit?” Tanya Putri.
Andhita mengangguk pelan.
”Dijodohin sih sebenarnya nggak salah, tapi kalau sampai disebarin ke orang-orang, ini benar-benar keterlaluan!” ujar Putri.
Tiba-tiba tangis Andhita pecah. Dia menelungkupkan wajahnya di meja. ”Gue malu banget.” katanya. Dia lalu teringat sesuatu, Rendy sudah tahu tentang masalah perjodohan ini. Apa cowok itu yang melakukan ini semua?
Andhita mengangkat kepala dan tiba-tiba berseru, ”Rendy!!”
”Rendy??” tanya Putri bingung.
”Pasti dia yang melakukan ini semua! Soalnya cuma dia yang tahu kalau gue dijodohin.”
”Dia tahu?” tanya Putri lagi. ”Kok gue nggak tahu, tapi dia bisa tahu? Kok elo nggak ngasih tahu gue? Elo udah nggak percaya lagi sama gue Dhit?”
”Sekarang jangan mikirin itu dulu deh. Gimana dong? Gue harus gimana? Gue mestinya marah kan?” Tanya Andhita.
Putri mengangguk-angguk. “Kalo memang benar dia orangnya, elo berhak marah kok. Tapi sebaiknya kita cari aja dulu orangnya.”
Kriing!! Bel masuk berbunyi.
“Nggak usah. Kalau gue nyari dia sekarang, selain udah nggak keburu karena udah bel, gue juga malu diliatin orang. Mending nanti aja, pulang sekolah pas latihan.”
“Oke deh. Biar bagaimana juga, gue pasti dukung elo. Kalau perlu kita oecat dia.” Tegas Putri.
“Thanks.” Kata Andhita pelan.
***
Pulang sekolah, Andhita buru-buru pergi ke aula sekolah sebelum yang lainnya datang. Dia benar-benar kesal. Hari ini tidak secuil pun pelajaran yang masuk ke kepalanya. Bahkan dia yakin pasti dapat nilai merah untuk ulangan sejarah tadi. Semua yang dipelajarinya kemarin lenyap entah ke mana gara-gara terlalu kesal memikirkan masalah ini.
Ini pasti ulah Rendy. Cuma cowok itu yang tahu masalah perjodohan ini. Apa sih maksudnya? Kalau ini maksudnya untuk menarik perhatian, jelas bukan perhatian yang dia dapatkan, melainkan kebencian Andhita yang meluap-luap.
Tak lama kemudian, ketiga temannya datang disusul Rendy di belakang mereka. Andhita langsung mendekati cowok itu.
”Heh, kenapa sih elo melakukan semua ini? Kenapa elo ngebocorin rahasia gue ke seluruh sekolah?” tuntut Andhita marah.
Rendy menatapnya dengan pendangan bingung. “Rahasia apa? Gue melakukan apa?” tanyanya.
”Jangan berlagak bego deh! Tau gak lo, gue nggak suka diperlakukan begitu, tau! Gue emang senang bercanda, tapi yang wajar-wajar aja dong. Jangan keterlaluan!” ujar Andhita berapi-api.
“Andhita, lo apa-apaan sih?” Rendy menatap yang lain untuk meminta bantuan, tapi yang lain hanya menunduk.
Akhirnya Putri berkata, ”Emang lo belum tau kalau satu sekolah sekarang udah pada tahu Andhita bakalan dijodohin bokap nyokabnya?”
Rendy terkejut. ”Oh ya? Gue kira cuma gue yang tahu...”
Keyra menyela, “Di papan tulisbeberapa kelas, di papan pengumuman, di depan kamar mandi cewek dan cowok, di pohon besar dekat lapangan upacara. Nah, kata Andhita cuma elo satu-satunya yang tahu. Bahkan kita bertiga aja nggak tahu. Kalau begitu...”
”Jadi kalian berempat nuduh gue nih?” Rendy tampak marah.
”Habis siapa lagi?!” bentak Andhita.
Di pohon besar dekat lapangan upacara? Oh my God! Tempat itu kan selalu dilewati para guru kalau mau menuju ke ruang guru! Malu-maluin nih! Jangan-jangan masih ada tempat lain yang belum diketahui Andhita. Memikirkan itu membuat Andhita ingin berteriak dan mencakar Rendy.
”Gue... gue nggak pernah nempelin pengumuman apa pun. Lagian juga, emangnya gue tipe orang seperti itu? Itu cuma kerjaan orang gila! Emangnya elo pikir orang gila yang nggak punya kerjaan?” kata Rendy.
Putri mulai melunak mendengar bantahan cowok itu. “Bener nih, bukan elo yang nulis?”
“Bukan!” tegas Rendy. “Begini aja, giar gue yang nyari tahu siapa pelakunya buat ngebuktiin kalau gue benar-benar nggak bersalah dalam hal ini!”
Putri menatap Andhita, tapi Andhita diam saja. Jelas cewek itu masih merasa Rendy-lah pelakunya.
”Ya udah, persoalan ini kita selesaikan lagi nanti. Sekarang labih baik kita latihan dulu!”
Andhita melotot. Tadi katanya Putri mau mecat...
Putri tahu perasaan Andhita. Dia berkata, ”Urusan pribadi jangan dicampuradukkan dengan vocal grup kita. Jangan kuatir, nanti akan gue selidiki lagi.”
Andhita merengut. Dia masih belum puas. Tapi apa boleh buat. Kata-kata Putri tadi benar, tapi satu yang pasti, dia benci luar biasa pada Rendy. Dalam hati dia berjanji, selamanya takkan berbicara lagi dengan cowok itu!
Tapi rupanya perasaannya saat itu memengaruhi kualitas menyanyinya. Atau karena dia tidak latihan satu kali, entahlah. Berkali-kali Andhita fals dan tidak mampu menyanyikan suatu nada dengan tepat.
”Tolong suara duanya ya! Itu do, bukannya si. Beda setengah nada sama saja dengan fals, tau? Fals itu artinya sumbang, in case elo nggak tahu artinya.” Sela Rendy menyebalkan di tengah-tengah latihan dengan tatapan tertuju pada Andhita.
Andhita mengatupkan bibirnya. Dia ingin membalas ucapan Rendy, tapi teringat dengan janjinya bahwa dia tidak akan pernah lagi mengajak cowok itu bicara. Semuanya hanya memandang mereka berdua dengan bingung. Suasana tegang mengambang di udara.
Ketika selesai latihan, Rendy mendekati Andhita. ”Benar Dhit. Bukan gue yang nyebarin berita itu.” Katanya sungguh-sungguh.
Andhita diam saja. Mana bisa dia percaya jika satu-satunya tersangka adalah Rendy. Lagipula, terbongkarnya rahasia perjodohan ini hanya selang beberapa jam setelah Rendy ke rumahnya. Itu mempersempit tersangka kan? Anyway, tersangkanya memang hanya ada satu.
”Masalah ini juga jangan sampai ngeganggu konsentrasi nyanyi lo, Dhit. Elo mikir deh pake akal sehat, buat apa gue melakukan semua ini? Apa untungnya gue ngasih tahu semua orang kalau elo udah dijodohin? Lagi pula tadi pagi kan gue datangnya terlambat. Jadi, lo jelas kan, gue nggak punya motif dan kesempatan.” tutur Rendy.
Andhita tetap mengatupkan mulutnya walau dia sudah gatal ingin mengatakan bahwa dia nggak percaya sama sekali dengan ucapanya. Apalagi sejak awal dia sama sekali nggak mengerti kenaa dia selalu bentrok dengan cowok ini. Dan bila melihat keseluruhan kejadiannya, itu bukan berasal dari dirinya, melainkan karena sifat buruk cowok ini.
Rendy menepuk bahu Andhita dan tersenyum sinis. ”Udah deh. Yang iseng melakukannya mungkin orang gila, dan sayangnya orang gila itu bukan gue. Elo bukan tipe gue, jadi gue nggak punya motif buat ngisengin elo.” katanya nyantai.
Andhita melotot, tapi cowok itu segera berlalu dari hadapannya.
***
Dua hari itu Andhita terpaksa bersembunyi di kelasnya karena dia mendadak menjadi selebriti sekolah. Untungnya ketiga temannya baik-baik. Selama istirahat pertama dan kedua mereka bergantian membawakan makanan untuk Andhita. Biar Andhita nggak kelaparan, begitu kata mereka. Dan Andhita jadi senang, soalnya saat nggak ada masalah, dia pun belum tentu bisa makan tiap kali istirahat. Sekarang dia nggak perlu lagi takut kelaparan.
”Sebenarnya gimana sih asal muasalnya orangtua lo ngejodohin lo?” tanya Keyra.
”Ceritanya panjang. Sepertinya masalah utang budi gitu deh. Tapi mereka nggak maksa kok, cuma… ya... maksa juga sih.” ucap Andhita, teringat pada papanya yang memang sangat mengharapkan penanaman modal saham di perusahaannya itu. Toh orangtuanya juga nggak mengharapkan dia menikah dalam waktu dekat. Paling nggak enam tahun lagi, dan enam tahun waktu yang cukup lama. Apa saja bisa terjadi selama enam tahun kan?
“Bonyok lo kok tega banget sih? Jujur aja ya, kalau hal itu terjadi sama gue, gue pasti bakalan langsung nolak abis. Peduli amat dengan hutang budi atau apalah namanya. Terus cowok yang dijodohin ke elo itu...cakep nggak?” tanya Keyra.
”Boro-boro bisa tahu cakep apa nggak. Gue aja belom pernah liat kayak gimana orangnya. Dan gue baru dipertemukan sama dia ntar malam!” kata Andhita sambil mengunyah kacang dengan asik. Putri sudah melarang mereka minum es, gorengan, kacang, dan makanan berminyak sebelum malam kesenian, tapi tentu saja yang lain tidak berminta mematuhi perintah nggak jelas itu. Apalagi tentang anjuran air jeruk nipis dua sendok makan setiap pagi. Apa nggak erosi tuh tenggorokan? Nggak sekalian minum cuka!
“Jadi, elo belum pernah ketemu cowok itu?” Tanya Keyra kaget.
Andhita mengangguk. “Bokap-nyokab gue aja belum pernah ngeliat gimana orangnya.”
“Apa?!! Kalau orangnya jelek abis, gimana? Gimana kalau dia gendut? Atau idiot, atau norak bin kampungan?” ujar Keyra dengan wajah serius.
”Yang gue tahu sih orangtuanya kaya banget. Dan soal idiot itu, gue udah pernah tanya, dan kata bokap gue itu nggak mungkin. Dia seumuran gue dan kelasnya setingkat juga sama kita.”
Keyra cengengesan. ”Kaya? He he he… boleh juga tuh. Gue juga mau dong dijodohin sama anak orang kaya.”
Andhita menimpuk wajah Keyra dnegan bungkus kacang. “Dasar matre lo!”
***
Jadi malam itu, dengan gaun hitam yang sudah di-laundry kilat oleh mama dan rambut yang ditata rapi di salon serta wajah yang di-makeup tipis tapi manis, Andhita bersama kedua orangtuanya pergi ke pesta makan malam adik calon tunangannya, Bebby.
Andhita sudah menyiapkan hadiah ulang tahun berupa hiasan meja. Isinya cairan berwarna merah dan biru. Bila hiasan itu dibalikkan, cairannya akan turun. Andhita sendiri suka banget, jadi dia berharap lupa memberikan kado itu dan terbawa pulang lagi, jdi benda itu bisa dimilikinya. Hihihi… soalnya kalau dia yang minta, mamanya belum tentu mau membelikan.
”Kira-kira calon tunanganmu itu seperti apa ya? Mama jadi nggak sabar ingin segera ketemu calon mantu.” kata Mamanya.
”Eit, bukan calon mantu, catet itu! Andhita kan janji buat ketemu doang, bukan janji buat kawin sama dia.” ujar Andhita cepat.
“Papa sudah beberapa kali bertemu dengan Om Seno di kantornya, tapi belum pernah ketemu dengan anaknya. Sebenarnya Papa penasaran juga. Mana Papa nggak ingat sama sekali dengan nama anaknya. Dulu, kalau Papa lihat, waktu bayi dia manis juga. Saat itu Papa pikir gedenya pasti ganteng. Nggak tahu deh sekarang seperti apa.”
”Andhita waktu kecil gimana, Pa?” tanya Andhita penasaran.
”Uh, jelek banget! Kayak monyet. Tapi gedenya mendingan. Syukurlah!” timpal Mama seenak udel.
“Ehm… kalau begitu, anaknya Om Seno yang kecilnya cakep, gedenya jangan-jangan kayak gorilla.” Canda Andhita sambil memalingkan wajah menatap jalanan.
Sebenarnya dia gugup juga. Bayangkan, bertemu dengan keluarga orang yang akan dijodohkan dengannya. Pasti mereka akan memerhatikannya dan menilai-nilai dirinya. Hal itu sama sekali nggak enak.
Tak lama kemudian mereka tiba di kediaman keluarga Om Seno. Mereka diundang langsung ke rumah, menandakan keluarga Om Seno benar-benar ingin beramah-tamah secara dekat dengan keluarga Andhita.
”Ini yang namanya Andhita? Cantik sekali ya.” ujar seorang wanita seumur mama Andhita.
Andhita tersipu malu. Tadi di rumah ketika memandang cermin, dia merasa begitu juga sih. Cantik. Hehehe.
”Mana anak kamu? Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya. Dulu waktu bayi lucu sekali. Sekarang pasti ganteng.” ujar papa.
Tante Astrid, suami Om Seno tersenyum. ”dia sudah bilang akan pulang terlambat. Katanya mau beli senar gitar di Music Store. Biasa, anak muda. Lagi senang-senangnya main gitar.”
”Wah, bagus itu. Daripada nge-drugs atau melakukan hal-hal negative, lebih baik disalurkan ke musik atau olahraga. Anakmu itu pintar main gitar? Wah seperti saya dong.” Kata Papa sok tahu. Setahu Andhita sih di rumah memang ada gitar, tapi sudah ditaruh di gudang. Dan terakhir kali papa menyentuh gitar…Andhita nggak tahu deh. Yang pasti dia baru sekali melihat papanya main gitar, ketika sedang gandrung lagunya Ektreme – More Than Words. Papa langsung beli gitar dan coba-coba mengikuti chord yang ada di majalah, tapi nggak bisa-bisa. Kemudian gitar itu dibanting dan ujungnya retak, lalu pensiun di gudang. Apa itu yang disebut pintar main gitar?
“Wah, hebat. Seno sih tidak bisa main gitar, tapi dia menyuruh Rendy les musik sebanyak-banyaknya. Dan Rendy juga senang olahraga.” Sahut Tante Astrid sedikit bangga.
Siapa? Rendy? Kenapa harus bernama Rendy? Nama yang saat ini nggak mau dia ingat sama sekali. Ternyata calon tunangannya itu punya nama yang sama dengan cowok yang paling dia benci saat ini. Andhita benar-benar nggak suka situasi kayak gini.
Sesudahnya Tante Astrid mempersilahkan keluarga Andhita masuk ke ruang tamu. Ternyata di situ Om Seno sudah menunggu mereka.
”Hai, kalian sudah kutunggu dari tadi. Ayo duduk. Mau minum apa?” tanyanya.
”Apa saja.” kata Mama Andhita.
”Ini yang namanya Andhita? Wah, cantik sekali. Dulu waktu bayi wajah kamu nggak seperti ini lho. Tembem! Papa kamu malah bilang kamu kayak badut, soalnya kamu gendut! Hehehe…” kata Om Seno.
Andhita hanya bisa meringis mendengar kata-kata Om Seno. Bicaranya terus terang sekali. Bapaknya begini, apa sifat anaknya juga seperti ini ya? Mudah-mudahan si Rendy yang satu ini nggak terlalu cerewet seperti Rendy yang dia kenal. Soalnya cowok emang nggak pantes bawel kan? Kayak cewek aja, pikir Andhita.
Mereka disuguhi orange tea dan donat oleh Tante Astrid. Tak lama kemudian Bebby bergabung dengan mereka. Dia masih kelas 1 SMU, dan sangat cantik. Tubuhnya malah lebih tinggi beberapa senti dari Andhita. Wajahnya tampak tidak asing bagi Andhita. Entah dia pernah liat di mana.
“Beb, ini hadiah buat kamu. Kamu ulang tahun pas hari ini ya?” tanya Andhita.
”Nggak, kemarin tepatnya. Sebenarnya mau di rayain, tapi kata Mama tahun depan aja pas tujuh belas tahun.” katanya.
Rambut Bebby pendek sebahu dan wajahnya besih tanpa makeup. Dia memakai tank top hitam berhiaskan kilau permata di dadanya. Untuk bawahannya dia mengenakan rok hitam lapis tule yang sedang in saat ini. Di telinga kanannya terpasang anting-anting panjang berbentuk rantai sepanjang sepuluh senti dan tindikannya yang ada tiga buah dipasangi anting berlian sehingga penampilannya tampak funky. Rambutnya dicat warna kemerahan sehingga Andhita tidak tahan untuk bertanya.
“Kamu sekolah di mana?”
“Di SMU Pramita Kelapa Gading.”
”SMU Pramita? Berarti kita satu sekolah dong?” ujar Andhita kaget.
”Iya, Mama sama Papa juga udah ngasih tahu kalau kakak sekolah di sana.” ujar Bebby. ”Tapi aku kan baru sebulan sekolah di situ, pindahan dari surabaya, jadi mungkin kakak belum pernah melihat aku.”
Andhita lantas mendapat fiasat buruk. Wajah Bebby tampak tak asing. Dia mirip… “Rendy sekolah di mana?” Tanya Andhita lagi.
“Di SMU Pramita juga. Satu-satunya sekolah bagus dekat dengan Sunter ya di sana. Dia kelas dua, sama dengan kakak. Malah jangan-jangan kakak pernah ngeliat dia.”
”Apa? Kelas dua? Dua apa?” seru Andhita.
”Dua IPA, tapi nggak tahu IPA berapa.” kata Bebby.
Oh my God! Jangan-jangan...
“Aku pulang!” seru seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu. Andhita menoleh ke ambang pintu dan melihat… Rendy berdiri di situ! Andhita memandang papa dan mamanya yang tampak terkejut sama seperti dirinya. Berarti...
Suara Om Seno memecah kesunyian. “Ini Rendynya sudah pulang! Ayo beri salam pada Tante Anne dan Om Heru, Rendy!”
”Ini...Ini kan..yang waktu itu...” tanya Papa mengenali.
Andhita menjadi lemas seketika. Baginya ini benar-benar kabar buruk. Pantas saja dia seperti pernah melihat Bebby. Rupanya wajahnya mirip dengan Rendy. Ini benar-benar buruk!
Rendy tampak terkejut melihat kehadiran Andhita di situ, tapi tidak terlalu terkejut seperti keluarga Andhita melihatnya. Cowok itu tersenyum ragu pada Andhita dan kedua orangtua gadis itu, lalu permisi ke dalam.
”Aku masuk dulu ya Pa, Ma. Aku mau ganti baju dulu.” katanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Andhita. Andhita menduga Rendy sudah tahu, dialah yang akan dijodohkan dnegannya. Bebby juga tadi bilang, dia udah tahu Andhita sekolah di SMU Pramita. Kemungkinan besar Rendy sudah mencari tahu tentang dirinya. Kalau begitu curang dong? Nggak fair! Pantas waktu pertama kali ketemu dulu, Rendy menelitinya seperti orang mau beli kuda!
”Jangan lama-lama ya, Ren. Makan malam segera dimulai.” Kata Tante Astrid, mama Rendy.
”Oke ma!”
Sepeninggal Rendy, mama Andhita bertanya dengan bingung, ”Kalau begitu...sebenarnya Rendy sudah mengenal Andhita sebelumnya?”
“Ya betul. Katanya Rendy sudah kenal dengan Andhita kok di sekolah. Dasar bandel. Walau pertama-tamanya saya sengaja nggak ngasih tahu, dia memaksa juga. Dia ingin tahu nama lengkap andhita siapa, kelas berapa. Terpaksa deh Seno memberitahu. Tapi si Rendy juga nggak komentar apa-apa tuh. Berarti dia setuju dijodohkan.” kata Tante Astrid.
Andhita memegang kepalanya. Mati gue!
”Jadi...” sambil menatap putrinya, Mama andhita mulai bingung, ”Kamu juga udah tahu kalau cowok yang dijodohkan dengan kamu itu Rendy?”
”Andhita nggak tahu Ma.” jawab Andhita lemas.
”Lalu...kenapa dia bisa ke rumah kita?”tanya Mama lagi.
”Aduh, Andhita juga nggak tau Ma. Di sekolah aja Andhita sama dia...”
Andhita hampir saja keceplosan bahwa hubungannya dengan Rendy di sekolah tidak bisa dibilang baik. ”Andhita sama dia nggak sekelas Ma.”
”Jadi Rendy pernah ke rumah kak Heru?” tanya Tante Astrid kaget.
”Lho, ngapain dia kesana? dasar anak nggak tahu aturan.” kata Om Seno senyum-senyum bangga, sama sekali beda dengan kata-katanya. Pasti dia bangga karena anaknya dinilai berani, pikir Andhita sebal.
”Dia datang untuk melihat kaki Andhita yang terkilir. Saya pikir dia teman baiknya Andhita di sekolah.” kata Mama Andhita.
”Wah, ternyata anak kita tanpa dijodohkan pun sudah akrab ya?” ujar Tante Astrid senang.
”Ngapain kak Rendy pergi ke rumah Andhita? Apalagi dengan menutupi identitasnya. Bukannya itu nggak bagus, Pa?” sela Bebby.
”Aku bukan menutupi identitas, aku cuma nggak bilang. Itu dua hal yang berbeda, kan?” ujar Rendy yang tiba-tiba saja sudah bergabung dengan mereka. Dia sudah mengganti bajunya dengan kasu hitam lengan panjang yang keren. Pasti merek mahal, soalnya pas banget di tubuhnya yang tinggi dan atletis, pikir Andhita. Duh... Andhita, masih sempat-sempatnya kamu...
”Rendy, kamu pergi ke rumah Andhita kok nggak bilang-bilang sama Papa dan Mama? Bukannya kamu sudah janji nggak akan nemuiin Andhita sebelum dipertemukan?” tegur Tante Astrid.
Rendy hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang diberi gel hingga rambutnya yang pendek berdiri seperti landak.
”Aku ke sana bukannya dalam rangka perjodohan Ma. Aku dan Andhita terlibat dalam suatu acara di malam kesenian. Aku yang mengiringi Andhita menyanyi.” katanya.
Andhita melotot. Cerita Rendy seolah-olah mereka sedang berlatih untuk konser tunggal, di mana dia yang menyanyi seriosa solo dan Rendy yang menjadi pianisnya. Padahal mereka cuma bergabung di vocal grup, menyumbangkan satu lagu!
“Oh ya? Menarik sekali! Kalau begitu kalian itu sudah cocok banget, yang satu suka main musik, yang satunya lagi suka nyanyi. Bukan begitu Pa?” tanya Tante Astrid.
“Tapi…” mama Andhita terlihat bingung. “Saya waktu itu mungkin memberikan kesan yang tidak baik pada Rendy karena telah mengusirnya secara halus.”
“Ah, nggak apa-apa kok Tante. Waktu itu kan Tante bilang supaya aku tidak mendekati Andhita karena Andhita udah dijodohkan dengan seseorang. Berarti Tante sudah mendukung aku dong?” kata Rendy menyebalkan.
Oh God! Keluh Andhita. Lengkap sudah kekesalannya pada cowok sok tahu dan sok cakep bin bawel ini.
“Berarti benar elo yang nyebarin berita di sekolah kalau gue udah dijodohin?” Tanya Andhita setengah berbisik pada cowok di sampingnya itu.
“Nggak. Kan gue udah bilang sama lo, bukan gue yang nyebarin gosip murahan kayak gitu!” elak Rendy.
“Gosip udah dijodohin? Itu nggak baik buat Andhita dong. Dia kan bisa malu.” timpal Tante Astrid.
”Iya Ma. Aku juga ngeliat selebaran itu ditempel di kantin. Cuma aku nggak tahu kalau Andhita yang dimaksud ya Kak Andhita.” kata Bebby.
Oh-oh! Di kantin juga? Astaga!
”Siapa yang membuat gosip itu Ren?” Tanya Om Seno serius.
“Bukan aku Pa, sumpah! Nanti akan Rendy selidiki deh.”
”Kamu harus nyelidikin ini baik-baik. Pokoknya, kalau kamu sampai mempermalukan Andhita, berarti kamu juga mempermalukan Papa di depan Om Heru.” kata om Seno.
”Oke Pa.” jawab Rendy.
Mereka lalu mulai makan malam. Meskipun yang tersaji adalah makanan restoran terkemuka dan rasanya sangat enak, Andhita hampir tak bisa menelannya. Pikirannya terus dipenuhi oleh kenyataan bahwa Rendy-lah ternyata yang dijodohkan dengannya. Tapi dia sudah terlanjur menilai negatif cowok itu, bagaimana dong? Tadinya dia berpikir, setidaknya dia bisa menjalin hubungan persahabatan lebih dulu dengan calon tunangannya itu. Tapi kini, setelah tahu bahwa Rendy adalah calon tunangannya, dia pun menjadi muak. Lagi pula dia sudah berjanji nggak akan pernah mengajak cowok itu berbicara lagi.
”Rendy, jadi rupanya kamu sudah menyelidiki keberadaan Andhita di sekolah tanpa Andhita sadari?” tanya Papa Andhita dengan raut muka ramah. Lain banget dengan waktu Rendy datang ke rumah beberapa hari yang lalu. Dengan raut muka sok wibawa dan segala deheman yang menyeramkan itu, tingkah laku Papa bagaikan Sherlock holmes menyelidiki kasus penting.
“Iya Om. Aku jadi ngerasa bersalah. Tapi sebenarnya pertemuan aku sama Andhita memang nggak disengaja Om. Andhita yang menghubungi aku untuk mengiringi vocal grupnya.”
“Benar-benar jodoh ya?” timpal mama.
Andhita memutar bola matanya. Duh, mama please dong! Jangan memihak Rendy terus! Anakmu nih… anakmu bagaimana?
“Kok kamu dari tadi Tante perhatikan diam saja Andhita? Apa kamu nggak senang mendapati kenyataan kamu sudah mengenal Rendy di sekolah?” Tanya Tante Astrid.
Andhita tersentak. Daging yang ditelannya menyangkut ke kerongkongan hingga dia tersedak. Dengan wajah membiru dia menunjuk-nunjuk ke kerongkongannya. Rendy yang duduk di sebelahnya langsung menariknya berdiri. Cowok itu melingkarkan tanganny di pinggang Andhita dan sekuat tenaga menyentakkan tubuh Andhita. Sang daging terkutuk itu keluar dan jatuh ke lantai. Memalukan! Lengkap sudah gue dipermalukan malam ini, desah Andhita dalam hati tak berdaya.
Semua yang ada di ruangan itu tampak panik.
”Ya ampun... untung ada Rendy...” desah Mama sambil mengusap-usap punggung Andhita sementara putrinya itu minum segelas air yang diberikan Rendy.
”Ya, untuk itulah seorang pria diciptakan. Untuk menjaga wanita. Betul kan Pa?” ujar Tante Astrid.
Andhita berusaha menahan sabar dengan menyesap air putihnya pelan-pelan. Rasanya malu banget. Apalagi daging yang dimuntahkannya meninggalkan noda di bajunya. Kenapa gue harus mengalami hal kayak gini sih?
”Makannya pelan-pelan aja Dhit.” kata Papa bikin Andhita tambah malu aja.
”Andhita... lanjutkan lagi makannya ya. Nanti setelah makan, kami mau menunjukkan foto-foto keluarga kami pada kalian.” kata Om Seno.
Mereka pun melanjutkan makan lagi. Kali ini tanpa terlalu banyak bicara. Mungkin semuanya jadi takut tersedak kayak Andhita.
Sehabis makan, sambil menikmati secangkir wedang jahe dan puding buah, tante Astrid menggelar foto-foto keluarga. Andhita duduk di karpet tanpa menaruh minat sedikit pun pada foto-foto itu.
”Lihat, ini Rendy waktu masih bayi. Karena keringetan terus, maka waktu difoto dia lagi telanjang.” kata Om Seno.
”Oh lucunya.” komentar Mama.
Andhita melirik sedikit dan tanpa sadar tersenyum. Rasain, memangnya enak dipermalukan?
Tiba-tiba terdengar denting gitar. Andhita melirik Rendy yang duduk di sebelahnya. Cowok itu sedang menyetem senar. Ah, biasa… pasti lagi pamer. Mau nunjukin kalau dia itu bisa segala macam jenis musik. Tapi melihat keahlian dan kecepatannya mengganti senar, mau tak mau Andhita kagum juga. Padahal sebelum melihat ini Andhita bahkan tidak ahu kalau ternyata senar gitar itu bisa diganti. Soalnya senar gitar Papa pernah putus dan Papa pasrah main gitar dengan lima senar. Tentu saja sebelum menyerah dan membanting gitarnya.
“Kenapa elo nggak pernah bilang kalau elo yang dijodohin sama gue?” bisik Andhita sedikit marah. Selagi kedua orangtua mereka sedang sibuk melihat foto, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk melabrak cowok berengsek di sebelahnya. Bebby sudah permisi ke kamarnya karena ada janji chatting di internet dengan teman-temannya.
”Elo kan nggak pernah nanya.” sahut Rendy santai.
”Elo ini...” geram Andhita. ”Kalau begitu, kenapa elo nyelidikin gue? Apa elo senang dengan perjodohan ini?”
Tanpa melirik, Rendy balas berbisik. ”Jangan GR! Kan gue udah pernah bilang sama lo, elo itu bukan tipe gue.”
Andhita makin kesal. ”Tapi...” suaranya meninggi. Namun ketika dilihatnya keempat orang dewasa di ruangan itu sedang memandangnya, dia jadi salah tingkah.
Tiba-tiba Rendy berdiri. ”Pa, Ma kami permisi dulu. Andhita mau melihat kolam renang dan kebun belakang.” katanya sambil menarik tangan Andhita.
”Oh ya, baguslah. Kalian memang buuh waktu untuk saling mengenal.” Kata Tante Astrid. Sekarang Andhita tahu mengapa Rendy begitu bawel. Mama dan Papanya juga sama-sama bawel sih.
Andhita sama sekali tidak menolak saat Rendy menarik tangannya menuju belakang rumah, tapi ketika orangtua mereka tidak melihat mereka lagi, Andhita langsung menarik tangannya.
“Gue bisa jalan sendiri.” Katanya ketus.
Rendy tidak menjawab. Dia mengajak Andhita ke kolam renang besar di belakang rumah. Diam-diam Andhita kagum juga. Rumah ini benar-benar mewah. Pekerjaan Papanya Rendy apa sih sampai bisa sekaya ini? Pantas saja Papa begitu ingin mendapatkan partner perusahaan seperti Om Seno. Mungkin dia ingin perusahaannya sukses seperti perusahaan Om Seno.
”Jangan GR. Gue ngajak elo ke sini sama sekali bukan karena mau lebih kenal sama lo. Karena yang gue liat, elo itu cewek yang sama sekali nggak bisa menutupi perasaan. Gue rasa gue udah cukup mengenal lo.” kata Rendy ketika mereka udah tiba di bangku santai pinggir kolam.
Dia mempersilahkan Andhita duduk di situ dengan gerakan tangannya. Andhita terpaksa menurut.
”Gue nggak GR!” Andhita merenggut.
”Tuh kan...”
Andhita melotot. ”Kenapa elo mau menyelidiki gue tanpa gue tahu siapa elo sebenarnya di sekolah?” tanyanya.
”Udah gue bilang, gue cuma mau tahu aja.”
“Dan setelah lo tahu? Lo kecewa?”
Rendy tertawa. “Bukan soal kecewa atau nggak. Gue cuma pengen tahu aja. Jangan banyak menduga yang nggak-nggak dong. Elo kan belum kenal gue dengan baik.”
“Kalau begitu, kenapa elo nggak marah dijodohin sama bonyok lo? Gue sendiri benar-benar nggak setuju sama perjodohan ini.” kata Andhita.
Rendy mendekatkan tubuhnya ke tubuh Andhita sehingga Andhita bisa mencium aroma parfum cowok itu. Andhita langsung mundur sedikit, perasaan deg-degan tiba-tiba menerpanya. Hei ingat! Jagalah hati! Jangan menangkap pesona yang ditebarkan cowok ini. Ayo pasang berikade. Seperti atmosfer yang menyelubungi bumi, benak Andhita memperingatkan.
“Sebenarnya gue ngajak elo ke sini untuk merundingkan sesuatu.” Bisik Rendy.
“Me…rundingkan apa?” kata Andhita dengan suara sedikit bergetar.
“Begini… sebenarnya gue juga nggak setuju dengan perjodohan ini. Tapi elo liat sendiri kan seperti apa kedua orangtua gue?”
Andhita mengangguk-angguk bloon sambil memerhatikan wajah Rendy yang cukup dekat dengannya. Ada apa sih dengan dirinya? Kok tiba-tiba jadi jengah begini?
”Mereka sangat antusias dengan perjodohan ini, entah kenapa. Dan gue nggak bisa bilang gue nggak mau gitu aja. Makanya gue minta data-data lo dan nyelidikin elo di sekolah. Sebenarnya waktu kamis kemarin gue mau bilang, tapi elo kan udah marah duluan soal selebaran itu, jadi nggak jadi deh.”
”Jadi...maksud lo... elo lagi nyusun rencana?”
”Yup!” Rendy mengangguk mantap. ”Gue rasa langsung menolak juga nggak ada gunanya. Jadi lebih baik kita pura-pura nerima aja.”
“Pura-pura nerima gimana?”
”Iya. Elo tahu kan, gimana jadinya kalau gue langsung nolak dan kita terlihat nggak saling menyukai?”
”Apa?”
”Nyokab gue tukang maksa. Dia paling ahli memaksakan pandapatnya dengan cara pelan-pelan. Jadi percuma aja nolak. Lebih baik kita terlihat saling suka.”
”Saling suka?”
”Ya. Kalau nggak, dia pasti bakalan nyuruh kita lebih sering ketemu. Elo bakalan sering diundang ke rumah gue satu atau dua kali seminggu. Elo mau?”
Satu atau dua kali seminggu? Apa-apaan nih? Andhita mulai cemas.
”Nggak!”
”Makanya, nurut aja sama apa yang gue bilang. Gue liat elo cewek yang cukup punya akal sehat. Untung deh. Coba kalau cewek yang lemot, bolot, atau telmi, rada susah juga.” Kata Rendy meyakinkan.
Andhita jadi mengangguk-angguk seperti orang bego. Kurang ajar juga nih. Kelihatannya gue lagi dibego-begoin sama dia.
”Jadi bagaimana?” tanya Andhita.
”Untuk sementara, kita berdua berlagak nerima aja. Urusan selanjutnya kita lihat keadaan dulu, jelas nggak?”
”Terus, masalah pengumuman di sekolah gimana?”
”Sedang gue selidiki. Lagian juga sekarang orang-orang belum pada tahu kalau gue yang dijodohin sama lo kan?”
”Iya, tapi kan...” Andhita mau bilang kalau ini berarti enak di Rendy, nggak enak di dia.
”Ya udah, sabar aja. Orang sabar disayang Tuhan, oke?” cowok itu menepuk-nepuk pundak Andhita.
Rendy kembali mengajak Andhita ke ruang tengah. Pembicaraan mereka selesai, tapi bukan berarti masalah ini sudah selesai. Andhita mendapatkan firasat buruk bahwa ini semua tidak akan berjalan dengan mulus. Rencana Rendy, juga yang lainnya, sama sekali tidak akan mudah.
***
Lovable (part 5)
Rahasia Itu
Andhita memandang dirinya di cermin. Rambutnya yang lurus, hitam, dan panjang baru saja dikeramas dan titik-titik air membasahi kausnya. Dia baru saja mandi sore. Sebagai cewek berusia tujuh belas tahun, dia merasa hidupnya amat sangat indah kecuali sedikit masalah yang mengganggunya akhir-akhir ini, yaitu masalah perjodohan yang membuatnya pusing kepala dan menimbulkan mimpi buruk di waktu dia tidur.
Kemarin saja dia mimpi menikah dengan pria bertopeng. Tapi begitu topengnya dibuka, ternyata pria itu tidak punya wajah. Kemarinnya lagi dia mimpi menikah dengan cowok ganteng mirip Tora Sudiro, tapi begitu kapal pesiar tempat mereka menikah berada di tengah laut, kapal itu tenggelam dan penumpangnya mati semua. Coba! Ini pasti gara-gara otaknya terlalu penuh dengan masalah perjodohan, jadi mimpinya aneh-aneh begitu.
Andhita sebenarnya cukup bahagia. Dia punya orangtua yang menyayanginya. Papa yang selalu sibuk di kantor, tapi sebelum makan malam pasti sudah pulang sampai di rumah. Mama ibu rumah tangga yang baik dan telaten mengurus keluarga hingga keluarga mereka tidak perlu memakai pembantu. Satu-satunya yang disayangkan adalah Andhita anak tunggal. Tapi melihat kasih sayang orangtua yang dilimpahkan hanya padanya membuatnya berpikir bahwa kesepian akan saudara bisa digantikan oleh teman-temannya yang baik.
Ketiga sahabatnya -Putri, Keyra, dan Tasha- adalah teman baiknya sejak SD. Mereka berempat tinggal di kawasan Kelapa Gading dan sejak SD bersekolah di sekolah yang sama di daerah itu juga.
Mereka berempat sama-sama kelas 2 SMU. Semuanya masuk IPA tapi kelasnya beda-beda. Hanya Putri dan Keyra yang sekelas di kelas 2 IPA 2. Andhita 2 IPA 1 dan Tasha kelas 2 IPA 3. mereka sering belajar bersama dan kebetulan sama-sama suka menyanyi. Sejak kelas satu SMU mereka membentuk vocal group yang sering mengisi acara sekolah. Guru-guru juga sudah tahu semua.
Andhita memandang wajahnya yang mungil. Banyak orang bilang dia cantik, tapi dia tidak terlalu PD dengan penampilannya. Terkadang dia malah menguatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikuatirkan. Dia menyesalkan poninya yang dipotong rata di atas alisnya membuatnya terlihat seperti anak SMP. Terus, ada satu jerawat besar di pipinya yang terasa amat mengganggu. Mana bisa cowok seperti Rendy meliriknya?
Tapi kemudian dia tersadar, kok tiba-tiba dia teringat cowok itu ya? Andhita buru-buru menyisir rambut sekadarnya dan membubuhkan bedak bayi warna putih di wajahnya. Jangan-jangan gue udah terkena pesona Rendt yang katanya udah dialami banyak cewek. Terpesona sama cowok model Rendy? Cowok gak tahu malu dan sombong itu? Duh, jangan deh! Amit-amit!
Andhita buru-buru turun ke bawah menuju ruang makan untuk makan malam. Otaknya penuh dengan berbagai hal. Seandainya saja… bruk! Di dua anak tangga terakhir dia jatuh sebelum kakinya menjejak tanah.
“Auwww!!!” teriaknya.
Mama yang sedang menata meja makan buru-buru menghampirinya. ”Kok kamu nggak hati-hati sih?” omelnya.
Duh, Mama... bukannya kasihan, malah ngomel. Andhita mengusap-usap pergelangan kakinya yang membiru karena membentur lantai. Dia berusaha bangkit tapi tidak bisa. Pergelangan kakinya terasa sakit sekali.
”Duh, sakit banget Ma!”
”Waduh... terkilir kali. Makanya hati-hati dong! Mana Papa belum pulang lagi.” Kata Mamanya. Dia memapah putrinya duduk di sofa ruang tamu.
”Bagaimana nih? Kamu benar-benar nggak bisa jalan? Kita tunggu Papa ya?” ujar Mama.
Andhita mengangguk. Pergelangan kakinya masih sakit. Tapi... nanti malam kan dia harus latihan?
”Duh, Ma... ntar malam kan Andhita harus latihan di rumah Putri. Gimana dong?”
”Ya nggak bisa dong. Kaki kamu kan sakit. Jalan aja nggak bisa, apalagi naik sepeda? Udah deh. Latihannya ditunda aja.” kata Mama.
Bertepetan dengan itu, Papa akhirnya pulang. Mereka langsung mengantar Andhita ke dokter untuk mengobati kakinya.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Andhita melamun. Dia menatap jam tangannya, sudah setengah delapan. Lewat tiga puluh menit dari jadwa latihan. Apa masih keburu?
”Ma, anterin aku ke rumah Putri untuk latihan ya. Nanti Mama jemput Andhita lagi.” pintanya.
”Nggak bisa! Kamu harus istirahat. Kalau nanti kaki kamu bengkak dan harus diamputasi, gimana? Kamu gak punya kaki lagi, mau?” ujar Mama.
Andhita cemberut. Mama ini, masih nyangka Andhita anak kecil, kali... yang bisa ditakut-takuti begitu. Tapi Andhita kemudian berpikir, memang sudah terlambat sih untuk latihan.
”Pa, pinjam handphone dong, mau telpon Putri.” Katanya.
Papa mengeluarkan handphone dari balik saku kemejanya dan memberikannya pada Andhita. Andhita langsung menelepon rumah Putri.
”Halo? Putri ya? Andhita nih.”
”Andhita, elo kemana aja sih? Kita semua nungguin lo tau?” semprot Putri.
”Sori. Gue tadi jatoh dari tangga. Kaki gue terkilir. Kata dokter dalam dua hari mungkin udah pulih. Hari ini gue nggak bisa ikut latihan. Gimana ya, Put? Padahal besok Rendy latihan sama kita kan? Kalo gue nggak bisa terus dia marah-marah, gimana dong?”
”Oh ya, Rendy ada di rumah gue sekarang. Sekarang gue, Keyra, Tasha, sama dia lagi latihan.”
”Apa?!! Rendy datang? Katanya dia cuma bisa datang dua kali seminggu?!” teriak Andhita.
”Iya, dia datang. Gue juga gak nyangka dia tahu rumah gue. Mau ngomong sama dia?”
“Are you crazy?” seru Andhita. “Nggak usah ah. Gue cuma bingung aja kok dia bisa dating latihan. Bukannya dia bilang jadwalnya penuh?”
Putri tertawa. “Dia bilang dia pengen tahu bagaimana kita latihan tanpa dia. Dia takut kita gak bisa tampil bagus di acara malam kesenian nanti, jadi dia datang mengontrol. Oh ya, dia mau bicara sama lo sekarang...”
”Apa?! Gue gak mau...gue nggak...”
Putri tidak peduli. Rupanya dia sudah mengoper gagang telepon ke Rendy. Suara cowok itu sudah terlanjur terdengar di telepon, dan Andhita tidak bisa pura-pura telepon terputus dengan alas an sinyal jelek karena Rendy sudah mendengar kata-katanya.
“Apanya yang nggak mau? Lo nggak mau ngomong sama gue?” kata cowok itu.
Andhita terdiam. Dia menyusun kata-kata di otaknya. Apa yang sebaiknya dikatakannya agar suasana di antara mereka tidak canggung lagi? Dan dia nggak mau berantem lagi, sungguh! Kalau menyadari bahwa dia bakalan sering banget ketemu sama cowok ini, pasti sudah berusaha menyusun kata-katanya kemarin.
”Oh ya? Kata Putri lo jatuh ya? Apa pura-pura karena nggak mau datang latihan?”
Andhita menahan napas karena kesal. Tuh kan! Rupanya bukan dia yang harus menahan diri dan mengontrol mulut.
”Kata siapa gue pura-pura? Apa elo mau ngeliat sendiri keadaan gue?” katanya sebelum sadar bahwa mereka lagi-lagi bertengkar.
”Boleh. Rumah lo nomor berapa? Jauh gak dari rumah Putri?”
Andhita melotot. Benar-benar cowok aneh! Apa dia gak bisa membedakan mana pernyataan sungguhan dan main-main? Tapi kalau Rendy benar-benar datang terus mama dan papa melihatnya, jangan-jangan orangtuanya akan berpikir yang bukan-bukan tentang hubungan mereka. Andhita melembutkan suaranya dan berkata dengan manis, “Nggak usah, Rendy…Many many thanks atas simpati lo. Tapi besok gue udah bisa ikut latihan di sekolah. Selamat malam!” cepat-cepat ditekannya tombol untuk mengakhiri pembicaraan.
”Rendy?” tanya Papa Tere penuh rasa ingin tahu.
Andhita diam saja. Tuh kan... baru nama saja sudah bisa memercikkan gosip. Apalagi kalau ada orangnya. Bisa heboh. Belum lagi ketampanannya... duh, lagi-lagi gue mikirin soal itu. Kenapa sih? Tanya Andhita dalam hati.
”Siapa Rendy?” tanya Mama.
”Teman sekolah. Cowok nyebelin yang ngiringin kita latihan,” jawab Andhita sambil mengembalikan handphone Papanya.
”Oh, yang kamu ceritakan pada Papa waktu itu?”
Andhita benar-benar sudah lupa bahwa dia pernah cerita tentang Rendy pada Papanya, tapi dia hanya mengangguk saja.
”Oh... Mama pikir kamu sudah punya pacar. Ingat calon tunangan kamu ya Dhit! Kamu kan sudah setuju untuk mencoba ketemu dengannya dulu, coba, nanti apa pendapatnya kalau tahu kamu sudah punya pacar?” ujar Mama bawel.
Andhita menghela napas dengan kesal. Mama dan Papa ini kenapa sih? Soal perjodohan ini kok disebut-sebut terus? Andhita jadi makin sebal saja entah mengapa.
”Oh ya, besok Mama akan mengajak kamu mencari gaun untuk makan malam bersama keluarga Om Seno hari sabtu ini. Pulang sekolah Mama jemput ya?” tanya Mama.
”Nggak bisa Ma! Andhita kan ada latihan.”
”Lho? Nanti bajunya bagaimana?”
Andhita berpikir sejenak. ”Andhita kan bisa pakai gaun hitam bekas tahun baru kemarin Ma. Bagus juga kan...?” ...sebagai baju berkabung? Lanjut Andhita dalam hati.
”Nggak kesempitan Dhit? Berat badanmu kan sudah bertambah beberapa kilo sejak tahun baru kemarin.”
Duh, Mama... please dong! Apa Mama gak tahu kalau remaja cewek paling anti membicarakan berat badan?
“Andhita kan cuma nambah beberapa kilo doang Ma. Bukannya melembung kayak balon.” Ujar Andhita kesal.
Mamanya tertawa. “Ya udah, kita beli bajunya lain kali aja, untuk pertemuan berikutnya dengan keluarga Om Seno.” kata Mama.
Pertemuan berikutnya? Mau berapa kali ketemu sih?
”Pertemuan berikutnya? Jangan ngomong sekarang deh ma...Andhita jadi pusing nih.”
Mama Andhita memandang putrinya sambil tersenyum. Andhita merasa kedua orangtuanya iseng juga, suka menggodanya. Ah, seandainya tidak harus ada perjodohan...
***
Setibanya di rumah, kejutan sudah menunggu Andhita. Rendy berdiri di depan pintu pagar yang terkunci sambil duduk di atas pilar beton yang bisa diduduki Andhita bila sedang menunggu dibukakan pintu oleh mama. Cowok itu bangkit berdiri begitu melihat mobil Andhita berhenti di depan rumah. Rendy mengenakan kaus biru garis-garis warna merah dan celana jeans. Rambutnya yang biasanya lurus jatuh saat ini diberi gel hingga berdiri mengikuti gaya penyanyi R&B. ketampanannya membuat jantung Andhita berdegup kencang. Gawat! Cowok itu mulai tebar pesona lagi!
“Rendy?!” ujar Andhita dengan cuara tercekat. Cowok aneh itu benar-benar dating ke rumahnya. Sungguh menyebalkan dan menyusahkan pula. Apa yang bakalan dipikir sama kedua orangtuanya bila melihat cowok itu ada di sini? Jangan-jangan benar-benar disangka pacarnya, lagi.
“Itu yang namanya Rendy?” Tanya Mama lalu turun untuk membuka pintu pagar. Dari dalam mobil Andhita melihat Mamanya mempersilahkan cowok itu masuk.
”Mau apa dia kemari Dhit? Dia benar temanmu?” tanya Papa dengan tatapan menyelidik.
”Benar Pa, Andhita juga baru kenal sama dia beberapa hari yang lalu. Tadi sih di telepon dia memang bilang mau datang menengok apa Andhita benar-benar sakit. Tapi Andhita nggak nyangka, dia benar-benar datang kemari.”
Papa menggeleng-gelengkan kepala sambil menyetir mobilnya masuk ke dalam rumah. “Gawat, kali ini gawat. Anak muda itu benar-benar ganteng. Bisa-bisa kamu jatuh cinta sama dia.”
Andhita mendengus. ”Huh, Papa pikir Andhita apaan? Gampang jatuh cinta, begitu?”
”Maksud Papa, kalau nanti calon tunanganmu kurang ganteng, kamu pasti akan membanding-bandingkannya dengan Ren..Ren..??”
”Rendy Pa! Tapi terus terang aja, ide perjodohan ini benar-benar buruk, Pa! It’s very bad.” Tandas Andhita.
Papanya tak menjawab dan membuka pintu mobil. Dia lalu membantu Andhita keluar dari mobil dan memapahnya masuk ke dalam rumah.
“Sekarang lo puas kan, udah melihat gue begini? Elo gak lagi nyangka gue bohong, kan?” ujar Andhita pada Rendy ketika mereka sedang duduk berdua di ruang tamu. Papa dan Mama pura-pura sedang membaca buku dan nonton TV di ruang tengah, tapi mereka dalam posisi yang bisa melihat segala sesuatu yang dilakukan Andhita, bahkan jika Andhita bergerak sedikit saja pasti ketahuan. Hmm, sok detektif! Pikir Andhita kesal.
Rendy tertawa. “Ya, gue udah puas. Berarti kedatangan gue malam ini ke sini nggak sia-sia.”
”Latihannya udah selesai?” tanya Andhita.
”Udah. Vokalisnya cuma bertiga, jadi gak seru. Nggak lengkap.”
“Memangnya rumah lo dimana sih?”
“Sunter”
“Hah? Jauh banget! Terus, lo naik apa ke sini?”
“Dianterin sopir. Nanti dia jemput gue lagi di sini kira-kira...ng...” Rendy melirik jam tangannya, ”Kira-kira seperempat jam lagi.”
”Terus kenapa lo ke rumah Putri? Hari ini kan bukan jadwal lo datang?” tanya Andhita lagi.
”Yah, seperti yang dibilang Putri tadi, gue cuma mau ngeliat seperti apa latihan kalian. Tapi terus terang aja, karena kalian memecah empat suara, jadi ketika elo gak ada tadi rasanya ada yang janggal sama lagu itu.”
Hidung Andhita kembang kempis karena bangga.
”Ya terang aja. Elo pikir cuma suara satu yang paling penting?”
Mama Andhita bangkit berdiri dari sofa ruang tengah dan berkata keras, ”Ehmm.. udah malam, Dhita! Mama udah ngantuk nih. Kamu jadi gak ikut Mama belanja besok? Beli baju buat pertemuan kamu dengan calon tunanganmu?”
Andhita merasa mukanya merah padam sampai terasa panas.
”Tunangan?” bisik Rendy.
”Jangan dengerin nyokab gue!” bisik Andhita. Kalau berita ini sampai bocor ke telinga teman-temannya, entah mau ditaruh mana mukanya.
”Andhita, sebaiknya sebelum makan malam dengan calon tunanganmu nanti, kamu facial atau luluran dulu atau apa dulu kek, biar tambah segar...” timpal Papa dengan suara yang sama kerasnya.
Andhita memutar kedua bola matanya. Duh, please dong! Penting nggak sih ngomongin gituan? Mama sama Papa kok kayak anak kecil aja. Malu-maluin.
”Facial? Luluran?” tanya Rendy dengan ekspresi ingin ketawa.
“Jangan Tanya!” desis Andhita. Duh, masih sepuluh menit lagi sopir Rendy baru datang. Masih berapa kalimat lagi yang bisa diucapkan Papa sama Mama? Masih berapa kata memalukan lagi?
”Kenapa sopir lo nggak datang-datang sih?” tanya Andhita, sama sekali tidak menyadari pertanyaan itu bisa menyakiti hati Rendy.
”Kenapa? Elo gak senang gue datang ke sini?” kata cowok itu kaku.
”Sori, maksud gue bukan begitu. Tapi kan kasihan elo...sekarang udah malam.” ujar Andhita.
Rendy tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke telinga Andhita sehingga Mama Papa yang sedang mengawasi dari sudut mata mereka bersiaga.
”Hmm...” geram Papa.
”Ehm..” Mama ikut berdeham.
”Eh, elo jangan GR ya. Elo pikir gue ke sini mau ngapelin lo? Jangan salah! Gue cuma mau ngebuktiin kalau elo benar-benar nggak bolos latihan.” bisik Rendy.
Andhita merasa kupingnya panas mendengar bisikan itu. Dia balas mendekatkan bibirnya ke telinga Rendy.
“Hmm…” geram Papa lagi.
“Ehm…” Mama pun berdeham sekali lagi.
“Eh, elo juga jangan GR ya.” Balas Andhita. “Gue bukannya GR sama lo. Enak aja! Kalau emang lo naksir sama gue, bilang aja! Nggak usah ditutup-tutupin. Tapi lo kayaknya percuma deh. Soalnya gue udah punya tunangan.” kata Andhita.
”Tunangan? Masih kecil udah tunangan? Apa gak takut MMBA?”
”Apaan tuh? Married by accident?” bisik Andhita.
“Bukan. Menikah Muda Benar-benar Asik.”
Andhita melotot. Ini benar-benar konyol!
”Heh, gue bukannya mau tunangan sendiri. Gue dijodohin!”
Rendy mencibir, ”Apalagi dijodohin! Apa elo nggak bisa nyari pacar sendiri? Atau... belum pernah ada yang nembak lo?”
Andhita gusar ”Heh...!!”
“Tapi elo ini tipe cewek macam apaan? Udah punya tunangan kok masih ngelirik cowok lain.”
“Cowok lain?”
“Iya. Cowok yang kemarin datang ke kelas lo, siapa tuh namanya? Didit?”
”Adit!” desis Andhita. Enak aja ganti nama orang seenaknya.
Rendy tertawa. “He he he… iya! Benar kan? Elo suka sma dia, atau cuma cari labaan?”
”Ngaco! Dia itu kan ketua OSIS yang lagi ngurusin acara malam kesenian...”
”Kok nyariinnya elo? Bukan Putri?”
Iya juga ya? Batin Andhita. Tapi dia senang dan GR juga sih. Kenapa yah si Adit nyari gue, bukannya Putri?
”Senyum-senyum! GR ya?” ledek Rendy.
Andhita melotot. Nih cowok nggak punya aturan banget sih!
Tin! Tin! Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Itu pasti mobilnya Rendy. Sopirnya aja nggak punya sopan santun, ngelakson kok sekeras itu. Apa disangkanya orang di kompleks ini budek semua? Andhita ngedumel dalam hati.
”Tuh, mobil lo udah datang! Udah puas kan? Gue benar-benar jatoh.” Tegas Andhita.
“Ya, gue udah puas. Besok jangan lupa latihan. Jangan jadiin sakit lo ini sebagai alasan.” kata Rendy menyebalkan. Dia lalu pamit pada kedua orangtua Andhita.
***
”Mama sama Papa apa-apaan sih? Ngapain bilang-bilang ke Rendy kalau Andhita udah punya calon tunangan? Ketemu aja belom!” ujar Andhita marah ketika mereka sedang sarapan keesokan harinya. Kemarin Mama sama Papa mungkin merasa bersalah, makanya mereka berdua langsung masuk ke kamar jadi Andhita nggak sempat protes.
”Ngomong-ngomong, cowok yang kemarin datang itu cakep juga ya?” ujar Papa.
“Jangan ngalihin pembicaraan deh!” kata andhita ketus. Mama menyodorkan segelas susu ke depan Andhita.
”Jangan begitu sama orangtua! Kamu kan udah janji kalau kamu mau ngeliat dulu seperti apa calon tunanganmu itu. Bagaimana kalau kamu keburu kepincut sama cowok ganteng kemarin?” tanya Mama.
”Masalahnya bukan itu Ma! Rendy juga nyebelin. Andhita nggak bakalan kepincut deh sama dia. Tapi masalahnya sekarang, dia jadi tahu kalau Andhita dijodohin, sementara Andhita nggak mau kalau teman-teman Andhita pada tau!” ujar Andhita, lalu menggigit besar-besar roti isi selai kacang.
”Mana mungkin dia cerita-cerita sama orang? Memangnya cowok suka ngegosip?” Tanya Papa.
“Huh, Papa nggak tau sih! Rendy itu cowok nyebelin. Andhita yakin dia masih punya sederetan sikap menyebalkan lainnya. Siapa yang bisa menjamin dia nggak suka gosip?” Andhita meminum susunya banyak-banyak.
”Kalau begitu, cowok macam Rendy jangan kamu dekati! Kamu sendiri yang bilan sifat dia jelek!” kata Papa.
Glek! Andhita tersedak susu yang diminumnya dan sebagian tersembur ke meja di hadapannya. Dia memutar kedua bola matanya karena kesal. ”Justru itu bukan masalahnya, Pa! Papa sama Mama ngerti nggak sih? Masalahnya sekarang Rendy tahu kalau Andhita udah dijodohin! Nanti kalau dia cerita sama teman-teman Andhita gimana?”
Papa tersenyum. ”Kalau begitu ya nggak apa-apa. Memangnya kenapa kalau mereka tahu kalau kamu sudah dijodohkan? Sudah seharusnya kan mereka bersikap dewasa.”
Andhita mengatupkan bibirnya karena jengkel. Masalahnya bukan sikap dewasa atau tidak dewasa. Lagipula, dia jadi bahan ejekan atau nggak di sekolah, Papa sama Mama nggak ngerasain kan? Yang ngerasain Andhita sendiri!
”Andhita,” panggil Mama. Andhita melihat mamanya menatapnya serius. ”Kamu nggak punya hubungan apa-apa kan dengan cowok bernama Rendy itu?”
Andhita menggeleng kuat-kuat.
”Bagus. Kalau kamu sampai ketahuan punya hubungan dengan Rendy dan memengaruhi perjodohan yang kami lakukan, Mama akan melarang kamu latihan nyanyi di rumah Putri lagi. Mengerti?!”
Mata Andhita membelalak. ”Mama apa-apaan sih? Ceritanya maksa nih?”
”Andhita, Mama kan sudah bilang, perjodohan ini sangat penting bagi Papa. Lagipula, kamu tahu nggak... teman papa itu sangat kaya, dan perusahaannya sangat besar, punya banyak koneksi dengan rekan bisnis luar negeri. Ini benar-benar jodoh yang sangat baik buat kamu!”
”Mama kok jadi matre begitu sih?” kata Andhita bingung campur marah. Rot selai kacang dan susu yang bercampur aduk di perutnya mulai membuatnya sakit perut. Tapi dia mesti menuntaskan masalah ini dulu.
”Bukan begitu Andhita... biar Papa sama Mama terus terang saja.” kata Papa. ”Teman Papa itu berjanji untuk menginvestasikan dana yang lumayan banyak untuk perusahaan kita. Sahamnya akan sangat membangun. Kalau perjodohan ini gagal sebelum menginvestasian itu masuk ke perusahaan Papa, ya rugi dong!” timpal Papa.
”Lho! Beban Andhita kok jadi semakin berat ya Pa? Berarti Papa sama aja menjual Andhita demi saham teman Papa itu! Jadi Andhita seharga dengan uang invest yang akan masuk ke perusahaan Papa?” Andhita nggak bisa terima kalau orangtuanya ternyata matre.
”Bukan bagitu. Papa hanya ingin proyek ini berhasil. Kalau memang kamu nggak suka sama calon tunanganmu itu, ya nggak apa-apa. Tapi sekarang-sekarang ini jangan menolak dulu ya.”
Andhita mendengus. Baru kali ini dia tahu bahwa lika-liku menjadi orang dewasa itu sangatlah rumit dan menyebalkan.
”Udah ah, Andhita sakit perut! Mau ke WC dulu!” teriaknya.
***
Andhita memandang dirinya di cermin. Rambutnya yang lurus, hitam, dan panjang baru saja dikeramas dan titik-titik air membasahi kausnya. Dia baru saja mandi sore. Sebagai cewek berusia tujuh belas tahun, dia merasa hidupnya amat sangat indah kecuali sedikit masalah yang mengganggunya akhir-akhir ini, yaitu masalah perjodohan yang membuatnya pusing kepala dan menimbulkan mimpi buruk di waktu dia tidur.
Kemarin saja dia mimpi menikah dengan pria bertopeng. Tapi begitu topengnya dibuka, ternyata pria itu tidak punya wajah. Kemarinnya lagi dia mimpi menikah dengan cowok ganteng mirip Tora Sudiro, tapi begitu kapal pesiar tempat mereka menikah berada di tengah laut, kapal itu tenggelam dan penumpangnya mati semua. Coba! Ini pasti gara-gara otaknya terlalu penuh dengan masalah perjodohan, jadi mimpinya aneh-aneh begitu.
Andhita sebenarnya cukup bahagia. Dia punya orangtua yang menyayanginya. Papa yang selalu sibuk di kantor, tapi sebelum makan malam pasti sudah pulang sampai di rumah. Mama ibu rumah tangga yang baik dan telaten mengurus keluarga hingga keluarga mereka tidak perlu memakai pembantu. Satu-satunya yang disayangkan adalah Andhita anak tunggal. Tapi melihat kasih sayang orangtua yang dilimpahkan hanya padanya membuatnya berpikir bahwa kesepian akan saudara bisa digantikan oleh teman-temannya yang baik.
Ketiga sahabatnya -Putri, Keyra, dan Tasha- adalah teman baiknya sejak SD. Mereka berempat tinggal di kawasan Kelapa Gading dan sejak SD bersekolah di sekolah yang sama di daerah itu juga.
Mereka berempat sama-sama kelas 2 SMU. Semuanya masuk IPA tapi kelasnya beda-beda. Hanya Putri dan Keyra yang sekelas di kelas 2 IPA 2. Andhita 2 IPA 1 dan Tasha kelas 2 IPA 3. mereka sering belajar bersama dan kebetulan sama-sama suka menyanyi. Sejak kelas satu SMU mereka membentuk vocal group yang sering mengisi acara sekolah. Guru-guru juga sudah tahu semua.
Andhita memandang wajahnya yang mungil. Banyak orang bilang dia cantik, tapi dia tidak terlalu PD dengan penampilannya. Terkadang dia malah menguatirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dikuatirkan. Dia menyesalkan poninya yang dipotong rata di atas alisnya membuatnya terlihat seperti anak SMP. Terus, ada satu jerawat besar di pipinya yang terasa amat mengganggu. Mana bisa cowok seperti Rendy meliriknya?
Tapi kemudian dia tersadar, kok tiba-tiba dia teringat cowok itu ya? Andhita buru-buru menyisir rambut sekadarnya dan membubuhkan bedak bayi warna putih di wajahnya. Jangan-jangan gue udah terkena pesona Rendt yang katanya udah dialami banyak cewek. Terpesona sama cowok model Rendy? Cowok gak tahu malu dan sombong itu? Duh, jangan deh! Amit-amit!
Andhita buru-buru turun ke bawah menuju ruang makan untuk makan malam. Otaknya penuh dengan berbagai hal. Seandainya saja… bruk! Di dua anak tangga terakhir dia jatuh sebelum kakinya menjejak tanah.
“Auwww!!!” teriaknya.
Mama yang sedang menata meja makan buru-buru menghampirinya. ”Kok kamu nggak hati-hati sih?” omelnya.
Duh, Mama... bukannya kasihan, malah ngomel. Andhita mengusap-usap pergelangan kakinya yang membiru karena membentur lantai. Dia berusaha bangkit tapi tidak bisa. Pergelangan kakinya terasa sakit sekali.
”Duh, sakit banget Ma!”
”Waduh... terkilir kali. Makanya hati-hati dong! Mana Papa belum pulang lagi.” Kata Mamanya. Dia memapah putrinya duduk di sofa ruang tamu.
”Bagaimana nih? Kamu benar-benar nggak bisa jalan? Kita tunggu Papa ya?” ujar Mama.
Andhita mengangguk. Pergelangan kakinya masih sakit. Tapi... nanti malam kan dia harus latihan?
”Duh, Ma... ntar malam kan Andhita harus latihan di rumah Putri. Gimana dong?”
”Ya nggak bisa dong. Kaki kamu kan sakit. Jalan aja nggak bisa, apalagi naik sepeda? Udah deh. Latihannya ditunda aja.” kata Mama.
Bertepetan dengan itu, Papa akhirnya pulang. Mereka langsung mengantar Andhita ke dokter untuk mengobati kakinya.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Andhita melamun. Dia menatap jam tangannya, sudah setengah delapan. Lewat tiga puluh menit dari jadwa latihan. Apa masih keburu?
”Ma, anterin aku ke rumah Putri untuk latihan ya. Nanti Mama jemput Andhita lagi.” pintanya.
”Nggak bisa! Kamu harus istirahat. Kalau nanti kaki kamu bengkak dan harus diamputasi, gimana? Kamu gak punya kaki lagi, mau?” ujar Mama.
Andhita cemberut. Mama ini, masih nyangka Andhita anak kecil, kali... yang bisa ditakut-takuti begitu. Tapi Andhita kemudian berpikir, memang sudah terlambat sih untuk latihan.
”Pa, pinjam handphone dong, mau telpon Putri.” Katanya.
Papa mengeluarkan handphone dari balik saku kemejanya dan memberikannya pada Andhita. Andhita langsung menelepon rumah Putri.
”Halo? Putri ya? Andhita nih.”
”Andhita, elo kemana aja sih? Kita semua nungguin lo tau?” semprot Putri.
”Sori. Gue tadi jatoh dari tangga. Kaki gue terkilir. Kata dokter dalam dua hari mungkin udah pulih. Hari ini gue nggak bisa ikut latihan. Gimana ya, Put? Padahal besok Rendy latihan sama kita kan? Kalo gue nggak bisa terus dia marah-marah, gimana dong?”
”Oh ya, Rendy ada di rumah gue sekarang. Sekarang gue, Keyra, Tasha, sama dia lagi latihan.”
”Apa?!! Rendy datang? Katanya dia cuma bisa datang dua kali seminggu?!” teriak Andhita.
”Iya, dia datang. Gue juga gak nyangka dia tahu rumah gue. Mau ngomong sama dia?”
“Are you crazy?” seru Andhita. “Nggak usah ah. Gue cuma bingung aja kok dia bisa dating latihan. Bukannya dia bilang jadwalnya penuh?”
Putri tertawa. “Dia bilang dia pengen tahu bagaimana kita latihan tanpa dia. Dia takut kita gak bisa tampil bagus di acara malam kesenian nanti, jadi dia datang mengontrol. Oh ya, dia mau bicara sama lo sekarang...”
”Apa?! Gue gak mau...gue nggak...”
Putri tidak peduli. Rupanya dia sudah mengoper gagang telepon ke Rendy. Suara cowok itu sudah terlanjur terdengar di telepon, dan Andhita tidak bisa pura-pura telepon terputus dengan alas an sinyal jelek karena Rendy sudah mendengar kata-katanya.
“Apanya yang nggak mau? Lo nggak mau ngomong sama gue?” kata cowok itu.
Andhita terdiam. Dia menyusun kata-kata di otaknya. Apa yang sebaiknya dikatakannya agar suasana di antara mereka tidak canggung lagi? Dan dia nggak mau berantem lagi, sungguh! Kalau menyadari bahwa dia bakalan sering banget ketemu sama cowok ini, pasti sudah berusaha menyusun kata-katanya kemarin.
”Oh ya? Kata Putri lo jatuh ya? Apa pura-pura karena nggak mau datang latihan?”
Andhita menahan napas karena kesal. Tuh kan! Rupanya bukan dia yang harus menahan diri dan mengontrol mulut.
”Kata siapa gue pura-pura? Apa elo mau ngeliat sendiri keadaan gue?” katanya sebelum sadar bahwa mereka lagi-lagi bertengkar.
”Boleh. Rumah lo nomor berapa? Jauh gak dari rumah Putri?”
Andhita melotot. Benar-benar cowok aneh! Apa dia gak bisa membedakan mana pernyataan sungguhan dan main-main? Tapi kalau Rendy benar-benar datang terus mama dan papa melihatnya, jangan-jangan orangtuanya akan berpikir yang bukan-bukan tentang hubungan mereka. Andhita melembutkan suaranya dan berkata dengan manis, “Nggak usah, Rendy…Many many thanks atas simpati lo. Tapi besok gue udah bisa ikut latihan di sekolah. Selamat malam!” cepat-cepat ditekannya tombol untuk mengakhiri pembicaraan.
”Rendy?” tanya Papa Tere penuh rasa ingin tahu.
Andhita diam saja. Tuh kan... baru nama saja sudah bisa memercikkan gosip. Apalagi kalau ada orangnya. Bisa heboh. Belum lagi ketampanannya... duh, lagi-lagi gue mikirin soal itu. Kenapa sih? Tanya Andhita dalam hati.
”Siapa Rendy?” tanya Mama.
”Teman sekolah. Cowok nyebelin yang ngiringin kita latihan,” jawab Andhita sambil mengembalikan handphone Papanya.
”Oh, yang kamu ceritakan pada Papa waktu itu?”
Andhita benar-benar sudah lupa bahwa dia pernah cerita tentang Rendy pada Papanya, tapi dia hanya mengangguk saja.
”Oh... Mama pikir kamu sudah punya pacar. Ingat calon tunangan kamu ya Dhit! Kamu kan sudah setuju untuk mencoba ketemu dengannya dulu, coba, nanti apa pendapatnya kalau tahu kamu sudah punya pacar?” ujar Mama bawel.
Andhita menghela napas dengan kesal. Mama dan Papa ini kenapa sih? Soal perjodohan ini kok disebut-sebut terus? Andhita jadi makin sebal saja entah mengapa.
”Oh ya, besok Mama akan mengajak kamu mencari gaun untuk makan malam bersama keluarga Om Seno hari sabtu ini. Pulang sekolah Mama jemput ya?” tanya Mama.
”Nggak bisa Ma! Andhita kan ada latihan.”
”Lho? Nanti bajunya bagaimana?”
Andhita berpikir sejenak. ”Andhita kan bisa pakai gaun hitam bekas tahun baru kemarin Ma. Bagus juga kan...?” ...sebagai baju berkabung? Lanjut Andhita dalam hati.
”Nggak kesempitan Dhit? Berat badanmu kan sudah bertambah beberapa kilo sejak tahun baru kemarin.”
Duh, Mama... please dong! Apa Mama gak tahu kalau remaja cewek paling anti membicarakan berat badan?
“Andhita kan cuma nambah beberapa kilo doang Ma. Bukannya melembung kayak balon.” Ujar Andhita kesal.
Mamanya tertawa. “Ya udah, kita beli bajunya lain kali aja, untuk pertemuan berikutnya dengan keluarga Om Seno.” kata Mama.
Pertemuan berikutnya? Mau berapa kali ketemu sih?
”Pertemuan berikutnya? Jangan ngomong sekarang deh ma...Andhita jadi pusing nih.”
Mama Andhita memandang putrinya sambil tersenyum. Andhita merasa kedua orangtuanya iseng juga, suka menggodanya. Ah, seandainya tidak harus ada perjodohan...
***
Setibanya di rumah, kejutan sudah menunggu Andhita. Rendy berdiri di depan pintu pagar yang terkunci sambil duduk di atas pilar beton yang bisa diduduki Andhita bila sedang menunggu dibukakan pintu oleh mama. Cowok itu bangkit berdiri begitu melihat mobil Andhita berhenti di depan rumah. Rendy mengenakan kaus biru garis-garis warna merah dan celana jeans. Rambutnya yang biasanya lurus jatuh saat ini diberi gel hingga berdiri mengikuti gaya penyanyi R&B. ketampanannya membuat jantung Andhita berdegup kencang. Gawat! Cowok itu mulai tebar pesona lagi!
“Rendy?!” ujar Andhita dengan cuara tercekat. Cowok aneh itu benar-benar dating ke rumahnya. Sungguh menyebalkan dan menyusahkan pula. Apa yang bakalan dipikir sama kedua orangtuanya bila melihat cowok itu ada di sini? Jangan-jangan benar-benar disangka pacarnya, lagi.
“Itu yang namanya Rendy?” Tanya Mama lalu turun untuk membuka pintu pagar. Dari dalam mobil Andhita melihat Mamanya mempersilahkan cowok itu masuk.
”Mau apa dia kemari Dhit? Dia benar temanmu?” tanya Papa dengan tatapan menyelidik.
”Benar Pa, Andhita juga baru kenal sama dia beberapa hari yang lalu. Tadi sih di telepon dia memang bilang mau datang menengok apa Andhita benar-benar sakit. Tapi Andhita nggak nyangka, dia benar-benar datang kemari.”
Papa menggeleng-gelengkan kepala sambil menyetir mobilnya masuk ke dalam rumah. “Gawat, kali ini gawat. Anak muda itu benar-benar ganteng. Bisa-bisa kamu jatuh cinta sama dia.”
Andhita mendengus. ”Huh, Papa pikir Andhita apaan? Gampang jatuh cinta, begitu?”
”Maksud Papa, kalau nanti calon tunanganmu kurang ganteng, kamu pasti akan membanding-bandingkannya dengan Ren..Ren..??”
”Rendy Pa! Tapi terus terang aja, ide perjodohan ini benar-benar buruk, Pa! It’s very bad.” Tandas Andhita.
Papanya tak menjawab dan membuka pintu mobil. Dia lalu membantu Andhita keluar dari mobil dan memapahnya masuk ke dalam rumah.
“Sekarang lo puas kan, udah melihat gue begini? Elo gak lagi nyangka gue bohong, kan?” ujar Andhita pada Rendy ketika mereka sedang duduk berdua di ruang tamu. Papa dan Mama pura-pura sedang membaca buku dan nonton TV di ruang tengah, tapi mereka dalam posisi yang bisa melihat segala sesuatu yang dilakukan Andhita, bahkan jika Andhita bergerak sedikit saja pasti ketahuan. Hmm, sok detektif! Pikir Andhita kesal.
Rendy tertawa. “Ya, gue udah puas. Berarti kedatangan gue malam ini ke sini nggak sia-sia.”
”Latihannya udah selesai?” tanya Andhita.
”Udah. Vokalisnya cuma bertiga, jadi gak seru. Nggak lengkap.”
“Memangnya rumah lo dimana sih?”
“Sunter”
“Hah? Jauh banget! Terus, lo naik apa ke sini?”
“Dianterin sopir. Nanti dia jemput gue lagi di sini kira-kira...ng...” Rendy melirik jam tangannya, ”Kira-kira seperempat jam lagi.”
”Terus kenapa lo ke rumah Putri? Hari ini kan bukan jadwal lo datang?” tanya Andhita lagi.
”Yah, seperti yang dibilang Putri tadi, gue cuma mau ngeliat seperti apa latihan kalian. Tapi terus terang aja, karena kalian memecah empat suara, jadi ketika elo gak ada tadi rasanya ada yang janggal sama lagu itu.”
Hidung Andhita kembang kempis karena bangga.
”Ya terang aja. Elo pikir cuma suara satu yang paling penting?”
Mama Andhita bangkit berdiri dari sofa ruang tengah dan berkata keras, ”Ehmm.. udah malam, Dhita! Mama udah ngantuk nih. Kamu jadi gak ikut Mama belanja besok? Beli baju buat pertemuan kamu dengan calon tunanganmu?”
Andhita merasa mukanya merah padam sampai terasa panas.
”Tunangan?” bisik Rendy.
”Jangan dengerin nyokab gue!” bisik Andhita. Kalau berita ini sampai bocor ke telinga teman-temannya, entah mau ditaruh mana mukanya.
”Andhita, sebaiknya sebelum makan malam dengan calon tunanganmu nanti, kamu facial atau luluran dulu atau apa dulu kek, biar tambah segar...” timpal Papa dengan suara yang sama kerasnya.
Andhita memutar kedua bola matanya. Duh, please dong! Penting nggak sih ngomongin gituan? Mama sama Papa kok kayak anak kecil aja. Malu-maluin.
”Facial? Luluran?” tanya Rendy dengan ekspresi ingin ketawa.
“Jangan Tanya!” desis Andhita. Duh, masih sepuluh menit lagi sopir Rendy baru datang. Masih berapa kalimat lagi yang bisa diucapkan Papa sama Mama? Masih berapa kata memalukan lagi?
”Kenapa sopir lo nggak datang-datang sih?” tanya Andhita, sama sekali tidak menyadari pertanyaan itu bisa menyakiti hati Rendy.
”Kenapa? Elo gak senang gue datang ke sini?” kata cowok itu kaku.
”Sori, maksud gue bukan begitu. Tapi kan kasihan elo...sekarang udah malam.” ujar Andhita.
Rendy tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke telinga Andhita sehingga Mama Papa yang sedang mengawasi dari sudut mata mereka bersiaga.
”Hmm...” geram Papa.
”Ehm..” Mama ikut berdeham.
”Eh, elo jangan GR ya. Elo pikir gue ke sini mau ngapelin lo? Jangan salah! Gue cuma mau ngebuktiin kalau elo benar-benar nggak bolos latihan.” bisik Rendy.
Andhita merasa kupingnya panas mendengar bisikan itu. Dia balas mendekatkan bibirnya ke telinga Rendy.
“Hmm…” geram Papa lagi.
“Ehm…” Mama pun berdeham sekali lagi.
“Eh, elo juga jangan GR ya.” Balas Andhita. “Gue bukannya GR sama lo. Enak aja! Kalau emang lo naksir sama gue, bilang aja! Nggak usah ditutup-tutupin. Tapi lo kayaknya percuma deh. Soalnya gue udah punya tunangan.” kata Andhita.
”Tunangan? Masih kecil udah tunangan? Apa gak takut MMBA?”
”Apaan tuh? Married by accident?” bisik Andhita.
“Bukan. Menikah Muda Benar-benar Asik.”
Andhita melotot. Ini benar-benar konyol!
”Heh, gue bukannya mau tunangan sendiri. Gue dijodohin!”
Rendy mencibir, ”Apalagi dijodohin! Apa elo nggak bisa nyari pacar sendiri? Atau... belum pernah ada yang nembak lo?”
Andhita gusar ”Heh...!!”
“Tapi elo ini tipe cewek macam apaan? Udah punya tunangan kok masih ngelirik cowok lain.”
“Cowok lain?”
“Iya. Cowok yang kemarin datang ke kelas lo, siapa tuh namanya? Didit?”
”Adit!” desis Andhita. Enak aja ganti nama orang seenaknya.
Rendy tertawa. “He he he… iya! Benar kan? Elo suka sma dia, atau cuma cari labaan?”
”Ngaco! Dia itu kan ketua OSIS yang lagi ngurusin acara malam kesenian...”
”Kok nyariinnya elo? Bukan Putri?”
Iya juga ya? Batin Andhita. Tapi dia senang dan GR juga sih. Kenapa yah si Adit nyari gue, bukannya Putri?
”Senyum-senyum! GR ya?” ledek Rendy.
Andhita melotot. Nih cowok nggak punya aturan banget sih!
Tin! Tin! Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Itu pasti mobilnya Rendy. Sopirnya aja nggak punya sopan santun, ngelakson kok sekeras itu. Apa disangkanya orang di kompleks ini budek semua? Andhita ngedumel dalam hati.
”Tuh, mobil lo udah datang! Udah puas kan? Gue benar-benar jatoh.” Tegas Andhita.
“Ya, gue udah puas. Besok jangan lupa latihan. Jangan jadiin sakit lo ini sebagai alasan.” kata Rendy menyebalkan. Dia lalu pamit pada kedua orangtua Andhita.
***
”Mama sama Papa apa-apaan sih? Ngapain bilang-bilang ke Rendy kalau Andhita udah punya calon tunangan? Ketemu aja belom!” ujar Andhita marah ketika mereka sedang sarapan keesokan harinya. Kemarin Mama sama Papa mungkin merasa bersalah, makanya mereka berdua langsung masuk ke kamar jadi Andhita nggak sempat protes.
”Ngomong-ngomong, cowok yang kemarin datang itu cakep juga ya?” ujar Papa.
“Jangan ngalihin pembicaraan deh!” kata andhita ketus. Mama menyodorkan segelas susu ke depan Andhita.
”Jangan begitu sama orangtua! Kamu kan udah janji kalau kamu mau ngeliat dulu seperti apa calon tunanganmu itu. Bagaimana kalau kamu keburu kepincut sama cowok ganteng kemarin?” tanya Mama.
”Masalahnya bukan itu Ma! Rendy juga nyebelin. Andhita nggak bakalan kepincut deh sama dia. Tapi masalahnya sekarang, dia jadi tahu kalau Andhita dijodohin, sementara Andhita nggak mau kalau teman-teman Andhita pada tau!” ujar Andhita, lalu menggigit besar-besar roti isi selai kacang.
”Mana mungkin dia cerita-cerita sama orang? Memangnya cowok suka ngegosip?” Tanya Papa.
“Huh, Papa nggak tau sih! Rendy itu cowok nyebelin. Andhita yakin dia masih punya sederetan sikap menyebalkan lainnya. Siapa yang bisa menjamin dia nggak suka gosip?” Andhita meminum susunya banyak-banyak.
”Kalau begitu, cowok macam Rendy jangan kamu dekati! Kamu sendiri yang bilan sifat dia jelek!” kata Papa.
Glek! Andhita tersedak susu yang diminumnya dan sebagian tersembur ke meja di hadapannya. Dia memutar kedua bola matanya karena kesal. ”Justru itu bukan masalahnya, Pa! Papa sama Mama ngerti nggak sih? Masalahnya sekarang Rendy tahu kalau Andhita udah dijodohin! Nanti kalau dia cerita sama teman-teman Andhita gimana?”
Papa tersenyum. ”Kalau begitu ya nggak apa-apa. Memangnya kenapa kalau mereka tahu kalau kamu sudah dijodohkan? Sudah seharusnya kan mereka bersikap dewasa.”
Andhita mengatupkan bibirnya karena jengkel. Masalahnya bukan sikap dewasa atau tidak dewasa. Lagipula, dia jadi bahan ejekan atau nggak di sekolah, Papa sama Mama nggak ngerasain kan? Yang ngerasain Andhita sendiri!
”Andhita,” panggil Mama. Andhita melihat mamanya menatapnya serius. ”Kamu nggak punya hubungan apa-apa kan dengan cowok bernama Rendy itu?”
Andhita menggeleng kuat-kuat.
”Bagus. Kalau kamu sampai ketahuan punya hubungan dengan Rendy dan memengaruhi perjodohan yang kami lakukan, Mama akan melarang kamu latihan nyanyi di rumah Putri lagi. Mengerti?!”
Mata Andhita membelalak. ”Mama apa-apaan sih? Ceritanya maksa nih?”
”Andhita, Mama kan sudah bilang, perjodohan ini sangat penting bagi Papa. Lagipula, kamu tahu nggak... teman papa itu sangat kaya, dan perusahaannya sangat besar, punya banyak koneksi dengan rekan bisnis luar negeri. Ini benar-benar jodoh yang sangat baik buat kamu!”
”Mama kok jadi matre begitu sih?” kata Andhita bingung campur marah. Rot selai kacang dan susu yang bercampur aduk di perutnya mulai membuatnya sakit perut. Tapi dia mesti menuntaskan masalah ini dulu.
”Bukan begitu Andhita... biar Papa sama Mama terus terang saja.” kata Papa. ”Teman Papa itu berjanji untuk menginvestasikan dana yang lumayan banyak untuk perusahaan kita. Sahamnya akan sangat membangun. Kalau perjodohan ini gagal sebelum menginvestasian itu masuk ke perusahaan Papa, ya rugi dong!” timpal Papa.
”Lho! Beban Andhita kok jadi semakin berat ya Pa? Berarti Papa sama aja menjual Andhita demi saham teman Papa itu! Jadi Andhita seharga dengan uang invest yang akan masuk ke perusahaan Papa?” Andhita nggak bisa terima kalau orangtuanya ternyata matre.
”Bukan bagitu. Papa hanya ingin proyek ini berhasil. Kalau memang kamu nggak suka sama calon tunanganmu itu, ya nggak apa-apa. Tapi sekarang-sekarang ini jangan menolak dulu ya.”
Andhita mendengus. Baru kali ini dia tahu bahwa lika-liku menjadi orang dewasa itu sangatlah rumit dan menyebalkan.
”Udah ah, Andhita sakit perut! Mau ke WC dulu!” teriaknya.
***
Minggu, 06 Juni 2010
Lovable (part 4)
Sorenya, ketika mereka berempat latihan di rumah Putri, Andhita menceritakan tentang pertemuannya dengan Rendy tadi, sekaligus menyerahkan kasetnya pada Putri.
”Gile, nyebelin banget dia ngomong begitu!” komentar Keyra. Kebetulan Tasha belum dating, jadi Andhita lebih leluasa menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi pada kedua temannya.
”Dia benar-benar bilang kayak gitu Dhit?” Tanya Putri.
“Iya. Emangnya elo gak percaya sama gue?” ujar Andhita cemberut.
“Gue sih udah menduga dari semula kalo dia itu sombong, sok cakep, dan suka nampang di depan orang.” Kata Keyra menggebu-gebu.
“Meskipun emang cakep.” Sesal Andhita.
“Iya sih,” Putri membenarkan.
“Apanya yang cakep? Gua malah gak abis piker, apa sih yang bagus dari cowok itu? Trus, sok banget lagi! Pake bilang banyak yang naksir!” sela Keyra.
“Udah..udah.. nggak usah diomongin lagi deh. Nggak enak sama Tasha.” Putus Putri.
Keyra memandang temannya. ”Jangan bilang kalau lo juga suka sama Rendy, Put?”
Wajah Putri tersipu malu, membuat Andhita curiga kalau Putri juga suka sma Rendy. Andhita melotot gak percaya. Astaga! Dasar tuh cowok emang suka banget tebar pesona sama semua orang. Kurang ajar! Jangan-jangan si kunyuk itu bisa ngerusak hubungan mereka berempat lagi!
”Elo jangan ngomong sembarangan.” kata Putri. ”Gue bukannya suka sama dia. Gue cuma kagum. Seumur kita dia udah bisa jadi pemain piano profesional. Terus terang, meskipun suka nyanyi dan menganggap suara gue nggak jelek-jelek amat, gue sempet minder kemarin.”
Andhita mengangguk. ”Kalo soal main pianonya jago, itu benar. Tapi gimana kalau kita agak sedikit jaga jarak sama dia? Jangan sampai deh, kita gontok-gontokan cuma gara-gara satu cowok brengsek kayak dia.”
Putri mengerutkan kening, ”Maksud lo Dhit?”
Andhita menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Elo semua ngerti gak sih maksud gue? Rendy emang cakep dan semua yang ada pada dirinya membuat kita terpesona, bener gak? Kalo gue bilang, dia itu tipe cowok yang suka tebar pesona sama cewek-cewek. Jadi… daripada di antara kita ada yang sakit hati, atau malah memperebutkan dia, lebih baik kita jaga hati kita masing-masing.”
Ely berkata, ”Jadi elo sendiri juga nggak percaya diri Dhit? Elo takut masuk perangkap dia juga?”
Andhita menyahut, ”Manusia kan mudah berubah. Sekarang gue bilang gue nggak suka, siapa tahu besok gue dipelet terus bisa jadi suka sama dia. Bukannya itu bisa terjadi?” katanya ngasal.
Pluk! Keyra menimpuk Andhita dengan bantal.
”Rendy melet elo? Nggak salah?! Nggak perlu kali.”
Andhita tertawa cengengesan. Kemudian Tasha datang dan mereka pun mulai latihan.
***
Rumah Putri kerap menjadi ajang pertemuan mereka berempat karena letaknya paling dekat ke sekolah. Kamis sore ini mereka sepakat latihan di sana. Latihan pertama dengan Rendy yang menyebalkan itu, pikir Andhita. Tapi karena akan bertemu cowok itu, entah kenapa Andhita jadi bingung memilih baju apa yang akan dia pakai.
Pakai gaun terlalu berlebihan. Pakai celana pendek terlalu seksi. Akhirnya Andhita memilih memakai celana panjang jeans dan kaus gombrong Joger. Heran, soal rambut saja dia harus membuka kunciran beberapa kali. Dikuncir satu kayak mbak-mbak, dikuncir dua sok imut, dikuncir tiga kayak orang gila. Akhirnya Andhita memutuskan untuk menggerai rambutnya saja. Tapi ketika memakai minyak wangi pemberian papa yang baru dibukanya, tak sadar dia menyemprotkannya terlalu banyak, jadi udah terlambat. Sudah wangi, mau gimana lagi? Jadi dia pun mengundang pertnyaan mama.
”Andhita, kamu mau kemana?”
”Ke rumah Putri ma.”
”Ke rumah Putri kok wangi amat? Kamu mau ketemu cowok yah? Awas ya, kalau kamu macam-macam.”
Andhita hanya tersenyum masam. Dia memang akan ketemu cowok, tapi bukan sembarang cowok. Dia itu cowok menyebalkan yang sudah langka di dunia.
Tiba di rumah Putri, Andhita juga mengundang pertanyaan teman-temannya.
“Kok wangi banget ya? Siapa sih yang numpahin minyak wangi?” gerutu Putri.
Tasha mengendus-endus. ”Kayaknya wanginya dari Andhita nih... Dhit, elo pakai biang minyak wangi berapa botol?”
Keyra tak kurang menyindirnya. ”Gile..!! mau ketemu Rendy aja pake sok wangi segala…” katanya terus terang. Jebb! Pas banget kena di ulu hatinya Andhita.
Andhita jadi marah. ”Apa-apaan sih? Orang gue gak sengaja pake minyak wangi kebanyakan. Udah deh, gak usah dibahas!”
Yang lain malah tertawa.
Tak lama kemudian Rendy datang. Begitu muncul di ruang tamu Putri, cowok itu langsung mengendus-endus ruangan. “Siapa nih yang belum mandi terus cuma pakai minyak wangi doang?”
Yang lain cekikikan. Andhita cemberut. Rendy hanya mengulum senyum sambil melirik Andhita. Rupanya cowok itu bisa menduga kalau sumber wangi itu berasal dari Andhita. Andhita bersumpah, begitu pulang dia akan ke kamarnya, mencari minyak wangi yang diberi papanya itu dan membuangnya jauh-jauh. Dasar, minyak wangi mahal! Wanginya super ampuh banget.
“Hei Put, kita langsung aja. Piano lo mana?” Tanya Rendy sambil mendekati Putri. Saat itulah cowok itu berdiri di belakang Andhita dan menatap tulisan di punggung kaus Andhita.
“Jangan cium gue karena gue cantik. Jangan cium gue karena gue manis. Jangan cium gue karena elo kebelet sama gue. Tapi cium gue karena gue mau nyium elo. Kalo gue mao nyium elo, itu tandanya gue suka sama lo. Kalo gue suka sama lo, itu tandanya lo cowok yang ganteng banget. Dan artinya, gue cuma mau dicium sama cowok ganteng!” seru Rendy membaca tulisan keras-keras.
Wajah Andhita memerah. Dia baru sadar kaus Joger yang dipakainya salah ambil. Sama-sama putih, tapi yang ini memang belum pernah dipakai karena kata-katanya yang nyeleneh. Andhita kira dia sedang pakai kaus satunya lagi yang tulisannya ”Sembahyanglah sebelum elo disembahyangi. Bekerjalah sebelum elo dikerjain. Belajarlah sebelum elo dikurangajari. Katakanlah sebelum elo dikata-katain!”
”Elo suka dicium sama cowok ganteng ya, Dhit?” kata Rendy sambil mengulum senyum. Andhita cuma bisa diam dengan muka merah padam.
“Hahaha…elo bilang gak akan pernah pakai kaus itu. Akhirnya elo pakai juga Dhit!” seru Keyra. Memang dia yang memberikan kaus itu untuk Andhita sebagai oleh-oleh waktu pergi ke Bali tahun lalu.
”Udah, diam ah! Kalo gak gue pulang nih!” kata Andhita kesal.
Akhirnya mereka mulai latihan. Rendy rupanya pengiring yang cukup strict. Dia sangat peduli terhadap pitch control alias menjaga suara agar tidak fals. Dan kebetulan sore itu yang lagi sial adalah Andhita. Mungkin karena kurang konsentrasi, dia fals terus,
“Hei, hei hei! Suara dua tolong odng, bisa nyanyi gak sih?!” bentak cowok itu.
Andhita tersinggung. “Heh, elo sih enak, main piano kan gak ada falsnya. Coba elo yang nyanyi!”
Rendy ternyata menganggap serius ucapan Andhita. Dia langsung menyanyikan lagu A Whole New World dari awal hingga akhir, menawan, plus vibrasi dan teknik menyanyi yang baik, dengan intonasi dan pengucapan sempurna hingga mereka berempat yang menyaksikan bengong, melongo.
Plok! Plok! Plok! “Hebat! Hebat! Persis banget kayak Delon!” seru Putri.
“Iya dong! Kalo gue berani mengkritik orang, berarti gue juga hrus paham teknik menyanyi,” jawab Rendy serius.
Dalam hati Andhita berpikir, gile juga nih orang. Sombongnya gak ketulungan. Bisa sih bisa, tapi gak usah begini-begini amat dong.
“Elo ikut nyanyi aja, Ren,” ujar Keyra.
Andhita langsung mencegah. ”Eh, jangan! Ini kan khusus buat kelompok kita doang!”
”Nggak apa-apa. Nanti biar MC yang mengumumkan bahwa lagu A Whole New World dinyanyikan oleh kita berempat feat Rendy, gitu,” kata Tasha. Duh Tasha… ngomongnya kok kayak mereka berempat itu group popular aja, pikir Andhita.
Rendy mengangkat tangannya. “Nggak, nggak, gue sama sekali nggak kepengen nyanyi di depan umum. Gue cuma pengen ngasih tau kalau kritikan gue harap diterima, karena gue bukan orang yang cuma pintar ngomong, ” katanya sambil melirik Andhita.
Andhita mencibir. Alah…apaan tuh? Maksudnya bukan cuma pintar ngomong, tapi juga pintar segala-galanya.. cuih, sombong banget.
Maka latihan hari itu pun ditutup dengan adegan sikap permusuhan antara Andhita dan Rendy, cowok tersombong di dunia.
***
”Gile, nyebelin banget dia ngomong begitu!” komentar Keyra. Kebetulan Tasha belum dating, jadi Andhita lebih leluasa menceritakan semuanya tanpa ditutup-tutupi pada kedua temannya.
”Dia benar-benar bilang kayak gitu Dhit?” Tanya Putri.
“Iya. Emangnya elo gak percaya sama gue?” ujar Andhita cemberut.
“Gue sih udah menduga dari semula kalo dia itu sombong, sok cakep, dan suka nampang di depan orang.” Kata Keyra menggebu-gebu.
“Meskipun emang cakep.” Sesal Andhita.
“Iya sih,” Putri membenarkan.
“Apanya yang cakep? Gua malah gak abis piker, apa sih yang bagus dari cowok itu? Trus, sok banget lagi! Pake bilang banyak yang naksir!” sela Keyra.
“Udah..udah.. nggak usah diomongin lagi deh. Nggak enak sama Tasha.” Putus Putri.
Keyra memandang temannya. ”Jangan bilang kalau lo juga suka sama Rendy, Put?”
Wajah Putri tersipu malu, membuat Andhita curiga kalau Putri juga suka sma Rendy. Andhita melotot gak percaya. Astaga! Dasar tuh cowok emang suka banget tebar pesona sama semua orang. Kurang ajar! Jangan-jangan si kunyuk itu bisa ngerusak hubungan mereka berempat lagi!
”Elo jangan ngomong sembarangan.” kata Putri. ”Gue bukannya suka sama dia. Gue cuma kagum. Seumur kita dia udah bisa jadi pemain piano profesional. Terus terang, meskipun suka nyanyi dan menganggap suara gue nggak jelek-jelek amat, gue sempet minder kemarin.”
Andhita mengangguk. ”Kalo soal main pianonya jago, itu benar. Tapi gimana kalau kita agak sedikit jaga jarak sama dia? Jangan sampai deh, kita gontok-gontokan cuma gara-gara satu cowok brengsek kayak dia.”
Putri mengerutkan kening, ”Maksud lo Dhit?”
Andhita menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Elo semua ngerti gak sih maksud gue? Rendy emang cakep dan semua yang ada pada dirinya membuat kita terpesona, bener gak? Kalo gue bilang, dia itu tipe cowok yang suka tebar pesona sama cewek-cewek. Jadi… daripada di antara kita ada yang sakit hati, atau malah memperebutkan dia, lebih baik kita jaga hati kita masing-masing.”
Ely berkata, ”Jadi elo sendiri juga nggak percaya diri Dhit? Elo takut masuk perangkap dia juga?”
Andhita menyahut, ”Manusia kan mudah berubah. Sekarang gue bilang gue nggak suka, siapa tahu besok gue dipelet terus bisa jadi suka sama dia. Bukannya itu bisa terjadi?” katanya ngasal.
Pluk! Keyra menimpuk Andhita dengan bantal.
”Rendy melet elo? Nggak salah?! Nggak perlu kali.”
Andhita tertawa cengengesan. Kemudian Tasha datang dan mereka pun mulai latihan.
***
Rumah Putri kerap menjadi ajang pertemuan mereka berempat karena letaknya paling dekat ke sekolah. Kamis sore ini mereka sepakat latihan di sana. Latihan pertama dengan Rendy yang menyebalkan itu, pikir Andhita. Tapi karena akan bertemu cowok itu, entah kenapa Andhita jadi bingung memilih baju apa yang akan dia pakai.
Pakai gaun terlalu berlebihan. Pakai celana pendek terlalu seksi. Akhirnya Andhita memilih memakai celana panjang jeans dan kaus gombrong Joger. Heran, soal rambut saja dia harus membuka kunciran beberapa kali. Dikuncir satu kayak mbak-mbak, dikuncir dua sok imut, dikuncir tiga kayak orang gila. Akhirnya Andhita memutuskan untuk menggerai rambutnya saja. Tapi ketika memakai minyak wangi pemberian papa yang baru dibukanya, tak sadar dia menyemprotkannya terlalu banyak, jadi udah terlambat. Sudah wangi, mau gimana lagi? Jadi dia pun mengundang pertnyaan mama.
”Andhita, kamu mau kemana?”
”Ke rumah Putri ma.”
”Ke rumah Putri kok wangi amat? Kamu mau ketemu cowok yah? Awas ya, kalau kamu macam-macam.”
Andhita hanya tersenyum masam. Dia memang akan ketemu cowok, tapi bukan sembarang cowok. Dia itu cowok menyebalkan yang sudah langka di dunia.
Tiba di rumah Putri, Andhita juga mengundang pertanyaan teman-temannya.
“Kok wangi banget ya? Siapa sih yang numpahin minyak wangi?” gerutu Putri.
Tasha mengendus-endus. ”Kayaknya wanginya dari Andhita nih... Dhit, elo pakai biang minyak wangi berapa botol?”
Keyra tak kurang menyindirnya. ”Gile..!! mau ketemu Rendy aja pake sok wangi segala…” katanya terus terang. Jebb! Pas banget kena di ulu hatinya Andhita.
Andhita jadi marah. ”Apa-apaan sih? Orang gue gak sengaja pake minyak wangi kebanyakan. Udah deh, gak usah dibahas!”
Yang lain malah tertawa.
Tak lama kemudian Rendy datang. Begitu muncul di ruang tamu Putri, cowok itu langsung mengendus-endus ruangan. “Siapa nih yang belum mandi terus cuma pakai minyak wangi doang?”
Yang lain cekikikan. Andhita cemberut. Rendy hanya mengulum senyum sambil melirik Andhita. Rupanya cowok itu bisa menduga kalau sumber wangi itu berasal dari Andhita. Andhita bersumpah, begitu pulang dia akan ke kamarnya, mencari minyak wangi yang diberi papanya itu dan membuangnya jauh-jauh. Dasar, minyak wangi mahal! Wanginya super ampuh banget.
“Hei Put, kita langsung aja. Piano lo mana?” Tanya Rendy sambil mendekati Putri. Saat itulah cowok itu berdiri di belakang Andhita dan menatap tulisan di punggung kaus Andhita.
“Jangan cium gue karena gue cantik. Jangan cium gue karena gue manis. Jangan cium gue karena elo kebelet sama gue. Tapi cium gue karena gue mau nyium elo. Kalo gue mao nyium elo, itu tandanya gue suka sama lo. Kalo gue suka sama lo, itu tandanya lo cowok yang ganteng banget. Dan artinya, gue cuma mau dicium sama cowok ganteng!” seru Rendy membaca tulisan keras-keras.
Wajah Andhita memerah. Dia baru sadar kaus Joger yang dipakainya salah ambil. Sama-sama putih, tapi yang ini memang belum pernah dipakai karena kata-katanya yang nyeleneh. Andhita kira dia sedang pakai kaus satunya lagi yang tulisannya ”Sembahyanglah sebelum elo disembahyangi. Bekerjalah sebelum elo dikerjain. Belajarlah sebelum elo dikurangajari. Katakanlah sebelum elo dikata-katain!”
”Elo suka dicium sama cowok ganteng ya, Dhit?” kata Rendy sambil mengulum senyum. Andhita cuma bisa diam dengan muka merah padam.
“Hahaha…elo bilang gak akan pernah pakai kaus itu. Akhirnya elo pakai juga Dhit!” seru Keyra. Memang dia yang memberikan kaus itu untuk Andhita sebagai oleh-oleh waktu pergi ke Bali tahun lalu.
”Udah, diam ah! Kalo gak gue pulang nih!” kata Andhita kesal.
Akhirnya mereka mulai latihan. Rendy rupanya pengiring yang cukup strict. Dia sangat peduli terhadap pitch control alias menjaga suara agar tidak fals. Dan kebetulan sore itu yang lagi sial adalah Andhita. Mungkin karena kurang konsentrasi, dia fals terus,
“Hei, hei hei! Suara dua tolong odng, bisa nyanyi gak sih?!” bentak cowok itu.
Andhita tersinggung. “Heh, elo sih enak, main piano kan gak ada falsnya. Coba elo yang nyanyi!”
Rendy ternyata menganggap serius ucapan Andhita. Dia langsung menyanyikan lagu A Whole New World dari awal hingga akhir, menawan, plus vibrasi dan teknik menyanyi yang baik, dengan intonasi dan pengucapan sempurna hingga mereka berempat yang menyaksikan bengong, melongo.
Plok! Plok! Plok! “Hebat! Hebat! Persis banget kayak Delon!” seru Putri.
“Iya dong! Kalo gue berani mengkritik orang, berarti gue juga hrus paham teknik menyanyi,” jawab Rendy serius.
Dalam hati Andhita berpikir, gile juga nih orang. Sombongnya gak ketulungan. Bisa sih bisa, tapi gak usah begini-begini amat dong.
“Elo ikut nyanyi aja, Ren,” ujar Keyra.
Andhita langsung mencegah. ”Eh, jangan! Ini kan khusus buat kelompok kita doang!”
”Nggak apa-apa. Nanti biar MC yang mengumumkan bahwa lagu A Whole New World dinyanyikan oleh kita berempat feat Rendy, gitu,” kata Tasha. Duh Tasha… ngomongnya kok kayak mereka berempat itu group popular aja, pikir Andhita.
Rendy mengangkat tangannya. “Nggak, nggak, gue sama sekali nggak kepengen nyanyi di depan umum. Gue cuma pengen ngasih tau kalau kritikan gue harap diterima, karena gue bukan orang yang cuma pintar ngomong, ” katanya sambil melirik Andhita.
Andhita mencibir. Alah…apaan tuh? Maksudnya bukan cuma pintar ngomong, tapi juga pintar segala-galanya.. cuih, sombong banget.
Maka latihan hari itu pun ditutup dengan adegan sikap permusuhan antara Andhita dan Rendy, cowok tersombong di dunia.
***
Lovable (part 3)
Casting ala Rendy
SMU Pramita adalah sekolah yang cukup punya nama di kawasan Kelapa Gading. Tempat parkirnya luas, karena kebanyakan muridnya diizinkan membawa mobil oleh orang tua mereka, padahal tinggalnya di kompleks itu-itu juga. Susah sih, soalnya udah jadi budaya. Mami-mami mereka aja pergi ke salon naik mobil, padahal salonnya cuma beda satu blok. Malah ada siswa yang rumahnya tepat di seberang sekolah, pergi sekolah naik mobil. Jadi sebenarnya dia bisa tinggal nyebrang, paling hanya butuh satu menit. Coba kalau naik mobil. Dari masuk ke mobil, buka pagar rumah, jalan setengah menit, parkir mobil di halaman parkir sekolah, sama turun dari mobil, semua butuh sepuluh menit. Katanya demi gaya.
Lapangan olahraganya juga besar. Ada yang indoor, ada yang outdoor. Mungkin itu juga yang membuat anak-anak kompleks dan sekitarnya tertarik bersekolah di situ. Kelas satu ada enam kelas, kelas dua dan tiga ada lima kelas. Total siswanya sekitar lima ratus dua puluh orang.
SMU Pramita punya banyak fasilitas. Ada ruang perpustakaan, internet gratis, ada kamar mandi dengan shower buat mengantisipasi kalau ada yang ingin mandi setelah olahraga, meskipun jarang dipakai karena habis olahraga waktu sampai jam pelajaran berikutnya cuma lima belas menit. Juga ada loker. Tapi karena setiap hari memang ada PR dan ulangan, maka semua buku mau gak mau dibawa pulang. Jadi lokernya Cuma jadi sarang barang-barang gak berguna kayak novel, komik, yang bisa ditukarkan. Serta baju tambahan, in case kalau mau pergi ke mal pulang sekolah.
Khusus untuk pertemuan-pertemuan, dipakai aula besar. Aula itu terletak di lantai lima. Andhita dan empat sahabatnya sudah berjanji bertemu dengan Rendy di sana. Di dalam aula ada berbagai alat musik yang bisa digunakan kalau ada acara di sekolah, termasuk piano yang akan mereka butuhkan untuk ”casting ala Rendy” ini.
”Gimana nih? Janjinya jam dua belas, udah lewat lima menit kok belum datang.” Gerutu Keyra, yang terkenal tepat waktu.
“Baru lewat lima menit aja udah ngeluh. Rata-rata statistik jam karet Indonesia itu lima belas menit, tau gak?” Bela Tasha.
Keyra melirik jam tangannya. ”Wah, kalau begitu sepuluh menit lagi dong?” keluhnya.
Andhita mengunyah permen karet dengan seru, soalnya dia lagi lapar, belum makan. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, dia langsung kesini. Boro-boro sempat makan, minum aja gak keburu. Sekarang sang pengiring yang mereka tunggu belum tampak batang hidungnya. Tapi belum sampai sepuluh menit, seorang cowok dengan tinggi kurang lebih 190 centimeter, dan kalau Andhita gak salah duga, mendatangi mereka. Wajahnya ganteng mirip Christian Sugiono, tapi rambutnya lurus. Walau cuma mengenakan seragam sekolah, postur tubuhnya yang atletis jelas terlihat.
Andhita melongo, permen karetnya hampir aja jatoh dari mulutnya yang terbuka. Itu kan... cowok yang hari minggu kemarin berebutan kaos di mal dengannya, dan cowok yang bertabrakan dengannya di kantin sampai makanannya tumpah semua ke lantai. Astaga, tapi... bukannya dia anak kelas satu? Lalu Andhita teringat cerita Tasha kalau Rendy memang anak baru. Pantas dia belum pernah melihatnya.
Andhita membuang permen karetnya yang udah pahit ke dalam bungkusnya sambil pura-pura menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
Putri menyenggol Tasha yang sedang menunduk tersipu malu. “Eh, elo kok gak bilang sih kalau orangnya cakep?”
“Gue udah bilang kemarin, kan? Elo aja yang gak percaya.” kata Tasha sambil menundukkan wajahnya yang merona merah.
Putri menatapnya heran. Rupanya Tasha lagi kasmaran. Nggak heran sih, Rendy emang cakep.
Cowok itu menatap mereka berempat dengan serius, tanpa senyum secuil pun! Walau sama-sama kelas 2 SMU, mereka berempat tampak seperti anak SMP yang berhadapan dengan mahasiswa. Semuanya diam sampai Putri memecah keheningan.
”Elo yang namanya Rendy, kan?” tanyanya.
Cowok itu mengangguk. “Elo yang namanya Andhita?”
Putri menggeleng. ”Bukan gue..”
”Siapa yang namanya Andhita?” tanya Rendy agak galak, tapi wajahnya penasaran.
Cowok ini kok lagaknya kayak guru yang mau menghukum muridnya sih? Batin Andhita. Belum apa-apa dia sudah ketakutan. Emangnya kemarin gue ngomong apa ya? Jangan-jangan ada yang ngebuat Rendy kesal lagi. Kalo dipikir-pikir, emang banyak sih yang bisa ngebuat rendy kesal sama dia. Jangan-jangan sekarang cowok ini mau balas dendam.
Andhita pelan-pelan mengacungkan tangannya. Rendy langsung memandangnya dan terkejut.
“Lho! Ternyta elo lagi?!” gumamnya.
Putri menyenggol Andhita. “Emangnya elo udah kenal dia Dhit?”
“Rupanya elo!” Kata rendy lagi. ”Siapa nama lo?” perintahnya seperti bos saja.
”Andhita.”
”Maksud gue nama lengkap lo!” serunya.
Buset! Galak amat, pikir Andhita. Dia jadi agak antipati sama cowok ini. Bukan gelagat baik nih. Andhita melirik Keyra di sebelahnya yang sedang bengong menyaksikan tingkah Rendy.
“Andhita Aradella Cahyadi.”
Cowok itu mengangguk-angguk. Lalu, seolah interupsi tadi gak ada, dia langsung melangkahkan kakinya ke piano dan membuka tutupnya.
”Kalian mau nyanyi lagu apa?” tanyanya.
Mereka berempat saling pandang. Apa-apaan nih? Mereka sedang mencari pengiring, bukan pemimpin, lebih-lebih provokator.
”Ng... kita kan belum saling kenal. Gimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu? Gue Putri, pemimpin vocal grup ini.” kata Putri sambil mengulurkan tangan.
Tanpa menyambut uluran tangan Putri, Rendy menyela, ”Gue udah tau semuanya. Elo Putri, dia Andhita, dia Tasha temen sekelas gue, satu lagi pasti Keyra. Kalian mau manggung di malam kesenian, nyanyiin satu lagu. Trus kalian butuh pengiring kan? Satu-satunya yang belum gue tau cuma lagu apa yang bakalan kalian nyanyiin di malam kesenian nanti.” tutur Rendy panjang lebar.
Keempat gadis itu saling pandang dengan bingung. Tiba-tiba Andhita maju, “Eh, denger ya. Kita berempat lagi nyari pengiring, bukannya memohon elo buat jadi pengiring kita. Yang bisa ngiringin masih banyak kok, bukan elo aja. Jadi orang kok sombong banget. Kalau begini terus, mendingan kita nggak jadi make elo!!” kata Andhita emosi dan tanpa basa-basi. Dia memang nggak suka konfrontasi. Tapi kalau sudah kelewatan, emosinya suka meledak-ledak seperti karbondioksida. Coca Cola yang kalengnya dikocok-kocok lalu dibuka.
”Uh, galak amat.” kata Rendy santai. ”Ya udah, kalian mau ngomong apa sih? Masalahnya, waktu gue juga gak banyak. Gue cuma punya waktu setengah jam buat latihan.” dia lalu duduk di bangku dan menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Dia memandang cewek itu dengan santai.
”Hei...” Andhita mau ngomel lagi, tapi Putri menahannya. Cewek berambut lurus sebahu itu maju ke depan.
“Rendy... itu nama lo kan? Begini aja, kita berempat mau nyanyi lagu A Whole New World yang jadi soundtrack filmnya Aladin. Ini partiturnya.” Putri menyerahkan selembar kertas pada cowok itu. “Kita gak mau muluk-muluk, tapi yang pasti kita nyari pengiring yang cocok dengan suara kita. Bukan yang main pianonya terlalu jago sehingga akhirnya meredam penampilan kita berempat, juga bukan yang permainan pianonya payah sehingga tidak sesuai dengan suara kita, tapi yang benar-benar bisa mengiringi! Jelas Putri. Yang lain mengangguk-angguk setuju.
”Karena itu, kata-kata elo yang kemarin udah disampein Andhita akan gue balik. Bukan elo yang akan mendengakan suara kita, tapi kita yang akan mendengarkan dan menilai permainan piano lo! Kata Putri dengan bahu agak bergetar.
Andhita ngerti banget perasaan Putri yang pasti takut-takut cemas. Soalnya kharisma cowok tampan di depan mereka besar juga. Tingkahnya juga nyantai dan nggak ada rasa takut sama sekali menghadapi empat oang cewek. Sebenarnya kalau mereka keroyok, Rendy pasti kalah, pikir Andhita nakal.
Rendy memandang ke atas seolah sedang mempertimbangkan kata-kata Putri. Tiba-tiba dia memandang mereka dan berkata, “Okay, it’s a deal!”
Dia menghampiri piano dan menekan tutsnya dengan cepat seperti pemain piano professional.
”Nadanya di mana?”
”Di D aja.” jawab Putri.
”Oke. Kalian mulai setelah gue kasih intro dikit yah?”
Rendy lalu memulai intro lagu A Whole New World dengan manis sekali. Mereka semua merasa takjub. Permainan piano seperti inilah yang mereka cari. Tidak terlalu menonjol, tapi sangat bagus.
”Mulai.” katanya.
I can show you the world, shinning, shimmering, splendid
Tell me princess now when did you last let your heart decide
I can open your eyes, take you wonder by wonder
Over side ways and under on a magic carpet ride
Tanpa meminta pertimbangan, Rendy langsung memainkan interlude saat lagu selesai dan memberi tanda bahwa mereka bisa menyanyikan bagian reffreinnya. Ketika selesai, tidak ada yang berani manyatakan pendapat. Rendy memang pantas menjadi pengiring mereka. Kata-katanya kemarin bahwa dia ingin melihat kualitas suara mereka itu benar. Tidak mungkin pemain piano setaraf dia mau mengiringi penyanyi asal-asalan. Dan mereka berempat jadi agak sedikit minder.
”Bagaimana?” tanya Rendy sambil menutup piano.
”Oke. Bagus banget. Permainan piano lo emang hebat.” Puji Putri.
”Thank you.” Jawab rendy tanpa bermaksud nyombong. Padahal sih.. iya.
Putri memandang yang lain dan berbisik-bisik dengan Keyra. Dia lalu memandang Rendy lagi.
“Begini deh. Kita memutuskan untuk menerima elo sebagai pengiring kita berempat. Tapi dengan satu syarat, elo harus hadir di setiap latihan.”
Cowok itu berpikir sesaat. “Oke. Gue cuma bisa menjanjikan seengah jam sepulang sekolah setiap hari selasa dan kamis. Ditambah latiha intensif dua hari berturut-turut menjelang malam kesenian.” kata cowok itu.
Putri berpikir sejenak. ”Oke. Kita terima.”
Rendy melirik jam tangannya. ”Sekarang gue pulang dulu. Udah waktunya gue les. Hari kamis gue dating ke sini on time. Sori tadi gue terlambat karena ada pembicaraan penting dnegan guru. Oh ya, gue saranin kalian juga latihan tanpa gue. Nanti gue rekamin permainan piano gue yang bisa kalian pakai buat latihan sendiri. Bagaimana?”
Putri terpaksa mengangguk lagi. Sebenarnya dia merasa sedikit terintimidasi, tapi mau gimana lagi?
”Oke. Kalau gak ada yang ditanyain lagi, gue permisi dulu. See ya!” katanya. Sebelum berlalu, cowok itu memandang Andhita dan memerhatikannya dengan cermat, dari atas kepala hingga ujung kaki. Andhita jadi malu sekaligus marah. Apa sih hak cowok itu menelitinya seperti menaksir nilai sebuah barang? Apa dia pikir dia itu cakep, jadi bisa seenaknya?
Sepeninggalan Rendy, semuanya jadi heboh.
”Gile banget, cowok kok nyebelin kayak begitu ya? Bisa tahan nggak ya, gue ngadepin dia?” seru Keyra yang tomboy dan nggak mempan sama cowok cakep biar cakepnya selangit, kebalikan dari ketiga temannya.
“Udah gue bilang, dia itu cakep dan pinter banget. Kelas gue aja semuanya ngeper sama dia.” timpal Tasha.
”Tapi...apa tindakan kita menerima dia udah benar? Masalahnya, dia itu terlalu otoriter dan ngatur kita terus. Bisa-bisa kalau nanti terjadi bentrokan, hubungan kita bisa buruk.” keluh Putri.
Andhita diam saja, sehingga ketiga temannya memandangnya, ”Kenapa lo diem aja Dhit?”
Andhita memandang mereka dengan muram. Dia lalu menceritakan pertemuannya dengan Rendy waktu rebutan kaos di mal dan waktu tabrakan di kantin sekolah. Lalu waktu menghubungi cowok itu di telepon, dia sama sekali nggak tahu bahwa Rendy itu ternyata cowok menyebalkan yang sama yang pernah ditemuinya sebelumnya. Parahnya dia mengira Rendy anak kelas satu.
”Gue gimana dong? Tadi gue udah maki-maki dia. Gue jadi nggak enak nih setiap kali ketemu dia…”
Keyra ketawa. “Elo juga sih, main marha-marah aja. Bukannya dengerin dulu keputusan Putri mau terima apa nggak.”
Andhita memandang Putri. ”Apa kita cari pengiring lain aja ya Put? Gue yang cari deh.. Please...”
Putri memandang Andhita tegas. ”Nggak bisa, Dhit. Kata-kata yang udah gue keluarin ibaratnya ludah, nggak mungkin bisa gue telan lagi. Sori, tapi memang dia pengiring yang tepat buat vocal grup kita.” Katanya sambil menepuk-nepuk bahu Andhita bak pemimpin partai yang sedang memberikan interuksi pada anak buahnya. Andhita mengangguk muram.
“Lagian juga...” tambah Putri, “…dia ganteng banget.” Katanya sambil mengedipkan mata, membuat yang lain jadi tertawa dan Andhita melotot sewot.
***
Hari rabu, saat istirahat pertama, Andhita sedang sibuk menyalin PR bahasa Inggris yang lupa dibuatnya. Padahal dia belum sarapan, jadi terpaksa dia menahan lapar sampai istiahat kedua. Sebenarnya Andhita paling nggak bisa nahan lapar, tapi... mau bagaimana lagi? Ketika dilihatnya Donny-cowok yang duduk dibelakangnya-sedang makan gorengan, dia langsung merebutnya dan memasukkannya ke dalam mulut.
”Eh..tega banget lo Dhit! Gue masih laper nih.” Rintih cowok gendut itu. Andhita hanya tertawa sambil mengunyah gorengan yang memenuhi mulutnya hingga susah dikunyah.
“Andhita Aradella Cahyadi!” tiba-tiba terdengar sebuah suara di belakang Andhita yang membuatnya kaget. Ketika dia berbalik, dilihatnya Rendy sudah berdiri di hadapannya. Andhita langsung tersedak karena gorengan yang memenuhi mulutnya, jadi terpaksa sebagian dia muntahkan ke meja. Buru-buru dia mengambil tisu dan membersihkan meja.
Cepat-cepat diambilnya botol Aqua milik Emil di sebelahnya, dan langsung meminumnya hingga separuh habis. Gorengan yang tajam melukai tenggorokannya hingga terasa sakit. Dia memelototi Rendy yang sedang tersenyum memandangnya.
“Apa-apaan sih lo? Ngagetin orang aja!” seru Andhita.
Rendy hanya tertawa. Dia mengeluarkan sebuah kaset dan menaruhnya di meja, di dekat bekas muntahan gorengan tadi. Secara refleks Andhita membenahi rambutnya dengan kedua tangan, dan menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. Tanpa sadar dia jadi mengkhawatirkan penampilannya. Mukanya keliatan berminyak gak ya? Rambutnya berantakan gak ya?
”Ini kaset rekaman permainan piano gue. Bisa lo pakai buat latihan.” jelas Rendy.
”Ng..kenapa lo kasih ke gue?”
”Gue kan udah kenal sama lo. Dan elo yang menghubungin gue pertama kali. Inget?”
Andhita jadi salah tingkah. Dia mengambil kaset itu dan memperhatikannya. Kaset yang diberi label A Whole New World. Niat amat.
Rendy tampaknya tidak ingin buru-buru berlalu. “Ngomong-ngomong, itu apa?” ujarnya sambil melihat PR yang sedang dikerjakan Andhita. “PR?” tanyanya.
Andhita langsung menutup bukunya. “Iya, tapi buat besok.” Katanya.
Rendy tertawa lagi, seolah tahu apa yang sedang dikerjakan Andhita. “Jangan terlalu ngoyo. PR kan bisa dikerjain di rumah.” Komentar cowok itu.
Andhita cemberut kesal. Cowok gak tahu diri. Benci sekali dia, entah kenapa. Pokoknya, sejak berbicara dengan Rendy di telepon, Andhita udah gak simpati sama cowok itu. Tiba-tiba Andhita merasa emosinya meledak lagi.
”Hei! Elo ini kenapa sih? Udah belom ngomongnya?” bentaknya. ”Lagian juga kenapa kaset ini gak lo kasih ke Tasha aja> kenapa malah ngasih ke gue?”
Rendy tersenyum menyebalkan. ”Tasha itu suka sama gue. Dia suka salah tingkah dan ngumpet-ngumpet gitu kalau ngeliat gue. Kalau gue kasih kaset ini ke dia, gue takut nanti dia bakalan salah paham. Makanya gue kasih ke elo aja. Elo gak mungkin punya pikiran seperti Tasha kan? Atau...” Rendy mendekatkan wajahnya ke wajah Andhita dan menatapnya lekat, ”Elo juga suka sama gue? Nggak usah malu, banyak kok cewek yang begitu. Gue...”
Wow wow wow! Apa-apaan nih? Andhita nggak pernah mendengar ada cowok yang bicara kayak gitu sebelumnya. Sombong banget! Andhita nggak tahan lagi. Dia pun berdiri. “Udah deh, pergi sana! Jangan kira karena Putri setuju elo jadi pengiring kita, gue juga setuju ya?”
Rendy tertawa. ”Elo setuju atau nggak, gue gak masalah. Toh gue dipilih secara objektif, bukan subjektif. Gue dipilih karena gue bisa.” Katanya tanpa berkesan sombong. Tapi Andhita tetap menganggap Rendy itu sombong banget!
Andhita sudah mau menyemprot Rendy lagi ketika seseorang memasuki kelasnya. Seorang cowok ganteng menghampiri mereka. Adit, sang ketua OSIS, anak kelas 3 IPS 2. cowok idola Andhita yang selalu membuatnya salah tingkah.
”Andhita! Gue mau minta konfirmasi nih. Elo jadi tampil di acara malam kesenian kan?” tanya Adit.
”Andhita merasakan wajahnya memerah. ”Oh, jadi Kak Adit...”
Tiba-tiba Rendy maju ke depan Adit dan mengulurkan tangannya. “Kenalin, gue Rendy dari 2 IPA 3. Gue yang akan jadi pengiring Andhita dan teman-temannya nanti.”
”Oh ya?” Adit tersenyum dan menyambut tangan Rendy. Kemudian dia kembali menatap Andhita. ”Dhit, kira-kira lagu yang bakalan lo nyanyiin itu berapa menit durasinya?”
Sebelum Andhita sempat menjawab, bahkan sebelum menghitung-hitung, Rendy langsung menanggapinya, ”Kira-kira lima menit. Ditambah masuk dan keluarnya penyanyi, tulis aja sepuluh menit.”
Andhita melotot. Sok tahu banget sih nih orang! Apa dia nggak bisa ngebaca suasana? Adit kan cuma nanya ke gue, pikir Andhita. Barangkali aja dia sedang cari-cari alasan buat PDKT sama gue!
Adit mencatat jawaban yang diberikan Rendy tadi di bukunya. Andhita mengerutkan bibirnya dengan jengkel.
”Oke deh. Kalau ada perubahan apa-apa, kasih tahu gue yah?” kata Adit lalu meninggalkan mereka pergi.
”Kok ngeliatin dia terus? Naksir yah?” pertanyaan Rendy mengagetkan Andhita.
Andhita tersentak. Tanpa sadar sejak tadi dia memang memerhatikan langkah Adit keluar dari kelasnya. Dengan pandangan memuja lagi!
”Apa-apaan sih lo? Emang apa salahnya gue suka sama dia?” gerutu Andhita.
”Suka juga gak apa-apa. Tapi gue nggak nyangka aja, ternyata selera lo rendah.” gumam Rendy.
”Apa? Selera rendah? Salah kali… yang seleranya rendah itu adalah cewek-cewek yang naksir sama elo!” seru Andhita.
Kriiiing…! Bel masuk berbunyi. Tuh kan, gue jadi gak sempet menyelesaikan PR gara-gara si kunyuk ini, batin Andhita marah.
Rendy hanya tertawa menyebalkan. “Gue balik dulu ke kelas.” Katanya.
Sebodo amat! Gerutu Andhita.
Sepeninggal Rendy, Andhita memikirkan kata-kata cowok tadi. ”Tasha itu suka sama gue. Dia suka salah tingkah dan ngumpet kalau ngeliat gue... elo juga suka sama gue...? tapi gue gak nyangka aja, kalau ternyata selera lo rendah...”
Keterlaluan! Huh! Andhita pengen banget muntah sekali lagi ke wajah cowok itu. Dia menyesal kenapa muntahan gorengan itu tadi nggak dia jejelin aja ke mulut Rendy. Cuih! Sombong! Besar kepala! Kurang ajar! Kalau nggak perlu-perlu amat, gue nggak akan memedulikan dia, janji Andhita pada dirinya sendiri.
***
SMU Pramita adalah sekolah yang cukup punya nama di kawasan Kelapa Gading. Tempat parkirnya luas, karena kebanyakan muridnya diizinkan membawa mobil oleh orang tua mereka, padahal tinggalnya di kompleks itu-itu juga. Susah sih, soalnya udah jadi budaya. Mami-mami mereka aja pergi ke salon naik mobil, padahal salonnya cuma beda satu blok. Malah ada siswa yang rumahnya tepat di seberang sekolah, pergi sekolah naik mobil. Jadi sebenarnya dia bisa tinggal nyebrang, paling hanya butuh satu menit. Coba kalau naik mobil. Dari masuk ke mobil, buka pagar rumah, jalan setengah menit, parkir mobil di halaman parkir sekolah, sama turun dari mobil, semua butuh sepuluh menit. Katanya demi gaya.
Lapangan olahraganya juga besar. Ada yang indoor, ada yang outdoor. Mungkin itu juga yang membuat anak-anak kompleks dan sekitarnya tertarik bersekolah di situ. Kelas satu ada enam kelas, kelas dua dan tiga ada lima kelas. Total siswanya sekitar lima ratus dua puluh orang.
SMU Pramita punya banyak fasilitas. Ada ruang perpustakaan, internet gratis, ada kamar mandi dengan shower buat mengantisipasi kalau ada yang ingin mandi setelah olahraga, meskipun jarang dipakai karena habis olahraga waktu sampai jam pelajaran berikutnya cuma lima belas menit. Juga ada loker. Tapi karena setiap hari memang ada PR dan ulangan, maka semua buku mau gak mau dibawa pulang. Jadi lokernya Cuma jadi sarang barang-barang gak berguna kayak novel, komik, yang bisa ditukarkan. Serta baju tambahan, in case kalau mau pergi ke mal pulang sekolah.
Khusus untuk pertemuan-pertemuan, dipakai aula besar. Aula itu terletak di lantai lima. Andhita dan empat sahabatnya sudah berjanji bertemu dengan Rendy di sana. Di dalam aula ada berbagai alat musik yang bisa digunakan kalau ada acara di sekolah, termasuk piano yang akan mereka butuhkan untuk ”casting ala Rendy” ini.
”Gimana nih? Janjinya jam dua belas, udah lewat lima menit kok belum datang.” Gerutu Keyra, yang terkenal tepat waktu.
“Baru lewat lima menit aja udah ngeluh. Rata-rata statistik jam karet Indonesia itu lima belas menit, tau gak?” Bela Tasha.
Keyra melirik jam tangannya. ”Wah, kalau begitu sepuluh menit lagi dong?” keluhnya.
Andhita mengunyah permen karet dengan seru, soalnya dia lagi lapar, belum makan. Begitu bel pulang sekolah berbunyi, dia langsung kesini. Boro-boro sempat makan, minum aja gak keburu. Sekarang sang pengiring yang mereka tunggu belum tampak batang hidungnya. Tapi belum sampai sepuluh menit, seorang cowok dengan tinggi kurang lebih 190 centimeter, dan kalau Andhita gak salah duga, mendatangi mereka. Wajahnya ganteng mirip Christian Sugiono, tapi rambutnya lurus. Walau cuma mengenakan seragam sekolah, postur tubuhnya yang atletis jelas terlihat.
Andhita melongo, permen karetnya hampir aja jatoh dari mulutnya yang terbuka. Itu kan... cowok yang hari minggu kemarin berebutan kaos di mal dengannya, dan cowok yang bertabrakan dengannya di kantin sampai makanannya tumpah semua ke lantai. Astaga, tapi... bukannya dia anak kelas satu? Lalu Andhita teringat cerita Tasha kalau Rendy memang anak baru. Pantas dia belum pernah melihatnya.
Andhita membuang permen karetnya yang udah pahit ke dalam bungkusnya sambil pura-pura menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
Putri menyenggol Tasha yang sedang menunduk tersipu malu. “Eh, elo kok gak bilang sih kalau orangnya cakep?”
“Gue udah bilang kemarin, kan? Elo aja yang gak percaya.” kata Tasha sambil menundukkan wajahnya yang merona merah.
Putri menatapnya heran. Rupanya Tasha lagi kasmaran. Nggak heran sih, Rendy emang cakep.
Cowok itu menatap mereka berempat dengan serius, tanpa senyum secuil pun! Walau sama-sama kelas 2 SMU, mereka berempat tampak seperti anak SMP yang berhadapan dengan mahasiswa. Semuanya diam sampai Putri memecah keheningan.
”Elo yang namanya Rendy, kan?” tanyanya.
Cowok itu mengangguk. “Elo yang namanya Andhita?”
Putri menggeleng. ”Bukan gue..”
”Siapa yang namanya Andhita?” tanya Rendy agak galak, tapi wajahnya penasaran.
Cowok ini kok lagaknya kayak guru yang mau menghukum muridnya sih? Batin Andhita. Belum apa-apa dia sudah ketakutan. Emangnya kemarin gue ngomong apa ya? Jangan-jangan ada yang ngebuat Rendy kesal lagi. Kalo dipikir-pikir, emang banyak sih yang bisa ngebuat rendy kesal sama dia. Jangan-jangan sekarang cowok ini mau balas dendam.
Andhita pelan-pelan mengacungkan tangannya. Rendy langsung memandangnya dan terkejut.
“Lho! Ternyta elo lagi?!” gumamnya.
Putri menyenggol Andhita. “Emangnya elo udah kenal dia Dhit?”
“Rupanya elo!” Kata rendy lagi. ”Siapa nama lo?” perintahnya seperti bos saja.
”Andhita.”
”Maksud gue nama lengkap lo!” serunya.
Buset! Galak amat, pikir Andhita. Dia jadi agak antipati sama cowok ini. Bukan gelagat baik nih. Andhita melirik Keyra di sebelahnya yang sedang bengong menyaksikan tingkah Rendy.
“Andhita Aradella Cahyadi.”
Cowok itu mengangguk-angguk. Lalu, seolah interupsi tadi gak ada, dia langsung melangkahkan kakinya ke piano dan membuka tutupnya.
”Kalian mau nyanyi lagu apa?” tanyanya.
Mereka berempat saling pandang. Apa-apaan nih? Mereka sedang mencari pengiring, bukan pemimpin, lebih-lebih provokator.
”Ng... kita kan belum saling kenal. Gimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu? Gue Putri, pemimpin vocal grup ini.” kata Putri sambil mengulurkan tangan.
Tanpa menyambut uluran tangan Putri, Rendy menyela, ”Gue udah tau semuanya. Elo Putri, dia Andhita, dia Tasha temen sekelas gue, satu lagi pasti Keyra. Kalian mau manggung di malam kesenian, nyanyiin satu lagu. Trus kalian butuh pengiring kan? Satu-satunya yang belum gue tau cuma lagu apa yang bakalan kalian nyanyiin di malam kesenian nanti.” tutur Rendy panjang lebar.
Keempat gadis itu saling pandang dengan bingung. Tiba-tiba Andhita maju, “Eh, denger ya. Kita berempat lagi nyari pengiring, bukannya memohon elo buat jadi pengiring kita. Yang bisa ngiringin masih banyak kok, bukan elo aja. Jadi orang kok sombong banget. Kalau begini terus, mendingan kita nggak jadi make elo!!” kata Andhita emosi dan tanpa basa-basi. Dia memang nggak suka konfrontasi. Tapi kalau sudah kelewatan, emosinya suka meledak-ledak seperti karbondioksida. Coca Cola yang kalengnya dikocok-kocok lalu dibuka.
”Uh, galak amat.” kata Rendy santai. ”Ya udah, kalian mau ngomong apa sih? Masalahnya, waktu gue juga gak banyak. Gue cuma punya waktu setengah jam buat latihan.” dia lalu duduk di bangku dan menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Dia memandang cewek itu dengan santai.
”Hei...” Andhita mau ngomel lagi, tapi Putri menahannya. Cewek berambut lurus sebahu itu maju ke depan.
“Rendy... itu nama lo kan? Begini aja, kita berempat mau nyanyi lagu A Whole New World yang jadi soundtrack filmnya Aladin. Ini partiturnya.” Putri menyerahkan selembar kertas pada cowok itu. “Kita gak mau muluk-muluk, tapi yang pasti kita nyari pengiring yang cocok dengan suara kita. Bukan yang main pianonya terlalu jago sehingga akhirnya meredam penampilan kita berempat, juga bukan yang permainan pianonya payah sehingga tidak sesuai dengan suara kita, tapi yang benar-benar bisa mengiringi! Jelas Putri. Yang lain mengangguk-angguk setuju.
”Karena itu, kata-kata elo yang kemarin udah disampein Andhita akan gue balik. Bukan elo yang akan mendengakan suara kita, tapi kita yang akan mendengarkan dan menilai permainan piano lo! Kata Putri dengan bahu agak bergetar.
Andhita ngerti banget perasaan Putri yang pasti takut-takut cemas. Soalnya kharisma cowok tampan di depan mereka besar juga. Tingkahnya juga nyantai dan nggak ada rasa takut sama sekali menghadapi empat oang cewek. Sebenarnya kalau mereka keroyok, Rendy pasti kalah, pikir Andhita nakal.
Rendy memandang ke atas seolah sedang mempertimbangkan kata-kata Putri. Tiba-tiba dia memandang mereka dan berkata, “Okay, it’s a deal!”
Dia menghampiri piano dan menekan tutsnya dengan cepat seperti pemain piano professional.
”Nadanya di mana?”
”Di D aja.” jawab Putri.
”Oke. Kalian mulai setelah gue kasih intro dikit yah?”
Rendy lalu memulai intro lagu A Whole New World dengan manis sekali. Mereka semua merasa takjub. Permainan piano seperti inilah yang mereka cari. Tidak terlalu menonjol, tapi sangat bagus.
”Mulai.” katanya.
I can show you the world, shinning, shimmering, splendid
Tell me princess now when did you last let your heart decide
I can open your eyes, take you wonder by wonder
Over side ways and under on a magic carpet ride
Tanpa meminta pertimbangan, Rendy langsung memainkan interlude saat lagu selesai dan memberi tanda bahwa mereka bisa menyanyikan bagian reffreinnya. Ketika selesai, tidak ada yang berani manyatakan pendapat. Rendy memang pantas menjadi pengiring mereka. Kata-katanya kemarin bahwa dia ingin melihat kualitas suara mereka itu benar. Tidak mungkin pemain piano setaraf dia mau mengiringi penyanyi asal-asalan. Dan mereka berempat jadi agak sedikit minder.
”Bagaimana?” tanya Rendy sambil menutup piano.
”Oke. Bagus banget. Permainan piano lo emang hebat.” Puji Putri.
”Thank you.” Jawab rendy tanpa bermaksud nyombong. Padahal sih.. iya.
Putri memandang yang lain dan berbisik-bisik dengan Keyra. Dia lalu memandang Rendy lagi.
“Begini deh. Kita memutuskan untuk menerima elo sebagai pengiring kita berempat. Tapi dengan satu syarat, elo harus hadir di setiap latihan.”
Cowok itu berpikir sesaat. “Oke. Gue cuma bisa menjanjikan seengah jam sepulang sekolah setiap hari selasa dan kamis. Ditambah latiha intensif dua hari berturut-turut menjelang malam kesenian.” kata cowok itu.
Putri berpikir sejenak. ”Oke. Kita terima.”
Rendy melirik jam tangannya. ”Sekarang gue pulang dulu. Udah waktunya gue les. Hari kamis gue dating ke sini on time. Sori tadi gue terlambat karena ada pembicaraan penting dnegan guru. Oh ya, gue saranin kalian juga latihan tanpa gue. Nanti gue rekamin permainan piano gue yang bisa kalian pakai buat latihan sendiri. Bagaimana?”
Putri terpaksa mengangguk lagi. Sebenarnya dia merasa sedikit terintimidasi, tapi mau gimana lagi?
”Oke. Kalau gak ada yang ditanyain lagi, gue permisi dulu. See ya!” katanya. Sebelum berlalu, cowok itu memandang Andhita dan memerhatikannya dengan cermat, dari atas kepala hingga ujung kaki. Andhita jadi malu sekaligus marah. Apa sih hak cowok itu menelitinya seperti menaksir nilai sebuah barang? Apa dia pikir dia itu cakep, jadi bisa seenaknya?
Sepeninggalan Rendy, semuanya jadi heboh.
”Gile banget, cowok kok nyebelin kayak begitu ya? Bisa tahan nggak ya, gue ngadepin dia?” seru Keyra yang tomboy dan nggak mempan sama cowok cakep biar cakepnya selangit, kebalikan dari ketiga temannya.
“Udah gue bilang, dia itu cakep dan pinter banget. Kelas gue aja semuanya ngeper sama dia.” timpal Tasha.
”Tapi...apa tindakan kita menerima dia udah benar? Masalahnya, dia itu terlalu otoriter dan ngatur kita terus. Bisa-bisa kalau nanti terjadi bentrokan, hubungan kita bisa buruk.” keluh Putri.
Andhita diam saja, sehingga ketiga temannya memandangnya, ”Kenapa lo diem aja Dhit?”
Andhita memandang mereka dengan muram. Dia lalu menceritakan pertemuannya dengan Rendy waktu rebutan kaos di mal dan waktu tabrakan di kantin sekolah. Lalu waktu menghubungi cowok itu di telepon, dia sama sekali nggak tahu bahwa Rendy itu ternyata cowok menyebalkan yang sama yang pernah ditemuinya sebelumnya. Parahnya dia mengira Rendy anak kelas satu.
”Gue gimana dong? Tadi gue udah maki-maki dia. Gue jadi nggak enak nih setiap kali ketemu dia…”
Keyra ketawa. “Elo juga sih, main marha-marah aja. Bukannya dengerin dulu keputusan Putri mau terima apa nggak.”
Andhita memandang Putri. ”Apa kita cari pengiring lain aja ya Put? Gue yang cari deh.. Please...”
Putri memandang Andhita tegas. ”Nggak bisa, Dhit. Kata-kata yang udah gue keluarin ibaratnya ludah, nggak mungkin bisa gue telan lagi. Sori, tapi memang dia pengiring yang tepat buat vocal grup kita.” Katanya sambil menepuk-nepuk bahu Andhita bak pemimpin partai yang sedang memberikan interuksi pada anak buahnya. Andhita mengangguk muram.
“Lagian juga...” tambah Putri, “…dia ganteng banget.” Katanya sambil mengedipkan mata, membuat yang lain jadi tertawa dan Andhita melotot sewot.
***
Hari rabu, saat istirahat pertama, Andhita sedang sibuk menyalin PR bahasa Inggris yang lupa dibuatnya. Padahal dia belum sarapan, jadi terpaksa dia menahan lapar sampai istiahat kedua. Sebenarnya Andhita paling nggak bisa nahan lapar, tapi... mau bagaimana lagi? Ketika dilihatnya Donny-cowok yang duduk dibelakangnya-sedang makan gorengan, dia langsung merebutnya dan memasukkannya ke dalam mulut.
”Eh..tega banget lo Dhit! Gue masih laper nih.” Rintih cowok gendut itu. Andhita hanya tertawa sambil mengunyah gorengan yang memenuhi mulutnya hingga susah dikunyah.
“Andhita Aradella Cahyadi!” tiba-tiba terdengar sebuah suara di belakang Andhita yang membuatnya kaget. Ketika dia berbalik, dilihatnya Rendy sudah berdiri di hadapannya. Andhita langsung tersedak karena gorengan yang memenuhi mulutnya, jadi terpaksa sebagian dia muntahkan ke meja. Buru-buru dia mengambil tisu dan membersihkan meja.
Cepat-cepat diambilnya botol Aqua milik Emil di sebelahnya, dan langsung meminumnya hingga separuh habis. Gorengan yang tajam melukai tenggorokannya hingga terasa sakit. Dia memelototi Rendy yang sedang tersenyum memandangnya.
“Apa-apaan sih lo? Ngagetin orang aja!” seru Andhita.
Rendy hanya tertawa. Dia mengeluarkan sebuah kaset dan menaruhnya di meja, di dekat bekas muntahan gorengan tadi. Secara refleks Andhita membenahi rambutnya dengan kedua tangan, dan menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. Tanpa sadar dia jadi mengkhawatirkan penampilannya. Mukanya keliatan berminyak gak ya? Rambutnya berantakan gak ya?
”Ini kaset rekaman permainan piano gue. Bisa lo pakai buat latihan.” jelas Rendy.
”Ng..kenapa lo kasih ke gue?”
”Gue kan udah kenal sama lo. Dan elo yang menghubungin gue pertama kali. Inget?”
Andhita jadi salah tingkah. Dia mengambil kaset itu dan memperhatikannya. Kaset yang diberi label A Whole New World. Niat amat.
Rendy tampaknya tidak ingin buru-buru berlalu. “Ngomong-ngomong, itu apa?” ujarnya sambil melihat PR yang sedang dikerjakan Andhita. “PR?” tanyanya.
Andhita langsung menutup bukunya. “Iya, tapi buat besok.” Katanya.
Rendy tertawa lagi, seolah tahu apa yang sedang dikerjakan Andhita. “Jangan terlalu ngoyo. PR kan bisa dikerjain di rumah.” Komentar cowok itu.
Andhita cemberut kesal. Cowok gak tahu diri. Benci sekali dia, entah kenapa. Pokoknya, sejak berbicara dengan Rendy di telepon, Andhita udah gak simpati sama cowok itu. Tiba-tiba Andhita merasa emosinya meledak lagi.
”Hei! Elo ini kenapa sih? Udah belom ngomongnya?” bentaknya. ”Lagian juga kenapa kaset ini gak lo kasih ke Tasha aja> kenapa malah ngasih ke gue?”
Rendy tersenyum menyebalkan. ”Tasha itu suka sama gue. Dia suka salah tingkah dan ngumpet-ngumpet gitu kalau ngeliat gue. Kalau gue kasih kaset ini ke dia, gue takut nanti dia bakalan salah paham. Makanya gue kasih ke elo aja. Elo gak mungkin punya pikiran seperti Tasha kan? Atau...” Rendy mendekatkan wajahnya ke wajah Andhita dan menatapnya lekat, ”Elo juga suka sama gue? Nggak usah malu, banyak kok cewek yang begitu. Gue...”
Wow wow wow! Apa-apaan nih? Andhita nggak pernah mendengar ada cowok yang bicara kayak gitu sebelumnya. Sombong banget! Andhita nggak tahan lagi. Dia pun berdiri. “Udah deh, pergi sana! Jangan kira karena Putri setuju elo jadi pengiring kita, gue juga setuju ya?”
Rendy tertawa. ”Elo setuju atau nggak, gue gak masalah. Toh gue dipilih secara objektif, bukan subjektif. Gue dipilih karena gue bisa.” Katanya tanpa berkesan sombong. Tapi Andhita tetap menganggap Rendy itu sombong banget!
Andhita sudah mau menyemprot Rendy lagi ketika seseorang memasuki kelasnya. Seorang cowok ganteng menghampiri mereka. Adit, sang ketua OSIS, anak kelas 3 IPS 2. cowok idola Andhita yang selalu membuatnya salah tingkah.
”Andhita! Gue mau minta konfirmasi nih. Elo jadi tampil di acara malam kesenian kan?” tanya Adit.
”Andhita merasakan wajahnya memerah. ”Oh, jadi Kak Adit...”
Tiba-tiba Rendy maju ke depan Adit dan mengulurkan tangannya. “Kenalin, gue Rendy dari 2 IPA 3. Gue yang akan jadi pengiring Andhita dan teman-temannya nanti.”
”Oh ya?” Adit tersenyum dan menyambut tangan Rendy. Kemudian dia kembali menatap Andhita. ”Dhit, kira-kira lagu yang bakalan lo nyanyiin itu berapa menit durasinya?”
Sebelum Andhita sempat menjawab, bahkan sebelum menghitung-hitung, Rendy langsung menanggapinya, ”Kira-kira lima menit. Ditambah masuk dan keluarnya penyanyi, tulis aja sepuluh menit.”
Andhita melotot. Sok tahu banget sih nih orang! Apa dia nggak bisa ngebaca suasana? Adit kan cuma nanya ke gue, pikir Andhita. Barangkali aja dia sedang cari-cari alasan buat PDKT sama gue!
Adit mencatat jawaban yang diberikan Rendy tadi di bukunya. Andhita mengerutkan bibirnya dengan jengkel.
”Oke deh. Kalau ada perubahan apa-apa, kasih tahu gue yah?” kata Adit lalu meninggalkan mereka pergi.
”Kok ngeliatin dia terus? Naksir yah?” pertanyaan Rendy mengagetkan Andhita.
Andhita tersentak. Tanpa sadar sejak tadi dia memang memerhatikan langkah Adit keluar dari kelasnya. Dengan pandangan memuja lagi!
”Apa-apaan sih lo? Emang apa salahnya gue suka sama dia?” gerutu Andhita.
”Suka juga gak apa-apa. Tapi gue nggak nyangka aja, ternyata selera lo rendah.” gumam Rendy.
”Apa? Selera rendah? Salah kali… yang seleranya rendah itu adalah cewek-cewek yang naksir sama elo!” seru Andhita.
Kriiiing…! Bel masuk berbunyi. Tuh kan, gue jadi gak sempet menyelesaikan PR gara-gara si kunyuk ini, batin Andhita marah.
Rendy hanya tertawa menyebalkan. “Gue balik dulu ke kelas.” Katanya.
Sebodo amat! Gerutu Andhita.
Sepeninggal Rendy, Andhita memikirkan kata-kata cowok tadi. ”Tasha itu suka sama gue. Dia suka salah tingkah dan ngumpet kalau ngeliat gue... elo juga suka sama gue...? tapi gue gak nyangka aja, kalau ternyata selera lo rendah...”
Keterlaluan! Huh! Andhita pengen banget muntah sekali lagi ke wajah cowok itu. Dia menyesal kenapa muntahan gorengan itu tadi nggak dia jejelin aja ke mulut Rendy. Cuih! Sombong! Besar kepala! Kurang ajar! Kalau nggak perlu-perlu amat, gue nggak akan memedulikan dia, janji Andhita pada dirinya sendiri.
***
Langganan:
Postingan (Atom)